dongeng-dongeng-tua2

Judul Buku : Dongeng-dongeng Tua
Pengarang : Iyut Fitra
Penerbit : AKAR Indonesia
Cetakan : Pertama, Januari 2009
Tebal : 138 hal, 14 x 21
Resensiator : Esha Tegar Putra

Bagi saya membaca puisi sama dengan menyusun serakan ‘catatan’ tentang peristiwa keseharian. Puisi mengusung ingatan saya menyusuri lekuk kehidupan dunia lewat makna yang saya terima dari setiap susunan kata, struktur bahasa, tentunya metafor yang dinukilkan di dalamnya. Apa yang saya baca—juga pembaca lainnya barangkali—sebentuk usaha pemaknaan dari rasa yang ditangkap oleh penulis (penyair) dari puisi tersebut.
Baru-baru ini saya mendapat sebuah buku kumpulan puisi penyair dari Sumatra Barat, Iyut Fitra. Buku tersebut merupakan kumpulan puisi yang keduanya, berjudul Dongeng-dongeng Tua (Akar Indonesia, Januari 2009), setelah kumpulan puisinya yang pertama, Musim Retak (2006), yang diterbitkan atas kerjasama Horison dengan Citra Pendidikan Indonesia.
Dongeng-dongeng Tua, yang diambil dari satu judul puisi dalam kumpulan tersebut mengembalikan ingatan saya kepada Musim Retak, sehingga saya berusaha memaknai kembali kumpulan puisi pertamanya sebelum membaca kumpulan puisi terbarunya. Ternyata memang benar, beberapa pecahan ‘catatan’ yang sebelumnya diserakkan dalam kumpulan puisi pertamanya saya temukan dalam puisi terbarunya. Puisi dengan judul Lagu Pagi yang Aneh 4 dan 6, dalam Dongeng-dongeng Tua pastinya bagian dari Lagu Pagi yang Aneh 8 yang dimuat sebelumnya dalam Musim Retak, begitu juga dengan Wajah 4 yang di buku pertamanya dimuat Wajah 6 dan 8, juga Bunga Putri Lembayung. Tentang struktur bahasa, suasana, dan metafor yang membagun puisi-puisi dalam kumpulan tersebut tetap memerlihatkan style kepenulisannya.
“Sebagaimana proses kreatif saya, biarlah puisi-puisi ini sekarang yang mengembara. Apakah ia akan mengungjungi pembaca atau hanya menjadi bagian yang akan tersimpan di rak buku, tentu ia punya retak nasib sendiri. Ia telah lahir. Dan ia akan melayari kehidupan. Saya tak berhak lagi untk menentukan jalannya”, ungkap Iyut tentang buku yang berisikan 70 judul puisi di catatan pembuka (salam penyair) buku tersebut. Beberapa puisi di dalam buku tersebut saya temukan diksi-diksi (pilihan kata) yang menandakan ciri khas puisinya, seperti ungkapan Afrizal Malna di catatan Musim Retak. Terlihat dari kegemaran Iyut memakai kata, cermin, kota, negri, perempuan, ibu, perang, yang dituliskan dalam sublimitas yang berbeda dengan penyair-penyair lain. Segalanya menguap dan mengembun di kepala pembaca, ‘catatan’ yang menjadi milik (kisah) pembaca seketika dibaca. Kadangkala susunan kata dalam puisinya terkesan seperti lantunan, alunan, atau susunan lirik bernada; bergaung dan berdengung; ini tentulah hasil dari letupan kalimat padu yang ditulisnya. Jadilah semacam ruang usaha, dari penyairnya, untuk membuka puisi menjadi ruang dialogis dan mendekatkan puisi pada pengalaman puitik pembacanya.
Sesekali saya, selaku pembaca, menemukan kedekatan pribadi penyairnya dengan tradisi Minang. Mungkin ini usaha yang lain dari Iyut untuk memperkenalkan tradisi Minang dengan cara penyampaian puisi (sastra) seperti yang sering dilakukan oleh sastrawan-sastrawan dari Minangkabau–lihat saja karya-karya sastra penulis yang berasal dari Minang (Sumatra Barat). Hal ini terlihat di beberapa puisi yang menggunakan patahan pantun Minang, cerita rakyat, ungkapan keseharian, bahkan cara bertutur puisi dalam kumpulan tersebut. Lihat saja puisi dengan judul Palayaran (hal. 38-42), yang merupakan judul lagu dalam kesenian saluang. Puisi tersebut penuh dengan istilah dan kata semisal tempat kesenian saluang digelar, pantun, alat musik (saluang), bahkan isi dari kalimat dendang: ondeh bulan dimalah bintang, etan di pucuak limau manih/ singkoko tnggang ureknyo, pandan di jawo barabahan/ lah satahun dibalah pinang, lah sabulan lalok jo tangih/ nyatonyo tuan kamaubeknyo, badan jo nyawo den sarahan (Palayaran, hal 42). Perihal ini mungkin hanya faktor kedekatan penyair dengan tanah kelahirannya, jauh dari itu beberapa diksi banyak datang dari usaha pembacaan penyair terhadap persoalan yang universal.
