Rumah Baru

Cerpen: Pamusuk Eneste
Sumber: Kompas, Edisi 08/04/2002

PUKUL 16.30, telepon berdering di rumah baru dan asri di Gang Tenang dan Sejuk Nomor 60, Jalan Kaliurang Km 6,60 Yogyakarta.

”Nah, itu telepon dari Bapak.”

”Bapak sudah tiba, Bu.”

”Tolong diangkat teleponnya.”

”Mudah-mudahan Bapakmu selamat.” Anak-anak yang berkumpul berteriak-teriak, ”Eyang datang!”

”Eyang datang!”

Seisi rumah tiba-tiba menjadi sunyi ketika seseorang menuju tempat telepon dan mengangkat telepon. Semua orang memusatkan perhatian pada siapa yang menelepon dan apa berita yang disampaikan si penelepon.

”Apakah ini rumah Pak Jek?” tanya seseorang di ujung telepon.

”Betul.”

”Ini Kepala Stasiun Lempuyangan. Dimohon keluarga Pak Jek datang ke UGD Rumah Sakit Sardjito.”

”Ada apa, Pak?” Si penelepon tidak mengatakan apa-apa kecuali kata emergency, lalu menutup pembicaraan. Penerima telepon yang masih memegangi gagang telepon itu hanya terpana dan tak tahu harus berbuat apa. Sesaat, ia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

”Dari Bapak, ya?”

”Bagaimana Bapak?”

”Bapak sudah nyampe di Tugu ya?”

”Bapak selamat ya?” Namun, istri Pak Jek dapat membaca wajah anaknya yang menerima telepon itu. Wajah anak itu tahu-tahu menjadi pucat pasi. Seumur-umur, istri Pak Jek tak pernah menyaksikan wajah anaknya sepucat itu. Duh Gusti! Pertanda apakah ini?

JANGAN masuk rumah baru pada usia 60 tahun,” kata seorang rekan Pak Jek. Namun, Pak Jek menganggap omongan itu hanya guyonan. Angin lalu saja! Menurut Pak Jek, itu hanya omong kosong. Takhyul. Mitos. Tak bisa dipercaya dan belum pernah dibuktikan secara ilmiah. Itulah sebabnya, satu tahun menjelang pensiun, Pak Jek sudah membangun rumah di Yogyakarta, tepatnya di jalan menuju Kaliurang.

”Rumah buat hari tua” menurut istilah Pak Jek. Pak Jek memilih Yogyakarta karena menurut dia Yogya cocok untuk orang pensiunan.

”Kotanya tenang dan tidak terlalu besar. Dari ujung ke ujung bisa dicapai dalam tempo satu jam atau malah kurang. Harga barang kebutuhan, terutama makanan, tidak semahal di Jakarta. Orang-orangnya tidak sehiruk-pikuk orang Jakarta.”

Pak Jek membeli tanah di jalan tak jauh dari jalan raya menuju Kaliurang. Selama dibangun, sengaja Pak Jek tidak pernah melihat rumah itu. Dia hanya memberikan gambar dan rancangannya pada tukang yang dipercayainya. Ia baru akan melihat rumah itu dan menginjaknya pertama kali dalam keadaan sudah jadi pada saat hari pertama pensiun nanti.

”Tidak diawasi?” pembaca tentu bertanya. Pembangunan rumah hanya diawasi anak Pak Jek yang tinggal di Yogya. Itu pun hanya sekali seminggu, hari Sabtu atau hari Minggu.

”Biar ada kejutan,” kata Pak Jek memberi alasan. ”Semacam surprise-lah. Jadi, betul-betul rumah baru bagi saya. Baru saya lihat dan baru pertama kali saya injak dan masuki.”

Lalu, kita tentu bertanya, mengapa Pak Jek memilih daerah Kaliurang. Mengapa tidak memilih Bantul, Sentolo, Gunungkidul, Magelang, Prambanan, atau Klaten? Mengapa pula bukan daerah Parangtritis sekalian biar dekat dengan laut?

“Saya suka daerah sejuk dan tenang. Masih banyak pepohonan hijau. Belum terpolusi udaranya. Lagi pula, gampang kalau mau naar boven ke Kaliurang. Gampang pula kalau mau bepergian melalui Stasiun Tugu atau Stasiun Lempuyangan.”

Memang sudah agak mahal ketika Pak Jek membeli tanah di situ lima tahun silam.

