Di senja usianya, lelaki tua itu masih bersetia dengan kalam, dawat, dan kertas. Dengan penuh ketelitian ia celupkan kalam ke botol dawat, berhati-hati ia mengangkat tangannya kembali, agar dawat tak tumpah. Perlahan ia goreskan kalam yang berdawat itu ke atas kertas di depannya. Mulailah ia bersitekun menulis ajaran tasawuf yang telah melekat pada dirinya dengan aksara Arab, bukan karena buta huruf latin. Siang itu, selepas Zuhur, di sebuah Surau di tepi batang air yang jauh dari hiruk pikuk kota.

Surau itu, yang memang ditempatinya sedari dulu, merupakan tempat ia menulis bait-bait pengetahuan dalam lembaran-lembaran naskah yang sekarang masih tersimpan di sana. Tak banyak yang tahu, tentang apa yang ditulisnya, kecuali beberapa muridnya. Bahkan para peneliti naskah baru mengenalnya 10 tahun belakangan. Orang-orang mengenal dan menghormatinya sebagai Buya, atau Syekh bagi murid-murid tarekat.

Lelaki tua yang selalu menenteng majalah-majalah Islam sepulang dari pasar di hari pekan itu, akrab dipanggil Buya Imam, merupakan seorang ulama yang perpegang teguh pada ajaran dan prinsip-prinsip amaliah yang yakininya. Beliau tinggal di sebuah surau yang terletak bersebelahan dengan Pesantren Tarbiyah Islamiah (PMTI) Batang Kabung, Koto Tangah, Padang. Puluhan kitab telah ditulisnya sebagai refleksi dari keyakinannya tersebut.

Bahkan kekerasannya berpegang teguh dapat dilihat pada perdebatan antara kaum tua dan kaum muda ketika terjadinya gerakan Wahabi di Minangkabau. Dalam naskahnya (Risalah Mizan al-Qalb) dia menulis perdebatan itu dan berusaha meluruskan ajaran Islam yang diperdebatkan tersebut. Dalam naskah ini pula lah istilah Kaum Tuo dan Kaum Mudo pertama kali di perkenalkan.

Buya Imam, atau lengkapnya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib, adalah salah seorang guru tarekat Syattariah di Minangkabau. Beliau lahir di Batang Kabung, Padang, pada tanggal 8 Agustus 1922. Ayahnya bernama Amin dan ibunya bernama Fatimah. Beliau bersuku Balai Mansiang.

Pramono, dosen dan peneliti naskah di Fakultas Sastra Unand, menyebutkan bahwa sebutan “al-Khatib” diambil dari gelar “Khatib Mangkuto”. Di tahun 1943, ia dinobatkan oleh masyarakat Batang Kabung sebagai khatib Jumat di mesjid setempat. Sebagai seorang khatib, beliau mempunyai tanggung jawab kepada kaumnya untuk urusan keagamaan. Setiap ada persoalan muncul, beliau adalah orang tempat bertanya.

Di tahun 1964, ia meletakkan jabatannya sebagai khatib Jum’at, namun, oleh masyarakat setempat ia dinobatkan sebagai Imam sholat Jum’at di mesjid yang sama, sehingga sebutan “Imam Maulana” dilekatkan padanya. Jadi, nama aslinya sendiri adalah Abdul Manaf Amin. Kata “Amin” pun sesungguhnya diambil dari nama ayahnya, yang merupakan seorang tokoh Muhammadiyah di Muara Penjalinan, Koto Tangah, Padang.

Kesadaran bahwa kelak ia juga nantinya yang harus mengajar dan berdakwah menjadikan dorongan untuk menulis lebih kuat pada dirinya. Artinya, menulis bukan untuk tujuan keuntungan materi tapi lebih penggilan jiwa, tuntutan agama, tuntutan dakwah, dan ketulusan beramal saleh. Sampai pada akhir usianya, beliau masih menulis. Seperti yang dituturkan muridnya Zul Asri (35), “Buya itu rajin menulis, kalau beliau tidak sakit, maka, tiap selesai sembahyang dia akan menulis.

Mula-mula ditulis dulu di buku biasa, setelah itu baru dipindahkan ke kertas lain dengan kalam agar rapi dan bersih.” Selama karir kepenulisannya, ia telah menulis sebanyak 23 naskah, diantaranya tentang biografi, seperti sejarah Syekh Burhanuddin Ulakan, sejarah Syekh Abdurrauf Singkel, sejarah Syekh Paseban, sejarah Syekh Surau Baru, dan lain-lain, Sejarah Perkembangan Islam di Minangkabau, Ilmu Hisab (Kitab Al Taqwim), ajaran-ajaran tarekat Syattariah (Kitab Ziarah Kubur ke Makam Syekh Abdurrauf Singkel, Mizan Qulub, dan seterusnya).

Risalah Tanbih al-Masyi karangan Syekh Abdurrauf Singkel, merupakan salah satu naskah yang disalinnya dan sangat langka, karena hanya dimiliki oleh empat orang ulama tarekat selain beliau di dunia. Naskah ini berisi salinan teks Tanbih al Masyi karya Syekh Abdurrauf Singkel yang menyoal Wahdatul Wujud. Fisik naskah berukuran13 x 16,5 cm, blok teks 7,5 x 15,5 cm, 13 kuras dengan 8 lembar tiap kuras, 208 halaman dengan 17 baris tiap halaman.

Penomoran halaman menggunakan angka Arab, halaman 205-208 kosong. Penulisannya menggunakan aksara Arab-Melayu dan Arab, bahasanya bahasa Melayu dan bahasa Arab. Naskah tersebut tanpa sampul dan tanpa kolofon dengan kondisi masih lengkap dan terawat dengan baik. Teksnya cukup rapi dan mudah dibaca, terdapat garis bingkai berupa dua garis halus berwarna hitam.

Kalam patah, dawat tertunggang, tidak dapat menulis lagi. Seperti itulah, perjalanan usia menyelesaikan risalah hidup Sang Imam, yang menghabiskan usianya di jagad kepenulisan naskah-naskah kuno di Minangkabau. Hari itu 12 Oktober 2006, beliau menghadapNya. “Jaga surau dan kitab dengan baik,” pesan terakhirnya pada Zul Asri, murid yang merawat beliau. Pesan singkat yang tidak hanya untuk si murid, namun juga untuk kita semua. Selamat jalan Buya! (Gusriyono dan Esha Tegar Putra) Padang Ekspres Minggu, 21 Desember 2008