Perkara Kucing
Cerpen: Yusrizal KW (Sumber: Suara Pembaruan, Edisi 09/01/2002)

“Jadi saya dipecat, Buk?”
“Ya.”
“Kok di…”
“Sudah! Kemasi barang-barangmu, kemudian temui saya untuk ambil gajimu!” “Tapi, Buk..?”
“Segera!”
“Tapi, apa salah saya!”
“Kucing salahmu!”
Bi Yel, pembantu rumah tangga setengah baya itu menunduk. Air matanya tak kuasa ditahan. Ia seperti melihat bayangan kesedihannya di lantai keramik yang mengkilap. Nasib buruk, kemiskinan, kadang-kadang begitu jelas tertera dalam kesedihan di lantai keramik mewah milik majikannya. Bi Yel melangkah ke kamarnya di bagian belakang, di sudut dapur. Dengan berat hati ia memasukkan semua pakaiannya ke dalam tas plastik butut yang dulunya ia bawa dari kampung. Ia tak tahu mesti pergi kemana. Di kota yang luas ini, ia tak pernah tahu di mana anak laki-laki satu-satunya tinggal dan bekerja. Satu-satunya yang harus ia lakukan, tak ada lain: meninggalkan rumah megah yang telah menampungnya selama tiga tahun lebih. Ketika ia hendak melangkah meninggalkan kamar kecil di sudut dapur, seekor kucing cokelat mengeong lembut di mulut pintu. Bi Yel tersenyum dan jongkok membelai kepala kucing itu. Kucing tersebut seakan mengerti apa yang dialami Bi Yel, ia cuma sedikit mendongakkan mukanya, seperti membalas tatapan sendu perempuan setengah baya itu.
“Bi Yel mau pindah dari sini. Kamu cari tempat singgah makan di tempat lain dengan teman-temanmu, ya. Si kurap juga bawa!” Bi Yel setengah berbisik. Pada saat itu dari kejauhan terdengar ngeong kucing yang lain. Bi Yel tersenyum, dan berkata, “Tuh, si kurap datang!” Langkah si kurap tak sampai ke ambang pintu kamar mungil Bi Yel. Sebab, pada saat itu, Bu Gin, majikannya melempar dengan sepatu. Lemparan itu mengenai tubuh si kurap. Dengan erangan ngeong yang menyayat hati, si kurap lari meninggalkan sayup suaranya yang membawa beban rasa sakit dan sedih. “Gara-gara kucing-kucing sialan itu, martabatku jatuh. Kau tahu Bi Yel, si kurap lancang melintas di depan tamu-tamu pentingku tadi malam. Kurang ajarnya, ia malah duduk di karpet sambil menjilat-jilati tubuhnya yang dijalari kurap itu. Menjijikkan!” kata Bu Gin sinis.
“Si kurap tak mengerti apa-apa, Buk,” jawab Bi Yel gemetaran. “Memang dianya tak mengerti apa-apa. Tapi, Bi Yel kan tahu itu tindakan kurang ajar. Apa kata tamu-tamuku, ‘Aduh, ternyata Bu Gin pelihara kucing kurapan juga, ya’. Huh! Memalukan!” Bu Gin tampak tak bisa menahan kejengkelan hatinya. Tatapannya menukik ke mata lemah Bi Yel. “Maafkanlah, Buk,” kata Bi Yel. “Makanya cepatan meninggalkan rumah ini. Kalau Bi Yel masih di rumah ini, semua kucing-kucing kurap bisa datang ke kompleks perumahan mewah di sini. Kucing-kucing kurap akan menemui Bi Yel karena mereka menduga bakal disediakan makanan enak!”
“Tapi, makanan untuk kucing-kucing yang kebetulan suka main ke kamar saya itu berupa sisa Ibuk dan Bapak serta anak-anak. Daripada mubazir, Buk.” “Mubazir. Enak saja bilang mubazir. Kalau memang mubazir, kenapa tidak Bi Yel saja yang makan.”
“Tapi.”
