Demikian curahan hati Olive Riley, melalui blognya, sebelum ia meninggal, dalam usia 108 tahun, pada 12 Juli lalu di Australia. Olieve Riley merupakan blogger tertua di dunia. Di masa hidupnya, blogger kelahiran Broken Hill tersebut sempat mengalami dua kali Perang Dunia. Sedikitnya 70 tulisan sudah dia bagikan lewat blog pribadi yang diciptakannya pada Februari tahun lalu. Di senja pekat usianya, ia ngeblog.

Pengalaman hidupnya sepanjang abad 20 serta pemikirannya tentang zaman modern mendominasi tulisan yang bisa dibaca di http://www.allaboutolive.com.au atau http://worldsoldestblogger.blog spot.com. Diketahui dari blognya, perempuan kelahiran 20 Oktober 1899 itu sempat mencicipi beragam jenis pekerjaan demi membesarkan tiga anaknya. Mulai dari menjadi koki hingga pelayan bar.

“Hobi menulis blog itu memberikan warna tersendiri dalam kehidupannya,” ujar Darren Stone, salah seorang cucu Riley, sebagaimana ditulis kantor berita AFP. Apalagi, lewat hobinya itu, Riley bisa berkomunikasi dengan teman-teman mayanya yang tinggal di Rusia dan Amerika secara berkala.

Dalam tulisan terakhirnya, nenek melek teknologi itu menggambarkan kondisi kesehatan dia sejak tinggal di panti jompo. Kemudian, para pengenalnya, tercenung, ketika berita duka menyebar di berbagai blog seluruh dunia. Rata-rata mengatakan, kehilangan nenek blogger.

Curhat dan Curiga

Ilustrasi tentang Olive Riley di atas, sebuah gambaran menarik. Ia menuturkan di blognya, tentang apa yang dirasakan, diketahui dan diingatnya. Semua, tentu, apakah disadari atau tidak, untuk dunia. Jika tidak untuk dunia, pembaca jelas tidak bakalan tahu, curahan hatinya di pembuka tulisan ini.

Beberapa responden ketika ditanya sepintas, kebanyakan menjawab, bahwa ngeblog untuk menyampaiakan apa yang kurasakan. Ia bisa dijadikan media mencurahkan perasaan/hati (curhat), semacam diary. Juga perlawanan yang diam, tetapi menerbitkan pesan yang kuat. Setidaknya, kita bisa mensejalankan hal itu dengan apa yang dikatakan Evan Williams, pendiri Blogger.com. Katanya, mayoritas blogger adalah anak- anak muda atau mahasiswa.

Dan banyak di antara mereka yang menggunakannya untuk berkomunikasi dengan teman-temannya. Setiap orang tentu saja dapat membuat blog-nya masing-masing, tapi seperti yang dikatakan Evan, sebagaimana juga ditulis di web ilmukomputer.com, blogger saat ini kebanyakan terdiri dari para penulis diary muda yang dinamis, offbeat dan punya opini untuk segala hal. Nenek Olive, pengecualian, yang tentu luar biasa.

Menurut Scott Rosenberg, para blogger, sesungguhnya tengah memenuhi ramalan para visionaris internet terhadap munculnya jenis baru para jurnalis online, tetapi bedanya daripada mencari berita di dunia nyata, mereka menyiangi internet untuk mendapatkan berita. Blogger menurut sifat dasarnya bukanlah reporter, mereka berperan sebagai editor dalam blognya masing-masing dan dalam sebuah dunia dengan budaya media yang telah jenuh, blog menjadi suara-suara alternatif yang menyuarakan bunyi independen dalam setiap ulasannya.

