//catatancatatan.wordpress.com)

Anak-anak (Foto: Faiz M; http://catatancatatan.wordpress.com)

Oleh: Esha Tegar Putra


persuaan selalu tak kuduga

orang-orang meneruka surga sendiri

lembu-lembu bertemu maut sendiri…

Saya selalu senang mengawali tulisan dengan sepengal puisi. Mungkin saja pembaca akan menangkap sebuah peristiwa, lalu menerjemahkan, sebelum pembaca langsung masuk ke dalam tulisan yang akan saya paparkan. Dan puisi di atas merupakan kutipan dari puisi CH Yurma yang berjudul Ambang Pengharapan (Kampung dalam Diri; kumpulan puisi Temu Penyair 2008). “Dia” (CH Yurma) penyair muda Sumatra Barat. Dan apakah itu benar diakui? Puisi tersebut tentunya adalah pengakuan “dia” sendiri.

Sesuatu yang miris sebenarnya, ketika saya menyebut “dia” sebagai seorang penyair sedangkan tak ada pengakuan dari kritikus, sastrawan, ataupun pengapresiasi puisi (baca; sastra) di Sumatra Barat yang benar-benar mengakui “dia” adalah seorang penyair yang telah melahirkan banyak puisi dan memublikasikannya di berbagai media massa, jurnal, majalah dan antologi puisi. Sebab apakah itu? Apakah perlu “dia”—dan banyak lagi deretan nama penyair, cerpenis, prosais (baca; sastrawan) yang akhir-akhir ini memeriahkan nama Sumatra Barat, dan itu dengan karya-karya mereka, tidak saja di halaman sastra media massa daerah, melainkan luar daerah dan nasional. Deretan nama tersebut sudah saya bahas juga sebelumnya di rubrik budaya Padang Ekspres, “Apa Kabar Penyair Perempuan Mutakhir Sumatra Barat?” (Padek, 12/10/2008), “Puisi, Eksplorasi Isi, Estetika Baru dan Zaman” (Padek, 2/11/2008).

Siapa yang Berhak jadi Sastrawan?

Kiranya memang perlu membahas hal ini lebih lanjut. Sebuah fenomena dalam dunia kesusastraan Indonesia, terutama di Sumatra Barat yang kehilangan kritikus dan pengapresiasi karya sastra sehingga orang-orang mudah saja menganggap bahwa: sastrawan Minang (Baca; Sumatra Barat) jarang muncul!

…Efendi mengatakan, sumbangan sastrawan Minang terhadap khasanah sastra nusantara sangat besar. Ini tak terlepas dari budaya alam dan keislamannya yang dinamis terhadap kelahiran penulis-penulis sastra Minang sejak orang melek huruf. “Iklim budaya egaliter dan anti primordialisme masyarakat Minang tidak dapat dikesampingkan dalam membentuk watak kepengarangan para sastrawan tersebut,” kata Haris. Hanya saja, ketika sekarang sudah sangat jarang para sastrawan asal Minang bermunculan, kemudian menjadi pertanyaan banyak orang…” Pernyataan—garis miring—ini saya dapat dari pemberitaan koran Singgalang (17/11/2008) dengan judul “Sastrawan Minang Jarang Muncul” atas dasar sebuah ungkapan dari bapak Haris Effendi Tahar yang menjadi pembicara pada dialog “Menumbuh Kembangkan Bakat dan Kemauan Menulis Karya Sastra di Ranah Minang,” di Jakarta (Sabtu, 14/11/2008).

