(Catatan Pementasan “Samin dan Samin tawa Yasmin dan Yasmin” karya dan Sutradara Pandu Birowo)


Oleh: Esha Tegar Putra

Tiada yang agung selain cinta (dengan “c” besar), begitulah setiap narasi besar bermula diciptakan. Cinta berupa sebuah jalinan, hubungan berkelindan, entah itu hubungan dengan Sang Pencipta, dengan alam, orang-tua, sanak saudara, tentunya juga dengan kekasih belahan jiwa. Ratusan, bahkan ribuan tahun persoalan cinta tak pernah selesai dibahas. Selalu ada yang kurang dan harus diisi di setiap persoalan cinta. Dalam mitos-mitos penciptaan manusia, Adam dan Hawa, dalam—banyak perspektif—bahwasanya segala penciptaan ini memang bermula dari cinta. Esensi yang tak akan pernah bisa dipisahkan dari pencarian-pencarian manusia, filsafat, ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, tentunya bertujuan untuk cinta; dari Lila Majnun (Persia) ke Romeo dan Juliet (Shakespeare), sampai pada Di Bawah Lindungan Ka’bah (Hamka), dst.
Begitu juga dengan permunculan “teks” panggung dalam pementasan “Yasman dan Yasman atawa Samin dan Samin”. Dua orang laki-laki tua yang telah lama hidup bersama dan melalui hari-hari yang menyesakkan. Seakan kematian semakin dekat dan mereka dicekam sebuah “dosa”, akan cinta yang salah. Mereka berdebat soal apa saja. Soal bermulanya cinta mereka, hembusan angin, bintang, bahkan dunia yang semakin besar dua kali lipat dari yang pernah mereka rasakan dulu.
Pementasan “Yasman dan Yasman atawa Samin dan Samin”, naskah lakon rekaan Pandu Birowo tersebut dipentaskan pada hari Kamis, 27 November 2008, jam 21:30 WIB, di Teater tertutup Taman Budaya Sumatra Barat. Pementasan yang terselenggara atas kerja sama pihak Taman Budaya dengan STSI Padang Panjang ini disutradarai dan dimainkan langsung oleh penulis naskah (Pandu Birowo; dosen STSI Padang Panjang yang dulunya staf pengajar di INS Kayu Tanam), dan satu orang lakon tambahan yakni Wendi HS. Apakah masuknya penulis naskah lansung sebagai sutradara dan pemain ini menyangkut penyempurnaan “teks” ciptaan? Ketika “teks” yang berbentuk naskah itu diciptakan oleh penulis, akan lebih dirasakan jiwanya jika disutradarai dan diperankan langsung oleh penulis naskah itu sendiri?
Meski pementasan “Yasman dan Yasman atawa Samin dan Samin” sempat tertunda satu jam lebih—yang seharusnya pentas jam 20:00 WIB—dikarenakan permasalahan teknis (padamnya listrik secara meyeluruh) nyatanya penonton masih menunggu gebrakan apa yang dihadirkan dalam pementasan ini. Dan seperti yang dijelaskan di atas, itulah, rupanya cinta, antara Samin dan Yasman, mungkin juga Yasman dan Samin, dikarenakan mereka tidak tahu lagi diri mereka. Entah yang satu Samin atau Yasman, atau mereka dua orang yang sama dalam perbedaan, berbeda dalam persamaan.
Awal memasuki ruangan terlihat panggung Teater Tertutup dibatasi dengan dinding yang dibuat dari tisu. Di tengah-tengah panggung sebuah meja putih diletakkan dengan dua kursi saling berhadapan dari sisi kiri dan kanan panggung. Meja tersebut dialasi dengan tikar dari gabus tipis berwarna hijau. Dua buah gelas berleher jangkung berisi minuman berwarna merah telah tersedia di atas meja. Juga botol minuman yang bersisa setengah. Lilin menyala, seperti simbol dari gelora yang masih ada. Seketika pertunjukan dimulai, di sebelah kiri panggung—dari arah penonton—seorang tua berambut panjang dan ubanan (yang mungkin Samin atau Yasman) terlihat sedang merawat bonsai. Sepertinya “bonsai” sengaja dihadirkan di atas panggung untuk menjadi simbol dari sebuah pemikiran yang dikerdilkan. Lelaki tua berambut panjang itu terus memotong setiap bagian ranting dan daun yang baginya mungkin tidak indah. Dia membalutkan kawat, pelan-pelan sekali seakan ia sudah sangat hafal setiap lekuk bonsai itu. Awal pementasan dan semua pergerakannya diiringi dengan alat musik Cello. Hingga kesan dramatiknya muncul dengan suasana melankolis.
