Penjagal Kota Tua

Cerpen: Abidah El Khalieq

Sumber: Suara Merdeka, Edisi 09/17/2006

INILAH pesan Penjagal Kota Tua sebelum menuruni lapisan terbawah liang lahatnya.

“Aku berharap engkau lebih kompak memerangi saudara sendiri. Ada bisa ular dalam kampung panjangmu. Bakar hutanmu, dan bikinlah istana baru.” Tapi pesan itu diterjemahkan oleh para penduduk kampung dengan sebaliknya. Sebab saudara yang dimaksud tuan penjagal itu ternyata dirinya sendiri.

Go to hell, Penjagal Tua!” Seru Hamzah sepulang mengaji.

Orang kampung percaya, Hamzah punya mata lebih dari dunia. Maka bergeraklah mereka, mengendap dalam gelap. Melempar bambu runcing ke dada malam. Menembus jantung saudara dan teman-teman Penjagal Tua. Sampai 130 tahun kemudian, kampung panjang di atas pulau yang panjang itu, berubah jadi kota. Jadi bandara dan dermaga kehidupan. Surga bagi siapa yang ingin keabadian.

Itulah sejarah. Kampung Hamzah di negeri melimpah. Dunia di dapat, akhirat pun tak pernah lenyap. Sebuah negeri tempat jarak saling mendekat. Hanya neraka yang selalu diusir dari kota. Tapi neraka selalu datang dengan senjata terkokang. Neraka juga selalu hadir melalui banjir. Pusaran air menjulang. Juga perang pada siang bolong.

Maka kini, Hamzah hanya bisa dikenang.

Sebab kota telah berubah warna. Musibah dan bencana mengangkang. Pasir mutiara menjadi empedu dalam dongeng Putri Salju. Lalu tumbuh pohon duka, tanaman sejarah tak bernama. Maka kata-kata sederhana yang paling digemari ialah “pergi menuju langit tinggi.” Terbang di awan, menderap kuda dan mati. Atau hidup setengah gila, agar dunia tak bisa menangkapnya.

Dan pemuda itu lebih suka setengah gila. Menempati posisi paling tawar di antara banyak tawaran. Menghindari kaum warasin, orang yang pura-pura waras, ketika mereka meminta masa kemudaannya untuk jadi penasihat. Jadi pejabat atau pengkhianat.

“Aku lebih suka membahas urusan darah dan cinta, masa kanak yang hilang di punggung sejarah. Dengarlah, sayang, aku ingin meminangmu dengan sepenuh kegilaanku.”

“Aku tak inginkan Abang melamarku. Sebab orang tuaku pasti menolakmu. Aku ingin laut lepas saja.” Cadar perempuan itu tersapu angin pantai, berpijar matahari di korneanya.

“Jangan, Sayang! Di laut banyak hiu,” bujuk pemuda setengah gila itu.

“Aku ingin bertamasya ke dasar laut, menunggang sirip hiu.”

“Hati-hati dengan keinginanmu, Sayang. Hiu loncat dari laut bisa masuk dalam mimpimu. Tapi tak apalah, nanti kuajari cara menunggangnya. Sebaiknya kau tak pernah berpikir untuk menjadi petualang. Banyak tahu itu siksa abadi. Cup yeah!”

“Tetapi banyak tahu juga nikmat tak terperi, melayang membubung tinggi ke bintang. Menyelam menggenggam mutiara kulit kerang. Duh, asyiknya!”

“Lalu nyasar dan tersesat di lambung hiu. Ayo buka lagi kisah Yunus, lari karena khilaf. Kau tak usah tahu bahwa surga 24 jam untuk perempuan, dan hanya 12 jam untuk laki-laki. Selamat mimpi bidadari biru. Jangan lupa, kuberi nama engkau, Laila.”

Laila pun menepi. Mencari ranjangnya sendiri. Dan sebelum tidur, ia teriak lewat jendela kayu. Suara diantar angin menuju telinga setengah gila.

“Jangan lupa, keberi nama engkau, Majnun!”

Ia pun berdoa bagi dunia kesadaran, impian, dan kanak-kanak di taman Eden. Hati-hati ia memejamkan mata, masuk ke dunia candu yang aktif seperti heavy-metalik. Tak lupa juga minum susu nina-bobo. Susu jahe telur hiu.

Pemuda setengah gila, merasa Majnun beneran. Telentang di lubang pasir hinggalah subuh melenyap. Menghilang bagai kilat ke dasar laut paling gelap. Berhari-hari, mungkin juga bulan, Majnun dan Laila diserang mimpi. Ingin keduanya bercakap di atas gundukan pasir tanpa laut. Tapi apa boleh buat, sejak kecil sudah di situ, di tepi pantai kampung panjang itu.

