J. J. KUSNI

Siapakah kaum kiri dan siapakah kaum kanan? Bagi saya, kaum kiri tidak lain adalah orang-orang yang berpandangan dan bertindak untuk memanusiawikan manusia, kehidupan, dan masyarakat. Marxisme memang tergolong anggota keluarga golongan kiri, tapi ia tidak memonopoli pengertian kiri. Golongan kanan adalah golongan yang dalam ide dan tindakannya memerosotkan kemanusiaan, menjadikan manusia tidak manusiawi.

Takaran kiri dan kanan lebih terletak pada tindakan dan hasil tindakan, bukan pada perumusan filosofis politik. Oleh karena itu, bisa terjadi filosofis politik memperlihatkan diri sebagai golongan kiri dalam perumusannya, tapi ia adalah golongan kanan dalam kenyataannya. Perumusan yang tampak kiri, jadinya tidak lebih daripada topeng untuk mengelabui hakikat yang diperlihatkan dalam tindakan. Tentu saja terdapat perumusan filosofis politik yang secara umum benar, tapi kemudian terbentur dalam pelaksanaan. Benturan ini membuktikan bahwa ada sesuatu yang tetap tidak aspiratif, tidak tanggap zaman dan keadaan, sedangkan arah umumnya benar. Hal ini mungkin terjadi karena arah umum bukanlah sesuatu yang rinci dan konkret.

Oleh sebab itu, arah umum baru bisa diejawantahkan jika kita kenal keadaan dan aspirasi rakyat yang sebenar-benarnya sebagai basis perencanaan untuk mewujudkan arah umum. Untuk keperluan ini, pembuat rancangan atau program dituntut untuk mengenal betul keadaan seperti ia mengenal garis-garis telapak tangannya. Jika tidak demikian, ia akan jatuh ke lembah subjektivisme. Lain yang diharap, lain pula yang dilakukan. Dalam hal ini, maka berlakulah apa yang disebut siklus persepsi, konsepsi dan praktik, di mana praktik merupakan alat pembetulan dan penguji konsepsi.

Ketika kita berbicara tentang masalah praktik, di sini mencuat peranan dan kearifan massa. Tanggap zaman dan keadaan serta aspiratif. Pada hakikatnya, apakah segala sesuatu yang dirumuskan itu mencerminkan zaman dan keadaan serta aspirasi mayoritas rakyat? Jika tanggap dan aspiratif, ia akan disokong dan dilaksanakan oleh mayoritas rakyat. Jika tidak tanggap dan aspiratif, ia akan menjadi perumusan asing dari kehidupan dan hanya tertera di kertas cetak-biru rancangan atau terkungkung dalam ruang debat akademis atau kantor-kantor pusat partai yang asing dari kehidupan nyata mayoritas rakyat.

Bertolak dari pemahaman kiri dan kanan seperti di atas, muncul pertanyaan berikut. Apakah yang sudah ditawarkan oleh golongan kiri Indonesia untuk tanah air dan bangsa semenjak dan sesudah berkuasanya Orde Baru?

Pada masa Revolusi Agustus 1945, para pendiri Republik Indonesia menawarkan konsep “Merdeka Sekarang Juga” dan kemerdekaan tidak lain dari jembatan emas menuju hari depan yang diimpikan. Karena konsep ini tanggap zaman dan keadaan serta aspiratif, ia didukung oleh seluruh rakyat Indonesia. Sampai-sampai mereka sanggup berkata, “Merdeka atau mati”. UUD 1945 dan Pancasila adalah rincian dari aspirasi tersebut.

Semua yang mendukung ide kemerdekaan pada waktu itu bisa dikategorikan sebagai golongan kiri, sedangkan yang antikemerdekaan dan menyokong kolonialis Belanda adalah golongan kanan. Sekalipun tidak terhimpun dalam satu organisasi tunggal, mereka yang mendukung ide kemerdekaan pada waktu itu semuanya terorganisasi dan mempunyai wacana yang jelas tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana mengisi kemerdekaan, apa yang patut dikerjakan setelah melalui jembatan emas itu.

Kembali pada keadaan, terutama sesudah jatuhnya Soeharto, pertanyaan pertama yang ingin saya ajukan: adakah golongan kiri di Indonesia? Kalau ada, bagaimana keadaaan mereka dan apa yang mereka tawarkan?

