Demikian curahan hati Olive Riley, melalui blognya, sebelum ia meninggal, dalam usia 108 tahun, pada 12 Juli lalu di Australia. Olieve Riley merupakan blogger tertua di dunia. Di masa hidupnya, blogger kelahiran Broken Hill tersebut sempat mengalami dua kali Perang Dunia. Sedikitnya 70 tulisan sudah dia bagikan lewat blog pribadi yang diciptakannya pada Februari tahun lalu. Di senja pekat usianya, ia ngeblog.

Pengalaman hidupnya sepanjang abad 20 serta pemikirannya tentang zaman modern mendominasi tulisan yang bisa dibaca di http://www.allaboutolive.com.au atau http://worldsoldestblogger.blog spot.com. Diketahui dari blognya, perempuan kelahiran 20 Oktober 1899 itu sempat mencicipi beragam jenis pekerjaan demi membesarkan tiga anaknya. Mulai dari menjadi koki hingga pelayan bar. Baca entri selengkapnya »

dalam lembah batu lembah bermiang aku mengunyah hujan beribu kali
lipat melebihi kunyahan sungai pada cadas gunung. hingga saat yang tak
ditentukan dengan ukuran tahun, akan terdengar dengar lenguh sapi jantan
ikut menikmati sakitnya hujan turun. takkah kau melihat sesuatu yang
menggelegak berlarian di hantaran kabut bergumpal, semisal sayap
serangga, ekor kunang-kunang, atau tali pengikat badan kupu-kupu?
mungkinkah itu rindu yang dibekap dingin ladang kol dan sawi? atau cuma
bunyi langkah para pemikat burung yang tertahan takutnya di balutan kain
hitam pada sangkar berajut lidi enau yang dibawanya. ah, dalam lembah
batu lembah bermiang aku membikin iri pohon-pohon tua yang kedinginan

dalam lembah batu lembah bermiang ada beragam mata bewarna yang
selalu menampakkan cahayanya. jingga jika senja mengendap pelan, hijau
pada pagi dengan dedaun mengerucut nyeri, merah di kulit kayu yang
terkulum siang… oh, aku terus mengunyah hujan. terus mengunyah, tak
menimang kapan batu, kayu, air terjun dan seisi lembah akan meminjam
sayap serangga untuk terbang mengelilingi dunia yang belum
mereka datangi

begitulah sakit yang teramat nikmat, sakit mengunyah hujan, dalam lembah
batu lembah bermiang. barangkali nikmat ini ada yang meminjam, atau sekedar
bertanya tentang rasanya? aku ingin mengendap saja jadinya, setelah waktu
yang tak terhitung ini mulai membilang banyaknya daun, banyaknya akar
banyaknya air yang susut dari lembah. semacam takut yang ingin kutahan
dulu. membantuknya menjadi lembah baru yang dipenuhi sayap, oh, lembah
bersayap, lembah yang terbang menyusuri dunia baru. lembah yang
dibenturkan peradaban angin. dan hujan, aku ingin terus mengunyahnya
sampai sakit ini teramat nikmat untuk disebut sebagai sakit

Kandangpadati, 2008

Oleh: Esha Tegar Putra


Perioderisasi kesusastraan Indonesia beberapa tahun belakangan ini jauh berubah dari wacana yang muncul sebelumnya. Di segi permunculan karya, media penyebaran, dan lahirnya institusi independen dengan berbagai kegiatan yang mendukung perkembangan kesusastraan di berbagai daerah telah merubah paradigma “peta kesusastraan” memusat, menjadi “jejaring kesusastraan” yang meyebar.

Baca entri selengkapnya »

2008-12-19-23-24-41_00111

Judul Buku : Tarekat Syatariyah di Minangkabau

Penulis : Oman Fathurahman

Penerbit : Prenada Media Group, Ecole francaise d’Exstreme-Orient, PPIM UIN Jakarta dan KITLV – Jakarta

Cetakan : Pertama, Agustus 2008

Minangkabau (Sumatra Barat), tak pelak telah memberikan kontribusi terhadap terciptanya tradisi dan wacana keilmuan Islam di dunia Melayu-Indonesia yang distingtif dan tak habis-babisnya memberi inspirasi bagi peneliti, sebab keragaman yang berada di dalamnya.

