oleh: Juniarso Ridwan

PADA sebuah pagelaran tarian Barong di Bali, penonton berada bukan saja sebagai penikmat, akan tetapi bisa hadir terlibat dalam suasana batin yang muncul dari pagelaran tersebut. Dalam suasana sakral yang tercipta penonton telah lebur sebagai bagian dari suasana itu. Itulah yang disebut sebagai karya seni tradisional yang mampu memancarkan aura estetik. Menurut Walter Benjamin, seni tradisional memiliki aura estetik yang secara mitos-irasional berfungsi sebagai legitimasi kultural.

Namun demikian, pemikir yang tertarik pada puisi-puisi Baudelaire ini, menilai, bahwa dengan kebangkitan teknologi reproduksi, dengan unsur rasio dirasakan sangat dominan, maka imbasan sekularisasi merambah ke berbagai sektor kehidupan, termasuk karya seni. Basis-basis kultis dan ritual dalam karya seni menjadi terpangkas. Dengan demikian aura estetik pun hilang. Dengan pengaruh kehadiran industri, semakin banyak karya seni direproduksi secara massal yang mengkibatkan kehilangan nilai kesakralannya dan terhempas menjadi produk hiburan belaka. Seni tradisional akhirnya tercampak dan terkubur oleh hingar-bingar karya seni yang dihasilkan secara massal.

Gaung pemikiran Benjamin itu hingga saat ini masih juga dirasakan aktual. Izinkan saya mempertautkan kondisi masyarakat kita yang pada tataran realitas telah kehilangan landasan untuk tumbuhnya seni tradisional. Di samping terputusnya mata-rantai generasi yang potensial untuk senantiasa memelihara nilai-nilai hakiki seni tradisional, akibat hempasan gelombang kebudayaan massa, semakin melontarkan kehidupan masyarakat pada ruang profan yang tidak lagi menaruh hormat pada nilai sakral seni tradisional. Kegiatan reproduksi karya seni yang demikian gencar, mengembangkan budaya instan yang menebarkan banjir karya seni kacangan.

Meminjam istilah Theodor Adorno, karya seni yang sudah kehilangan auranya itu telah dijadikan obyek manipulatif untuk kepentingan-kepentingan ekonomis dan komersial. Bahkan, lebih dari itu telah dijadikan sebagai alat propaganda ideologis dan untuk tujuan melanggengkan tindakan-tindakan penindasan. Bila sudah terjerumus menjadi komoditas dalam lingkup kebudayaan massa, karya seni bukan lagi sebagai hasil pengalaman estetik. Akan tetapi, telah menjadi obyek santapan kerakusan pasar. Sejalan dengan itu, tumbuh fetisisme terhadap produk kebudayaan massal tersebut. Orang-orang tidak lagi mempermasalahkan nilai guna sebuah karya seni, tapi yang justru di kedepankan dan diutamakan adalah menyangkut nilai tukar. Kecenderungan ini menyebabkan daya apresiasi masyarakat terhadap karya seni menjadi tumpul.

Dalam suasana seperti itu, acapkali sebuah karya seni dinilai bukan karena penyajian karya itu sendiri, akan tetapi dipengaruhi oleh figur-figur publik yang telah dipoles oleh sentuhan kebudayaan massa. Munculnya figur selebritis yang bisa tiba-tiba menjadi bahan pembicaraan masyarakat karena telah menerbitkan sebuah buku, misalnya.

Apabila kita menyinggung peran sebuah karya seni tradisional, dengan potensi nilai sakral yang melekat pada setiap bentuk pagelaran, bisa merupakan unsur yang menentukan bagi terwujudnya rasa persaudaraan di antara komunitas masyarakat, dengan daya rekat aura estetik.

Apa yang bisa diharapkan dari kehadiran karya-karya seni yang telah kehilangan aura estetiknya? Rangkaian produk budaya massa yang melengkapi pembentukan karakter masyarakat yang kehilangan rasa keindahannya, yang gemar bermain kekerasan, dan kurang peduli lagi terhadap nilai kekerabatan. Emosinya mudah meletup oleh rangsangan eksternal dari kondisi-kondisi ketidakadilan, buruk sangka, merasa benar sendiri, dan keputusasaan.

***