“Di mana kita berada, Majnun? Aku ingin laut lepas.”

“Baiklah! Nanti kita main di pantai yang lebih indah!”

“Apakah Ibu juga di sana? Bermain di pantai indah itu? Di mana pula Ayah ketika ia pulang dari kantornya?”

“Semuanya aman dan nyaman di sana, Sayang! Sekarang bangun dan lihat matahari dengan lebih berani. Nanti kau akan berangkat menjadi matahari. Tak perlu Ibu, tak pula Ayah.”

“Aku ingin jadi kupu-kupu, terbang di langit biru. Aku ingin jadi bintang di gelap malam.”

“Ya, semua inginmu, semua mimpimu akan terbukti. Pasti! Adakah mimpi yang tidak menyata di kampung panjang ini?”

Laila gembira. Majnun juga gembira melihat senyumnya. Tapi jangan bilang, Majnun dan Laila pasangan serasi seperti dalam kisah seribu satu malam. Sebab keduanya hanyalah nama yang tak mungkin untuk diranjangkan. Keduanya suka berteman, berjalan bersama, keliling waktu penyegar duka.

Bersama bergantian dalam khayalan. Memasuki barak lapuk tempat laba-laba menyusun ranjau. Dan barak itu tak sanggup mendingin api, tak pula menghangat bila malam bermandi hujan. Sementara hujan batu dan peluru terus menggoyang dunia, pikiran dan cita-cita. Semut hitam juga bergerak dengan penuh cita-cita. Tetapi di kampung panjang ini, tak ada yang sanggup menutupi rasa sial. Sia-sialah adanya. Suami mati, lenyap jasadnya. Entah di mana. Janda-janda menggendong bayi menuju kaki bukit pada malam hari. Hanya kakek dan nenek yang masih bisa bercanda dengan gigi ompongnya.

Majnun dan Laila menepi. 100 hari waktu meleleh bagai jam di kanvas Salvador Dali. Meski doa digemakan orang dari menara masjid, dan kenduri dilaksakan setiap malam dengan Surat Yasin, memar hati tak usai-usai. Semua mengekal dalam hari, kecuali pada hari Jumat dan Minggu. Jumat untuk gema kotbah, dan minggu untuk kenang mulut hiu. Mulut laut yang mencari mangsa ke rumah-rumah. Sama juga dengan senapan yang sering dipakai Penjagal Tua. Begitu menggetar bumi. Darah kucur dan rahim gugur dalam senyap. Seorang ibu menangis di gubug bambu. Menjadi bekal ingatan untuk membina keluarga pejuang. Menuju makam syahid Karbala, tiang gantung Halaj, dan prosa kematian paling romatik. Berhari-hari Majnun berputar mencari Laila selepas pergi dari tidurnya. Sebab ia selalu pergi, menjadi wartawati pura-pura. Entah apa cita-citanya kini.

“Mengapa tidak keluar dari kampung panjang ini, Majnun?” tanya wartawati tanya pada terik hari.

“Sebab kalau keluar, maka tak ada air mata lagi. Dan jika aku mati tanpa dicatat hukum, Hayo, siapa tanggung-jawab?”

“Paling tidak, banyak janji yang bakal kaudapat. Memberi peluang kegilaanmu untuk berkembang. Bukankah nabi juga hijrah, para pemikir besar hijrah, para ulama besar hijrah. Hanya Sultan Mataram yang tidak hijrah. Kau tahu mengapa?”

“Karena tak ada kuasa di pengasingan. Kalau ada, itu ketiak Amerika. Dulu Hamzah, kakek dari kakekku, menangkar pulau-pulau di sekitar Samudra Hindia. Mungkin naif kalo aku bilang Jawa pula…”

“Gimana kalau hijrah Jakarta, Madura atau Malaka. Ada saudara di sana?”

“Tetap asing, Muhammad tanpa wahyu Jibril. Hanya pujangga. Tiap tubuh bawa kampung dalam diri. Setetes darah bawa sejarah sampai mati. Globalisme itu karnaval kampung-kampung. Pusat koloni dari awalnya, ha ha ha…!”

Wartawati Laila tercekat tenggoroknya. Kehabisan kalimat tanpa kata cinta. Majnun bersipu santai dalam tawa. Bersiul mulutnya. “Silah tanya apa yang ingin kau tahu dan mengerti dunia? Ayo, Laila, mabuklah sensasi.” Majnun merangkai kegilaannya dalam tawa.

