sebab ricik air adalah helaan suara dari bukit lampu, sebab segala tumbuh dihela suara bukit lampu

kalau kau dengar, suara itu. yang muncul dari

bukit lampu. tentunya kau tak ingin menyegerakan diri untuk pergi mencapai batu karang dimana suar olanda terus memutar cahaya

kalau kau dengar, suara itu. yang muncul dari

bukit lampu. tentunya kau tak akan menyegerakan diri untuk pergi menyusuri rel yang putus-putus menuju stasiun lama, tempat gerbong-gerbong kereta karatan masih mengendapkan bara

kalau kau dengar, suara itu yang muncul dari

bukit lampu. tentunya kau tak ingin menyegerakan diri untuk beranjak dari bangku kayu ruyung di jalanan pantai yang semakin landai—dan di jalanan itu penuh surai rindang daun kelapa

suara itu, suara lama yang muncul dari bukit lampu dimana kau, dia, dan mereka menyimpulkan setiap hitungan hari yang hilang menjadi tali-tali puisi. tak ada sepertiga malam atau petang, tak ada pekan atau senayan

dan tali-tali itulah yang kau, dia, dan mereka rajut lalu bawa menuju tanah perantauan.

suara itu, suara yang mengandung bunyi gesekan rebab bertuah si pengelana buta dengan puluhan kisah turunan dari langit—macam malin berbini orang bugis, macam malin mengusir para perompak, macam malin dengan kapal bermeriam bola baja, macam malin…

“kau, dia, dan mereka bakal merindukan suara itu. dari daratan jauh (daratan yang tak terkirim cahaya suar bukit lampu)”

kali saja kita dipertemukan pada tali puisi yang membuhul serupa, sebab aku sedang melamunkan duduk di geladak kapal yang sedang menurunkan sauh. duh, terdengar juga suara itu, suara lama yang mengirimkan keping-keping tiram dari pulau seberang. suara yang selalu diamsalkan sebagai rindunya para bujang-gadis

moga kita dipertemukan pada buhulan yang sama. buhulan tali-tali puisi, yang terkirim cahaya suar (dan tentunya juga suara-suara dari puncak bukit lampu)

sebab ricik air adalah helaan suara dari bukit lampu, sebab segala tumbuh dihela suara bukit lampu

**

sebab ricik air adalah helaan suara dari bukit lampu, sebab segala tumbuh dihela suara bukit lampu

kalau kau datang ke tanah ini—tanah tempat raja-raja hilang dalam berpangku.

tolong bawakan seikat rubaiyat bikinan orang melayu. agar dibacakan di tepian pantai tempat segala sayang dibenam-dimakamkan. setelah itu, akan kuhantarkan kau berjalan-jalan menyusuri ujung sampai ke pangkal hikayat tanah ini

“mulai dari pesisir panjang dimana ombak tak membunyi debur, sampai ke lubuk dimana buaya berdagu putih tidur”

“akan selalu kau dengar suara-suara dari bukit lampu, mulai dari kau memijakkan kaki sampai kau melepas kata pergi”

”agar kau maklumi, sebab apa yang kau dengarkan adalah suara-suara sepi yang selalu menyipi di setiap diri”

“kali saja kau mengerti, sebab apa yang dituahkan itu merupakan musabab munculnya titik api (dari gunung yang dulunya sebesar telur itik)”

tentunya kau takkan sadar, bahwa bayanganmu telah dirompak dan dipisahkan jauh dari badanmu (oleh suara dari bukit lampu) pada waktu yang tidak terucapkan oleh semalam membibir

“rapalkanlah dalam diam diri, sesuatu tentang tanah ini, yang menyimpan peristiwa-peristiwa lama, mirip dedak rendang yang hangus di tungku dapur. ah, tajam baunya sampai ke pucuk hidung, membuat lidah bergoyang. tapi rasanya, alamak asinnya…”

sebab ricik air adalah helaan suara dari bukit lampu, sebab segala tumbuh dihela suara bukit lampu

**

sebab ricik air adalah helaan suara dari bukit lampu, sebab segala tumbuh dihela suara bukit lampu

suara lembah suara pantai,

suara yang dikirim dari bukit lampu,

suara yang berkejaran

dari bukit siguntang

menuju laut sakti-rantau bertuah

“siapa yang menyamun malam hingga menjadikannya rasi bintang yang tak jelas, rasi bintang yang lindap-padam di keruh air payau?”

“siapa yang merompak tidur hingga mata berpicing tapi garam dan asam melecut terus dalam diri?”

“apakah kau, maling berpisau panjang yang berbau tubuh masam?”

kalaulah ini mula dari pantun atau gurindam

takkan ingin kau berkunjung ke tanah ini. (sebab pantun dan gurindam bukanlah baris-baris ucapan sakit) tentunya takkan kau dengar surau-suara dari bukit lampu. tempat para siam dan olanda

mula merunkan sekoci

“kubisikkan sesuatu kepadamu:

kalaulah kau bawa sedecak air dari pulau seberang, lalu kau siramkan ke batang apasaja di tanah ini maka akan kau lihat setiap bagian batang itu berkelumun takut, mengerucut”

suara-suara dari bukit lampu berupa gema penghormatan, tempat ingatan-ingatan lama bermain. kau akan melihat setiap diri berjoged gamad beriring gelembung bunyi akordion—bukit lampu adalah ujung dari segala tanjung. tempat orang-orang mengirim bergema lama. gema yang bersahutan setiap kali diri diam

sebab ricik air adalah helaan suara dari bukit lampu, sebab segala tumbuh dihela suara bukit lampu

Lembah Harau, 2008