Kekhasan corak, budaya, dan ekspresi Islam seperti terlihat di Minangkabau inilah yang pada gilirannya membentuk apa yang disebut Islam lokal, serta muncul di berbagai wilayah sebagai mozaik-mozaik beragam yang membentuk corak Islam Melayu Indonesia yang khas pula, terutama ketika dibanding dengan corak dan ekspresi Islam yang berkembang di wilayah asalnya di Tanah Arab (Prof. Dr. Azyumardi Azra: 2008)

Baca entri selengkapnya »

Sayembara Menulis Novel DKJ 2008 merupakan sayembara serupa kedua yang diadakan DKJ periode 2006—2009. Sebelumnya, pada 2006, sayembara menulis novel diikuti oleh sekitar 249 naskah dari 260 naskah yang masuk ke panitia. Dewan Juri yang terdiri dari Apsanti Djokosujatno, Ahmat Tohari, dan Bambang Sugiharto akhirnya memutuskan Baca entri selengkapnya »

my document warnet by-pass

my document warnet by-pass

Garis Ladang

di ladang kita berpandang, bersahutan suara, saling berebut
tali puisi. ladangku rumpang ladangmu lempang. hah
jadinya aku cuma bertanam rumput gajah. biar dijarah
perempuan malang yang di pinggangnya terselip sebilah sabit
(aku tahu ia bakal merambahnya secara diam-diam bila
seminggu saja aku tak berkunjung ke ladang) sebab matamu
merah apel, dan di sini aku tak bisa membibitnya. tapi bakal
kusayat dalam perih, kuiris dengan tajam. sebab jemariku
telah biasa menujah pucuk kopi dan kulit manis di tiap
musim bertukar

dalam manis tebu, dalam pahit empedu, di mana garis
ladang bakal bertemu dengan lagu yang menandakan
dinginnya suara gunung? orang kata cuma di silungkang
tempat bertenun adalah mengasah waktu, tempat perempuan
berparas kelabu dan senyum yang makin batu. di sanalah
cerita dingin yang teramat dijahitkan. dengan benang ragu

tapi bukankah di air lembah, dingin juga menujah? biarlah
lurah bersuara tentang puisi yang direbut malang. tentang
peristiwa sunsang, peristiwa yang berlainan perut, peristiwa
yang saling menikamkan usus. dan semua itu berupa tali puisi
yang dipintal secara pasi, dengan tangan masih disusup gabuk

aku jadi si peragu, jadi gugu, di lambungku tertanak batu. sebab
kita dua ladang yang bersahutan garang. dan cuma di puisi beradu
suara. sebab matamu merah apel dan aku telah bertanam rumput
gajah. mengingat ulah seorang perempuan yang di pinggangnya
terselip sebilah sabit. tapi tak apalah, tali puisi bakal memanjang
biar diulur dan ditarik setiap kali bersahut diri

Kandangpadati, 2008
Baca entri selengkapnya »

(Catatan Pementasan “Samin dan Samin tawa Yasmin dan Yasmin” karya dan Sutradara Pandu Birowo)


Oleh: Esha Tegar Putra

Tiada yang agung selain cinta (dengan “c” besar), begitulah setiap narasi besar bermula diciptakan. Cinta berupa sebuah jalinan, hubungan berkelindan, entah itu hubungan dengan Sang Pencipta, dengan alam, orang-tua, sanak saudara, tentunya juga dengan kekasih belahan jiwa. Ratusan, bahkan ribuan tahun persoalan cinta tak pernah selesai dibahas. Selalu ada yang kurang dan harus diisi di setiap persoalan cinta. Dalam mitos-mitos penciptaan manusia, Adam dan Hawa, dalam—banyak perspektif—bahwasanya segala penciptaan ini memang bermula dari cinta. Esensi yang tak akan pernah bisa dipisahkan dari pencarian-pencarian manusia, filsafat, ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, tentunya bertujuan untuk cinta; dari Lila Majnun (Persia) ke Romeo dan Juliet (Shakespeare), sampai pada Di Bawah Lindungan Ka’bah (Hamka), dst. Baca entri selengkapnya »

//catatancatatan.wordpress.com)

Anak-anak (Foto: Faiz M; http://catatancatatan.wordpress.com)

