Di Jimbaran Aku Mengenangmu

Cerpen Wayan Sunarta

Aku hanya sendiri saja, duduk di hampar pasir. Senja yang jingga merona baru saja berlalu. Kini kerumunan bintang mulai berlomba-lomba menghiasi langit malam Jimbaran. Bintang gemintang itu seakan tidak mau kalah bersaing dengan kerlap-kerlip lampu hotel dan kafe yang bertebaran di sepanjang semenanjung.

Jimbaran…Jimbaran…betapa lama kita telah berpisah. Sejauh-jauh aku merantau, entah kenapa luka batin itu tidak juga sembuh. Kini aku kembali mengunjungimu dengan jiwa yang jauh berbeda. Dengan jiwa luka yang telah ditempa oleh doktrin-doktrin yang tidak sepenuhnya aku yakini. Tapi, dendam memang begitu mudah mengubah jiwa rapuh manusia.

Ombak mendesah di bibir pantai. Aku menahan desah dalam dada. Aku bangkit dari lamunan dan bergegas mengumpulkan ranting-ranting kering dan sampah serpih kayu yang dibawa ombak entah dari mana. Mungkin serpih kayu itu dulunya sebuah perahu nelayan yang terlunta-lunta di tengah lautan, tanpa ikan, tanpa makanan, berjuang menghadapi badai yang tak punya rasa kasihan. Tapi sejak sore tadi ketika kususuri pantai Jimbaran, tidak seonggok perahu pun kutemui. Hanya kafe-kafe ikan bakar yang berleret dengan asap mengepul-ngepul yang membuat perutku jadi lapar. Sepuluh tahun lalu tak pernah kutemui kafe-kafe itu di sepanjang pantai. Deretan kafe yang tak teratur itu dengan kerumunan orang-orang yang entah dari mana datangnya telah membuat pantai yang kucintai ini menjadi kumuh dan penuh asap. Bahkan bintang-bintang di langit pun menjadi perih dengan kepulan asap yang seakan tiada pernah berhenti itu. Aku jadi kasihan dengan bintang-bintang, sebab kini cahayanya sering meredup, dan terasa hampa. Tidak lagi seterang dan seriang sepuluh tahun lalu.

Sambil mengepit sejumlah ranting dan serpih kayu, aku menyusuri pantai ke arah selatan, menjauh dari kafe dan kepulan asap sialan itu. Di tempat yang lumayan sepi aku tumpuk ranting dan kayu, aku membuat unggunan api kecil. Hawa hangat dari api unggun mampu menenteramkan jiwaku, meski hanya sejenak. Aku merasa menjelma menjadi manusia purba yang sedang melindungi dirinya dari segala marabahaya. Kawanan binatang buas dipercaya tidak berani mendekati api unggun. Aku ketawa dalam hati, ehm…mana mungkin ada binatang buas berkeliaran di pantai ini. Bisa jadi binatang buas itu ialah aku sendiri.

Ah..bukan! Aku bukan binatang buas! Aku hanya manusia yang didera luka batin dan kesepian berlarut-larut. Aku hanya manusia bodoh yang tidak kuasa membebaskan diri dari berangus kenangan. Sejak lama kenangan telah memerangkap aku dalam labirinnya yang memusingkan. Aku kebingungan mencari jalan kembali. Aku ngeri berputar-putar di dalam labirin itu. Ada banyak tumpukan tengkorak dan belulang manusia kutemui di sepanjang lintasan labirin. Aku menyadari aku pun bisa mati mengenaskan dalam labirin terkutuk itu. Kesadaran itu semakin membuat aku panik, berteriak-teriak, meronta-ronta, ketakutan dengan bayanganku sendiri, aku jadi paranoid, bahkan nyaris gila. Tubuhku kurus kering dalam labirin itu, hingga tiba pada suatu malam sebuah rasi bintang menunjukkan padaku jalan keluar yang mesti kulalui. Maka aku pun bebas dari labirin kenangan terkutuk itu. Tapi dasar manusia sial dan bebal, beberapa waktu kemudian aku kembali terjebak dalam labirin kenangan yang serupa itu. Seseorang yang tak kuketahui identitasnya memberitahuku bahwa labirin itu bernama “cinta” dan telah memakan banyak korban. Aku tercengang mendengarnya. Aku telah menjadi korban dari labirin itu! Cinta masa lalu telah menjelma dendam dalam jiwaku.

Aku membaringkan tubuhku yang letih di hampar pasir. Apakah pasir ini masih seperti dulu? Tentu saja tidak! Ombak telah menggantinya berkali-kali selama bertahun-tahun, bahkan jutaan tahun. Tidak ada pasir yang sepenuhnya baru, begitu juga dengan cinta, begitu juga dengan hati manusia, selalu ada yang berubah, senantiasa ada yang tak terduga. Sayup-sayup aku mendengar ombak berkasih-kasihan di tepian pantai. Samar-samar suara-suara penuh birahi sepasang manusia yang bercumbuan mampir ke kupingku. Aku mendengar lenguh dan desah buih, saling berpacu mencapai puncak nikmat. Aku cemburu pada ombak. Aku marah pada buih. Mereka telah menghianatiku. Lalu, sejumlah bayangan hitam memberangusku dan menjebloskan aku ke dalam labirin itu.