Kalau kita “berkeliaran” di jagad internet, mengunjungi blog, kita akan mendapatkan berbagai polah dan corak serta pola ucap dan cara menampakkan diri. Mulai dari yang narsis, norak, sampai ke yang jaga imej sampai ke yang intelek dan sebagainya. Hal inilah, setidaknya, wajar kalau ada yang bilang, ngeblog itu, “suka-suka” yang punya blog. Tak ada yang menegah. Tapi tetap ada etika. Blog menjadi semacam rumah imajiner dimana penghuninya dapat berbuat dengan batasan media yang ada di blog, untuk memenuhi kebutuhannya.

Bagi sebagian orang, blog adalah untuk curiga (curahan rasa, ilmu dan gagasan). Ada yang menayangkan artikel, karya jurnalistiknya, puisi, cerpen, dan bahkan lukisan-lukisan serta foto-foto koleksi pribadi ke dalam blog. “Blog berguna sebagai ajang silaturahmi dan tidak hanya sekadar untuk say hello dan mengucapkan good morning, tapi lebih dari itu,” kata Drs. Fadlillah MHum, Dosen Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang ini. Dia mengaku, ngeblog setelah dimotivasi Budi Putra, CEO Asean Blog Net. Di sinilah menariknya, dengan adanya teknologi internet, dimana kita bisa punya blog, punya pikiran dan ide, bisa diterbitkan, didokumentasikan sendiri. Fadlillah mengaku, mengelola dua blog, satu punya pribadinya satu punya jurusan tempat dia mengabdi.

Peneliti senior di Pusat Kajian Islam dan Masyarakat atau PPIM UIN Jakarta, Oman Fathurahman, baginya blog untuk mempromosikan tentang naskah-naskah nusantara. Ia juga menjaga dua blog lainya yang dikhususkan tentang curriculum vitae-nya dan satu lagi blog mengenai catatan kesehariannya. “Kalau mau lihat data lengkap saya lihat saja di blog curriculum vitae, dan tentang naskah ada di blog Indonesia Islam Filologi, satu lagi tentang catatan keseharian saya, blog uncang-uncang angge.” Di sinilah, blog berfungsi untuk memublikasikan tentang kekayaan intelektual, bermanfaat bagi orang banyak.

Sementara itu, Nasrul Azwar, pemilik blog “mantagisme” ini mengatakan, “Blog adalah jiwaku…, darah yang mengalir.” Artinya, pekerja media di Bangka Belitung ini mengatakan, blog sesungguhnya kerja serius. Walau bagi sebagaian orang bisa untuk narsis-narsisan. Kata lelaki yang akrab disapa Mak Naih ini, blog adalah media yang cukup efektif untuk menyampaikan gagasan. Konsep dunia internet, konsep jejaring yang yang memudahkan seseorang “terkoneksi” dengan yang lainnya. “Blog merupakan jurnalisme publik. Publik bisa mengontrol apa saja lewat blognya, dan menceritaka apa saja lewat blognya,” kata Nasrul. “Blog merupakan sarana publikasi lekas. Cepat. Kumunikatif. Interaktif,” tambah Hasan Aspahani, seorang penyair dan pekerja media di Batam ini.

Kritik sosial dan tukar pendapat tentang masalah yang sedang hangat juga menjadi topik yang asik untuk diulas di blog. Lewat komentar yang ada di tampilan blog, setidaknya akan didapatkan bermacam solusi yang mungkin untuk dilakukan. “Komunikasi mungkin saja terjalin atas eksistensi sebuah blog. Pertukaran atau asimilasi menjadi lebih luwes terjalin di sini,” lanjut Yuhefizar MKom, yang juga dosen di bidang Informasi dan Teknologi ini di Universitas Andalas.

Menurutnya, blog bukan sekadar trend. Namun, blogger perlu menyikapi tren tersebut agar tetap eksis. Hal itulah yang harus diikuti para blogger ke depan. Bagi yang belum pernah mencoba, tidak ada salahnya mencoba. Dengan visi dan misi yang jelas, sebuah blog menurut blogger yang disapa Epi ini, akan lebih dihargai dan sering dikunjungi. “Sebab, ketika seseorang akan mencari sebuah topik di search engine yang terhubung langsung dengan topik blog, alamat yang tampil dengan topik tersebut akan tampil,” lanjutnya.