”Tapi tak apa. Cuma sekali kok dalam hidup saya. Toh akan kutinggali buat selamanya sepanjang Tuhan memberiku umur.”

Menurut Pak Jek, mahalnya harga tanah di daerah Kaliurang karena ulah orang Jakarta juga.”Orang Jakarta itu banyak duit dan rakus. Berapa pun harga tanah, mereka bisa beli. Pokoknya, apa pun mereka bisa beli. Kalau ada binatang pemakan segala maka orang Jakarta itu pembeli segala. Tak percaya? Coba saja tawari orang Jakarta apa saja. Pasti mereka beli. Termasuk sampah dari luar negeri…”

RUMAH itu dibangun Pak Jek di atas tanah seluas 120 meter, dengan bangunan 60 meter persegi. Bukan karena Pak Jek tak mampu membeli tanah 500 meter, atau 1.000 meter, atau bahkan 1.200 meter. Pak Jek mempunyai pertimbangan sendiri mengapa luas tanahnya hanya 120 meter persegi.

”Makin luas tanahnya, tentu makin repot pemeliharaannya. Makin luas pagarnya. Makin banyak tanamannya; makin banyak sampahnya. Makin banyak rumputnya; makin lama memotongnya. Pokoknya, makin banyak segala-galanya… termasuk biayanya.”

Mengenai bangunan yang hanya 60 meter persegi, Pak Jek juga punya pendirian.

”Aku hanya berdua dengan istri. Buat apa rumah besar? Makin besar rumah, tentu makin banyak ruangannya. Makin banyak kebutuhan listriknya. Makin banyak air yang diperlukan untuk mengepelnya. Makin capek menyapunya. Padahal, aku dan istriku makin renta. Jadi, cukuplah 60 meter persegi.”

Anak Pak Jek yang di Surabaya pernah berkomentar,

”Kayak rumah BTN saja, Pak.” Namun, Pak Jek tidak tersinggung dengan kata-kata itu.

”Mbok, yang lebih besaran Pak rumahnya,” kata anaknya yang di Semarang.

”Lho, memangnya kamu mau ngurus rumah gede? Yang ngurus rumah itu kan aku nanti. Rumahmu ‘kan di Semarang.”Anak Pak Jek yang di Bandung pun pernah protes.

”Kalau kita sekeluarga datang nanti tidur di mana, Pak?”

”Ah, itu soal gampang. Di Yogya kan banyak hotel. Mulai dari hotel melati hingga bintang lima. Kamu dan keluargamu ’kan bisa tidur di sana. Setelah main-main seharian di rumah Bapak, atau setelah keliling ke Borobudur, Prambanan, Parangtritis, Keraton Yogya, kamu dan keluargamu kembali ke hotel. Enak, kan? Lagi pula, di rumah Bapak kan tidak ada AC, ibumu tidak suka. Di hotel ‘kan ada AC-nya.”

”Lho, bukannya anak Bapak, menantu Bapak, cucu Bapak harus menginap di rumah Bapak? Bagaimana sih Bapak ini?”

”Lho, yang mengharuskan itu siapa toh, Nak?”

”Lagi pula,” lanjut Pak Jek, ”kalau kamu dan suamimu serta anak-anakmu tidur di rumah Bapak pasti akan merepotkan ibumu yang sudah tua. Harus masak ini dan itu untuk anakmu, padahal mereka belum tentu suka. Ibumu juga akan repot menyiapkan ini dan itu. Bukankah lebih praktis kalian tidur di salah satu hotel di Yogya? Lagi pula, lebih dekat ke Malioboro. Dari rumah Bapak kan jauh ke Malioboro? Nanti uangmu habis disedot sopir taksi Yogya yang nakal-nakal itu.”

Angka 60 itu pun ada artinya bagi Pak Jek. Pada usia 60-lah Pak Jek pertama kali akan menginjakkan kaki di rumah itu, memasukinya, dan mulai tinggal di situ.Acara melepas seseorang yang akan pensiun biasanya diadakan di aula perusahaan. Memang ada juga yang diadakan di restoran yang kesohor. Bahkan ada pula yang diadakan di hotel berbintang. Untuk orang berjabatan tinggi seperti Pak Jek, seorang direktur perusahaan MNC, sebetulnya pelepasan seperti itu patut dilakukan di hotel bintang lima. Namun, sudah jauh-jauh hari, Pak Jek mengingatkan para karyawannya,”Kalian melepasku nanti tak usah di restoran atau di hotel yang mahal. Lebih baik sewa restoran dan sewa ruangan hotel dibagi-bagikan pada karyawan saja, atau dijadikan modal usaha perusahaan kita.”