“Tapi, tapi, tapi melulu. Sudah, segera berangkat, ini gajimu!” Bu Gin, Sang Nyonya besar melempar amplop putih berisi uang ke hadapan Bi Yel. Kucing cokelat yang masih termangu di hadapan Bi Yel terkejut, kemudian lari tunggang langgang. Dikiranya ia dilempar. Hati kecil Bi Yel sesungguhnya tak bisa menerima perlakuan kasar demikian. Tapi karena memang ia memerlukan uang untuk mencari tempat lain, maka dengan perasaan terhina ia mengambil amplop itu. Air matanya menetes. Ia betul-betul merasakan, kemiskinan kadang memang dipertegas oleh mereka yang kaya sebagai kehinaan. Ia menelan rasa itu kini. Dengan hati teriris-iris, Bi Yel meninggalkan rumah mewah itu. Terbayang hari-hari di mana setiap ia mencuci piring, setiap itu pula ia memasukkan sisa makanan, mulai dari tulang ayam, daging, nasi dan kepala ikan yang tak termakan habis. Orang kaya kadang-kadang makannya selalu bersisa untuk terbuang, gumam Bi Yel. Setelah itu, di pekarangan belakang rumah, di dekat sangkar burung-burung Pak Gin yang dibuat seperti rumah-rumahan setinggi tegak, ia meletakkan sisa makanan itu pada sebuah tripleks. Tak lama, tiga ekor kucing, kadang-kadang hingga tiga ekor, melompati pagar, menghampiri makanan yang disediakan Bi Yel. Kucing-kucing itu, karena Bi Yel selalu tepat waktu meletakkan makanan, tahu kapan harus turun menghampiri tripleks beronggokan makanan. Kebaikannya pada kucing-kucing itu, apalagi ada seekor kucing kurap, membuat majikannya, Bu Gin, tidak bisa terima. Mula-mula dianggap biasa. Tapi, makin lama kucing-kucing itu, terutama yang kurap, sering lancang masuk ke kamar majikannya. Kadang-kadang malah tiduran di atas kasur Grace, anak perempuan majikannya yang kuliah di perguruan tinggi swasta terbaik. Di lain waktu, kucing-kucing itu berkejar-kejaran dalam rumah, di atas karpet tebal. Bahkan pernah menjatuhkan keramik kesayangan Bu Gin. Kalau dipikir-pikir, Bi Yel bisa maklum juga kenapa majikannya marah besar. Padahal, ia sering mengusir dan bahkan menyediakan lidi untuk menakut-nakuti kucing-kucing yang selalu diberinya makan itu. Tapi, dasar binatang, kucing tersebut (mungkin lantaran merasa Bi Yel orangnya tulus) malah seperti merasa diajak bergelut. Sebenarnya, Bi Yel tak ingin repot-repot memberi makan. Tapi, ketika ia menyadari kucing-kucing liar di kompleks perumahan mewah ini susah mencari makan dikarenakan orang kaya menurutnya, tak ingin sembarangan hewan masuk ke rumah mereka. Tak seperti di kampung, kalau ada kucing, apalagi tak suka mencuri ikan asin, pasti diberi makan. Tentu ini keterlaluan menurut mereka. Peliharaan juga merupakan gengsi. Makanya, banyak kucing-kucing di kompleks perumahan itu sering mengeong kelaparan. Kasihan, kan? Karena merasakan nasib kucing sampai dibawa ke hati, makanya Bi Yel sering cuek kalau ditegur atau dimarahi majikannya. Bahkan, Bi Yel membiarkan kucing itu tidur di kamarnya. Sekarang ia menyadari, bahwa risiko ini harus diterimanya. Ia tak dendam pada Bu Gin. Cuma ia sedih saja, karena perasaan Bu Gin tak tersentuh pada nasib kucing kompleks. Dengan hati yang dibujuknya sendiri, ia melangkah meninggalkan rumah Bu Gin yang mewah. Ia buka pintu pagar, lalu berjalan ke jalan raya. Dari situ, ia menyetop sebuah mobil angkutan umum. Ketika ia menaiki mobil tumpangan itu, tiga ekor kucing berlari mengejarnya. Tapi mobil sudah berjalan, hanya terdengar sayup-sayup ngeongan yang makin jauh ditelan deru mesin mobil dan angin yang selalu leluasa sepanjang hari. Di atas mobil, Bi Yel menggigit bibir. Ia tak mengerti, mau ke mana hari ini? Sepeninggal Bi Yel, Bu Gin dan Pak Gin serta tiga orang anak remaja mereka, panik. Panik bukan tak ada yang menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Sebab untuk itu sudah ada penggantinya. Tapi yang membuat Bu Gin panik, setelah seminggu ini, mereka tak bisa tidur nyenyak. Masalahnya, ketika malam tiba, kala mereka sudah terkantuk dan merasakan lelah karena seharian bekerja, suara-suara kucing bagai merasuk lewat pori-pori dinding. Setelah keberangkatan Bi Yel karena pengusiran paksa, setiap malam, di atas atap, di taman rumah, pekarangan belakang, terdengar ramai suara ngeong kucing. Mereka sendiri tak habis pikir, dari mana kucing-kucing itu datang. Sewaktu Bi Yel ada, cuma tiga ekor. Tapi tak ribut. Kini, menjadi lima, kemudian, tujuh, sebelas setelah itu ia tak tahu berapa. Yang ia tahu, kalau malam, terutama menjelang dini hari, rumahnya bagai berada di tengah kandang kucing yang memekakkan. Pernah mereka menyirami dengan air panas, tapi kucing-kucing itu tidak berada di satu tempat. Jadi kerepotan mengusirnya. Lagi pula kucing-kucing liar itu pandai mengelak, lalu mengeong keras. Kucing-kucing itu berada di atap, depan, belakang, dan samping rumah.
“Kucing itu pasti protes karena Bi Yel dipecat!” kata Pak Gin.
“Papi kan tahu, Bi Yel melanggar disiplin rumah ini!”
