Archives for category: sajak perjalanan

dalam lembah batu lembah bermiang aku mengunyah hujan beribu kali
lipat melebihi kunyahan sungai pada cadas gunung. hingga saat yang tak
ditentukan dengan ukuran tahun, akan terdengar dengar lenguh sapi jantan
ikut menikmati sakitnya hujan turun. takkah kau melihat sesuatu yang
menggelegak berlarian di hantaran kabut bergumpal, semisal sayap
serangga, ekor kunang-kunang, atau tali pengikat badan kupu-kupu?
mungkinkah itu rindu yang dibekap dingin ladang kol dan sawi? atau cuma
bunyi langkah para pemikat burung yang tertahan takutnya di balutan kain
hitam pada sangkar berajut lidi enau yang dibawanya. ah, dalam lembah
batu lembah bermiang aku membikin iri pohon-pohon tua yang kedinginan

dalam lembah batu lembah bermiang ada beragam mata bewarna yang
selalu menampakkan cahayanya. jingga jika senja mengendap pelan, hijau
pada pagi dengan dedaun mengerucut nyeri, merah di kulit kayu yang
terkulum siang… oh, aku terus mengunyah hujan. terus mengunyah, tak
menimang kapan batu, kayu, air terjun dan seisi lembah akan meminjam
sayap serangga untuk terbang mengelilingi dunia yang belum
mereka datangi

begitulah sakit yang teramat nikmat, sakit mengunyah hujan, dalam lembah
batu lembah bermiang. barangkali nikmat ini ada yang meminjam, atau sekedar
bertanya tentang rasanya? aku ingin mengendap saja jadinya, setelah waktu
yang tak terhitung ini mulai membilang banyaknya daun, banyaknya akar
banyaknya air yang susut dari lembah. semacam takut yang ingin kutahan
dulu. membantuknya menjadi lembah baru yang dipenuhi sayap, oh, lembah
bersayap, lembah yang terbang menyusuri dunia baru. lembah yang
dibenturkan peradaban angin. dan hujan, aku ingin terus mengunyahnya
sampai sakit ini teramat nikmat untuk disebut sebagai sakit

Kandangpadati, 2008

Iklan

—episode pertama

matamu lesat memantulkan cahaya dari balik
tirai kelambu, sedang aku masih sibuk menjaga
malam yang sedang mengambil ancang-ancang
untuk lari dari terali sepi yang baru saja kau bangun
jika benar itu terjadi mungkin tak akan kau
dengar lagi ngiau kucing tetangga di balik pagu
(kucing itu benar-benar brengsek, ia selalu
mengintai semua yang berbau daging, mencurinya
lalu memakannya diam-diam di dalam got lembab
yang ditinggal gerombolan tikus)
kau juga tak akan meributkan lagi soal
kengkengan anjing, suara musang, dan segala
yang bersuara pada jam sepimu

maaf, jika kusengajakan mengintipmu yang
sedang sibuk menghitung manik-manik kelambu
tempat tidurmu (yang katamu perumpamaan
bintang langit) agar kau mengerti tentang
perhitungan tanggal dan bulan, tentang rasi, dan
jalur-jalur angin. sebab kau ingin memandu sebuah
pelayaran yang akan memakan waktu yang lama
“tentunya aku harus hafal segalanya mengenai
pertunjukan langit, sebab aku segera menjadi
seorang juru tunjuk.” kau bicara pada suara tetes
air dari bak mandi yang sayup-sampai ke telingamu

—episode dua

hitunganmu pada manik kelambu tidur terhenti
sebab seseorang lelaki tua memakai peci hitam
mengetuk pintu. entah itu siapa, ia membawa
buntalan seperti karung beras yang masih berisi
sedikit. “sudah malam, kau seorang garin kan?
tapi sungguh tak tahu aturan!” aku terperanjat
di balik jendela mendengar kau menghardik
lelaki tua yang tergopoh-gopoh lari sambil berkata

“kau pastinya mencari sepi, sudah larut tapi masih
saja berjaga. pastinya kau mencari sepi, pastinya.
sedang aku memberikan sepi pada orang-orang,
mirip sepi ruang dalam sebuah karung.”

lalu kau melambaikan tangan seraya ingin
memanggil orang itu lagi sebab ucapannya
mengandung isyarat yang sedang kau cari
maknanya