Karena sudah di-wanti-wanti seperti itu, karyawan dan anak buah Pak Jek tidak memikirkan macam-macam lagi. Mereka tahu, Pak Jek itu orangnya saklek bin tegas. Sekali berkata A, berarti tak ada tafsiran lain di luar A. Oleh karena itu, panitia pelepasan Pak Jek penasaran,

”Kalau begitu, di mana dong Pak?”

”Nanti saya beri tahu,” ujar Pak Jek dengan kalem.

”Nanti kapan, Pak?”

”Sehari sebelum saya pensiun.”

”Lho, bagaimana mungkin, Pak, panitia bekerja sehari sebelumnya?”

Pak Jek diam sebentar, lalu,”Ya, tak usah pakai panitia-panitia segalalah… Santai saja.”

”Bagaimana mungkin santai, Pak?”

”Mungkin saja. Jadi, kalian tak perlu buang-buang waktu untuk panitia-panitiaan. Mendingan kalian bekerja saja daripada sibuk dengan kepanitiaan. Lagi pula, perusahaan kita bisa menghemat banyak waktu dan biaya.”

SEHARI sebelum berusia 60 tahun, Pak Jek menepati janjinya. Pak Jek menentukan tempat pelepasannya di Stasiun Gambir, bertepatan dengan hari keberangkatan Pak Jek menuju Yogyakarta.Para karyawan Pak Jek yang mendengarnya terperangah. Ada di antara mereka yang nyaris tertawa terbahak-bahak mendengar kata ”Gambir”. Hanya karena kesopanan sajalah karyawan itu menahan rasa gelinya mendengar kata itu. Mereka hanya berkomentar yang lain dengan sesamanya.

”Bagaimana mungkin melepas seorang direktur perusahaan MNC di stasiun?”

”Di stasiun kereta kan berisik dengan orang-orang yang mau naik kereta api?”

”Tidak cocok, ah, di Gambir.”

”Lantas duduknya bagaimana?”

”Acaranya bagaimana?”

Meskipun karyawan Pak Jek tidak mengerti jalan pikiran bos mereka yang akan pensiun itu, para karyawan toh berdatangan ke Gambir pada jam yang ditentukan.Pak Jek akan naik kereta api Yogya Ekspres pukul 08.00 pagi. Pukul 07.00 Pak Jek sudah ada di Stasiun Gambir.Soal naik kereta ini pun sudah menimbulkan bisik-bisik di kalangan karyawan.”Bos kita kok naik kereta sih? Apa nggak salah tuh?”

”Naik kereta ‘kan tidak pernah tepat waktu. Selalu molor!”

”Kenapa tidak naik pesawat terbang saja? Satu jam sudah nyampe.”

”Makanan di kereta ’kan tidak enak.”

”Kereta api kita kan ada tikusnya!”

Rupanya, Pak Jek tahu suara batin para karyawannya itu. Oleh karena itu, ia memberi penjelasan berikut.

”Selama ini ‘kan saya naik pesawat terbang terus ke mana-mana dengan biaya perusahaan karena peraturan perusahaan mensyaratkan demikian. Seorang direktur harus naik pesawat terbang ke mana-mana demi efisiensi. Sekarang, boleh dong saya naik kereta api atas kemauan sendiri… dan juga atas biaya sendiri.”

Para karyawan pun manggut-manggut. Entah pertanda mengerti, entah pertanda bingung mendengar penjelasan Pak Jek.Acara perpisahan itu hanya berlangsung beberapa menit. Setelah pihak perusahaan membeberkan jasa Pak Jek selama 30 tahun bekerja, Pak Jek pun mengucapkan satu dua patah kata.

”Terima kasih atas kerja sama kalian selama ini,” kata Pak Jek mengakhiri kata-katanya.Tidak ada acara penyerahan kado kepada Pak Jek karena Pak Jek sebelumnya sudah mengatakan,

”Pada acara di Gambir, tak usah ada acara penyerahan kado kepada saya. Toh saya sudah dapat banyak dari perusahaan selama ini. Lebih baik uang untuk kado itu digunakan untuk kepentingan perusahaan saja. Lagi pula, rumahku yang baru cuma enam puluh meter persegi, kok. Jadi, tidak bisa muat banyak barang, termasuk kado dari kalian.”

