Oleh Samsul Hidayat

Dalam dunia absurd, nilai suatu pengertian atau suatu kehidupan diukur dengan kemandulannya. (Albert Camus)

Secara filosofis, kita sering mengalami kegundahan ketika dihadapkan pada sebuah pertanyaan, apakah dunia ini disusun atas dasar harmonitas atau absurditas ? jika dunia tempat manusia berpijak ini dalam keselarasan, keseimbangan dan harmoni, lalu mengapa ada fakta kekacauan, kejahatan, kebrutalan, chaos, absurditas. Sejarah kemanusian kita lebih banyak menampakkan fenomena adsurditas. Masyarakat sering dirisaukan oleh penindasan orang-orang lemah, aksploitasi buruh, eksploitasi wanita hingga kejahatan seksual terhadap anak-anak. Inilah kenyataan dunia yang absurd (Z. Baidhowy, 1997).

Dalam absurditas kehidupan kelewat jenuh mengandaikan jawaban-jawaban reflektif, kontemplatif dan aplikatif. Albert Camus (Mite Sisifus, 1999) merasa gelisah dan tertantang memberi jawaban atas persoalan ini. Jawaban-jawaban kita bisa berbeda, tapi hanya ada satu pilihan dari dua alternatif yang tersedia.

Pertama,jalan keluar atau jawaban atas absurditas dapat ditampakkan dengan mengendapkan sikap pesimis atau absurd atau absurd pula. Orang biasa merespon kekacauan dengan kekacauan, tuba dibalas tuba pula. Jika fakta Pembunuhan, perampokan, pemerkosaan terjadi, maka kemestian jawaban yang digunakan adalah dengan melakukan hal yang sama. Lebih baik aku bunuh siapa daripada siapa membunuh aku, aku perkosa siapa daripada siapa perkosa aku.

Jawaban absurd juga bisa ditampilkan pada sikap escapis, kepengecutan menghadapi kenyataan kehidupan yang sedemikian rancu dan porak poranda. Bunuh diri menjadi pilihan. Bukan berarti menafikan kehebatan Socrates, filosof pioneer yang concern tentang persoalan-persoalan manusia, adalah pilihannya untuk bunuh diri dengan meminum secangkir racun. Pelarian atas ketidaktahanan konfrontasi dengan kenyataan rezim otokratik athena yang memaksa dia untuk tidak mengajarkan dan meninggalkan petuah-petuah filosofisnya.

Secara sosiologis, Emile Durkheim dengan Suicidenya mencoba mengungkap kerancuan tatanan sosial dan rasionalisasi atasnya. Suatu komonitas tradisional dengan solidaritas mekanisnya memberikan ikatan emosional. Interaksi sosial dalam masyarakat semacam ini terjalin tanpa basa-basi. Tapi ketika perubahan sosial mentransformasi masyarakat tradisional kepada masyarakat modern, solidaritas mekanis telah digantikan solidaritas organis. Interaksi sosial terjadi atas dasar hubungan kepentingan dann bersifat struktual. Relasi-relasi dalam tatanan sosial berjalan penuh basa-basi, ikatan emosional semakin memudar. Di sinilah lalu timbul anomie. Maka bunuh diri merupakan pilihan untuk mengatasi persoalan absurditas hubungan antar umat manusia. Ini juga absurd.

Sikap absurd juga sering dilakukan oleh mereka yang menamakan dirinya orang beriman. Orang beragama dengan sikap fatalis kerap menantikan keadilan secara definitif pada akhir zaman. Biarkan absurditas diatasi oleh keadilan dari Sang Maha Adil. Inilah cara orang beragama mencari alibi, melarikan diri dari persoalan yang menuntut tanggungjawab sosialnya .Ini juga absurd.

Dengan penuh pesimis Arthur Schopenhauer memandang dunia biologis kita banyak serangga yang menggangu, penyakit, perkelahian dan nafsu membunuh. Di dunia manusia terdapat egoisme, kemiskinan, kesengsaraan, penyakit, dendam, ketidakpercayaaan dan pembunuhan. Yang tidak baik dalam dunia jauh lebih besar jumlahnya dari pada yang baik. Apa yang di sebut “kebahagiaan” sebenarnya hanyalah tiadanya kesengsaraan; yang disebut “kesehatan” tidak lain dari pada tiadanya penyakit. Dunia kita adalah dunia yang terburuk di antara dunia-dunia yang mungkin.

