Di Muka Rumah-Mu Tuhan

Cerpen Yenny Suryadi

Lalu beberapa jamaah masjid laki-laki mulai berkumpul dan berbisik-bisik. Mereka benar-benar tidak suka dengan gaya pemuda itu, pura-pura ikut salat magrib dengan memarkirkan sepeda dagangan bakso gorengnya di halaman depan pagar. Padahal sudah jelas-jelas menggantung di pagar besi depan masjid itu tentang informasi mengenai larangan berjualan di depan atau di halaman masjid. Awalnya tidak ada yang terlalu peduli, sampai entah siapa yang memulai, kegelisahan itu perlahan-lahan mengusik para bapak jamaah masjid di kampung itu. Lelaki muda pedagang bakso goreng yang mangkal di halaman masjid waktu mulai menjelang gelap, magrib, sampai masuk waktu isya kini menjadi sorotan mereka.

“Saya yakin kalau dia bisa baca tulisan itu, wong terima uang ribuan aja paham kok,” ujar pak Komar sambil menggerutu.

“Kalau begitu dia memang berniat melecehkan kita,” tambah yang lain membenarkan, lalu duduk bersila mendekati Pak Komar.

“Jadi bagaimana?” kali ini, Pak Amir yang bicara, “Kita tindak sekarang?”

“Iya, nanti keburu dicontoh pedagang lain!” tambah yang lain.

“Kita disangka pilih kasih!” pak Komar kembali membenarkan.

Tiba-tiba semua hening sejenak, angin terasa begitu teduh terempas di antara mereka dari sebuah beberapa kipas angin yang dipasang di langit-langit masjid, dan jam sudah menunjukkan hampir tibanya waktu salat magrib.

“Begini saja Pak Komar,” Amir memberikan pengarahan, “Sekarang kita salat magrib dulu, nanti kita bicarakan lagi. Yang jelas, peraturan yang ada harus dipatuhi, demi ketertiban dan kedisplinan!” Semua mengangguk dan setuju akan saran pak Amir, “Bukankah disiplin adalah bagian dari iman?” Kembali semua mengangguk dan mengiyakan pendapat pak Amir sambil mengangkat tubuhnya untuk berdiri dan mengikuti salat magrib berjamaah.

***

“Kurang ajar memang anak muda itu,” Pak Komar kembali mengumpulkan beberapa jamaah lelaki di masjid itu usai berwudhu guna mempersiapkan salat magrib, “Rupanya dia bertato!”

Riuh jamaah langsung terdengar ramai. “Apa kataku, seharusnya kemarin kita tindak saja dia!” salah seorang jamaah berucap dengan kesal. Ini akan mempengaruhi jamaah yang masih muda, mereka yakin akan hal itu. Berawal dari sekedar “numpang” salat, dilanjutkan dengan duduk-duduk sebentar di tangga teras masjid, ngobrol kanan kiri, terutama pada anak- anak muda, ditambah berjualan sambil pura-pura nunggu salat Isya! Keterlaluan pemuda bertato ini! Ada maksud terselubung di balik kepura-puraannya itu! Ini tidak bisa dibiarkan, sudah terlalu banyak kegilaan di negeri ini dengan segala akal bulus yang dikemas sedemikian manis.

“Apa mungkin ini isyarat bagi kita ?”

“Isyarat apa?’

“Ya, membantu membersihkan keadaan anak muda kampung kita saat ini. Bukankah bisa kita lihat sendiri, bagaimana begitu banyaknya cara yang dilakukan oleh para iblis untuk membawa anak-anak muda kita pada kesesatan ?”

“Semuanya serba kebetulan. Misalnya, Pak Komar kebetulan melihat tato si anak muda, dan kemudian tanpa kita sadari kita telah memasang papan pengumuman dilarang berjualan di muka masjid, sehingga kita ditunjuki-Nya pada perilaku anak muda jahat tapi bodoh itu!”

Para jamaah menganggukan kepalanya setuju. “Belum terlambat, sebelum terlalu jauh, mumpung dia belum berkenalan dengan anak-anak kita!”

“Jadi bagaimana baiknya?”