Teringatlah saya pada 2 esai B.H Hoed yang esai pertamanya “Si Didi Ingin Jadi Penyair: Siapa yang Berhak Mengangkatnya?” dan esai keduanya “Tak Seorang pun! Atau semua orang!” (Majalah Budaya Jaya, No. 80, 1975, hlm. 36; dalam Afrizal Malna; Sesuatu Indonesia [2000]). Kiranya fenomena ini pada dekade 70-an menjadi semacam legitimasi atau pengukuhan atas eksistensi seorang penyair. Siapa yang berhak mengangkat penyair? Dan jawaban dari pernyataan tersebut, dari pengukuhan atau legitimasi tersebut bukanlah dari lembaga-lembaga kesenian yang tubuh di saat itu tetapi adalah karya yang sampai pada masyarakat dan diapresiasi, baik oleh kritikus, ataupun masyarakat sastra secara luas. Hal semacam inilah yang tidak ada (lagi) sekarang di Sumatra Barat. Bagaimana mungkin seorang sastrawan yang karyanya sudah dipublikasikan dan dibaca masyarakat tidak dianggap. Bagian inilah yang saya sebut miris. Apakah benar pengakuan itu sekarang harus oleh kritikus, lembaga-lembaga kesenian, atau sastrawan yang lebih eksis dahulu (mapan). Atau juga malah karyanya sendiri yang akan menjawabnya?

Kiranya mau dikemanakan sastrawan muda seperti Agus Hernawan, Yetti AKa, Ragdi F Daye, Farizal Sekumbang, Iggoy El Fitra, Romi Zaman, Deddy Arsya, Pinto Anugrah, Rio SY, dan banyak lagi nama yang karyanya beberapa dekade ini bertebaran di berbagai media massa daerah dan nasional bermunculan? Mau dikemanakan juga Darman Moenir yang akhir-akhir ini aktif lagi bercerpen ria—dua bulan terakhir saya baca cerpennya di Kompas dan Jurnal Nasional, Yusrizal KW—yang juga aktif kembali, Agustus cerpennya juga di Kompas,–Iyut Fitra, yang akhir-akhir ini ikut menggebrak dengan cerpennya. Mau dikemanakan? Pertanyaan ini akan lebih miris lagi jika menjadi kenyataan bahwa sastrawan, kritikus, akademisi sastra dan masyarakat sastra tidak menganggap mereka ada; tidak membahas karya-karya mereka; mengapresiasi. Karya-karya, yang diwakili nama, akan lenyap begitu saja ditelan oleh pemberitaan-pemberitaan yang miris. Dan akan lebih miris lagi jika ada pemberitaan yang menyatakan sastrawan dari luar seperti Remy Sylado yang jelas-jelas (maaf) tidak pernah berproses secara intens di Minang (Sumatra Barat) dikatakan sebagai “sastrawan urang awak.” Apakah ini tidak menyedihkan, kita tidak mengenal sastrawan kita sendiri, yang jelas-jelas sudah berkarya, malahan menyebutkan Remy Sylado yang bernama asli Yapi Tambayong; dari Sulawesi disebut sebagai sastrawan urang awak. “…sementara itu Remy Sylado yang juga sastrawan urang awak mengatakan. Tingginya harga…” (Singgalang, Senin, 17/11/2008)

Apa yang tidak diperbolehkan penyebutannya, rasa kepemilikan “kita” memang besar kiranya? Jika kita merasa memiliki orang di luar “ruangan kita” tentulah kita harus merasa memiliki (dekat) dengan orang-orang dalam “ruang kita”. Atau yang sebenarnya miris itu, dan ini berbahaya, sebenarnya “kita” tidak pernah membaca karya-karya orang-orang di dekat kita lalu langsung menyatakan bahwasanya sastrawan Minang jarang muncul. Saya kira “kita” harus membuka lagi lembaran-lembaran sastra berbagi media daerah dan nasional beberapa dekade belakangan ini. Atau tinggal meng-klik “http/;www.google.com” jika tidak “kita” tidak pernah lagi mengikuti perkembangan “mereka” (sastrawan dalam “ruang kita”; Minang (baca; Sumatra barat). Atau jika ini bukanlah kebenaran, hanya sebuah euforia “kita” atas pengukuhan primordialisme? Ah, berharap bukan begitu adanya.

Membaca peta kesusastraan baru

Kita perlu membaca peta kesusastraan Indonesia yang lebih baru. Apa perkembangan yang terjadi dan di manakah batasannya? Kiranya ada karya-karya sastrawan dari Minang yang akhir-akhir ini bermunculan?

