Judul Buku : Mata Air Akar Pohon

Penulis : Nur Wahid Idris

Penerbit : [SIC] Yogyakarta

Cetakan : Pertama, April 2008

Tebal : 96 hlm; 13,5 x 20 cm

aku terikat oleh kelahiran

kau terikat susuan

membiru dan mengalir di sungai-sungai

dengan tebing-tebingnya

yang selalu mengucapkan

selamat tinggal…

Kalimat di atas merupakan penggalan puisi yang berjudul “Mata Air Akar Pohon” yang ditajak oleh Nur Wahida Idris, seorang penyair perempuan generasi mutakhir di kancah kesusastraan Indonesia. “Mata Air Akar Pohon” pun dipilih untuk mewakili judul buku kumpulan puisinya yang diterbitkan oleh [SIC] (Yogyakarta, 2008). Jika ditelisik perjalanan perpuisian Nur Wahid Idris maka akan terbaca proses kreatifnya dalam buku kumpulan puisi tersebut. Nur Wahid Idris telah berhasil menciptakan puisi-puisi yang bebas dari cengkeraman wacana gender yang kebanyakan mempengaruhi puisi-puisi penyair perempuan lainnya.

Dalam kumpulan puisi ini terdapat 51 puisi yang dihimpun dalam kurun waktu 14 tahun. Dan sebagian dari puisi tersebut telah pernah dipublikasikan di berbagai koran, jurnal, baik itu lokal ataupun nasional. Nur Wahida Idris yang juga istri dari sastrawan Raudal Tanjung Banua, kelahiran Ketugtug-Loloan, Negara, Bali, 28 April 1976 sudah beberapa kali mendapatkan penghargaan di bidang sastra. Ia juga pernah diundang membacakan puisi-puisinya di berbagai forum sastra seperti Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XVII/ 2005, Internatinal Literary Biennale 2005 di Bandung dan DKJ, 2006.

Kumpulan puisi memang merupakan sebuah pengharapan seorang penyair, sebuah pertanda ke-eksistensi-annya di dunia kesusastraan. Semacam penghargaan bagi karya-karya yang selama ini telah ditajaknya dengan segala persoalan sosial yang ada lingkungan sekitarnya.

“…ada yang beranggapan kehadiran atau pencapaian yang saya upayakan di dunia sastra merupakan faktor Raudal Tanjung Banua (suami saya) yang lebih dahulu dikenal di dunia penulisan sastra. Bahkan ada kawan yang berkomentar bahwa puisi-puisi yang saya publikasikan itu adalah puisi Raudal yang sengaja ditulis atas nama saya dengan tujuan tertentu!” Begitulah ungkapan Nur Wahid Idris dalam kata pengantar buku puisi “Mata Air Akar Pohon” yang memang ia buktikan dalam ke-51 puisi yang termakhtub di dalam buku kumpulan tersebut.

Dari kacamata seorang pembaca dan penikmat karya sastra. Puisi-puisi Nur Wahida Idris seperti menghadapkan saya ke sebuah lorong dunia perempuan yang selama ini sukar dipahami. Bagaimana perempuan itu memosisikan diri sebagai seorang anak dari orang-tuanya, kekasih atau istri dari suaminya, ibu dari anaknya, atau sekisah perjalanan hidup yang memanifestasikan perempuan secara universal. Hal inilah yang diungkap oleh Nur Wahida Idris dalam “Mata Air Akar Pohon.” Dari pemilihan diksinya, gaya pengungkapannya lewat metafora-metafora sederhana yang dipakunya dalam struktur bahasa yang berjalan indah. Nur Wahida telah berhasil membebaskan puisi-puisinya dari cengkeraman persolan gender. Ia berhasil membuktikan dirinya mampu menerjemahkan “hidup” lewat “Mata Air Akar Pohon.” Selamat membaca!

Iklan