Oleh: Esha Tegar Putra


persuaan selalu tak kuduga

orang-orang meneruka surga sendiri

lembu-lembu bertemu maut sendiri…

Saya selalu senang mengawali tulisan dengan sepengal puisi. Mungkin saja pembaca akan menangkap sebuah peristiwa, lalu menerjemahkan, sebelum pembaca langsung masuk ke dalam tulisan yang akan saya paparkan. Dan puisi di atas merupakan kutipan dari puisi CH Yurma yang berjudul Ambang Pengharapan (Kampung dalam Diri; kumpulan puisi Temu Penyair 2008). “Dia” (CH Yurma) penyair muda Sumatra Barat. Dan apakah itu benar diakui? Puisi tersebut tentunya adalah pengakuan “dia” sendiri.

Baca entri selengkapnya »

sebab ricik air adalah helaan suara dari bukit lampu, sebab segala tumbuh dihela suara bukit lampu

kalau kau dengar, suara itu. yang muncul dari

bukit lampu. tentunya kau tak ingin menyegerakan diri untuk pergi mencapai batu karang dimana suar olanda terus memutar cahaya

kalau kau dengar, suara itu. yang muncul dari

bukit lampu. tentunya kau tak akan menyegerakan diri untuk pergi menyusuri rel yang putus-putus menuju stasiun lama, tempat gerbong-gerbong kereta karatan masih mengendapkan bara

kalau kau dengar, suara itu yang muncul dari

bukit lampu. tentunya kau tak ingin menyegerakan diri untuk beranjak dari bangku kayu ruyung di jalanan pantai yang semakin landai—dan di jalanan itu penuh surai rindang daun kelapa

suara itu, suara lama yang muncul dari bukit lampu dimana kau, dia, dan mereka menyimpulkan setiap hitungan hari yang hilang menjadi tali-tali puisi. tak ada sepertiga malam atau petang, tak ada pekan atau senayan

dan tali-tali itulah yang kau, dia, dan mereka rajut lalu bawa menuju tanah perantauan.

suara itu, suara yang mengandung bunyi gesekan rebab bertuah si pengelana buta dengan puluhan kisah turunan dari langit—macam malin berbini orang bugis, macam malin mengusir para perompak, macam malin dengan kapal bermeriam bola baja, macam malin…

“kau, dia, dan mereka bakal merindukan suara itu. dari daratan jauh (daratan yang tak terkirim cahaya suar bukit lampu)”

kali saja kita dipertemukan pada tali puisi yang membuhul serupa, sebab aku sedang melamunkan duduk di geladak kapal yang sedang menurunkan sauh. duh, terdengar juga suara itu, suara lama yang mengirimkan keping-keping tiram dari pulau seberang. suara yang selalu diamsalkan sebagai rindunya para bujang-gadis

moga kita dipertemukan pada buhulan yang sama. buhulan tali-tali puisi, yang terkirim cahaya suar (dan tentunya juga suara-suara dari puncak bukit lampu)

sebab ricik air adalah helaan suara dari bukit lampu, sebab segala tumbuh dihela suara bukit lampu

**

sebab ricik air adalah helaan suara dari bukit lampu, sebab segala tumbuh dihela suara bukit lampu

kalau kau datang ke tanah ini—tanah tempat raja-raja hilang dalam berpangku.

tolong bawakan seikat rubaiyat bikinan orang melayu. agar dibacakan di tepian pantai tempat segala sayang dibenam-dimakamkan. setelah itu, akan kuhantarkan kau berjalan-jalan menyusuri ujung sampai ke pangkal hikayat tanah ini

“mulai dari pesisir panjang dimana ombak tak membunyi debur, sampai ke lubuk dimana buaya berdagu putih tidur”

“akan selalu kau dengar suara-suara dari bukit lampu, mulai dari kau memijakkan kaki sampai kau melepas kata pergi”

”agar kau maklumi, sebab apa yang kau dengarkan adalah suara-suara sepi yang selalu menyipi di setiap diri”

“kali saja kau mengerti, sebab apa yang dituahkan itu merupakan musabab munculnya titik api (dari gunung yang dulunya sebesar telur itik)”

tentunya kau takkan sadar, bahwa bayanganmu telah dirompak dan dipisahkan jauh dari badanmu (oleh suara dari bukit lampu) pada waktu yang tidak terucapkan oleh semalam membibir