Namun demikian dalam kepesimisannya Schopenhauer tidak menganjurkan bunuh diri (massal) sebagai jalan keluar yang paling radikal dan umum. Tapi ia menawarkan “sublimasi kesadaran”; naluri untuk reproduksi dan hasrat egoistis sebagai kesadaran individual yang menjadi pangkal utama lahirnya kejahatan, ditingkatkan menuju kesadaran “supra individual”. Sehingga perlu askesis agar segala kesadaran hilang dalam ketiadaan (nirvana). Walaupun tampak jalan ini juga terkesan lebih merupakan escapisme atas kenyataan yang butuh penanggulangan praktis.

Kedua, adalah jalan keluar atau sikap optimis menghadapi kenyataan dunia yang begitu absurd dan membingungkan. Albert Camus memandang bahwa tidak ada jalan lain bagi manusia kecuali menerima absurditas, dengan cara menyingkirkan beberapa godaan adri absurditas itu : bunuh diri boleh jadi sangat menggiurkan. Tapi harus disadari bahwa bunuh diri berarti menyerah kepada absurditas dan dengan demikian menghapus segala kemungkina untuk hidup lebih manusiawi. Pembunuhan juga termasuk kemungkinan serta cara berbeda manusia, namun ia justru akan menambah absurditas dan penderitaan orang tak berdosa.

Di sinilah perlunya kita menjadi “Manusia Pemberontak”, kata Camus. Logika pemberontak adalah antara “Ya” dan “Tidak”. Pemberontak mengatakan “Ya” pada keadilan dan mengatakan “Tidak” pada kezaliman, kejahatan. Pemberontak adalah pengabdi pada keadilan supaya ketidakadilan jangan bertambah lagi; memakai suatu cara bicara yang jelas dan tegas agar kebohongan umum jangan diperbesar. Analog dengan penyataan Rene Descartes, ia mengatakan : “Saya memberontak, maka saya ada”Hegel. Karena segala Ada sebenarnya bersifat rasional, bermakna dan dapat dimengerti Karena itu penyelenggaran dunia pula bersifat rasional dan baik. Bahkan Ada selalu merupakan suatu nilai atau sesuatu yang baik. Kita tidak perlu bingung menghadapi absurditas. Hanya dengan tindakan baik akhirnya dunia menjadi baik.

Immanuel Kant lebih menandaskan bahwa kemungkinan ultim umat manusia ialah bertumbuh ke arah humanisasi, persatuan, hidup persaudaraan dan perdamaian abadi. Oleh karena itu dengan rasio praktis, dengan permenungan atas tatanan etis dan kewajiban dunia bisa menjadi damai. Dalam absurditas manusia harus membangun tatanan moral; kita berbuat baik karena memang kita harus berbuat baik. Dengan berbuat demikian kita akan menghumanisasikan dunia dan manusia menghormati pesona manusiawi, juga pesona orang lain, dan mencari kesempuranan dan kekudusan.

Dalam masalah berbuat baik, kita juga pada “Teori Taruhan” yang pernah di lontarkan oleh fisikawan Blaise Pascal. Sebenarnya teori ini pernah dikemukan oleh Imam Ahmad al-Ghazali jauh-jauh sebelum dinyatakan Pascal. Di sini ia mengatakan, “Berbuat baiklah anda sekalian, dan jangan hiraukan apakah neraka dan surga itu ada atau tidak. Sebab jika anda sudah berbuat baik, minimal anda sudah berbuat kebajikan terhadap sesama, terlepas anda akan mendapatkan ganjaran di surga atau tidak.Tapi jika saat nanti, surga dan neraka benar-benar ada, maka Anda juga tidak akan gelisah dan takut menabung kebaikan selama di dunia.” Berbeda dengan Pascal, dalam hal kesempurnaan dan kekudusan, Kant justru berpendapat bahwa keduanya tidak dapat diwujudkan dalam hidup kita yang begitu pendek di dunia ini. Tuntutan mutlak mengenai hidup moral yang baik pada kenyataannya tidak memuaskan dan tidak efektif kalau pada akhirnya tidak ada solusi yang adil serta mahabijaksana untuk yang baik dan jahat.

Nasib yang sama bagi orang baik dan jahat tidak sesuai dengan rasa dan keadilan kita. Di sini keadilan duniawi tidak memadai” hanya Hakim Yang Mahatahu, Mahadil dan Mahakuasa yang dapat membalas yang baik dan yang jahat dengan semestinya, Dialah Allah.

Akhirnya dengan penuh harapan dan optimistis, kita punya kewajiban yang sama. Kita harus yakin, memang dunia ini sangat melioristis; tidak semuanya baik dan tidak pula seluruhnya jelek. Tapi kita dapat membuat dunia ini menjadi lebih baik dengan pikiran dan tenaga kita.

(Penulis, Dosen STAIN Pontianak)