Seseorang yang Menyimpan Rahasia di Sepasang Bola Mata
Cerpen: Yetti A KA (Sumber: Nova, Tabloid, Edisi 05/29/2006)

KOLAM ikan. Lumut hijau, mengapung. Tiga tangkai bunga teratai merah dan putih, menyembul. Ikan-ikan berloncatan, riang. Di belakang kolam, sawah terhampar, menguning penuh hingga di kejauhan. Seorang perempuan memetik setangkai padi. Sekilas, senyum perempuan itu tersapu angin.

(cat air di atas kanvas, 60×50 cm)

Sina tertegun menatap lukisan itu. Lukisan pertama Meilan setelah sebulan masuk les lukis, setiap Sabtu sore. Meilan mengatakan kalau perempuan dalam lukisan itu Sina: Mama. Kali itu Sina ingin sekali menangis, lalu mencium rambut Meilan dalam-dalam. Ia terharu. Kolam ikan dan sawah adalah kerinduannya yang terpendam selama bertahun-tahun. Melihat lukisan itu, ia menemukan kembali masa lalu yang hampir tak mampu ia jangkau; Sina, perempuan desa yang suka berdiri di pematang sawah, rambut panjangnya berkibar seperti bendera di dera angin wangi batang-batang padi basah.

Sina bertanya pada Meilan, kenapa.

Meilan bilang, karena Mei sayang Mama.

“Tapi Mei, bukankah kau ingin sekali melukis ikan mas koki mata belok dan berekor panjang dalam akuarium, bahkan karena alasan itu pula kau belajar lukis”.

“Mei akan melukisnya lain kali, Ma.”

“Seharusnya itu yang pertama. Sangat dalam makna sesuatu yang pertama, Mei.

Sangat istimewa, Sayang.”

Sekarang Sina berdiri lagi di depan lukisan pertama Meilan. Untuk ratusan kali, tentu. Sina selalu senang memperhatikan lukisan itu diam-diam, saat rumah kosong, saat tak seorang pun memperhatikannya yang kadang terharu kadang tertawa sendiri menatap dirinya dalam lukisan itu. Sebuah lukisan tentang dirinya, dan itu lukisan pertama Meilan. Hati Sina sering berbunga jika menatap lukisan itu, setiap kali.

Sina ingat wajah kecil Meilan kala menyerahkan lukisan itu, tepat sehari sebelum Hari Natal. Tanggal dua puluh empat. Wajah kecil Meilan tiba-tiba muncul dari balik pintu, tersenyum penuh arti, lalu: hadiah untuk Mama, katanya. Dan menunjukkan sebuah lukisan. Hadiah itu membuat Sina seharian merasa tidak hidup dalam kenyataan.

Sudah lima belas tahun, berlalu.

Lukisan itu tetap terpajang di dinding ruang tengah bersama lukisan Meilan yang terus bertambah jumlahnya, puluhan atau sudah ratusan—mulai kusam, dan beberapa bagian catnya terkelupas, lepas. Sina sendiri yang memilih tempat itu. Alasannya, agar bisa dilihat banyak orang, sebagaimana lukisan Meilan yang lain. Betapa Sina betah berlama-lama memandang lukisan itu, bisa beberapa jam. Rasa bangga yang tidak habis-habis. Jika lima belas tahun lalu Sina lebih banyak terharu, belakangan ini ia lebih banyak tertawa jika melihat lukisan itu. Ia pikir Meilan kecil nakal sekali, telah melukis dirinya amat ranum, pipi padat merah muda. Perempuan yang sangat hidup, menyala. Lorong mata Sina yang dalam, seperti menyimpan sebuah dunia. Ada riak bergetar-getar di dinding kelopak mata itu. Ada suara-suara ingin berloncatan.

Kadang, Sina merasa itu bukan dirinya.

Sina hanya seseorang yang sederhana. Selalu sederhana. Dilihat dari sisi mana pun. Tapi Meilan kecil—melalui lukisan itu—membuatnya berbeda dari biasa. Imajinasi kanak-kanak menjenguk hal-hal yang tidak terduga. Seolah-olah dalam sorot mata Sina tergambar sebuah keinginan, kehendak. Maka tampaklah sosok Sina yang seakan ingin merebut sesuatu, entahlah.