Sementara itu, webmaster Anton Hilman, blognya berisikan catatan kecil keseharian dan terkait hobi. Ia cukup menulis maksimal sepanjang tiga alinea pendek. Misalnya, menggambarkan pengalaman kena tilang, antre di bank, ketemu dosen pembimbing cukup dengan satu atau dua alinea yang terdiri dari lima sampai delapan kalimat. Bahasanya pun tak perlu ikut kaidah, yang penting bisa dimengerti. “Saya ingin mencatat peristiwa kecil dalam keseharian saya,” kata Anton.

Mengasah Kemampuan Menulis

Sebagaimana tertulis di blog bambangoke.com, bahwa blog atau weblog adalah buku harian online yang diisi secara terus-menerus secara periodik. Blog pada awalnya hanya dimiliki oleh artis dan selebriti saja karena pada saat itu membuat blog membutuhkan banyak biaya, meliputi pembuatan desain, pembelian domain, sewa hosting sampai dengan maintenance blog itu sendiri. Di samping itu diperlukan pengetahuan khusus tentang bahasa pemrograman internet seperti PHP dan MySQL.

Namun, sesuai dengan perkembangan zaman, belakangan ini sudah banyak beredar situs-situs yang menyediakan blog secara gratis tanpa harus mengerti bahasa pemrogramannya. Banyak penyedia blog yang menawarkan situs blog pribadi secara gratis, seperti blogger, blogdrive, blogsome, wordpress, friendster, facebook dan masih banyak lagi..

Pinto Angrah, menjadikan blog sebagai pendokumentasian naskah dramanya. Ia selain penyair, juga penulis naskah. Sedangkan Nilma R Isna, mahasiswa jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unand, memiliki beberapa blog. Baginya, blog memiliki spesifikasi. Begitu juga dengan Opie, mahasiswa Psikologi UNP, Padang. Baginya blog, adalah untuk mengasah kemampuan menulis. Ia menyukai menulis, sebagaimana juga Nilna. Memang, di web blog, tantangannya adalah menulis, apa pun yang akan diceritakan.

Lesatnya pertumbuhan blog di Indonesia juga menumbuh-kembangkan komunitas-komunitas bloger di setiap daerah (kota). Misalnya, Blogger Padang (Palanta), Blogger Makasar (anging mammiri.org), Blogger Famili (blogfam), Blogger Jakarta (Tukang Lenong), bloger Ranah Minang, dan banyak lagi komunitas-komunitas blogger yang berkembang di tiap daerah yang dapat dijangkau media internet.

Anggotanya masing-masing blog pun beragam, tergantung pada tujuannya. Ada komunitas khusus sastra, perbukuan, teknologi, ekonomi, budaya, perjalanan, dan bahkan komunitas blog kuliner. Semua ini memang dapat mempermudah akses. Siapa saja, di mana saja, dapat mencari berita, tinggal menulis tujuan di google, meng-klik tujuan, maka akan bermuncul beragam list penawaran dari beragam blog yang kita maksudkan.

Ngeblog saat ini cukup fenomenal. Mulai dari ABG sampai orang tua, ikut ngeblog. Saat ini, 80 ribu blog baru muncul setiap hari. Telah tercatat 4,5 juta blog, belum termasuk halaman-halaman kontennya. Data ini, dihimpun Bob Julius Onggo, penulis bayak buku mengenai dunia maya (internet) dan segala perkembangannya, seperti terangkum dalam “Google is My Salesman” dan “Cyber Publik Relation”, “Google is Preneur; Kaya Lewat Google”, dan lainnya. Artinya, dunia kian ramai dengan blog. (Yusrizal KW/Esha Tegar Putra/Sandy Adri) Padang Ekspres, Minggu, 14 Desember 2008