Perempuan dari Masa Lalu
A.S. Laksana

MENGIKUTI anjuran sebuah buku, Seto mengunci diri di dalam kamar, memejamkan mata, dan membayangkan adegan adegan yang mungkin adalah kehidupan masa lalunya. “Mungkin Anda adalah gadis kecil yang terjatuh dari pohon atau mati terbenam di kolam,” kata buku itu. “Atau Anda, di masa prasejarah, adalah anggota dari suku yang gemar menyiksa orang tua yang sakit sakitan dan suka mengorbankan orang orang cacat pada dewa kegelapan.”

Seto tidak ingin membayangkan adegan adegan segelap itu; ia hanya ingin melihat dirinya bertemu dan berpacaran dengan seorang gadis. Dan inilah yang selalu ia bayangkan: duduk berangkulan dengan perempuan cantik di sebuah dangau. Ia berharap seperti itulah pengalamannya di masa lalu dan ia ingin kejadian itu terulang lagi dalam kehidupannya hari ini.

Setelah beberapa kali mengunci diri dan membayangkan adegan yang itu itu juga, Seto bertemu suatu sore dengan perempuan di halte Palbatu. Ini bukan halte yang ia biasa gunakan untuk menunggu bus kota dari rumah ke tempat kerja atau sebaliknya; ia di halte itu karena baru pulang dari rumah teman. Perempuan itu baru sekali dilihatnya, tetapi Seto merasa sangat kenal. Dan, catatlah satu hal, mereka bertemu di halte, sebuah tempat pengganti dangau di kehidupan lalu. Dengan orang orang lain di halte yang sama, ia juga baru sekali bertemu dan tetap merasa tidak kenal.

Bus yang ditunggu oleh gadis itu datang dan ia naik dan Seto menyesal kenapa tidak ikut naik. Ia juga menyesal kenapa tidak berusaha membangun percakapan intim selama menunggu bus. Mestinya ia bilang saja kepada gadis itu, “Di masa lalu, kita adalah sepasang kekasih.” Jika gadis itu merasa berdebar debar seketika dan mau diajak jalan ke mana mana meskipun agak malu, kemungkinan ia memang kekasih di masa lalu.

Sebenarnya Seto akan lebih senang jika gadis itu mau mendahuluinya menyampaikan kalimat serupa. Tak ada salahnya bagi perempuan untuk mendahului lelaki, bukan? Dan, sebagai lelaki, Seto tidak berkeberatan sama sekali jika ada perempuan cantik yang mengatakan kepadanya bahwa dulu mereka adalah sepasang kekasih. Jika itu terjadi, ia tinggal mengukur getaran yang dirasakannya dalam hati, memeriksa apakah perempuan itu jujur atau sekadar ingin menggodanya. Namun, jujur saja, ia tidak berkeberatan seandainya perempuan itu hanya ingin menggoda.

Luput dengan perempuan itu, Seto menemukan perempuan lain di halte lain dan, dibandingkan dengan perempuan sebelumnya, ia merasa jauh lebih mengenal perempuan ini. Di sini pun kejadiannya sama belaka; sampai perempuan itu naik bus, mereka tetap tidak saling bercakap.

Tetapi kali ini Seto tidak terlalu menyesal. Kurasa karena ia sudah belajar dari kejadian sebelumnya, dan ia tahu masih ada banyak halte lain dan perempuan lain yang bisa ia jumpai di sana.
Pada perempuan berikutnya lagi yang ia temui di halte, barulah Seto merasa nyaman untuk menyampaikan kalimat simpanannya. Tak ada orang lain di tempat itu kecuali mereka berdua. Begitulah, di kehidupan lalu mereka juga hanya berdua di dangau.

“Di masa lalu, kita adalah sepasang kekasih,” suara Seto agak tersendat.
“Aku tak ingat,” balas perempuan itu.
“Aku mengingatkanmu,” kata Seto. Pada waktu itu Seto ingin langsung menciumnya, mengulangi apa yang pernah terjadi dulu.

Perempuan itu diam. Tidak mudah bagimu menebak isi pikiran perempuan yang diam. Mungkin ia tidak terlalu yakin pada apa yang diomongkan oleh lelaki yang baru sekali dijumpainya, dan ia merasa bahwa itu kalimat gombal, tetapi mungkin ia agak senang juga dengan gombal itu. Selanjutnya Seto menanyakan kepada gadis itu “Turun di mana, Mbak?” meskipun mereka tidak sedang naik bus. Gadis itu memberikan alamat rumahnya.

Seto mengabaikan bus kota jurusan mana saja yang singgah di halte; ia sudah memutuskan untuk naik bus kota yang ditunggu oleh perempuan itu dan akan turun di tempat perempuan itu turun. Jika perempuan itu menanyakannya mau ke mana, ia bisa menjawab bahwa di kehidupan lalu mereka selalu pergi bersama.

Telepon genggam perempuan itu berdering; ia menjawab panggilan itu dan kemudian menyeberang.
“Aku belum tahu namamu,” kata Seto
“Sampai jumpa,” kata perempuan itu.

Di halte seberang, perempuan itu ditunggu oleh pengendara motor dan mereka kemudian melaju berboncengan. Seto yang kini sendirian merasa bahwa kekasihnya dibawa kabur oleh seorang jambret.