“Tidakkkk…!!” Aku terbangun gelagapan. Nafasku memburu. Ponsel di saku bajuku bergetar dan berbunyi. Keringat dingin membasahi leher. Aku duduk bersila. Aku berusaha menenangkan diri. Apakah tadi aku sempat tertidur? Mengapa mimpi buruk itu datang lagi menghantuiku? Sepuluh tahun aku berusaha melupakannya. Tapi mengapa peristiwa itu selalu saja hadir serupa bayang-bayang kelam dan menyiksa aku dalam labirin mengerikan itu?

Aku merogoh ponsel dalam saku baju. Buru-buru aku membaca pesan yang masuk: Sayang, ntar malam kita jadi kencan, kan? Aku tunggu di kamar 666. I miss u. muahh… Sialan. Pelacur itu lagi! Aku pikir pesan dari kawan yang dapat tugas di kafe itu. Sialan, mengapa lama sekali si brengsek itu menarik picu?! Apa mungkin ia menikmati ikan panggang dulu, sebelum tubuhnya sendiri akan terpanggang?

“Ya, bagi orang yang tahu kapan ia akan mati, ada baiknya menikmati keduniawian sepuas-puasnya: makan enak, bercinta dengan perempuan molek sampai capek atau minum anggur paling mahal,” sebuah suara bergema. Aku terkesiap. Tidak ada siapa pun di sekitarku. Dari mana datangnya suara itu?

“Hei… manusia bodoh, kapan lagi kau menikmati hal-hal macam itu? Sebab ketika picu sudah ditarik, maka jiwamu akan segera masuk kawah neraka. Apa kau pikir kau akan masuk sorga dengan menarik picu dan meledakkan orang-orang yang kau benci?” Sumber suara itu semakin jelas. Aku menoleh kiri-kanan, tapi aku tidak menemukan sosok apa pun, kecuali kegelapan malam. Aku mengkerut ketakutan. Apakah itu suara hantu?

“Siapa kau?! Tunjukkan dirimu!” aku berteriak, sekadar untuk mengurangi rasa takutku. Aku tahu sejak dulu pantai ini memang dikenal sangat angker.

“Dasar pengecut! Mengapa kau takut dengan dirimu sendiri?” suara itu mengejekku sinis. “Ketahuilah, kau telah ditipu mentah-mentah oleh keyakinan yang kau anggap paling benar di dunia. Kau telah dikibuli oleh orang-orang yang kau anggap suci itu, orang-orang yang mengajarimu merakit dan meledakkan bom. Aku yakin ketika tubuhmu berkeping-keping dan jiwamu berharap masuk sorga, maka para tuanmu sedang asyik masyuk di atas tubuh molek istri-istri mudanya. Bom tidak akan menyelesaikan masalah! Dengar ya, jangan mau dibodoh-bodohi oleh keyakinan konyol kayak yang dianut para tuanmu yang kelewatan munafiknya itu! Sudahlah, sekarang penuhi janjimu dengan pelacur itu. Bukankah kau telah berjanji untuk melewatkan malam bersamanya di sebuah bungalow mewah di Jimbaran? Apa kau sudah lupa dengan janjimu? Ayolah, jangan kau sia-siakan masa mudamu! Tubuh molek itu sudah lama menunggu kau sentuh! Ayolah…bergegas…”

“Sial! Sial! Pergi kau setan! Enyah! Enyah…!” Aku meronta-ronta di pasir sambil menjambak-jambak rambut sendiri. Kubentur-benturkan kepalaku di atas pasir. Kutendang-tendang api unggun yang tinggal bara. Bara dan arang bepercikan tak tentu arah. Sekeping bara mengenai jari kakiku dan aku menjerit kepanasan.

“Baru kena secuil bara kau sudah menjerit-jerit kayak begitu! Lalu bagaimana kau mampu menahan panas membara kawah neraka!?” Sumber suara itu tertawa terkekeh-kekeh.

“Persetan dengan neraka! Persetan dengan sorga! Aku harus meledakkan kafe itu, malam ini juga!” teriakku pada udara hampa.

Tapi sumber suara itu makin menjadi-jadi menertawai aku.

“Lalu, mengapa kau masih di sini?! Bukankah kawan-kawanmu sebentar lagi akan meledakkan dirinya?!” suara itu kembali sinis, “apa kau takut mati? Apa kau sudah mulai ragu dengan keyakinanmu?”

“Tidak! Aku tidak takut mati! Bahkan sudah lama aku ingin mati, untuk melupakan segala beban hidupku!” teriakku.

“Terus, apa lagi yang kau tunggu?”

“Aku terkenang cinta masa laluku…,” ujarku tanpa tenaga sambil terduduk di pasir.