“Kita usir dia, sebelum dia mengotori kampung kita, “ jawab yang lain.

***

Katanya untuk menghilangkan tato mudah saja, asal memang sudah berniat dan ada keberanian untuk menahan sakit yang luar biasa. Tapi baru sedikit saja ujung setrikaan panas mengenai kulit tangannya yang bertato, Danang sudah menjerit kepanasan. Tapi tidak seorang pun tetangga bedengnya perduli.

“Wong edan,” begitu kata mereka. Sebenarnya dari dulu, mereka ingin mengusir Udin yang sudah dianggap terlalu oleh para penghuni bedeng sekitar. Tapi belum sempat mereka menggerebek rumah tua bangka itu, kabarnya dia keburu meninggal setelah dilarikan ke rumah sakit oleh Danang, anak satu-satunya. Kebanyakan minum, kebanyakan mabuk, judi dan main perempuan, itu pasti penyebab utama kematian si tukang rusuh.

Dan sampai akhirnya yang tersisa tinggal satu-satunya anak menempati bedeng bobrok itu, harapan warga tidak juga pudar. Bapak sama anak sama hancurnya. Tubuhnya kurus dengan mata cekung yang mirip dengan mata-mata kaum morfinis. Dulu di lehernya bergantungan macam- macam rantai, dari tipis hingga rantai yang mirip untuk menggembok pagar-pagar rumah orang kaya lengkap, juga mirip dengan rantai untuk mengikat anjing-anjing mereka di balik pagar. Tidak cukup dengan kalung rantai dan wajah morphinis, di hari berikutnya dia pulang dengan lengan penuh tato, jalan terhuyung-huyung melewati para bapak yang nongkrong di pinggir kanan dan kiri gang menuju bedeng. Tidak ada yang coba cari masalah dengan Danang, salah-salah hilang nyawa di tangan pemabuk, sia-sia!

Lucunya, Danang tidak pernah berurusan dengan mereka, apalagi menggoda seorang gadis di jejeran bedeng itu, dia terlalu sibuk berpikir tentang “kenapa” lalu tenggelam dalam kemabukan dan melupakan semuanya.

Orang-orang yang tinggal di sekitar bedeng itu awalnya berpikir kalau ujung-ujungnya akhir hidup Danang adalah sebuah sel. Tapi kemudian pemuda itu menghilang hampir dua minggu, dan pulang dengan leher tidak lagi dikalungi rantai sambil membawa sebuah sepeda kumbang tua, dilanjutkan dengan kesibukan baru yang aneh ditampakan oleh si pemuda itu, mencuci perkakas dapur di sungai!

Di sore berikutnya, pemuda kurus itu sibuk memotong lempengan-lempengan kayu di bawah sinar matahari. Memakunya menjadi satu bangunan, lalu mengikatkannya pada ekor sepeda yang dibawanya hari kemarin. Tanpa bicara apa pun, dan tanpa meminta pertolongan seorang pun tetangganya dia bekerja dengan tekun.

***

“Kapan?” seorang bapak menggeser duduknya mendekati pak Komar,

“sekarang?”

Pak Komar masih memejamkan matanya, duduk diam di teras masjid sambil memandangi jalan yang sepi.

“Sebentar lagi Isya,” pak Komar menjawab.

“Apa setelah Isya?” lelaki itu kemudian duduk di sebelah pak Komar, memandangi pemuda dengan sepeda bakso gorengnya.

“Lihat, dia mulai cari perkara,” Pak Komar bangkit dari duduknya, berjalan pelan menuju anak tangga, meraih sandalnya. Sementara anak-anak kecil dengan celotehnya mulai mengkerubuni Danang dengan sepedanya, mereka tertawa ceria, bercengkarama, dan mulai merogoh-rogoh saku dari rok dan tas kecilnya, mengeluarkan cahaya-cahaya dari kepingan uang logam. Rizky di muka rumah tuhan!

Seretan langkah Pak Komar tidak terlalu jelas. Tawa gembira bocah makin marak, Danang kewalahan melayani mereka.

“Bang, bang saya satu!”

“Bang, dicabein dong bang, tiga!”

