Nasi Dingin

Cerpen: Zelfeni Wimra

WAKTU ayam dan itik kita banyak, Ibu tidak terlalu kuatir banyak nasi dingin dalam periuk. Bahkan kadang-kadang, Ibu terpaksa menambahkan nasi yang baru ditanak untuk makanan ayam dan itik. Sekarang kan, tidak begitu lagi keadaannya.

Ayam dan itik kita sudah dua dulan lalu dimusnahkan karena diduga terjangkit flu burung. Para tetangga menghujat kita karena tidak mau membantai dan membakar itik dan ayam kita yang tersisa. Akhirnya, kita terpaksa juga melakukannya. Aneh benar! Padahal, sejak zaman antah-barantah, penyakit ayam itu sudah ada. Namanya saja yang baru ditemukan. Bukan ditemukan, tapi diganti dari akuak menjadi flu burung. Lalu orang yang mengerti kesehatan menakut-nakuti kita. Katanya, penyakit flu burung itu bisa menulari dan mematikan kita.

Sekarang, apa yang harus ibu lakukan, coba? Nasi dingin bertumpuk. Ayam dan itik sudah tidak punya. Kandang kosong. Kemarin Ibu berencana memelihara anjing. Mak Kudun mau menukarkan induk anjingnya dengan sepatu bot. Tapi bapakmu melarang. Katanya, rumah yang memelihara anjing sampai empat puluh rumah di sekitarnya tidak akan dimasuki Malaikat Rahmat. Rumah tanpa rahmat, apalah gunanya. Bertabur harta pun tidak akan terasa nikmat kalau tidak dirahmati. Bapakmu menakut-nakuti Ibu pula. Katanya, penyakit yang ada pada anjing lebih berbahaya dibanding penyakit flu burung.

Anjing Pian, misalnya, gila! Anak SD yang pulang sekolah digigitnya. Pian terbayar obat anak itu lebih tiga juta rupiah. Memelihara anjing itu sama saja mencari-cari musibah. Apalagi yang akan dipelihara itu induk anjing. Aduh. Dua kali setahun dia beranak. Apakah rumah ini akan jadi peternakan anjing?

Jadi, ke mana nasi dingin ini Ibu buang? Ibu mau saja menjemurnya lalu membuat emping untung penganan. Tapi kalian, mana suka. Kalian, dari dulu, tahunya cuma minta uang belanja. Kalau sudah dikasih akan berlari-lari ke kedai dan membeli permen coklat atau agar-agar kuning berhadiah katanya kaya vitamin dan berserat itu. Akhirnya, nasi dan jerih Ibu terbuang juga.? Sia-sia? saja.

Waktu musim hujan kemarin, bolehlah. Kolam ikan kita masih berair dan kita bisa memelihara ikan di sana. Nasi dingin pun bisa jadi makanan ikan. Tidak perlu repot lagi.

Sudah berkali-kali ibu bilang ke bapakmu, kalau mau makan di luar, di rumah adiklah, di rumah pak Wali-lah, cobalah diatur selera tu. Sisakanlah sedikit ruang di lambung tu untuk memakan nasi yang ditanak bini. Apa susahnya?

Bapakmu itu, makan nasi dingin, mana mau. Dia cuma bisa minta ditanakkan nasi lembik. Kalau tanak berderai, ia tidak bisa makan. Takut kalau ompongnya lecet. Waktu kamu dan adikmu belum tamat sekolah dan masih? kos di kota, wajar dia belum bisa beli gigi palsu. Sekarang, kau sudah tamat. Tinggal adikmu. Biaya sudah berkurang. Tapi, gigi palsunya belum juga dilunasi. Padahal sudah empat bulan lebih dipesan ke tukang gigi. Apa mau bapakmu sebenarnya?

Kalau berpepatah-petitih dia paling hebat. Pandai berbahasa tinggi. Katanya, orang berumah tangga sering terjatuh karena batu-batu kecil, bukan batu besar; rumah tangga tidak akan aman kalau masing-masing suami istri belum bisa membaca yang tersirat atau yang tersuruk. Sudah jelas nasi dingin bertumpuk, ini bukan tersirat lagi.?