Mendengar pengakuanku yang polos, konyol dan terkesan kekanak-kanakan, sumber suara itu tertawa terpingkal-pingkal. Aku menggeserkan dudukku karena kaget. Kemudian samar-samar kulihat wajah menyeramkan terkekeh-kekeh, tepat di depan wajahku. Wajah itu pucat dan datar, tanpa mata, hidung, dan mulut. Tapi wajah itu bisa mengeluarkan suara. Apakah aku sedang berhadapan dengan setan neraka? Aku berteriak ngeri, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutku yang terbuka.

“Hei..manusia tolol, aku bukan setan neraka! Aku adalah kau! Aku adalah jiwamu!”

Aku semakin kaget. Sosok wajah menyeramkan itu paham apa yang aku pikirkan. Apakah suara itu benar berasal dari jiwaku? Atau ini hanya akal-akalan dari si setan agar jiwaku menjadi bimbang dan meragukan doktrin-doktrin yang telah dibenamkan ke dalam batok kepalaku oleh para guruku di perantauan?

“Manusia tolol, mengapa kau masih suka menjebak dirimu dalam labirin masa lalu, labirin kenangan yang hanya semakin memedihkan lukamu!”

“Justru aku ingin segera membebaskan diri dari kenangan, dengan meledakkan kafe itu. Aku ingin meledakkan diri bersama kenangan dan cinta masa laluku, cinta yang bikin aku luka hingga saat ini. Aku ingin mati di Jimbaran. Aku ingin mereka yang membuat batinku menderita juga mati!”

“Oho…kalau ingin bunuh diri karena cinta, jangan ngajak-ngajak orang tak bersalah dong! Oho…tak kusangka kau ternyata cuma kecoak cengeng. Tak pantaslah kau jadi teroris, mendingan kau jadi pujangga saja!”

Aku tidak kuat menahan marah. Wajah seram yang muncul dari kegelapan jiwaku itu betul-betul meremehkan dan menghina aku habis-habisan. Tapi tentu saja aku tidak kuasa berbuat apa. Kalau yang menghinaku itu sosok berdarah dan berdaging, tentu sudah kuledakkan kepalanya dengan bom yang kubawa. Tapi yang kuhadapi ini hanya bayangan kelam.

“Lalu, apa yang mesti kuperbuat!?” teriakku pada bayangan wajah seram itu.

“Sudahlah, biarkanlah bekas kekasihmu tenang menjalankan usaha kafe yang hendak kau ledakkan itu. Apa gunanya menghancurkan kebahagiaan orang yang pernah kau cintai mati-matian?”

“Tapi dia telah menghancurkan hidupku! Mengapa dia tega menghianatiku, justru ketika aku sangat mencintainya dan telah banyak berkorban untuknya? Mengapa dia menikah dengan lelaki bule itu!? Mengapa?! Apa karena aku miskin, sedangkan bule itu kaya raya? Atau…”

“Karena kau manusia tolol. Manusia bodoh dan cengeng!”

“Justru karena aku tolol, bukankah aku tidak pantas hidup di dunia?”

“Ya, tempatmu cuma di neraka, bersama kawan-kawanmu yang juga tolol-tolol itu.”

Aku semakin meradang mendengar makiannya. Panas kupingku. Aku teringat pada kawan-kawanku yang sudah berada di dalam kafe yang akan diledakkannya. Aku merasa telah menghianati mereka karena masih duduk-duduk di pantai. Tapi apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus menjauh dari pantai ini dan berlari ke kafe milik bekas kekasihku itu sambil menarik picu bom yang teronggok dalam ranselku? Tapi aku belum memiliki keberanian untuk itu. Dan suara-suara itu semakin menghinaku dan menerorku dengan petuah-petuah bodohnya.

“Tolong, tunjukkan jalan terang padaku?” akhirnya aku bersimpuh dan mengiba pada bayangan itu. Tapi bayangan itu malah semakin ketawa ngakak. Aku semakin meradang.

“Kau hanya punya dua pilihan: meledakkan tubuhmu di kafe itu atau melewatkan malam dengan pelacur molek di kamar yang nyaman? Bagaimana? Sekarang terserah kau pilih jalan yang mana!”

Ponsel di sakuku kembali bergetar dan berbunyi nyaring. Bayangan itu telah raib dari hadapanku. Semoga saja bom-bom itu belum diledakkan. Aku buru-buru membaca pesan di layar ponsel: Mas, jadi kencan gak sih?!

Aku menghela nafas. Terbayang tubuh molek perempuan itu telentang pasrah di atas kasur empuk kamar bungalow. Perempuan itu memang telah menjadi langgananku sejak kedatanganku di Jimbaran. Apalagi kalau bukan hanya untuk menghibur-hibur diri, atau mungkin untuk melarikan diri dari luka masa lalu.

Aku membuka ransel. Bom yang belum kuaktifkan dan masih terbungkus rapi itu kubenamkan ke dalam pasir. Aku melangkah ke sepeda motor yang kuparkir di tepi jalan raya. Kupacu motorku kencang-kencang ke arah bungalow. Aku ingin cepat-cepat menemui pelacur itu dan melewatkan malam yang hangat bersamanya.

***

Denpasar, 2005/2006

Iklan