dalam lembah batu lembah bermiang aku mengunyah hujan beribu kali
lipat melebihi kunyahan sungai pada cadas gunung. hingga saat yang tak
ditentukan dengan ukuran tahun, akan terdengar dengar lenguh sapi jantan
ikut menikmati sakitnya hujan turun. takkah kau melihat sesuatu yang
menggelegak berlarian di hantaran kabut bergumpal, semisal sayap
serangga, ekor kunang-kunang, atau tali pengikat badan kupu-kupu?
mungkinkah itu rindu yang dibekap dingin ladang kol dan sawi? atau cuma
bunyi langkah para pemikat burung yang tertahan takutnya di balutan kain
hitam pada sangkar berajut lidi enau yang dibawanya. ah, dalam lembah
batu lembah bermiang aku membikin iri pohon-pohon tua yang kedinginan

dalam lembah batu lembah bermiang ada beragam mata bewarna yang
selalu menampakkan cahayanya. jingga jika senja mengendap pelan, hijau
pada pagi dengan dedaun mengerucut nyeri, merah di kulit kayu yang
terkulum siang… oh, aku terus mengunyah hujan. terus mengunyah, tak
menimang kapan batu, kayu, air terjun dan seisi lembah akan meminjam
sayap serangga untuk terbang mengelilingi dunia yang belum
mereka datangi

begitulah sakit yang teramat nikmat, sakit mengunyah hujan, dalam lembah
batu lembah bermiang. barangkali nikmat ini ada yang meminjam, atau sekedar
bertanya tentang rasanya? aku ingin mengendap saja jadinya, setelah waktu
yang tak terhitung ini mulai membilang banyaknya daun, banyaknya akar
banyaknya air yang susut dari lembah. semacam takut yang ingin kutahan
dulu. membantuknya menjadi lembah baru yang dipenuhi sayap, oh, lembah
bersayap, lembah yang terbang menyusuri dunia baru. lembah yang
dibenturkan peradaban angin. dan hujan, aku ingin terus mengunyahnya
sampai sakit ini teramat nikmat untuk disebut sebagai sakit

Kandangpadati, 2008