Secara bergiliran, para karyawan pun menyalami Pak Jek. Ada yang memeluk Pak Jek. Ada yang hanya memegang kedua bahunya. Ada yang menyalami dengan dua tangan. Ada yang hanya menyalami dengan satu tangan. Ada pula yang mencium tangan Pak Jek. Beberapa wanita hampir menitikkan air mata. Bahkan bekas sekretaris Pak Jek tak sanggup menahan air matanya. Mungkin dia punya kesan dan kenangan tersendiri terhadap Pak Jek. Siapa tahu.Beberapa saat kemudian, dari mikrofon terdengar pengumuman.

”Para penumpang kereta api Jogja Ekspres dipersilakan naik ke kereta api. Terima kasih.”

Beberapa detik kemudian, terjadilah hiruk-pikuk di peron antara calon penumpang, pengantar, dan kuli angkut. Calon penumpang berdesakan di pintu gerbong kereta api, sedangkan pengantar yang berada di atas juga berdesakan hendak turun.

”Hati-hati copet, Pak,” ujar seseorang.PAK Jek menempati gerbong 6 nomor 6A di dekat jendela. Kursi di sebelahnya, nomor 6B, masih kosong. Namun, Pak Jek tidak mau ambil pusing. Dari mikrofon di langit-langit kereta api terdengar suara wanita.

”Selamat pagi para penumpang kereta api eksekutif Jogja Ekspres yang terhormat. Terima kasih atas kepercayaan Anda menggunakan kereta api Jogja Ekspres. Perjalanan kita ke Yogyakarta memakan waktu delapan jam. Kereta hanya berhenti di Stasiun Cikampek, Stasiun Cirebon, dan Stasiun Purwokerto. Kami akan menyediakan makan siang untuk Anda selepas Stasiun Cirebon dan menyediakan makan kecil serta secangkir teh selepas Stasiun Jatinegara.”

Begitu kereta api meninggalkan Stasiun Gambir, hal pertama yang dilakukan Pak Jek adalah mengeluarkan Ericsson T39 dari kantong jaketnya. Lalu, Pak Jek mengirim SMS ke keluarganya di Yogya.

”Saya sudah berangkat dari Gambir pukul 08.00. Tiba di Tugu pukul 16.00. Tak usah dijemput.”

Istri Pak Jek memang sudah berangkat lebih dahulu ke Yogya, menunggu di rumah baru. Begitu pula empat orang anak Pak Jek (dari Surabaya, Semarang, Bandung, dan Yogyakarta) lengkap dengan anak-anak mereka. Pak Jek ingin, keluarga besarnya menyambutnya di rumah baru saja. Tidak di Stasiun Tugu!Setelah memasukkan HP-nya kembali ke kantong jaket bagian dalam, mata Pak Jek pelan-pelan mulai meredup. Pak Jek baru terbangun ketika petugas kereta api memeriksa tiket. Pak Jek tidak tahu persis sudah melewati stasiun mana pemeriksaan itu dilakukan. Pak Jek juga tidak tahu, kapan pramugari kereta menaruh secangkir teh dan makanan kecil di meja kecil di depannya.Pak Jek memang gampang tertidur. Kapan saja, di mana saja, ia gampang terlelap. Di rumah pun selalu begitu. Begitu bertemu dengan bantal, Pak Jek langsung pulas. Bertemu sofa empuk, jika ditinggal sendirian, Pak Jek juga bisa terlena. Bagusnya, Pak Jek tidak mengorok. Pak Jek pulas lagi setelah menyeruput teh di meja kecil sampai habis. Itu berlangsung hingga tiba saat makan siang selepas Stasiun Cirebon.

”Pak, makan siang Pak,” kata pramugari.

