Apa Kabar
Penyair Perempuan Mutakhir Sumatra Barat?

langitpun menua, sayang!
jika kau ke ladang, rabalah pematang
kemarin-kemarin masih usang

lisut kakimu serupa aku
setelah kerak nasi, kita tak lagi meneguk

(selembar risalat, Ria Febrina)


Apa kabar puisi, ketika perempuan mulai berbicara di dalamnya? Ketika perempuan bersuara tentang diri, hidup, dan bahasa kesehariannya? Puisi memang tak memilih siapa saja untuk dijambanginya. Sebuah rekaman apik mengenai peristiwa-peristiwa yang dibungkus dengan diksi dan metafora hingga menciptakan ragam makna ketika di baca. Ada apa di balik proses penciptaannya, (puisi) yang ditajak dengan pikiran perempuan? Bagaimana pula dengan penyair perempuan Sumatra Barat?
Kita sebut saja dulu beberapa penyair perempuan dalam khasanah kesusastraan Indonesia yang muncul dan memunculkan ciri khas dari puisinya masing-masing. Dorothea Rosa Herliany dengan penarikan dari hal-hal yang dianggap tabu dalam kumpulan puisinya, Para Pembunuh waktu, Kepompong Sunyi, Nikah Ilalang, Kill the Radio. Atau perempuan lain seperti Oka Rusmini yang mengeksplorasi lagi tradisi Bali, Ivone de Bretes, sampai pada generasi mutakhir semacam Nurwahida Idris, Inggit Putri Marga, Lupita Lukman, Komang Ira Puspita, Purnama Sari dan banyak lagi nama-nama yang tidak dapat dirapalkan secara singkat. Deretan nama tersebut berebut tempat, bersaing memunculkan karyanya dengan para penyair laki-laki pada halaman puisi yang disediakan oleh berbagai koran dan jurnal di tingkatan daerah dan nasional. Tak ayal, mereka, para penyair perempuan tersebut terus berusaha menggali kemampuan mereka dalam berpuisi.
Catatan ini bukanlah semacam perbandingan, mana yang lebih hebat penyair laki-laki atau penyair perempuan, bukan. Atau membahas kesetaraan gender, dimana, siapa saja, tak berbatas jenis kelamin dalam melakukan sebuah “pekerjaan” yang sama—sebagai mana puisi, secabang genre penulisan yang saya anggap adalah sebuah pekerjaan menulis. Catatan ini bermula dari pembacaan saya terhadap beberapa puisi perempuan yang bermunculan di koran-koran, khususnya koran daerah Sumatra Barat.
Minggu (31 Agustus 2008) saya membaca di halaman puisi P-Mails (edisi 152. Tahun IV) yang merupakan bagian (lembaran khusus) dari koran Padang Ekspres. Edisi memuat beberapa puisi perempuan generasi mutakhir Sumatra Barat. Di bagian pengantar, redaksi menyebutkan bahwasanya rubrik itu dikhususkan untuk sebuah pembelajaran bagi siswa-siswa yang biasanya mangkal di rubrik tersebut. Puisi khusus tersebut juga merupakan apresiasi terhadap para penyair perempuan Sumatra Barat generasi mutakhir. Sebelumnya, di halaman yang sama, pernah juga dimunculkan puisi dari beberapa penyair laki-laki mutakhir Sumatra Barat. Mungkin beberapa hal inilah yang memunculkan niat redaksi untuk menampakkan bahwasanya di Sumatra Barat, penyair perempuan itu masih ada. Kali saja tersebab beberapa permasalahan perhubungan, sehingga beberapa dari mereka (penyair perempuan) itu tak bisa dihubungi dan dimuat puisinya.
Jika kita menyigi penyair perempuan di Sumatra Barat, dulunya, mungkin memang hanya beberapa nama yang (ber)muncul(an). Di balik semua ini, mungkin mereka—para penyair perempuan—enggan mengirimkan karya-karya mereka, hanya dipendam dalam di kertas sebagai sebuah catatan. Sehingga sangat sulit di data puisi-puisi karya penyair perempuan dari Sumatra Barat. Sebut saja Upita Agustin dengan beberapa buku puisinya dan generasi lain sesudahnya yang puisi mereka terbit di media-media seperti lembaran sastra koran, antologi puisi bersama, jurnal, buletin kampus, dsb.
Sekarang, menyebut beberapa nama penyair perempuan generasi “muda” dari Sumatra Barat yang sering mangkal nama-namanya di berbagai media tersebut: Fadhila Ramadhona, Fitra Yanti, Ria Febrina, Novi Yulia, Nurfitria, Nilna R Isna, Siti Khasanah, dsb. Dari beberapa nama yang saya sebutkan di atas, tentu saja ada lagi yang lain, yang tidak bisa tersebutkan satu persatu. Nama-nama tersebut hanya sebuah pembatas dari tulisan ini. Sebab dari nama-nama tersebutlah yang muncul banyak puisi akhir-akhir ini.