—episode tiga

rambut panjangmu tergerai menyisakan sesal
malam masih saja ingin mencoba lari dari
terali sepi yang kau bangun

aku terus memperhatikan gerak-gerikmu
terus dan terus dari balik tirai kelambu
sambil bertanya pada diriku sendiri: kenapa
kau tidak berkaca saja, sambil mencari kutu, lalu
bersahutan dengan makhluk
kecil yang tidak kau perdulikan keberadaanya di
kepalamu itu—ia yang secara diam telah mencuri
darahmu Baca entri selengkapnya »

di jerat kayu-kayu, jerat yang menjebak, kau dikepung hujan

tubuhmu susup serupa siput ke lekuk batang meranti tua yang ditanam

orang tanjung karang (meranti itu ditanam sejak jaman biduk

berdayung) dalam hujan kau mendemam, sebuah urat besar meyumbul

dari basah tanah, urat yang merasukimu diam-diam hingga

kau terpelanting ke sebuah badan jalan yang serasa kau ingat.

“tapi ini dingin teramat menyansam!” barangkali itu cuma geletar bibirmu

sebab jerat kayu-kayu

Baca entri selengkapnya »

di pucuk daun ubi, tali hujan berpiuh lebat, dan getah kayu berkelumun

bulan basah. angin limbubu mengirim desau lama, desau paling purba.

manakala sungai menawar lempung tanah ke retak tanjung. duh, kau

ibarat selipat kain panjang pengebat jarak. sekalian dingin bermain risau

di sebalik rimbun bukit, tapi sekejap saja kau menjelmakan lumut dalam

hijau yang teramat tawar. barangkali hujan, dingin, atau segala yang

Baca entri selengkapnya »

13 juli sampai 29 agustus 2008 kemarin saya mengikuti program KKN Universitas Andalas di kenagarian Solok Bio-bio, kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat—yang mana program ini untuk mahasiswa yang telah menyelesaikan perkuliahan sebanya 110 sks. Suatu kali saya diundang oleh guru-guru SD 02 di nagari tersebut untuk emmberika materi pelajaran Sastra dan Bahasa Indonesia.
Di Nagari (Kampung) tersebut anak-anak SD (kata gurunya) kurang fasih berbahasa Indonesia walaupun gurunya berusaha untuk mengjak mereka untuk berbahasa Indonesia. Tapi saja jadi bingung, Baca entri selengkapnya »

 

sebab ricik air adalah helaan suara dari bukit

lampu, sebab segala tumbuh  dihela suara bukit

 

lampu

kalau kau dengar, suara itu. yang muncul dari

bukit lampu. tentunya kau tak ingin menyegerakan

diri untuk pergi mencapai batu karang dimana suar

olanda terus memutar cahaya

kalau kau dengar, suara itu. yang muncul dari Baca entri selengkapnya »

foto: disumbangkan oleh faiz moh. untuk kelansungan blog ini

Yang Terseret dari Pesisir

—indrian koto

yang terseret dari pesisir, sesuara sakit dari kampung pantai

dimana wangi gulai ikan dan pucuk ubi membumbung dari

tungku kayu. sesuara itu menghimbau, “buyung, kaji sudah

selesai dibaca, laut sudah dirapal lengkap dengan kejadian

ombak. tapi kapan kapan bagan ditepikan, kapan pukat dihela?

sesiapa yang membunyikan sesuara itu, dengungnya melebihi

bising kota, seraknya membuat binal malam makin terkutuk

dan sakit itu makin menyeru untuk sesuatu yang diamsal rindu

yang terseret dari pesisir, itu rindu jauh berbunyi, jauh di sebalik

lapis bukit, jauh dari segala aroma yang menandakan laut

Harau, 2008

Yang Dihela Jam Rantau

—romi zarman

seberapa sanggupkah jarum jam mampu berkejaran

menghitung waktu yang disesatkan jalanan rantau?

barangkali cuma diketuknya tiap angka, dipilinnya

tiap bunyi sakit yang menandakan pertukaran jam.

akan terus diseretnya kau (tentu saja oleh waktu) ke

masa yang bakal tak bisa dirapal lagi dengan ribuan

kalimat purba. macam tandan pisang, macam kayu

gadang, macam bau gulai pucuk ubi, macam… ah

kau yang dihela jam rantau, barangkali akan mengerti

tentang itu rantau, dimana tuah didebukan sebuah jarak

kau yang dihela jam rantau, barangkali akan mengendap

ke dalam lunak tanah rantau, tempat segala sesat Baca entri selengkapnya »