“Iya, tapi Mami jangan segegabah itu dong. Akhirnya…”
“Habis bagaimana. Bi Yel tak tahu diri. Tak tahu diri, mengerti, Pi,” Bu Gin meninggikan nada suaranya. Malam merambat pekat. Suara kucing mengeong ribut. Seakan-akan mereka adalah bayi-bayi yang tengah mencari induk mereka yang puluhan tahun tak pernah bertemu untuk menyusui mereka. Bu Gin kewalahan. Ia tutup telinganya dengan bantal, tapi tetap sulit. Anak-anak mereka malah menangis minta pindah. “Mami, sebaiknya kita pindah. Atau menginap di hotel! Kucing-kucing itu kayaknya makin banyak membawa teman. Ribut! Pusing” kata Grace, sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Ngeong. Ngeoooooong.. Ngeong!” suara itu bersahut-sahutan, kadang-kadang satu sama lainnya seperti hendak berkelahi. Sudah sepuluh hari Bi Yel meninggalkan rumah. Selama itu pula mereka hidup dalam suara-suara ngeong yang tak ramah. Selama itu pula pekerjaan Pak Gin yang dibawa pulang tak pernah terselesaikan. Sejak itu pula keluarga tersebut tak pernah segar di pagi hari. Sejak itu pula, Bu Gin mulai merasakan badannya kurang sehat. Di hari keduabelas, Bu Gin tambah panik. Musababnya, pembantu mereka yang baru, Bi As minta berhenti. Alasannya, kalau malam enggak bisa tidur. Ia malahan takut mendengar suara kucing yang begitu ributnya. Alasan kedua, ia sudah dua hari ini capek membersihkan kotoran kucing yang tercecer di sekeliling rumah. Kepanikan bertambah, para tetangga mulai marah. Sebab ternyata suara kucing itu juga mengganggu ke rumah sebelah. Apalagi, bau kotoran kucing yang menimbulkan muntah.
“Mami, kita harus cari Bi Yel. Kehadiran Bi Yel barangkali yang bisa meredam kucing-kucing itu. Sebab, Grace melihat si kurap dan kucing coklat yang sering ke kamar Bi Yel ikut dalam kelompok kucing- kucing yang ramai itu,” kata Grace dengan suara sesak. Pak Gin termangu, lalu mengangguk. “Pendapat Grace bisa jadi benar, Mi.” “Tapi, ke mana mesti kita cari Bi Yel.” Tak ada pemecahan kecuali kegelisahan yang menebal.
Pagi ini Minggu terasa cerah. Pak Gin dan istri serta anak-anaknya bangun kesiangan. Rata-rata mereka tidur pukul tiga pagi. Tak ada obrolan yang menarik sebagaimana pagi-pagi Minggu selama ini. Yang ada raut wajah kelelahan lantaran kurang tidur di antara mereka. Tukang koran sambil tetap di atas sepeda motornya melemparkan koran Minggu melewati pagar. Bu Gin mengambilnya. Dengan malas-malasan ia baca halaman satu. Kemudian ke halaman dalam. Setelah itu, tiba-tiba matanya terpaku dan membelalak hebat. “Papi, Bi Yel!” tercekat suara Bu Gin. Ia kemudian menujukkan foto Bi Yel terbaring di sebuah ruang rumah sakit kepada suaminya. Grace dan Simon serta Arya ikut mendekat.
“Ya Tuhan, Bi Yel jadi korban tabrak lari,” desis Pak Gin.
“Baca, keras-keras Pi,” pinta Grace. Di akhir berita, tertulis, “Korban mengaku sedang mencari anaknya. Tapi, ia tak tahu ke mana mesti mencari. Bagi yang merasa kenal dengan korban, mohon bantuannya untuk menghubungi keluarga atau memberi tahu pihak rumah sakit. Korban mengalami luka jahit pada kening dan patah pada bagian kaki.”
Sesaat mereka terpaku. Ada perasaan tak menentu hinggap di masing-masing hati.
“Mami, yuk ke rumah sakit sekarang. Bawa Bi Yel pulang. Ia kan sudah bagai keluarga sendiri!” teriak Grace. “Iya, Mi. Biar anak-anaknya Bi Yel enggak mengeong-ngeong lagi malam-malam. Kalau enggak, bisa-bisa sampai mati kita didemo melulu sama kucing-kucing sialan itu!” Bu Gin menatap suaminya. Pak Gin mengangguk. Kemudian terdengar suara berat dari mulut Bu Gin,
“Mudah-mudahan tidur kita mulai malam ini lebih nyenyak.”
“Bukan itu alasannya, Mi. Tapi, kemanusiaan. Ingat kemanusiaan,” Pak Gin seraya meneguk tehnya. Bu Gin mengangguk asal-asalan sembari berkata, “Demi rasa kebinatangan yang manusiawi ya, Pi.” Dan, seketika itu juga, terdengar suara kucing dalam irama ngeong yang lembut. Serempak mereka menoleh ke asal suara, dan, “Hah, si kurap.”

Padang 4 Agustus 2002

Iklan