“Apakah yang asing tidak bisa merevolusi diri menjadi pribumi yang baru?” wartawati girang ketemu soal lagi.

“Apakah pilar-pilar Panthernon kuil Dewi Athena di Acropolis yang jarang-jarang itu tak berkerabat menyangga atap berukir? Diaspora cuma satu pelarian…,” sigap Majnun bereaksi, tetap dalam santai.

Aneh memang. Wartawati pura-pura itu menulis dalam notesnya begini, “Tampang tirus Hindustan, kopiah Mesir, sarung setengah lipat Afrika di pangkal celana, dan buntelan Yaman di punggung. Ia bertapak ke mana suka. Terlihat lugu seperti hikayat yang belum selesai.” Lalu berpikir seribu kali untuk kembali menjadi Laila. Menjadi manusia penuh mimpi di sisi pantai.

Majnun mengorek hati. Menggores kalimat di udara tak berkoma. “Majnun namaku berjejak di bumi rantau abadi tanpa hukum tanpa perbendaharaan hidup tanpa modal untuk bahagia sebab hilangnya rasa kehilangan karena berlaut kematian sangat jauh dan luas seperti teriakan ribuan orang yang digerakkan Hamzah untuk melemparkan bambu runcing ke dada Penjagal Tua. Allahu Akbar! Manusia ber-khalik sebagai rakyat kami ber-raja sebagai pejuang kami ber-syahid dan sebagai saudara ditelikung dikhianat sekarat kiamat! Smile for You…. Angin mengirim pasir ke dalam mulutnya.

“Neraka Jahannam. Kumpeni baru dalam kegilaanku!”

Majnun mengutuk diri sedalam nyeri.

“Kami membencimu bahkan andai kamu itu gelap malam. Kami membencimu bahkan andai kamu itu aku. Ayo ganti nama saja menjadi perampok, duduk bersanding dengan mempelaimu, pembohong kelas kakap.”

Majnun tertawa di udara tanpa Laila.

Sebab Laila sedang menepi di pantai sendiri. Mencari alamat masa lalunya yang hilang tersambar ombak. Dan Majnun terus tertawa mengingati Penjagal Tua yang mati karena minum kopi dari neraka. Serupa benar dengan Dajjal bermata sebiji, kelereng pengetahuan yang menggelinding ke balik kabut gelap. Jahat seumur-umur. Gelap yang tak mau tidur. Tak mati juga Sisifus. Seperti Laila yang mendekat kembali di garis bayang-bayang.

“Kau bekap dadamu karena tusukan. Siapa yang menusukmu?” Sapa Laila, tiada.

“Kata-kata dunia. Kalimat busuk orang beruang. Jika tewas tak tercatat oleh hukum, lemparkan mayatku ke batas cakrawala.”

“Siapa menewaskan siapa?”

“Kurawa.”

“Siapa Kurawa?î

“Yang menghantu di Astinapura.”

“Oke! Masih sakit dadanya?”

“Oh! Cilaka! Tak padam pula api di dada ini. “Kunie bardan, salaamun ‘ala Ibrahim fil ‘alamin. Duhai api, mendinginlah. Sejahteralah Ibrahim, selamatkan semesta yang dibakar kaum berhala.”

Mendelong Laila mendengar igau dalam doa. Memang, di kampung panjang ini hanya bisa tumbuh pohon igauan dan doa. Dan hampir tiap hari, Majnun dan Laila memanjat pohon itu, lalu berbuah sakit kepala. Migrain.

Candu rindu!

Senja pun datang. Laila membayang malam. Majnun mengukir langit dengan awan. Bulat matahari menghilang di laut barat. Laila siap terima ilham api, mendekat bulan di pucuk cinta, ayat-ayat dari menara masjid. Menghunjam di otak. Majnun merangkak, mengukir Laila di atas pasir. Tak juga kiamat mendekat. Duka tak kenal kata akhir.

“Pilih mana, merdeka atau tidur sementara?”

Laila menganggukkan kepala.

“Serupa zikir, kepalamu penuh pikir.”

Mulut Laila hampir saja makan gigi. Ngemut bulpen berkali-kali.

Menghilangkan migrain di sebelah kiri. Insomnia. Majnun bangkit mencari buah simalakama. Buah khuldi yang jatuh ke bumi. Ia hendak memungutnya, siapa tahu Laila juga suka. Kekal abadi di surga. Salah tafsir berujung salah makna.

“Kemarin kulihat kau meniup seruling seperti Daud memanggil burung.”

“Memang. Tapi seruling itu hilang ketika kau datang.”

“Suka bambu, atau suka suaranya?”