“rapalkanlah dalam diam diri, sesuatu tentang tanah ini, yang menyimpan peristiwa-peristiwa lama, mirip dedak rendang yang hangus di tungku dapur. ah, tajam baunya sampai ke pucuk hidung, membuat lidah bergoyang. tapi rasanya, alamak asinnya…”

sebab ricik air adalah helaan suara dari bukit lampu, sebab segala tumbuh dihela suara bukit lampu

**

sebab ricik air adalah helaan suara dari bukit lampu, sebab segala tumbuh dihela suara bukit lampu

suara lembah suara pantai,

suara yang dikirim dari bukit lampu,

suara yang berkejaran

dari bukit siguntang

menuju laut sakti-rantau bertuah

“siapa yang menyamun malam hingga menjadikannya rasi bintang yang tak jelas, rasi bintang yang lindap-padam di keruh air payau?”

“siapa yang merompak tidur hingga mata berpicing tapi garam dan asam melecut terus dalam diri?”

“apakah kau, maling berpisau panjang yang berbau tubuh masam?”

kalaulah ini mula dari pantun atau gurindam

takkan ingin kau berkunjung ke tanah ini. (sebab pantun dan gurindam bukanlah baris-baris ucapan sakit) tentunya takkan kau dengar surau-suara dari bukit lampu. tempat para siam dan olanda

mula merunkan sekoci

“kubisikkan sesuatu kepadamu:

kalaulah kau bawa sedecak air dari pulau seberang, lalu kau siramkan ke batang apasaja di tanah ini maka akan kau lihat setiap bagian batang itu berkelumun takut, mengerucut”

suara-suara dari bukit lampu berupa gema penghormatan, tempat ingatan-ingatan lama bermain. kau akan melihat setiap diri berjoged gamad beriring gelembung bunyi akordion—bukit lampu adalah ujung dari segala tanjung. tempat orang-orang mengirim bergema lama. gema yang bersahutan setiap kali diri diam

sebab ricik air adalah helaan suara dari bukit lampu, sebab segala tumbuh dihela suara bukit lampu

Lembah Harau, 2008

Oleh: Esha Tegar Putra

Ada pendapat menarik yang dikemukakan oleh JJ. Kusni atas pernyataan Sutardji Calzoum Bachri (Tardji) mengenai “eksplorasi isi puisi” beberapa tahun silam. Tardji menilai perkembangan puisi sangat meriah dan bahkan sudah mulai sangat ramai. Tetapi, eksplorasi isi cendrung berkurang disebabkan tidak adanya penemuan baru. Sebaliknya, JJ. Kusni berpendapat, bahwasanya “zaman” ketika Tardji meng-otoproklamasi-kan dirinya sebagai “presiden penyair” berbeda dengan kemajuan perpuisian di Indonesia saat ini.

Hal ini tidak pernah tuntas dibahas dalam kajian kesusastraan. Baik itu kritikus atau pun para pencipta puisi; persoalan eksplorasi isi dan estetika dalam puisi. Ketika dikembalikan lagi pada “wujud”-nya, puisi menjadi jalinan teks yang hadir dalam sistim tanda (semiotik) dan nyatanya, memang puisi, dianggap sebagai awal-mula dari karya sastra. Pada akhirnya, tetap puisi akan dikembalikan pada pembaca (masyarakat) melalui “wujud” yang berbeda kapasitasnya; berbeda dari sudut pandang pencipta; berbeda dari sudut pandang kritikus. Akan tetapi, ada satu pertanyaan yang sangat penting saya kira dilontarkan Radhar Panca Dahana di sebuah warung nasi kecil di sudut kota Padang, pada dikusi singkat beberapa minggu yang lalu: apakah puisi—sebagaimana hal-nya dengan bidang seni lainnya—sudah mewakili masyarakatnya saat ini?

Dalam puisi hadir berbagai macam wacana intelektual, terkandung dalam “teks,” dengan berbagai cara pengungkapan dan pola penyuguhan penyairnya. Puisi muncul dari keterusikan batiniah seorang penyair. Muncul dari semacam polemik intelektual diri yang bermula dari pandangan, pikiran, rasa, hingga mencapai tahap penghadiran “teks” sebagai perwujudan dari wacana yang ingin dihadirkan.

Baca entri selengkapnya »