Beberapa tahun ini, sejak saya intens masuk ke dunia kesusastraan, saya selalu memperhatikan media massa daerah dan luar Sumatra barat, media nasional—media yang memuat karya sastra—dan juga ajang perlombaan nasional dan daerah (meliputi lomba cerpen, puisi, dan naskah drama). Selalu saya perhatikan perkembangan karya para sastrawan Sumatra Barat. Saya melakukan pengukuhan sendiri, menganggap mereka sastrawan atas karya-karya mereka. Mereka sastrawan!

Ternyata memang benar, banyak karya-karya yang bermunculan di media massa, ajang perlombaan, apalagi?! Sungguh suatu kehormatan ketika Gus Tf mendapat banyak penghargaan, Iyut Fitra menang lomba puisi Budaya dan Pariwisata nasional 2005, suatu kebanggaan Pinto Anugrah menang naskah drama dua kali berturut-turut di Dewan Kesenian Riau (2006-2007), Fitra Yanti (Juara 1 lomba cipta puisi DKR 2007), juga sebelumnya Zelfeni Wira dan Deddy Arsya—ternyata pemberitaan lomba cipta puisi, cerpen, dan naskah drama DKR 2008 tidak sampai lagi di Sumatra Barat, entah kenapa. Atau para jawara “kita” (sastrawan) yang baru seperti Maghriza Novita Syahti (19 tahun) dengan judul cerpen “Lukisan Hujan” dan Amelia Asmi (17 tahun) dengan judul cerpen “Kuncir Dua” memenangkan sayembara cerpen yang diadakan PT Rohto-Mentholalum baru-baru ini—perlombaan ini tingkat nasional dan pesertanya umum lho! Tentunya perlu kita apresiasi dan menyemangati mereka untuk tetap berkarya. Siapa lagi kalau buka “kita”?

Inilah yang saya lihat dari karya-karya mereka. Saya apresiasi. Kiranya karya-karya mereka akan jadi topangan baru bagi kelangsungan kesusastraan Indonesia, khususnya Sumatra Barat. Jadi bahan gumaman dan kebanggaan bagi kita jika “berbicara” di luar. Ternyata sastrawan Minang (Sumatra Barat) itu masih ada!

Akan sangat tidak cocok sekali jika kita membandingkan sasrawan sekarang dengan yang dulu. Misalnya memperbandingkan Harris Effendi Tahar (Sastrawan Minang sekarang) dengan Marah Rusli (Sastrawan Minang zaman Balai Pustaka) bisakah? Akan banyak persoalan pembeda yang akan kita temui. Tentunya para akademisi sastra, atau masyarakat sastra yang selalu memperhatikan sastra akan dapat membaca lebih jelas perbedaannya.

Sungguh ini semua harus kita atasi bersama. Barangkali akan muncul sebuah titik temu pada persoalan ini (atau ini bagi kita bukanlah soal?) akan memunculkan sebuah pandangan baru terhadap pembacaan kita yang telah lama tidak diperbaharui, dan semoga saja akan ada yang mengangkat martabat sastrawan (lagi). Mungkin itu akademisi, kritikus, masyarakat sastra, atasu sastrawan sendiri saling membantu merumuskan segala persoalan yang terjadi. Pembacaan saya ini kiranya masih jauh dari sempurna, tentunya masih ada nama-nama yang tak tersebutkan satu persatu karena makin banyaknya karya-karya yang bermunculan dari Sumatra Barat. Dengan ruang sastra yang cukup (ruang sastra Padang Ekspres, Singgalang dan Haluan.) Juga P’Mail (suplemen Minggu Padang Ekspres) dan SMS (sastra masuk sekolah, Singgalang) yang menjaga keberlanjutan sastra Indonesia (terkhusus Sumatra barat) masa depan. Semoga akan terus lahir karya-karya dan diapresiasi khalayak banyak. Amin.

Faiz M)