“Suka sama suaramu. Malam tak bertuan, abadi gelap daripada terang. Entah bendera mana yang terkibar, maka malam tambah kelam.”

Kelam juga Laila. Tinggal bayang-bayang. Mencari ranjangnya sendiri di gubug reyot sarang laba-laba.

Kampung panjang ini penuh ranjau, muslihat tipu daya kompetador. Maka Majnun bangkit menjejak bongkah alam, seolah pidato di atas mimbar batu Jalut. Zaman kemegahan kaum khianat. Dengan cahaya mata berkilau dipantul dari garangnya matahari titik zenit, Majnun mengalun seuntai bait mirip pujangga.

“Saudara-saudara terbaik! Malam ini kita bergerak! Daripada mati di rumah tuan, lebih baik menggelepar di medan juang! Daripada mati di ranjang kompeni lebih baik satu dalam shaf sabilillah. Ini Hamzah, dengarlah perintahku. Anak pinak Penjagal Kota Tua itu datang kembali. Ayo serang! Terjang! Di masa pembangunan ini, tuan hidup kembali. Pedang di kanan, keris di kiriÖî. Mulut Majnun takut jadi puisi Anwar.

Tanpa kesadaran penuh, mulut Majnun bergetar karna takut penyair Anwar. Ikan-ikan yang sempat menguping (duh, aku lupa, apa ikan punya telinga?), menyembul dari laut, memberikan applaus yang lumayan. Tepuk-tangan malam. Duka pasir abadi. Air didulang, muka kuyup penuh gelombang.

Ingatan Majnun berkelok ke belakang. Kenangan sang kakek, mengekal dalam rasa. Kampung panjang beku waktu. Kota lama beribu-ribu tahun lamanya. Peta terkoyak, dihasut angin jahat dari arah barat. Kepedihan dan keterasingan menjelma prasasti. Pangeran Ling-Khe, ombak berkacak.

“Dan kau, seorang pangeran jugakah?”

“Hahaha…pertanyaan sendiri akan kujawab sendiri. Sebab Laila telah pergi sedari senja tadi. Adakah arti darah biru bagiku? Apa guna pendidikan jika kau tak bisa menjawab pertanyaan sendiri. Semuanya meruap nguap bagai embun semilir pada pagi hari.”

Majnun mabuk bukan dari gelas anggur, tapi karena lumpur. Air laut warna coklat mengendap di lambung. Dan Laila bersembunyi di situ, meremas usus buntu dengan waktu. Mengkilat bagai pualam tak retak-retak dari masa silam. Hinggalah Majnun membisu, menghadapkan wajahnya ke runcing batu karang.

“Mungkinkah kenangan bisa berlalu?”

“Tidak!”

Majnun bergerak, merambat, menjalar ke akar nadi memori yang mulai hidup kembali. Sejenis kesadaran mengorek masa lalu dan masa depan.

Ke mana pun Majnun melangkah, warna bumi terasa darah. Hati lara di pantai. Buih pecah di beranda rumah, simpanan matahari bagi cahaya.

Meminang kampung sendiri jadi bintang. Jadi waktu menyembur terang ke jantung. Meradang!

Majnun berlari, menghempas ombak di dalam hati. Merindu matahari bangkit dari sela pasir. Prosa kematian paling romantik di laut Hindia, menyusun kalimat akhir di kubur Laila. Lalu sejarah berulang. Mati lagi, ngungsi lagi. Darah lagi, nanah lagi. Negeri bangkit berkali-kali. Orang mati tak dikenali. Tak ada daun pisang menutup jasadnya. Tak juga dimandikan dengan air.

“Awas! Penjagal Kota Tua. Jangan sekali-kali ambil cintaku.”

“Bunuhlah aku, jika kau mampu. Banyak nian nyawaku. Satu mati, menendanglah seribu kaki. Hayo, kalau berani…!”

Majnun melayang. Memintal waktu dengan dongengan. Menunggu gardu sepanjang siang sepanjang malam. Para peronda selalu datang, meminta dongeng yang baru. Tapi kali ini, ia tak mau cerita. Sebab Laila masih nusuk di hati. Lalu tiba-tiba, sodara penjagal tua menghampiri. Pangkal besi terkokang. Majnun lari di tempat. Duesszz!. Jus tomat tumpah di atas papan kayu. Megap-megap. Jantung pun berhenti menjumpa senyap! Darah merah darah putih, tercecer lagi di kampung panjang, di tepi pantai yang membentang. Bidadari Laila mengangkat ruhnya ke pusat Angkasa.

***

Yogyakarta, 2006

Iklan