Danang tergesa, bahkan untuk tersenyum pun sulit. Seharian ini di perjalanan awan begitu mendung, dia hampir putus asa. Tapi suara-suara yang suka mengajaknya bicara dalam kesendirian selalu membuatnya untuk terus berjalan, berjuang dan bertahan. Kadang dia pikir itu suara bapaknya, tapi kadang dia pikir itu suara Didin, kawannya yang sudah meninggal karena dikeroyok massa dua bulan lalu. Nyawanya masih genyatangan, dan karena mereka sahabat karib, mungkin saja Didin berniat mengawaninya.

Adzan menggema, waktu Isya tiba. Pak Komar menahan langkahnya diikuti seruan para bocah, “Eh, eh , Isya, Isya tahu!” Danang pun terdiam.

“Ayo, ayo sudah dulu ya,” Danang menyudahi dagangannya.

“Tapi aku belum bang!”

“Kan duitnya udah bang!”

Danang kebingungan.

“Bang, bang, aku tadi uangnya udah bang!”

“Tika, ayo, dimarahin bapak lo!” bocah yang lebih besar menarik tangannya.

“Aku udah bayar! Aku udah bayarrr!!” anak kecil itu merengek, hampir menangis.

Danang membuka kembali pancinya. Anak kecil itu berhenti menangis, Pak Komar berbalik kembali menuju masjid. Giginya gemertak, suara panggilan salat memenuhi dada dan kepalanya.

***

Dua orang menariknya dengan kasar ke pinggir, menjauh dari sepeda dan panci bakso gorengnya.

“Apa tidak kau baca, heh, tidak bisa kau baca heh??!!” bentak seorang lelaki berbadan besar yang menarik lengan kanan Danang, menunjuk-nunjuk papan tipis di muka masjid.

Danang tergopoh, mencari-cari yang dimaksud lelaki ini.

“Tidak kau hargai kami rupanya heh?” tambahnya keras.

Sebuah papan lusuh dari seng dicat biru, dengan tulisan dilarang berjualan di muka masjid dengan huruf A yang sudah hampir pudar, dan karat yang menguning.

“Ap-apa??” Danang mencoba bertahan.

“Kau pikir ini apa??” bentaknya lagi.

Orang-orang berkerumun, lelaki muda itu semakin tersudut. Berkali-kali dicobanya untuk menengok ke belakang mencari sepedanya, tapi orang-orang ribut mengajaknya bicara.

“Lihat ini, lihat!” seorang lelaki lagi menarik lengan baju Danang, lukisan tato nampak memenuhi atas lengan serta bahunya. Semua terperangah, semua ribut. Bocah-bocah menangis terkejut, uang receh jatuh berhamburan.

“Bawa saja, bawa, “ seru yang lain meriuhkan suasana.

“Ya, bawa saja, iblis itu!” sahut yang lain.

***

“Sudah, sudah nak..” bujuk perempuan itu , sambil membelai kepala Tika.
Gadis kecil itu terus menangis, menahan pedas dari pukulan ayahnya, kening dan pelipisnya basah oleh keringat, dia terus menangis.

“Belajar menantang bapak, begitu jadinya!” suara bapaknya masih terdengar keras dari ruang tamu.

“Sudah, sudah nak,” perempuan setengah baya itu kembali mengusap kepala Tika yang menangis semakin kencang.

“Berhenti!” teriak Bapaknya dari ruang tamu, tangis Tika semakin kencang.

“Berhenti!” ulang bapaknya seraya menghampiri Tika, “Berhenti!”

“Siapa, siapa yang suruh jajan?!” Pak Komar memelototi putri kecilnya,” Sudah dengar adzan, masih berani jajan!!”

Satu pukulan perih dirasa Tika kembali, gadis kecil itu meraung. Waktu hampir satu pukulan lagi mengenainya, dia berlari cepat menghindar. Menuju pintu luar.
“Tika!” panggil bapaknya marah.

Dciiitt!!Semua berteriak. Sebuah mobil melintas kencang menabrak tubuh mungil Tika.

“Tikaaa??!!!” jerit ibunya dari dalam. Tapi sudah terlambat.