Penyair yang lahir di Payokumbuh, 16 Februari 1968 dan menggerakkan komunitas seni Intro ini sudah seringkali diundang pada event-event sastra di berbagai kota di tanah air. Beberapa puisinya memenangkan lomba yang diadakan oleh Sanggar Minum Kopi Bali, Bung Hatta Award Padang (dengan judul puisi Merah Putih Genting yang dimuat dalam kumpulan Donggeng-dongeng Tua, hal. 94), dan juara I (satu) lomba cipta puisi yang diadakan oleh Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya RI, 2006 (dengan judul puisi Leprechaun yang dimuat dalam Donggeng-dongeng Tua, hal. 83—konon kabarnya satu puisi yang mendapat juara I ini “dihargai” 15 juta oleh dewan juri). Tentunya beberapa puisnya seringkali mengisi lembaran-lembaran sastra surat kabar lokal dan nasional, majalah, di samping termuat dalam puluhan antologi bersama. Dan sebagian puisi yang masuk dalam kumpulan Dongeng-dongeng Tua puisi yang pernah dipublikasikan di surat kabar dan antologi tersebut.
Membaca puisi dalam Dongeng-dongeng Tua, tentunya pembacaan tersebut tak seutuhnya saya maknai sebagai “dirinya” si penyair, tapi lebih kepada pembacaan saya terhadap kejelian si penyair memberi pertanda di setiap apa yang ditangkapnya, dan memaknainya. Lihat saja puisi-puisi dengan judul Mabuk Luka, Galery Kafe, Senandung Orang Malam, Pengemis Tua Itu, Lelaki yang Berangkat, Sebuah Kereta, dll. Hal ini juga diungkap Ivan Adilla dalam catatan pembaca di sampul Dongeng-dongeng tua. Ivan Adilla mengungkapkan bahwasanya puisi-puisi (ditulis dengan sajak) Iyut mengemukakan paradoks dari kehidupan yang galau; tentang harap dari kehilangan, tentang sepi dan keriuhan, kedamaian dalam peperangan serta cinta dan pencarian. Paradoks itu dihadirkan dalam bentuk naratif yang sarat metafora. Juga Sapardi Djoko Damono berungkap bahwasanya Iyut menggunakan sejumlah kearifan setempat (Minang) dan tidak sekedar memoleskan warna dan suasana, tetapi menggaris bawahi makna cinta, perjuangan hidup, dan rasa sunyi yang bisa dibaca di antara larik lariknya.
Sebuah catatan saya kutip dari puisi iyut yang berjudul Hujan Telah Reda (hal. 99)—berkolofon; Payakumbuh 2008 , puisi yang ditulisnya setelah gempa yang mengguncang Sumbar beberapa waktu silam dan puisi ini pernah dimuat di halaman seni koran Kompas: sumatera barat 6 maret, kota-kota diguncang gempa./ kepergian-kepergian pulang siang matahari lurus/ di jalan setapak perjanjian sebelum malam, engkau tak ada, tak ada! dadaku rubuh, debar dan gegas. seolah sebuah kapal tengah/ terperangkap badai/ pohon-pohon berlari. rumah-rumah berlari/ kau lihat kekasihku? Catatan yang membuktikan beberapa anggapan dari pembacaan kritikus, penyair, atau pembaca puisi Iyut.
Bahawasanya puisi memang sebuah anggapan, kristalisasi, proses memaknai hidup. Tak terkecuali Iyut dengan Dongeng-dongeng Tuanya. Tulisan ini bukanlah semacam gugatan atau keharusan, tapi sebuah catatan dari pembaca bagi yang ingin membaca buku kumpulan tersebut. Dan sebuah catatan lain dari puisi Iyut pada puisi terakhirnya dalam Dongeng-dongeng Tua:
….jamila sangat mengerti tentang rindu/ saat malam telah larut. Dan puisiku tak kunjung selesai/ ia kirim sepucuk surat/ jenguklah ke ranjangku. Di sini kata sedang menunggu/ maka kusampaikan keringatku pada dinginnya/ menjadi rahasia (Jamila, hal. 135)