Adakah Sina memiliki rahasia. Rasanya, ia menjalani hidup begitu terbuka. Terlebih pada Alini. Sejak Sina ikut perempuan itu, ia menganggap tidak ada keinginan lain kecuali memberikan diri sepenuhnya pada hidup yang ia jalani. Sina bekerja sebagai pengasuh anak-anak Alini dan bukan baby sitter ataupun pembantu. Di rumah besar warna putih (dengan batang stoberi menjalar di atap teras belakang), Sina merasa di rumah sendiri. Anak-anak memanggilnya: Mama. Hubungan yang sangat erat. Mereka makan di satu meja. Nonton bersama di ruang keluarga. Bila musim libur sekolah, Sina ikut ke Bali atau ke pulau Lombok. Anak-anak suka laut. Mereka senang berjemur atau main bola kaki di atas pasir putih berkilau ditimpa cahaya. Sepulang dari liburan, rambut mereka bau garam laut, dan mereka tidak ingin keramas hingga dua atau tiga hari—mempertahankan rambut mereka yang bergumpal-gumpal dan butiran pasir menempel di kulit kepala.

Anak-anak tumbuh, ibarat pohon yang semakin tinggi setiap waktu. Tidak terasa Meilan sudah perempuan dewasa, dan baru saja punya pacar. Mereka bertemu di sebuah pameran lukisan dan saling berkenalan tepat di depan lukisan ngarai sianok yang berukuran 134 x 200 cm. Anin dan Waru, lihatlah, pipi mereka makin teguh. Aku bahkan hampir saja tidak percaya kalau mereka sudah jauh berubah.

Alini pasti belum tahu tentang semua itu. Alini sibuk sekali, dan anak-anak, terutama Meilan, enggan bercerita pada orang sibuk. Meilan begitu sensitif dan mudah tersinggung oleh sikap-sikap yang menurutnya menjatuhkan harga dirinya sebagai perempuan dewasa. Ia butuh ibu sekaligus teman yang peduli. Alini tidak pernah bisa.

Meilan. Selalu dia yang lebih di hati Sina. Bukan Anin, atau Waru. Padahal Sina yakin membesarkan ketiganya dengan cinta yang sama mekarnya. Sewaktu kanak-kanak, jika Meilan boleh main hujan di halaman belakang sambil melihat air jatuh ke kolam kecil tempat anak-anak melepas ikan perut buncit yang lucu itu—meskipun Sina harus berkali-kali berdebat dengan Alini—Anin dan Waru mendapatkan kesempatan berikutnya. Bila salah satu di antara mereka ada yang dihukum Alini karena kenakalan kecil, Sina akan teriris hingga ia merasa harus membela mereka habis-habisan. Hanya saja, ini sama sekali sulit dimengerti, tapi Sina tahu ia lebih dekat dengan Meilan. Cara Meilan memahami Sina yang sederhana, cara Meilan memanggilnya Mama—penuh ekspresi dan tidak setengah-setengah.

Inikah dunia dalam lorong bola mata Sina. Rahasia yang ia sendiri hampir-hampir tidak menyadarinya. Ya. Sina menginginkan Meilan, menghendakinya secara lebih. Cinta dalam seorang ibu. Dan Meilan telah hampir membacanya ketika kecil, tampak samar dalam lukisan sosok Sina yang hidup, menyala, dengan lorong mata penuh rahasia.

Sina mengurut dadanya. Ia tampak kejam sekali pada Alini.

* * *

SEHARUSNYA, Sina tidak di rumah besar berwarna putih itu lagi bila ia memang hanya seorang pengasuh anak. Meilan sudah dua puluh dua tahun, Anin sembilan belas, Waru tujuh belas. Ketiganya sudah bisa mengurus diri sendiri. Apalagi anak-anak terbiasa mandiri dari kecil. Sina yang mengajarkan. Ia ingin anak-anak mengerti kesulitan-kesulitan dan berusaha memecahkannya. Sewaktu-waktu anak-anak akan lepas dari rumpunnya—dari Sina ataupun Alini—untuk itu Sina ingin mereka mengetahui banyak hal sejak awal, termasuk rasa sakit tertusuk duri dan perihnya luka akibat tersandung batu. Dan anak-anak cepat sekali mengerti.

Kehadiran Sina nyaris tidak penting lagi ketika anak-anak mulai berlari dengan kedua kaki sendiri, menyibak dunia jauh di balik rumah besar bertembok tinggi. Meilan yang sebebas angin dan jarang sekali pulang ke rumah, Anin dan Waru yang bagai elang. Namun anak-anak yang keberatan saat Sina ingin pergi. Juga Alini yang semakin sibuk dengan sejumlah bisnis yang ia kelola bersama teman-temannya. Tidak bisa dibayangkan bagaimana anak-anak tanpa Sina. Siapa yang mengingatkan bila mereka mulai malas ke gereja untuk kebaktian. Adakah yang bisa menghibur bila sewaktu-waktu hati mereka terluka.

Terlebih Meilan. Sina pasti tidak sanggup membiarkannya terus-terusan dikepung keputusasaan, rasa marah dan kecewa. Meilan tetap saja gadis kecil yang kadang memiliki sayap serapuh kupu-kupu di mata Sina, walau Meilan berpuluh kali berteriak bahwa ia perempuan dewasa dua puluh dua tahun yang bisa melakukan apa saja di luar rumah untuk bertahan. Sina tahu Meilan justru diserang rasa sepi ketika ia merasa dewasa. Sina ingin mengeluarkannya dari perasaan parasit itu. Seperti juga Sina ingin membela Meilan dari Alini dengan keputusan-keputusannya yang seringkali sepihak.