Hanya sampai di situ. Kalau bapak sudah pulang, ibu seperti putri malu tersenggol kaki kerbau. Ciut dan menunduk. Bukan karena melihat tampang bapak yang bengis, besar, dan legam. Tapi, setiap kali pulang dari ladang, sebelum Magrib, biasanya, bapak tidak pernah berpangku tangan. Ada saja yang dibawanya. Kadang pisang tua. Kadang biji kopi, coklat, gardamunggu. Tak jarang pula, bapak terbungkuk-bungkuk memikul kayu kering. Sebelum adzan Magrib selesai, kayu-kayu sebesar paha itu dikeping bapak dan kemudian disusunnya rapi-rapi di atas salaian tempat ibu memasak.

Di akhir pekan, biasanya setelah makan malam, bapak selalu yang pertama kali bertanya: berapa Niko, adikku, butuh uang belanja; kapan dan dengan siapa dikirim? Jika sudah begitu, ibu pasti seperti putri malu tersenggol kaki kerbau. Runduk dan terkulai.

Kalau bapak tidak ada, yang ada hanya kami berdua, ceritanya lain lagi. Ada saja kelakuan bapak yang tidak beres. Seperti ketidakmampuan bapak membelikan ibu baju baru sekali enam bulan. Padahal, di ceramah-ceramah agama yang digemari bapak sering disebutkan, bahwa seorang suami berkewajiban membelikan baju baru untuk istrinya minimal satu kali enam bulan, terutama waktu lebaran.

Tetap sampai di situ. Bapak datang. Ibu seperti putri malu. sebelum lebaran tahun lalu, ibu sudah mematut-matut kain bahan baju di tempat tukang jahit. Tampak jelas di rona wajah ibu, harapan dapat rezki berlebih hingga ia dapat beli baju baru. Tapi, ketika ia melihat ke arahku, raut wajahnya berubah. Mungkin terlintas di pikiran ibu, anak gadisnya saja tidak berani minta dibelikan baju baru. Apalagi dia yang sudah ubanan. Lagi pula, peralatan dapur untuk menghadapi hari besar itu belum semuanya terpenuhi. Uang simpananku dari upah menjahit bordir sudah dibelanjakan semua. Uang dari bapak juga sudah dipakai dan tersisa sedikit. Masih ada yang belum terbeli.

Daging, sudah. Gula, tepung, kacang-kacangan, telur, dan sebagainya pun sudah. Tinggal beli kelapa, minyak tanah, dan beras untuk persiapan harian. Menurutku, sudahlah. Nanti saja di lengkapi. Tapi ibu tak bisa menghilangkan rungutnya.

Bapak bisa membaca gelagat itu. Tadinya, bapak ingin melunasi gigi palsunya waktu lebaran kali itu. Mengingat anak dan bininya tidak punya baju baru dan masih banyak keperluan yang belum terlengkapi, bapak sengaja menundanya. Lagi-lagi, ibu seperti putri malu. Sekalipun pada kesempatan lain ia mencak-mencak lagi.??

ITULAH yang kubanggakan sebelum rumah ini kemudian mendadak dingin. Sebelumnya, kami seolah pernah membuat kesepakatan bahwa rumah tempat mencurahkan perasaan. Tempat mengeluarkan uneg-uneg dan segala macam rahasia.? Kalau di tempat lain, ibu, bapak, atau aku dan adikku tak mungkin seleluasa itu mencak-mencak, mengeluarkan carut dari mulut kami yang rata-rata monyong. Tidak mungkin.

Aku tentu tidak juga dengan leluasa bisa berlaku apa saja di rumah ini. Melukis pintu kamar dengan gambar kuda berlari di sungai dangkal dengan latar belakang pinus-pinus yang rimbun (meski tidak begitu pas) tapi dengan gembira telah berhasil kulakukan. Apa lagi? Membuat tempat tidur dari bambu dan mengikatnya dengan jalinan ijuk. Mengumpulkan aneka bunga kering dan merangkainya sedemikian rupa lalu memajangnya di dinding kamar.

Kalau malam, biasanya, aku tidur tanpa celana.

