Archives for the month of: Desember, 2008

dalam lembah batu lembah bermiang aku mengunyah hujan beribu kali
lipat melebihi kunyahan sungai pada cadas gunung. hingga saat yang tak
ditentukan dengan ukuran tahun, akan terdengar dengar lenguh sapi jantan
ikut menikmati sakitnya hujan turun. takkah kau melihat sesuatu yang
menggelegak berlarian di hantaran kabut bergumpal, semisal sayap
serangga, ekor kunang-kunang, atau tali pengikat badan kupu-kupu?
mungkinkah itu rindu yang dibekap dingin ladang kol dan sawi? atau cuma
bunyi langkah para pemikat burung yang tertahan takutnya di balutan kain
hitam pada sangkar berajut lidi enau yang dibawanya. ah, dalam lembah
batu lembah bermiang aku membikin iri pohon-pohon tua yang kedinginan

dalam lembah batu lembah bermiang ada beragam mata bewarna yang
selalu menampakkan cahayanya. jingga jika senja mengendap pelan, hijau
pada pagi dengan dedaun mengerucut nyeri, merah di kulit kayu yang
terkulum siang… oh, aku terus mengunyah hujan. terus mengunyah, tak
menimang kapan batu, kayu, air terjun dan seisi lembah akan meminjam
sayap serangga untuk terbang mengelilingi dunia yang belum
mereka datangi

begitulah sakit yang teramat nikmat, sakit mengunyah hujan, dalam lembah
batu lembah bermiang. barangkali nikmat ini ada yang meminjam, atau sekedar
bertanya tentang rasanya? aku ingin mengendap saja jadinya, setelah waktu
yang tak terhitung ini mulai membilang banyaknya daun, banyaknya akar
banyaknya air yang susut dari lembah. semacam takut yang ingin kutahan
dulu. membantuknya menjadi lembah baru yang dipenuhi sayap, oh, lembah
bersayap, lembah yang terbang menyusuri dunia baru. lembah yang
dibenturkan peradaban angin. dan hujan, aku ingin terus mengunyahnya
sampai sakit ini teramat nikmat untuk disebut sebagai sakit

Kandangpadati, 2008

Oleh: Esha Tegar Putra


Perioderisasi kesusastraan Indonesia beberapa tahun belakangan ini jauh berubah dari wacana yang muncul sebelumnya. Di segi permunculan karya, media penyebaran, dan lahirnya institusi independen dengan berbagai kegiatan yang mendukung perkembangan kesusastraan di berbagai daerah telah merubah paradigma “peta kesusastraan” memusat, menjadi “jejaring kesusastraan” yang meyebar.

Baca entri selengkapnya »

2008-12-19-23-24-41_00111

Judul Buku : Tarekat Syatariyah di Minangkabau

Penulis : Oman Fathurahman

Penerbit : Prenada Media Group, Ecole francaise d’Exstreme-Orient, PPIM UIN Jakarta dan KITLV – Jakarta

Cetakan : Pertama, Agustus 2008

Minangkabau (Sumatra Barat), tak pelak telah memberikan kontribusi terhadap terciptanya tradisi dan wacana keilmuan Islam di dunia Melayu-Indonesia yang distingtif dan tak habis-babisnya memberi inspirasi bagi peneliti, sebab keragaman yang berada di dalamnya.

Kekhasan corak, budaya, dan ekspresi Islam seperti terlihat di Minangkabau inilah yang pada gilirannya membentuk apa yang disebut Islam lokal, serta muncul di berbagai wilayah sebagai mozaik-mozaik beragam yang membentuk corak Islam Melayu Indonesia yang khas pula, terutama ketika dibanding dengan corak dan ekspresi Islam yang berkembang di wilayah asalnya di Tanah Arab (Prof. Dr. Azyumardi Azra: 2008)

Baca entri selengkapnya »