Banyak yang bermunculan, tapi lebih banyak lagi yang hilang. Begitulah jika saya boleh membahasakan dunia karya kreatif, sastra tanpa terkecuali perempuan laki-laki, baik itu penyair, cerpenis dan prosais.
Saya yakin, seperti pada awal pembicaraan saya di atas. Pada rubrik P’Mails Minggu 31 Agustus 2008 (edisi 152. Tahun IV) selain untuk memberikan sebuah tolak ukur atau perbandingan untuk para siswa yang menyukai dunia penulisan kreatif seperti puisi, rubrik tersebut tentunya untuk memberikan apresiasi pada para penyair perempuan Sumatra Barat generasi “muda” atau lazimnya disebut generasi “mutakhir”. Juga satu hal yang terpenting, tentunya untuk menjaga konstelasi karya bagi penyair perempuan. Agar mereka merasa diduduki pada tempat selayaknya. Agar karya mereka dapat diapresiasi banyak kalangan.
Menelisik lagi beberapa dekade belakang ini. Sebelum beberapa nama yang saya jabaran di atas bermunculan. Ada beberapa nama yang lebih dulu dari mereka, mungkin berjarak (proses) dalam waktu yang pendek, dan nama-nama tersebut hilang begitu saja.
Mengambil sebuah perbandingan, di lembaran-lembaran sastra koran lokal Sumbar dan antologi puisi bersama—bahkan Mayang Puti Seruni, yang waktu itu mungkin masih belia, sudah menerbitkan sebuah buku kumpulan puisi berjudul Mutiara Kuning Santan (Yayasan Citra Budaya Indonesia, 2004). Banyak sekali nama-nama yang sekarang tak muncul lagi karya-karya mereka. Kemana saja mereka? Apakah mereka tidak menulis lagi?
Kemunculan tentu saja dibarengi dengan kehilangan. Tapi alangkah perlu menjaga keseimbangan dalam dunia penulisan kreatif seperti puisi. Ada yang datang, tentu saja ada yang pergi, dan memang sulit untuk menjaga agar “mereka” bertahan untuk tetap menulis puisi. Ada di antara “mereka” yang bisa menjaga proses kreatifnya dibalik segudang rutinitas lain yang mereka kerjakan setiap harinya. Apalagi perempuan, mereka mempunyai sensitivitas yang lebih dibandingkan lelaki—dan bukankah sensitivitas tersebut akan lebih dahsyat jika ditransformasikan dalam puisi? mungkin sensitivitas itulah yang membuat sebagian besar penyair perempuan sumbar menghilang dari karya mereka. Mereka menjauh dari puisi. apakah mereka masih menulis puisi atau tidak? Sepertinya ini bukanlah sebuah pertanyaan yang penting sekarang. Mereka selalu muncul di setiap generasinya. Mereka akan melihatkan kekhasan mereka dalam berpuisi.
Mengambil sedikit perbandingan dari beberapa penyair perempuan generasi mutakhir Sumatra Barat yang muncul di halaman sastra P’Mails 31 Agustus 2008 tersebut. Sangat terlihat sekali bahwasanya “mereka” mempunyai tingkat kematangan dalam berproses puisi. karya-karya mereka tentunya ditajak dengan rasa dan pola pikir yang berbeda, dengan daya penciptaan yang berbeda pula. Karya-karya tersebut memperlihatkan ciri khas mereka masing-masing.
Tentulah gairah kepenulisan karya kreatif seperti ini harus didukung oleh pihak yang bersangkutan, baik itu media-media seperti surat kabar dengan penempatan karya yang layak, dukungan dari pihak pemerintahan yang (khususnya) berhubungan dengan sastra dan budaya—mungkin dengan pembuatan antologi penyair perempuan mutakhir Sumatra Barat (?).
Akhir kata, tulisan ini adalah apresiasi singkat buat “mereka”, para penyair penyair perempuan mutakhir Sumatra barat yang karyanya masih bisa dilacak di halaman-halaman sastra koran—karena memang media koranlah yang saat ini efektif meyebarkan karya. Berharap agar mereka tetap bertahan, di sempitnya ruang-ruang publikasi, di segudang kegiatan harian yang harus mereka jalani, dan di minimnya perhatian pihak-pihak yang terkait dengan dunia sastra-budaya terhadap karya kreatif!