Pernah suatu pagi, sebagai seorang Mama, mata Sina berhadapan dengan mata Alini. Mata Sina gelisah. Mata Alini menunggu tidak sabar.

“Mei ingin serius melukis. Ia mau berhenti kuliah ekonomi,” kata Sina, datar.

Alini ingat lukisan pertama Meilan di ruang tengah. Lukisan tentang Sina. Hati kecilnya mengatakan, sudah lama sekali ia cemburu.

“Papinya tidak akan setuju,” Alini berkata datar.

“Itu akan menyakitkan Mei,” ujar Sina.

“Kalau Mei tetap keras kepala, biar dia sendiri yang bilang sama Papinya.” Alini membuang asap rokok yang penuh di mulutnya, “Mei bisa menghubungi lewat telepon kalau ia mau.”

Sina mengeluh. Meilan bahkan sudah setahun tidak bicara dengan papinya. Jangan-jangan anak-anak sudah lupa bagaimana rupa dan perawakan lelaki itu. Lelaki yang sering tak punya waktu untuk Alini dan anak-anak, sejak beberapa tahun terakhir. Alini perempuan kedua, dan posisi itu sangat tidak mengenakkan bagi siapa saja. Sina paham kekosongan hati Alini. Sina tahu kadang Alini perempuan yang sama sekali tidak bahagia dalam urusan lelaki.

Sina menatap Alini ketika perempuan itu beranjak dari kursi, meninggalkan meja makan yang beralas kain putih dengan sulaman motif bunga mawar, dan menyisakan setengah gelas kopi tanpa gula kegemarannya yang masih mengepulkan asap. Setiap pagi Alini diburu waktu. Seakan-akan ia akan kehilangan segala-galanya jika terlambat sedikit saja untuk menghabiskan setengah kopi yang selalu tersisa itu, lalu mematikan api rokok secara sempurna. Pernahkah Alini merasa sudah tua, dan ada masanya ia harus menikmati hidup dengan lebih santai. Memanjakan diri sendiri. Memberi arti pada anak-anak yang nyaris tidak tersentuh perhatian sejak bertahun-tahun.

* * *

SINA yang masih setia terhadap banyak hal; terhadap rumah besar warna putih dan ruang tengah penuh lukisan Meilan, stroberi terus menjalar bertunas berbuah, dan kolam kecil di belakang rumah makin penuh ikan perut buncit yang lucu.

Sama sekali tidak ada harapan.

Alini sudah jadi jarum waktu sepenuhnya. Tanpa jeda, berputar. Siang, malam. Bahkan ia tidak pernah lagi menikmati secangkir kopi tanpa gula untuk lima menit saja di pagi hari sambil berbincang sekata dua pada Sina, mendengar kejadian terbaru yang dialami anak-anak, atau merencanakan liburan akhir pekan, meski hanya akan sekadar rencana saja, tidak apa-apa. Itu akan cukup menghibur.

Anak-anak nyaris lupa kapan saatnya pintu mesti ditutup kapan waktunya terbuka. Mereka menganggap Sina dan rumah sebagai masa lalu yang manis saja, dan belakangan lebih sering tak menghargai kenangan itu. Anak-anak terlalu cepat melepaskan diri dari rumpun, terlalu terburu. Sementara Sina masih mengira mereka anak nakal kemarin sore.

Kemudian Sina memang sendiri. Kesepian. Menjadi tua seiring memudarnya warna putih di dinding rumah besar bertembok tinggi. Ia menyaksikan hari-hari bertemu debu bersama sejumlah lukisan Meilan yang tidak terurus sebab dua pembantu yang bekerja di rumah itu telah lama tidak datang lagi.

Kolam ikan. Lumut hijau, mengapung. Tiga tangkai bunga teratai merah dan putih, menyembul. Ikan-ikan berloncatan, riang. Di belakang kolam, sawah terhampar, menguning penuh hingga di kejauhan. Seorang perempuan memetik setangkai padi. Sekilas, senyum perempuan itu tersapu angin.

(cat air di atas kanvas, 60×50 cm)

Maka seringkali Sina menatap sepasang bola matanya dalam lukisan di dinding ruang tengah, dan ia mencoba tersenyum, tulus sekali, meski banyak hal yang rasanya tidak akan kembali. Jangan takut menjadi sendiri, bisik Sina. Lamat-lamat, samar. Sebab mencintai artinya harus berani ditolak dan dilupakan pada suatu ketika.

***

Padang, April-Mei 2006

Iklan