Dua hari kemudian, dengan niat merebut kembali kekasihnya, Seto melacak rumah perempuan itu sesuai alamat yang diberikan kepadanya. Dan ia menemukan sebuah rumah kusam. Di terasnya ada tiga anak kecil yang tampak kurang makan dan mungkin kurang mandi; mereka sedang menggelosor di lantai. Butir butir nasi berceceran di lantai dan semut semut berbaris mengangkuti butir butir nasi tersebut sebentar lagi binatang binatang itu mungkin akan mengangkut ketiga anak itu ke liang mereka.

Ia menanyakan kepada anak anak itu apakah benar ini Jalan Jambu nomor 27 dan mereka memandanginya bersamaan dengan sorot mata yang layu dan menjengkelkan. Anak anak yang kurang makan dan kurang mandi, kau tahu, tak pernah enak dipandang. Bau tubuh mereka sesengit bau gua gua lembap yang dipenuhi ceceran tahi kelelawar dan rambut mereka jarang.

Seorang perempuan tua, dengan bau yang sama langunya dengan ketiga anak itu, muncul dari dalam rumah dan bertanya, “Mencari siapa?” Seto menyebutkan nama perempuan, ngawur saja, dan segera menambahkan bahwa ia mungkin salah alamat. Perempuan tua itu mengatakan bahwa ia tidak salah alamat dan orang yang dicarinya ada di rumah.

“Sebentar lagi dia selesai mandi,” kata perempuan tua itu.
“Kalau begitu saya akan beli rokok dulu,” kata Seto.

Ia meninggalkan rumah itu, tidak membeli rokok dan tidak kembali lagi. Dua jam mencari alamat, dan disambut oleh orang orang yang meruapkan bau tahi kelelawar, Seto merasa semangatnya padam untuk mengulangi kehidupan masa lalunya. Tiba tiba ia ikhlas jika perempuan itu tidak menjadi kekasihnya toh hanya perempuan yang ia temui di halte. Kebetulan saja ia iseng menyampaikan bahwa di kehidupan lalu mereka adalah sepasang kekasih.

Seminggu Seto mendekam di kamar setelah kunjungan buruk itu; ia memejamkan mata dan kali ini bertekad membuang jauh jauh si perempuan dari tempurung kepalanya. Sesekali memang masih terpikir olehnya bahwa perempuan itu mungkin benar benar kekasihnya di masa lalu. Segalanya begitu tepat, bahkan ketika ia menyebut sembarang nama, ternyata itulah nama si gadis.

“Kenapa kau tidak kembali lagi?” tanya gadis itu pada suatu sore, dalam perjumpaan yang tak terduga. O, apa yang terjadi di kehidupan lalu mungkin memang akan selalu mengubermu di kehidupan sekarang. Kau tahu, Seto benar benar ingin melupakan gadis itu, tetapi ia bertemu lagi dengannya di deretan kakus umum terminal Lebak Bulus. Ia hendak kencing dan perempuan itu juga dan pertemuan itu sungguh tak terhindarkan.
“Aku tiba tiba pusing,” kata Seto.
“Aku menunggumu hingga malam,” kata perempuan itu.
Lihatlah, ketika jauh dari rumahnya, ketika tak ada manusia manusia kelelawar yang merusak mata, perempuan itu benar benar kekasih yang menggembirakan, baik di kehidupan lalu atau sekarang.
“Ada yang ingin kutanyakan kepadamu,” kata perempuan itu.
“Silakan,” kata Seto.
“Apakah kita tidur seranjang dan bercinta di masa lalu?”

Pertanyaan itu sungguh tak terduga. Seto ingin menjawab, “Ya, sebagaimana lazimnya orang orang yang saling mencintai.” Tapi rahangnya kaku.

Dari terminal, mereka naik bus bersama dan turun menyewa kamar. Perempuan itu tampak semakin anggun saat berada di dalam kamar dan Seto merasa meriang tak tertahankan. Ketika Seto membuka sabuknya, perempuan itu menyebutkan tarif dan Seto terus melucuti diri tanpa bicara. Lalu mereka bercinta hanya sebentar dan rebahan di ranjang agak lama. Sekitar pukul sebelas malam perempuan itu berbenah.

“Boleh kutanyakan satu lagi?” tanya perempuan itu.
Seto memandangnya dengan mata malas.
“Apakah di kehidupan lalumu aku juga pelacur?”
Apa peduliku, Asu!

Perempuan itu pamit setelah rapi dan Seto tetap kocar kacir di ranjang. Sebetulnya ia ingin menanyakan nama sebenarnya perempuan itu, tetapi ia pikir itu pertanyaan yang tak perlu. Perempuan itu mungkin memiliki semua nama. Jika suatu hari kau datang ke rumahnya dan menyebutkan nama apa saja yang terlintas di pikiranmu, perempuan tua yang menyambutmu pasti juga akan mengatakan bahwa kau tidak salah alamat dan orang yang kaucari memang tinggal di rumah itu. (*)

A.S. Laksana adalah cerpenis yang lahir di Semarang, 25 Desember 1968. Kini ia tinggal di Jakarta. Kumpulan cerita pendeknya, Bidadari yang Mengembara, adalah buku sastra terbaik 2004 pilihan majalah Tempo.

cerpen dikutip dari Tribun Jabar Minggu , 01 Juni 2008 ,