Lalu seorang tua lagi muncul dari belakang panggung—Cello masih mendengung di telinga penonton—melewati batas dinding tisu yang sepertinya juga langsung difungsikan sebagai pintu. Seorang tua itu (yang mungkin juga Samin atau Yasman) duduk di sebuah kursi, ia menatap ke arah lelaki tua berambut panjang, lalu bergumam tentang hidup dan perjalanan. Dari sinilah dimulainya kisah. Laju permainan yang dipenuhi dengan penghambur-hamburkan narasi tentang cinta, cinta pada apa saja, tentunya juga cinta sepasang lelaki tua itu. Sebenarnya apa yang terjadi pada dua lelaki tua itu? Mereka sepasang kekasih yang ditakdirkan untuk selalu dihumban rasa bersalah?
Nyatanya memang begitu, dari dialog sepasang lelaki tua tersebut terbaca bahwa mereka memang sepasang kekasih tua yang lelah. Mereka lelah dengan hidup. Mereka ingin menggairahkan kembali gelora yang (mungkin?) pernah mereka miliki. Tapi dari dialog yang bersihantam tersebut, dari gerakan mereka di panggung, sepertinya ada semacam penolakan akan cinta mereka. Entah itu dari dalam mereka masing-masing ataupun pengaruh luar. Yang satu, Samin atau Yasman, menghantam kekasihnya yang selalu merasa bersalah pada Tuhan dengan menyatakan hubungan mereka itu salah. Yang satunya lagi, Samin mungkin juga Yasman, terus menggelorakan kata-kata melankolis bahwasanya mereka masih mempunyai “nafsu”. Mereka malu-malu, saling menginginkan satu sama lain. Realita apa sebenarnya yang ingin dihadirkan oleh sang sutradara? Dan bukanlah persolan ini adanya bukan hanya sekarang, bahkan sejak zaman nabi Luth sudah ada yang disebut dengan kaum Sodom?
Jika mendengar dialog dengan teks sastra—kadang terkesan mubazir—yang manis dimana semua dialognya itu adalah puisi-puisi yang berkelindan dalam sebuah wacana rekaan. Terlihat sekali dari permainan dua orang tua ini, bahwa mereka ingin mengukuhkan eksistensi mereka sebagai sepasang kekasih yang tidak salah arah. Semua benar adanya, layaknya hubungan normal laki-laki dan perempuan. Tapi nyatanya begitukah? Bisakah mereka begitu hingga akhir hayat? Bagaimana dengan hubungan mereka dengan Tuhan dan dunia mereka? Pertanyaan-pertanyaan itu terus dihadirkan. Sesekali diperlihatkan aura percumbuan yang tanggung, entah tersangkut permasalahan apa percumbuan itu cepat saja diselesaikan. Pada babakan tengah pertunjukan diperlihatkan tarian, dan kemarahan seorang tua yang merasa dirinya tidak dicintai lagi, kemarahan itu ditotalkan dengan penghancuran properti gelas dan lilin yang masih menyala di atas meja.
Pementasan ini pun diselesaikan dengan kalimat-kalimat yang manis, sama seperti awal dan pertengahan pertunjukan. Seakan pementasan ini belum final sampai di sini. Sebab dialog-dialog yang dihadirkan mempunyai getaran yang sama dari awal sampai akhir. Seakan tidak ada klimaks dan titik puncak.
Pastinya ada kekesalan dan pertanyaan yang terdapat di pikiran penonton yang akhirnya dibahas dalam sesi diskusi. Pertanyaan yang hadir itu menyangkut hubungan antara naskah yang dipentaskan ini dengan novel Saman (Ayu Utami), Menunggu Godot (Samuel Becket), dan Kereta Kencana (Eugene Eunesco). Rupanya karya dan narasi besar inilah yang menjadi inspirasi penulisan naskah. Dan naskah ini memang dihadirkan dengan beragam pertanyaan-pertanyaan filosofis mengenai hidup. Spirit dari beberapa narasi besar yang disebutkan di ataslah rupanya yang mengawali pencarian bagi penulis naskah dan sutradara.
Tapi yang jelas inilah hasil dari pencarian itu, hasil yang dihadirkan ke panggung dengan penggarapan yang cukup matang. Kiranya ini belumlah keputusan akhir, pastilah akan ada “Yasman dan Yasman atawa Samin dan Samin” yang akan melengkapi kekurangan dari pementasan malam itu. Seperti banjir puisi melankolis, gairah yang tanggung dan penghancuran properti yang telah disepakati sejak semula—dinding tisu yang dihancurkan (realis?). Kiranya yang tertulis ini bukanlah yang sebenarnya makna dari pementasan “Yasman dan Yasman atawa Samin dan Samin” secara utuh. Akan tetapi saya, selaku penonton yang merasa dijadikan penonton yang “pintar” akan telah membawa pulang pertanyaan-pertanyaan tentang apa saja yang dihadirkan dalam pementasan tersebut. Mulai dari konsep, simbol, wacana yang dihadirkan, dan segala hal yang membangun pementasan tersebut hingga penonton merasa pementasan itu benar-benar milik penonton. Semoga proses itu terus berlanjut dan teater Sumatra Barat makin menjadi tontonan yang mengasyikkan. Uh, cinta juga akhirnya yang membuat sesuatu itu menjadi. Sepasang lelaki tua di panggung cinta. Selamat!