Archives for category: halaman esai

(Catatan Pementasan Kotakku Rumahku, Teater Size. Taman Budaya Sumbar 31 Mei 2008)

“Tadi jadi rocker, kini jadi anak teater awak lai.” Seorang kawan berceloteh seperti itu sambil makan kuaci di sebuah kafe yang terletak di salah satu sudut taman budaya Sumatra Barat. Bagaimana tidak, di depan gedung Teater Utama masih riuh bunyi musik rock dan sorak-sorai penonton, sedangkan tak jauh dari sana, yakni di Teater Tertutup, sebuah naskah yang berjudul Kotakku Rumahku karya Paul Maar, dkk, akan dipentaskan oleh grup Teater Size yang disutradarai oleh Zamzami Ismail.. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Oleh: Esha Tegar Putra


Perioderisasi kesusastraan Indonesia beberapa tahun belakangan ini jauh berubah dari wacana yang muncul sebelumnya. Di segi permunculan karya, media penyebaran, dan lahirnya institusi independen dengan berbagai kegiatan yang mendukung perkembangan kesusastraan di berbagai daerah telah merubah paradigma “peta kesusastraan” memusat, menjadi “jejaring kesusastraan” yang meyebar.

Baca entri selengkapnya »

(Catatan Pementasan “Samin dan Samin tawa Yasmin dan Yasmin” karya dan Sutradara Pandu Birowo)


Oleh: Esha Tegar Putra

Tiada yang agung selain cinta (dengan “c” besar), begitulah setiap narasi besar bermula diciptakan. Cinta berupa sebuah jalinan, hubungan berkelindan, entah itu hubungan dengan Sang Pencipta, dengan alam, orang-tua, sanak saudara, tentunya juga dengan kekasih belahan jiwa. Ratusan, bahkan ribuan tahun persoalan cinta tak pernah selesai dibahas. Selalu ada yang kurang dan harus diisi di setiap persoalan cinta. Dalam mitos-mitos penciptaan manusia, Adam dan Hawa, dalam—banyak perspektif—bahwasanya segala penciptaan ini memang bermula dari cinta. Esensi yang tak akan pernah bisa dipisahkan dari pencarian-pencarian manusia, filsafat, ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, tentunya bertujuan untuk cinta; dari Lila Majnun (Persia) ke Romeo dan Juliet (Shakespeare), sampai pada Di Bawah Lindungan Ka’bah (Hamka), dst. Baca entri selengkapnya »

//catatancatatan.wordpress.com)

Anak-anak (Foto: Faiz M; http://catatancatatan.wordpress.com)

Oleh: Esha Tegar Putra


persuaan selalu tak kuduga

orang-orang meneruka surga sendiri

lembu-lembu bertemu maut sendiri…

Saya selalu senang mengawali tulisan dengan sepengal puisi. Mungkin saja pembaca akan menangkap sebuah peristiwa, lalu menerjemahkan, sebelum pembaca langsung masuk ke dalam tulisan yang akan saya paparkan. Dan puisi di atas merupakan kutipan dari puisi CH Yurma yang berjudul Ambang Pengharapan (Kampung dalam Diri; kumpulan puisi Temu Penyair 2008). “Dia” (CH Yurma) penyair muda Sumatra Barat. Dan apakah itu benar diakui? Puisi tersebut tentunya adalah pengakuan “dia” sendiri.

Baca entri selengkapnya »

Oleh: Esha Tegar Putra

Ada pendapat menarik yang dikemukakan oleh JJ. Kusni atas pernyataan Sutardji Calzoum Bachri (Tardji) mengenai “eksplorasi isi puisi” beberapa tahun silam. Tardji menilai perkembangan puisi sangat meriah dan bahkan sudah mulai sangat ramai. Tetapi, eksplorasi isi cendrung berkurang disebabkan tidak adanya penemuan baru. Sebaliknya, JJ. Kusni berpendapat, bahwasanya “zaman” ketika Tardji meng-otoproklamasi-kan dirinya sebagai “presiden penyair” berbeda dengan kemajuan perpuisian di Indonesia saat ini.

Hal ini tidak pernah tuntas dibahas dalam kajian kesusastraan. Baik itu kritikus atau pun para pencipta puisi; persoalan eksplorasi isi dan estetika dalam puisi. Ketika dikembalikan lagi pada “wujud”-nya, puisi menjadi jalinan teks yang hadir dalam sistim tanda (semiotik) dan nyatanya, memang puisi, dianggap sebagai awal-mula dari karya sastra. Pada akhirnya, tetap puisi akan dikembalikan pada pembaca (masyarakat) melalui “wujud” yang berbeda kapasitasnya; berbeda dari sudut pandang pencipta; berbeda dari sudut pandang kritikus. Akan tetapi, ada satu pertanyaan yang sangat penting saya kira dilontarkan Radhar Panca Dahana di sebuah warung nasi kecil di sudut kota Padang, pada dikusi singkat beberapa minggu yang lalu: apakah puisi—sebagaimana hal-nya dengan bidang seni lainnya—sudah mewakili masyarakatnya saat ini?

Dalam puisi hadir berbagai macam wacana intelektual, terkandung dalam “teks,” dengan berbagai cara pengungkapan dan pola penyuguhan penyairnya. Puisi muncul dari keterusikan batiniah seorang penyair. Muncul dari semacam polemik intelektual diri yang bermula dari pandangan, pikiran, rasa, hingga mencapai tahap penghadiran “teks” sebagai perwujudan dari wacana yang ingin dihadirkan.

Baca entri selengkapnya »

Oleh :Putu Wijaya

Baca entri selengkapnya »

oleh: Juniarso Ridwan

Baca entri selengkapnya »

Oleh: Rohmat Em Humair

Baca entri selengkapnya »

J. J. KUSNI

Baca entri selengkapnya »

Oleh Samsul Hidayat

Dalam dunia absurd, nilai suatu pengertian atau suatu kehidupan diukur dengan kemandulannya. (Albert Camus)

Baca entri selengkapnya »