Tentu saja orang-orang kiri itu ada. Tapi, adakah orang-orang kiri yang terorganisasi? Ini pun ada, terutama setelah jatuhnya Soeharto, sekalipun masih berada di daerah pinggiran dan kata-kata mereka tidak punya dayapaksa karena kekuatan mereka terpencar, sangat lemah, dan seperti tidak tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukan sesuatu. Masalah ke mana pun masih ufuk yang samar.

Lemah karena tidak tanggap zaman dan keadaan serta dan tidak aspiratif. Konsep-konsep yang dicerminkan oleh slogan dan program yang ditawarkan untuk bangsa dan tanah air asing dari kehidupan rakyat. Tidaklah mungkin, misalnya, konsep berdasarkan agama dijadikan jalan keluar dari kesulitan dan dijadikan sarana menyongsong harapan. Konsep begini justru hanya menambah rumitnya kemelut dan memecah belah bangsa dan tanah air yang bhinneka. Lebih asing lagi adalah konsep yang dirumuskan sebagai “kekuasaan rakyat miskin”, sebuah konsep sama sektarisnya dengan konsep agama, sedangkan konsep nasionalisme dan demokrasi tidak lebih dari “pemeo kuno” tanpa isi yang jelas berbeda keadaannya dengan keadaan saat melawan kolonialisme Belanda. Keadaan ini memperlihatkan bahwa golongan kiri Indonesia tidak atau belum mampu menawarkan apa-apa untuk bangsa dan tanah air. Tidak bisa atau belum bisa menawarkan alternatif yang tanggap zaman dan keadaan serta aspiratif. Maka menjadi suatu konsekuensi wajar jika pandangan kanan, militeristik, dan otoriter berada dalam posisi dominan. Padahal, golongan militer dewasa ini merupakan negara dalam negara, sekalipun entah benar tahun depan mereka tidak lagi mempunyai wakil-wakil di DPR dan MPR. Boleh jadi, keadaan akan lain jika dari kalangan militer terdapat mereka yang berpikiran cerah. Tapi sekalipun ada mereka yang berpikiran cerah, adakah imbangan kekuatan nyata yang memberikan syarat bagi mereka untuk muncul dan berhegemoni?

Optismisme bisa dipelihara dan berkembang jika golongan kiri melepaskan diri dari keadaan sekarang yang tidak ke atas, ke bawah, dan tidak juga ke tengah. Hal yang sama juga bisa dipelihara jika kekuatan kiri bisa merumuskan konsep yang tanggap keadaan dan zaman serta aspiratif, terjun ke tengah-tengah, serta menyatu dengan massa di semua sektor dan jika mereka memandang arti penting masyarakat adat sebagai organisasi riil masyarakat di daerah-daerah. Hanya bersandar pada kekuatan kelas menengah dan mahasiswa khususnya, itu tidak akan memberikan arti mendasar. Jika ini dilakukan, optimisme tidak usah melalui hari-hari kelabu dan menunggu perubahan positif hingga satu generasi lagi. Harapan memang banyak terletak pada generasi sekarang, tapi harapan akan menipis jika generasi sekarang menjadi generasi yang hilang, generasi bingung. Lebih celaka lagi jika generasi yang diharapkan ini, bangga dan angkuh dengan kebingungannya. Merasa kebingungannya sebagai keunggulan.

Keadaan begini terjadi karena angkatan 1945 tidak bisa mengikuti zaman, lebih banyak “berguling-guling di kasur tua”, dan banyak yang terbunuh dalam Tragedi September 1965, sedangkan generasi berikutnya merupakan generasi hilang yang terputus serta masih mencari-cari.

Kaum kiri adalah harapan, tapi sekarang bisakah mereka menjawab tantangan harapan kalau sampai hari ini mereka tidak menawarkan alternatif apa-apa? Ini sekadar pertanyaan dari seorang anak bangsa yang terpaksa kelayaban dan melihat dari kejauhan bahwa Indonesia sekarang adalah bangsa dan negeri hampa wacana dan berseru-seru kepada putra-putrinya.

Paris, November 2003.

*) J. J. Kusni, penyair dan esais, tinggal di Paris, Perancis