Pak Jek membuka mata, lantas menerima baki yang disodorkan pramugari kereta api.Makanan di kereta api Jogja Ekspres itu memang tidak mengundang selera Pak Jek. Secuil nasi putih. Sepotong paha ayam goreng yang keras. Secuil kol putih yang dioseng-oseng dan sebuah pisang raja. Ada pula sendok garpu, tusuk gigi, dan sepotong tisu. Namun, tetap saja Pak Jek menghabiskan isi baki itu. Menurut Pak Jek, setiap makanan harus disyukuri meski makanannya tidak mengundang selera.Pak Jek sudah sering mendengar keluhan mengenai makanan itu dari para karyawannya. Namun, Pak Jek tetap saja memilih naik KA Jogja Ekspres. Ada beberapa dugaan Pak Jek mengenai makanan di KA Jogja Ekspres itu. Barangkali alokasi dana untuk makanan para penumpang memang terbatas. Atau selera petinggi kereta api, khususnya Jogja Ekspres, yang kurang baik sehingga tega membagikan makanan yang kurang membangkitkan selera bagi para penumpang. Boleh jadi, anggaran untuk konsumsi penumpang disunat para pemimpin perusahaan kereta api. Siapa nyana.PAK Jek tidak tahu bahwa Jogja Ekspres sudah melewati Stasiun Purwokerto, Stasiun Kebumen, Stasiun Kutoarjo, dan Stasiun Sentolo. Berarti Yogya sudah hampir tiba. Tinggal beberapa kilometer lagi.Sambil meluncur ke arah timur, dari mikrofon kereta api terdengar suara pramugari.

”Para penumpang yang terhormat, sebentar lagi kita akan memasuki Stasiun Tugu. Dimohon Anda mempersiapkan barang-barang bawaan. Jangan sampai ada yang ketinggalan. Terima kasih atas kepercayaan Anda memilih kereta api Jogja Ekspres. Kami mohon maaf bila ada pelayanan yang kurang memuaskan Anda. Sampai bertemu lagi pada kesempatan lain.”

Penumpang-penumpang mulai bergegas meraih barang-barang yang ada di tempat bagasi atas. Para wanita mulai menata rambut mereka dan memoles bibir. Bapak-bapak menyempatkan diri ke toilet. Anak-anak pun mulai ribut. Hanya Pak Jek yang tetap di tempatnya. Bantal kecil masih tetap menutup mukanya. Ia seperti tidak ambil pusing dengan orang-orang yang hiruk-pikuk menyongsong Stasiun Tugu. Tas kecilnya masih tetap megogok di atas kepala Pak Jek.Begitu kereta melewati jembatan di atas Jalan Tentara Pelajar, kuli-kuli angkut—tak ubahnya Tarzan dalam film kartun—mulai berloncatan ke dalam gerbong kereta.

”Barangnya, Pak.”

”Angkat barang, Bu.”

”Bisa saya bantu, Pak.”

”Barangnya saya bawa, Bu.”

”Mari Bu saya bantu.”

”Kopernya saya bawa, Pak.”

KERETA api Jogja Ekspres yang baru datang dari di Stasiun Tugu sedang dilangsir di Stasiun Lempuyangan. Di sana kereta dibersihkan dan nanti malam akan berangkat kembali ke Jakarta.Namun, seorang tukang sapu kaget masih ada penumpang yang tetap duduk di gerbong 6 nomor 6A persis dekat jendela. Bantal menutupi mukanya.

”Pak, bangun, Pak!”

Orang yang dibangunkan tak bereaksi.

”Sudah sampai, Pak!”

Tukang sapu itu pun memanggil temannya.

”Coba kamu yang bangunkan.”

Tukang sapu kedua coba membangunkan.

”Pak sudah sampai Yogya, Pak. Bangun, Pak!”

Orang yang dibangunkan tetap bergeming. Lantas, tukang sapu itu mengambil bantal dari muka penumpang itu. Tak ada respons.Tukang sapu satunya memegang tangan dan kemudian menggoyang tubuh laki-laki berusia 60 tahun itu. Laki-laki itu tak juga bangun. Bereaksi sedikit pun tidak.

”Keasyikan mungkin tidurnya.”

”Terlalu capek mungkin dari Jakarta.”

”Mungkin baru kali ini dia naik sepur eksekutif.”

Karena tak bereaksi sedikit pun, kedua tukang sapu itu memanggil tukang-tukang sapu yang lain.Setelah dicoba berulang kali, penumpang itu tetap saja tak mau bangun. Karena tak bereaksi juga, para tukang sapu menghubungi petugas stasiun.Petugas stasiun pun naik ke gerbong 6. Petugas itu mencoba memegang tangan penumpang di nomor 6A. Dipegangnya lagi dan dirasa-rasakannya lebih cermat (seperti dokter memeriksa pasien). Lalu tiba pada kesimpulan.

”Lha, tangannya sudah dingin ’gitu kok…”

Petugas itu kemudian meraba dada penumpang itu.

”Napasnya kok tidak terasa lagi…”

”Jangan-jangan sakit jantung…”

”Jangan-jangan sudah seda…”

* * *

Jakarta, 2002