Oleh :Putu Wijaya


Sungguh merupakan peristiwa yang ajaib kalau saya kenang apa yang terjadi di dalam ruangan redaksi Majalah Tempo pada awal tahun 70-an di bilangan Senen Raya 73 – kini Atrium Senen. Di situ berkumpul beberapa orang sastrawan, seperti Goenawan Mohamad, Bur Rasuanto, Syubah Asa, Usamah, Isma Sawitri, Bastari Asnin dan saya sendiri. Kalau kami bicara di sela-sela pekerjaan, kami sering sampai kepada hal yang sama. Bahwa kami seper?i sudah diprogram membaca buku-buku yang sama waktu masih anak-anak.
Saya terkejut ketika kami semua begitu akrab dengan nama Karl May. Kami semua membaca komik RA Kosasih, buku silat Ko Ping Ho, komik Tarzan. Kami juga rata-rata membaca dongeng-dongen Anderson, Don Kisot, dongeng-dongeng De la Fontaine, Sebatang Kara, Tiga Musketir, Maugli Anak Didikan Rimba, Si Doel Anak Betawi, Si Bocek, dan Komedi Manusia. Pendeknya buku-buku yang diterbitkan oleh Balai Pustaka.?Lalu kami langsung merasa seperti saudara. Dekat dan mudah dalam berkomunikasi/diskusi karena latar belakang yang sama.
Barangkali semua itu terjadi karena penerbitan di masa lalu masih sedikit. Semuanya berkiblat pada Balai Pustaka. Jadi bagi yang suka membaca, tidak ada jalan lain kecuali mengunyah buku-buku terbitannya. Tetapi juga mungkin karena buku-buku tersebut memang memiliki magnit dan pengaruh mendalam kepada kami. Karena kami tetap saja bisa mendiskusikannya, menganggap dengan bangga buku-buku itu sebagai bagian dari pendidikan moral kami yang pertama. Seakan-akan buku-buku tersebut, yang mengantarkan kami sampai menjadi orang yang punya sikap.
Dengan anekdot kecil itu, saya ingin menjelaskan bahwa sebuah buku bacaan, bukan seperti pisang goreng yang sekali ditelan lalu lenyap menjadi tai. Ternyata ia bisa dan semestinya tetap tinggal dan berbekas. Apalagi sesuatu yang dibaca sejak kecil. Seyogyanya ia memberikan dasar-dasar moral dan menjamin kebebasan pengembangan pikir kita se?ta menebalkan rasa kemanusiaan kita menjadi manusia yang lebih beradab.
Pesan-pesan kemanusiaan yang mendalam di dalam buku-buku tersebut, saya anggap sebagai bagian penting dari yang menyebabkan ia merasuk sampai sekarang. Kadang-kadang saya mencoba membaca buku-buku itu lagi. Dan tak jarang saya beli untuk dibaca oleh anak dan istri saya. Bahkan juga keponakan-keponakan dan teman-teman dekat saya. Saya berharap mereka pun akan mendapatkan pesan-pesan moral yang pernah saya dapatkan itu.
Yang ?emudian mengejutkan saya lagi adalah bahwa: kembali ke ruang redaksi majalah Tempo di sekitar tahun 70-an. Sama-sama sudah bukan anak-anak lagi, tetapi kami juga memiliki bacaan yang sama. Dan itu ternyata bukan buku Albert Camus, Sartre atau Elliot. Tetapi serial petualangan Tin-Tin dan Esterik — sekadar menyebut contoh. Komik tersebut kami anggap kocak, menarik, dan juga penuh dengan berbagai pesan moral yang tidak hanya menarik kami, tapi juga dibaca oleh anak-anak kami.
***
Petualangan adalah sesuatu yang sangat menarik bagi anak kecil. Tetapi tidak selalu petualangan harus diartikan secara phisik. Petualangan spiritual seperti yang ada di dalam buku Komedi Manusia pun sangat menakjubkan. Saya masih ingat bagaimana saya duduk berjam-jam membaca. Bahkan menangis waktu membaca surat wasiat Wieneto kepada Old Shaterhand, atau surat kakak Homerus yang meninggal di medan perang dalam Komedi Manusia.
Masih mungkinkah kini kita membuat seorang anak zaman sekarang duduk berjam-jam membaca? Sementara pusat-pusat hiburan dengan berbagai kiat memeletnya muncul dalam teknologi canggih? Saya optimistik bisa. Anak saya berusia hampir 3 tahun, menangis tersedu-sedu ketika kedua anak buah Mr Blek dalam serial 008 di Indosiar hendak menangkap Saras. Saya bujuk dia supaya tenang, karena Saras tak akan mungkin kalah.