Sayembara Menulis Novel DKJ 2008 merupakan sayembara serupa kedua yang diadakan DKJ periode 2006—2009. Sebelumnya, pada 2006, sayembara menulis novel diikuti oleh sekitar 249 naskah dari 260 naskah yang masuk ke panitia. Dewan Juri yang terdiri dari Apsanti Djokosujatno, Ahmat Tohari, dan Bambang Sugiharto akhirnya memutuskan Baca entri selengkapnya »

my document warnet by-pass

my document warnet by-pass

Garis Ladang

di ladang kita berpandang, bersahutan suara, saling berebut
tali puisi. ladangku rumpang ladangmu lempang. hah
jadinya aku cuma bertanam rumput gajah. biar dijarah
perempuan malang yang di pinggangnya terselip sebilah sabit
(aku tahu ia bakal merambahnya secara diam-diam bila
seminggu saja aku tak berkunjung ke ladang) sebab matamu
merah apel, dan di sini aku tak bisa membibitnya. tapi bakal
kusayat dalam perih, kuiris dengan tajam. sebab jemariku
telah biasa menujah pucuk kopi dan kulit manis di tiap
musim bertukar

dalam manis tebu, dalam pahit empedu, di mana garis
ladang bakal bertemu dengan lagu yang menandakan
dinginnya suara gunung? orang kata cuma di silungkang
tempat bertenun adalah mengasah waktu, tempat perempuan
berparas kelabu dan senyum yang makin batu. di sanalah
cerita dingin yang teramat dijahitkan. dengan benang ragu

tapi bukankah di air lembah, dingin juga menujah? biarlah
lurah bersuara tentang puisi yang direbut malang. tentang
peristiwa sunsang, peristiwa yang berlainan perut, peristiwa
yang saling menikamkan usus. dan semua itu berupa tali puisi
yang dipintal secara pasi, dengan tangan masih disusup gabuk

aku jadi si peragu, jadi gugu, di lambungku tertanak batu. sebab
kita dua ladang yang bersahutan garang. dan cuma di puisi beradu
suara. sebab matamu merah apel dan aku telah bertanam rumput
gajah. mengingat ulah seorang perempuan yang di pinggangnya
terselip sebilah sabit. tapi tak apalah, tali puisi bakal memanjang
biar diulur dan ditarik setiap kali bersahut diri

Kandangpadati, 2008
Baca entri selengkapnya »

(Catatan Pementasan “Samin dan Samin tawa Yasmin dan Yasmin” karya dan Sutradara Pandu Birowo)


Oleh: Esha Tegar Putra

Tiada yang agung selain cinta (dengan “c” besar), begitulah setiap narasi besar bermula diciptakan. Cinta berupa sebuah jalinan, hubungan berkelindan, entah itu hubungan dengan Sang Pencipta, dengan alam, orang-tua, sanak saudara, tentunya juga dengan kekasih belahan jiwa. Ratusan, bahkan ribuan tahun persoalan cinta tak pernah selesai dibahas. Selalu ada yang kurang dan harus diisi di setiap persoalan cinta. Dalam mitos-mitos penciptaan manusia, Adam dan Hawa, dalam—banyak perspektif—bahwasanya segala penciptaan ini memang bermula dari cinta. Esensi yang tak akan pernah bisa dipisahkan dari pencarian-pencarian manusia, filsafat, ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, tentunya bertujuan untuk cinta; dari Lila Majnun (Persia) ke Romeo dan Juliet (Shakespeare), sampai pada Di Bawah Lindungan Ka’bah (Hamka), dst. Baca entri selengkapnya »

//catatancatatan.wordpress.com)

Anak-anak (Foto: Faiz M; http://catatancatatan.wordpress.com)

Oleh: Esha Tegar Putra


persuaan selalu tak kuduga

orang-orang meneruka surga sendiri

lembu-lembu bertemu maut sendiri…

Saya selalu senang mengawali tulisan dengan sepengal puisi. Mungkin saja pembaca akan menangkap sebuah peristiwa, lalu menerjemahkan, sebelum pembaca langsung masuk ke dalam tulisan yang akan saya paparkan. Dan puisi di atas merupakan kutipan dari puisi CH Yurma yang berjudul Ambang Pengharapan (Kampung dalam Diri; kumpulan puisi Temu Penyair 2008). “Dia” (CH Yurma) penyair muda Sumatra Barat. Dan apakah itu benar diakui? Puisi tersebut tentunya adalah pengakuan “dia” sendiri.

Baca entri selengkapnya »