Pertama, karena aku suka suhu dingin. Kalau tidur, aku berkeringat dan itu tidak nyaman untuk kulitku yang alergian.

Kedua, karena aku baru sembuh dari serangan si misterius jamur. Bu bidan bilang, jamur suka yang lembab; sistem kekebalkan tubuhku tidak bagus. Maklum, aku kelahiran 78. Melewati masa kanak-kanak di desa yang terpencil. Program cacar waktu itu sedang mendapat kecaman sebagai program yang tidak efektif. Program yang menyakitkan. Kami semua takut. Aku salah seorang dari teman-teman lain yang sering cabut dari sekolah kalau mendengar ada petugas cacar datang ke sekolah. Anak-anak sebaya denganku (boleh dilihat) pangkal lengannya pasti ada capuk cacar itu. Cacar akhirnya diganti dengan imunisasi. Sampai sekarang. Tapi masih masih ada juga yang takut dengan program pemerintah ini.

Para orang tua yang tidak mau mengimunisasi anaknya masih berpikiran bahwa vaksin imunisasi itu terbuat dari racun. Memang, membunuh atau mencegah aneka penyakit, tetapi juga membasmi sistem syaraf yang lain. Menurut mereka, Tuhan tidak sia-sia menciptakan air susu ibu yang di dalamnya sudah lengkap. Tidak perlu imunisasi, sebenarnya. Lihatlah, kebiasaan dan keyakinan kita sejak dahulu kala, kalau ada yang disengat binatang berbisa, obat yang paling dicari (dan memang sangat ampuh) adalah air susu ibu. Air susu ibu itu obat dari segala penyakit. Dengan menyusukan anak selama 2 tahun itu sudah sempurna. Tidak perlu tambahan obat-obat lain. Agar anak jadi cerdas. Ini kan tidak. Anak baru berumur tiga bulan sudah diberikan makanan tambahan berkaleng-kaleng. Begitu alasan? mereka.

Oya, sampai di mana tadi? ?

Kemerdekaan di rumah. Ya.

Karena yakin seyakin-yakinnya, bahwa rumah ini tempat paling aman untuk mengekspresikan diri, aku berani tidur tanpa celana. Alasan ketiga, karena tidur tanpa celana, membuat sirkulasi udara disekitar wilayah V akan sempurna dan ini tentunya membawa kenyamanan. Anjuran itu banyak kutemukan di dalam tips-tips kesehatan di majalah-majalah.

Kebiasaan ini, suatu ketika mendapat kecaman pula. Dari ibu, tentunya. Malam itu, aku dipergokinya sedang tidur telentang tanpa celana. Aku tidak sadar, ketika ibu menyelonong ke kamarku, ia minta tolong memasangkan resleting di punggung baju kurungnya karena akan pergi menjenguk keluarga bapak yang pulang dari rantau. Aku sangat kaget. Biasanya, kalau mau bepergian, resleting baju itu pasti bapak yang memasangkan. Sekarang kok minta tolong ke aku. Mungkin mereka berdebat lagi soal nasi dingin, gigi palsu, atau apa.

Ya, ampun, Eka! Bagus-baguslah tidur tu, Nak. Kamu sudah mau jadi bini orang. Tidur masih seperti anak kecil!?

TAPI rumah ini kini dingin. Sedingin nasi yang kusuap malas-malasan.
Dua bulan setelah mengunjungi keluarga bapak yang pulang dari rantau itu dan aku dinikahkan bapak dengan kemenakannya, bapak dan ibu memutuskan untuk ikut mereka. Sekolah adikku yang baru kelas 2 SMU dipindahkan ke sana. Bapak tergiur dengan cerita enak mencari uang di rantau. Tidak perlu lagi berkeringat-keringat di ladang. Setua mereka, masih ingin merantau? Kenapa baru terpikirkan ketika usia sudah senja?

Makanlah, Sayang, selagi hangat. Nanti dingin, tidak enak,? sapa suamiku.

Kenapa? Ingat ibu dan bapak? Mereka di rantau aman-aman saja. Makanlah yang lahap. Orang hamil tidak boleh sedih,? rayunya sambil memeluk dan mengusap perutku dari belakang.

***

Sungai Naniang-Padang, September 2006