Saya masih percaya bahwa anak-anak kita belum terlalu rusak, meskipun zaman memang sudah semakin lihai untuk merusaknya. Hanya saja kita mesti lebih lihai lagi. Beberapa penulis bacaan anak-anak kita di masa lalu seperti AMAN dengan si Doel Anak Betawi dan si Bocek telah membuktikannya. Kita yang in?in berhasil tentu saja harus lebih lihai dari beliau karena kita menghadapi zaman yang lebih canggih.
Untuk itu, saya kira satu hal yang tidak boleh kurang dalam persyaratan seorang penulis cerita anak-anak adalah bahwa: satu, ia harus menguasai teknik penulisan. Dua, menguasai peta situasi anak-anak zaman sekarang. Dan tiga, memiliki wawasan kemanusiaan yang mendalam.
***
Saya bukan seorang pemerhati anak-anak, jadi tidak akan ?ampu bicara tentang anak-anak secara mendalam. Tapi saya bisa menceritakan tentang tulisan yang baik, karena saya bergulat dalam soal itu. Saya juga bisa bicara tentang masalah kemanusiaan, yang juga merupakan bagian yang sangat penting di dalam menulis karya fiksi.
Tulisan yang baik bukan hanya harus menunjukkan penguasaan pada teknik, tetapi juga menunjukkan wawasan dan gagasan. Bagaimana memasok wawasan dan gagasan tersebut agar tidak mentah sehingga merusak cerita.
Sebuah tulisan yang ba?k juga memang harus menunjukkan penguasaan bahasa. Bahasa yang baik. Bahasa yang baik bukan hanya berarti tata bahasanya beres, tetapi bahasa yang bening, basah dan hidup. Saya tak setuju dengan mereka yang memakai bahasa anak-anak untuk bicara dengan anak. Bahwa kita harus memakai bahasa yang lebih sederhana, ya. Tapi untuk membuat bahasa jadi kekanak-kanakan, saya ingin menentangnya. Anak kita harus diajak bicara secara wajar, karena kekanak-kanakan mereka adalah keterbatasan mereka, bukan kemaua? mereka. Kalau kita ikuti keterbatasan mereka, mereka tidak akan pernah bisa maju.
Saya tidak setuju dengan penjejalan moralitas yang berkelebihan dan kasar. Karena anak-anak tidak harus memulai sesuatu dengan larangan-larangan yang membuatnya menjadi merasa di dalam penjara dan akhirnya jijik kepada sastra. Kita harus mengolah pesan-pesan moral secara lihai sehingga halus supaya tidak menjadi bumerang. Biarlah pesan moral itu tumbuh sendiri dan kemudian bekerja di dalam benak anak sendiri. Kalau tidak, bacaan mereka hanya akan menjadi kotbah memualkan yang hanya penting buat kita yang merekayasanya. Untuk contoh unggul terhadap hal tersebut saya memujikan dongeng-dongeng karya Anderson, sebagaimana yang sudah diterjemahkan oleh Darmawijaya, terbitan Balai Pustaka.
Saya kurang sepaham dengan kekhawatiran pada masalah-masalah mendalam, sehingga ada usaha untuk menghidangkan atau membatasi cerita anak hanya pada soal-soal yang sederhana saja. Saya termasuk percaya bahwa sejak awal generasi baru sudah memiliki kemampuan untuk menyerap seluruh permasalahan kehidupan seutuhnya, hanya saja mereka tidak ingin memikulnya sendirian. Mereka masih memerlukan panduan dari orang tua dan senior mereka. Ini juga semacam peluang, atau semacam kenyataan alami yang sejak dini mengajarkan kita dasar-dasar bekerja sebagai sebuah tim.
Berarti di dalam persoalan-persoalan berat pun anak-anak sebenarnya tak absen. Hanya partisipasi mereka disesuaikan dengan potensi mereka. Karena itu menurut pemahaman saya, kita tidak boleh bersikap over protektif, menabukan terlalu banyak soal, melarang secara membabi-buta banyak hal yang kita vonis sebagai urusan orang-orang dewasa saja. Biarlah mereka tahu sejak dini bahwa kehidupan itu kompleks.

Republika Online edisi:
25 Apr 1999