Kuda Cahaya

Dia hanya kelebat, secepat kilat, tapi rambutnya yang panjang dan pekat, membebat kakiku yang jadi ungu setelah menyebut namamu: Kau yang lebih tinggi dari mimpi, lebih senyap dari sepi, lebih rinai dari bunyi. Dan dengan semua yang berakhir /i/ yang tak juga sampai

di watas wiru ini, ia memenuhi panggilanmu. Mencuci luka juga bunga-bunga yang tak jadi madah.

Menggenapkan sumpah juga rima setia yang masih kubaca dengan terbata-bata, seperti memburu ringkik kuda yang mengantarnya ke padang habbah.

(2008)

Meditasi Kelelawar

Tetap kusesap susu gelapmu, seperti rindu yang mengaliri nadiku. Bunga dan buah telah jatuh ke tanah. Dan aku pun menukar kaki dan kepala, lalu bersembunyi ke goa-goa, di mana pernah Kau datangi ia, yang gemetar, sebab di luar burung-burung besar menumpas belibis dan

camar,

sementara ular-ular menjalar memburu darahku yang paling mawar. Hingga aku pun terus sembunyi, seperti menepis samsu yang menggelapi mata dan kulitku. Lalu malam menjadi ibu, dan aku tetap menyusu gelapmu, menghikmati buah-buah, juga bulan sipit yang tersenyum meminta.

(2008)

Metamorfosis

Pada mulanya adalah bunga: sekuntum doa yang menggigil di bibir senja. Pada mulanya adalah bunga: kelopak mata yang mekar di kedalaman rahasia. Pada mulanya adalah bunga: setangkai cinta yang akan jadi buah. Rindu

menerbangkan kumbang pada luka dan lekuknya. Dan ia meronta, seperti desah, serupa suluk bahagia. Seribu kunang-kunang pun bangkit di duli kuningnya, seperti bayi-bayi cahaya yang menetas dari perut gerhana.

(2008)

Menghormati Bunga Bangkai

Dengan bau tubuh dan sisa birahimu, kembali kaupikat aku. Batangmu berlendir, daunmu bergigir, dan kelopakmu berdesir seperti sihir yang menyisir setiap sayap kumbang yang kintir. Hidupmu membandang di air. Dan perairan yang menghidupimu terus mengalir seperti sejarah yang tak tahu bagaimana menghilir. Di situlah kelopakmu mekar seperti bibir tuba yang mahir.

Sedang aku hanya kupu-kupu dungu yang diterbangkan angin dengan lapar dan luka di bibir. Cinta seperti bir yang menyembuhkan segala anyir. Dan aku pun kembali mencucup getahmu, seperti melupakan sejarah batu dan udara busuk yang memburu. Hingga, aku pun kembali jatuh dan memelukmu yang kini mekar menamparku, seperti maha batu.

(2008)

Jamur Tidur

Sepucat bulan pasi ia menunggumu, dengan baju terigu ia mendatangiku: putih, terlampau nyeri, seperti kejantanan lelaki yang meninggi, mengutuki bunga-bunga mendung

yang berjalan pelan, mirip puan yang melahirkanmu di taman uban, di mana semut dan maut terus bergandengan, menyeret impian dan membunuhku pelan-perlahan.

(2008)

Taman Putma

Dari pancaroba, dari musim panas nan bertuba, kutemukan selembar Putma: sebidang taman yang menyimpan kuncup madah dan kembang purba. Di tangkainya yang tengadah, tubuhku memerah seperti kuncup doa yang membakar mata senja. Tanganku pun berkobar,

terbakar sepasang mawar di dadamu yang mengajar

tak gentar, biar di luar, dua unggas besar menanti ajalku. Lalu, pada detik yang luput, pada waktu yang siput,

bulan jadi marmut, berjalan melompat seperti menyisipkan maut lain di atas ketelanjanganmu yang tak tersalin

sebibir cermin.

Birahi adalah beringin, ingin yang menusuk seribu dingin. Dan di atas angin, sepasang maut telah kawin, membikin langit dan nafasku serupa lilin.

(2008)

Surat Katak

Duh, gerimis yang meniris pelipis. Aku tak ingin menangis dan mengiris kupingku tipis-tipis. Anggur-anggur tak lagi manis. Dan gadis-gadis mencopot mawar dari tempiknya tanpa tangis. Telaga telah merah, dan di kedalamannya yang dulu membuat tuhan datang dengan dendang bunga- bunga, ikan-ikan menggeliat seperti rasa gatal yang melompat dari laut keparat. Kecebong-kecebongku masih

hijau,

dan entah mengapa ia selalu mengigau, menyebut yang terus terubus dalam tidurku. Hujan telah berwarna ungu. Dan di lembabnya yang meninggikan jamur-jamur waktu, mimpiku memutih seperti doa-doa yang kembali. Langit jadi merih, seperti ada yang merintih. Dan di mendungnya yang lunglai, codot-codot meninggi, seperti keinginan yang terkutuk dari bumi. Seperti suaraku yang kini lerai bersama pelangi yang pucat pergi.

(2008)

Lonceng Merpati

Setipis alismu, bulan tersenyum padaku, melepas dua merpati yang kini bersarang di bukit jauh, di mana rindu adalah sungai yang melambai dan tak akan kembali.

Sementara kunang-kunang terus berhamburan dari mataku, menggertak malam dan bulan tipis yang timbul-tenggelam di ujung pejam.

Di sepasang paruku, seekor piyik putih masih menunggu bulan itu mekar, menebar kuntum mawar dan padi liar, tapi

sepasang pungguk yang menungguinya terus meringkuk, seperti induk kutuk yang membusuki telur dan tidur tidurku.

(2008)

Keluarga Lumut

untuk 100 tahun kesunyian

Mula-mula, kakekku hanyalah basah yang mengawini tanah, dan ayahku hanya jamur yang sulit tidur tapi ibuku adalah lumut yang merebut serbuk ayah dari rasa takut dan melahirkanku di bukit kabut. Tapi aku tak menangis. Kepada rumput aku berkata bahwa aku akan tumbuh, mencucup bibir surya yang ditutup daun-daun luka. Batangku keras dan bergetah, akarku menancap di kedalaman rahasia. Hingga, buahku jadi merah

dan setiap mata yang melihatnya akan menyala. Burung- burung yang bersarang di sana, akan menetaskan cahaya. Dan gajah-gajah yang memakannya akan melepas gading dan belalainya. Lalu hantu dan drakula yang singgah akan melepas bajunya, seperti ketelanjangan pertama: ketelanjangan yang melahirkan aku dari ibu dan ayah

yang tak lagi menggigil karena lupa. Sebab semua akan kembali ke tanah, kecuali anu yang lebih besar dari sependar nama.

(2008)

A Muttaqin lahir di Gresik, Jawa Timur, 11 Maret 1983. Lulusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Bergiat di Komunitas Rabo Sore (KRS) dan Teater Institut, serta bekerja sebagai editor pada sebuah penerbit di Surabaya.

sajak-sajak dikutip dari Koran kompas Minggu, 8 Juni 2008

Iklan