Litmuss Lozenge

Cerpen: Ucu Agustin (Sumber: Media Indonesia, Edisi 09/24/2006)

Apakah menurutmu setiap orang merindukan seseorang? Aku percaya kadang-kadang seluruh dunia merana. Kesepian adalah seperti lubang yang terus kau sentuh dengan lidah, setelah gigimu tanggal. Tempat kosong yang serupa {blackhole.] Hanya menyisakan jejak-jejak kepahitan yang melulu membuatmu merasa bolong….

Jadi jangan salahkan aku bila karenanya aku memesan permen ajaib itu. Litmuss Lozenge. Permen manis yang di dalamnya terkandung bahan rahasia yang tak begitu disukai banyak orang; kesengsaraan. Anak-anak, belakangan sulit merasakan rasa itu. Mereka kini telah menjadi warga dunia yang amat patuh. Bukan hanya cepat lupa dan selalu mementingkan rasa bahagia, tapi mereka para kanak zaman sekarang, maksudku–telah menjadi pengikut tren paling sejati dan penggemar rasa serta hal-hal yang paling terkini. Mainan Lego terbaru. Play station dan video game versi termutakhir. Dunia juga belakangan memang kehilangan selera akan Litmuss Lozenge. Kesengsaraan adalah hal yang dibasmi di mana-mana.

Jadi bila kau belum pernah mendengar jenis atau nama permen ini: Litmuss Lozenge, tak perlu kecut atau menghakimi diri sebagai orang nggak gaul. Karena percayalah padaku, aku juga belum pernah mendengar apa pun perihal permen ajaib ini sampai aku membaca buku itu. Dan bila dua jam lalu petugas pengantar paket tidak berdiri tepat di depan pintu rumahku sambil menyodorkan bingkisan kotak berukuran sedang itu, aku pun benar-benar tak akan pernah percaya kalau permen itu benar-benar ada dan masih diproduksi. Litmuss Lozenge, permen manis penawar kepahitan. Permen manis penawar sepi dan sedih yang kau rasakan.

Nah, sekarang terserah. Mana yang ingin kau dengar lebih dulu? Kepahitanku? Atau sore yang mencengangkan yang membawaku pada sebuah buku? Buku yang di sampul belakangnya menginformasikan permen Litmuss Lozenge padaku.

* * *

Bila umurku lima puluh dan kubilang saat ini aku sedang jatuh cinta pada anak lelaki umur dua lima, apa yang akan kau katakan?

Namaku Maria. Artinya kepahitan. Begitu seorang pendeta pernah bilang padaku, suatu sore ketika aku masih kanak-kanak, dulu. Jadi ketika payudaraku mulai tumbuh dan dadaku terasa sakit bila dipijat, aku mulai mengerti begitulah rasanya menjadi Maria. Saat aku menjerit menahan nyeri di pinggang dan darah pecah di vaginaku serta ular beludak mengacak usus dan perut di hari pertama haidku, aku mengerti mungkin begitulah konsekuensi menjadi Maria. Kebahagiaan sepertinya tak akan pernah cocok bersanding dengan Maria.

Tiga kali aku, Maria, pernah jatuh cinta. Tapi semuanya adalah perasaan cinta yang salah. Pertama pada umur sebelas, jatuh cinta pada pendeta umur empat puluh. Kedua pada umur dua lima, jatuh cinta pada bayi perempuan yang kelak tak pernah mencintaiku. Dan ketiga, pada saat ini. Seperti yang kuberi tahu padamu di atas, aku Maria, usiaku lima puluh dan saat ini sedang jatuh cinta pada lelaki umur dua lima.

Lapangan sepak bola…

Ya, tentu saja lapangan bola sungguh bukan suatu tempat yang indah untuk jatuh cinta. Tapi siapa yang mampu menghindar? Pasti telinga batinku yang mendengarnya pertama kali. Genderang musik dan langkah ceria dari tap tap tarian cinta. Tarian firasat mula yang bergerak seperti cara kerja bayangan yang menunggu untuk digenapi dengan wujud asli.

Andai saja saat itu aku tahu bahwa satu langkah yang kubuat di senja kerontang itu akan membawa pada rasa merana berlarut seperti perasaan ketagihan senyawa nikotin dalam campuran bahan rokok yang kerap aku sesap sewaktu muda, aku pasti akan lebih memilih berbelok ke kiri, mendekat ke arah kantin dan mengikuti rasa haus yang menuntunku ke arah takdir yang lain.

Ya, bila aku pintar harusnya aku menghindar. Tapi ternyata aku masih saja bodoh bahkan di usiaku yang sudah setengah abad. Suara riuh tepukan. Keingintahuan. Bola dan tendangan….

Langkahku yang bersemangat menuju garis tepi lapangan, seperti ulah petani apel dalam ambisi dan optimisme semangat agraris yang tinggi. Yakin kalau biji unggul yang ditanamnya, dalam beberapa hari akan menumbuhkan sosok pohon kecil yang dengan cepat akan tumbuh subur di lahan makmur. Dan untuk kasusku, biji yang ditanam itu dengan segera memang mengeluarkan beberapa cecabang batang yang kuat, menyembulkan ranting-ranting mungil yang giat. Dan di ujung dahannya, di antara rimbun daunnya, buah itu pelan tapi pasti mulai menggembung: aku terlanda badai kasmaran pada pemuda asing yang belum lagi kukenal.

Itulah awal segala kepedihan yang kini harus kutanggung. Setiap menit yang harus aku risikokan karena telah berani secara tak tahu malu, menambatkan jangkar hatiku padanya. Jangkar yang tertambat pada mata lelaki muda itu, pada senyumnya yang manis janggal, pada riap rambutnya yang panjang, pada keringat di kulitnya yang cokelat, pada tingkahnya yang penuh semangat, pada caranya bercakap dengan rekan sesama timnya, pada gayanya yang belia dan meloncat-loncatP, pada gumpalan kehidupan yang begitu pekat di seluruh partikel yang melekat dan ada di dirinya.

Mungkin kau tak percaya. Tapi tak apa. Terserah. Yang jelas, di mataku lelaki muda itu begitu hidup. Sangat hidup. Amat kuat dan amat memabukkan berada di sekitar orang yang begitu hidup.

Dan kemudian dia memang betul-betul hidup bukan hanya di mataku. Dia hidup di mimpiku. Dia hidup dalam setiap gerak yang aku buat. Dia hidup dalam segala percakapan yang aku bikin. Dia hidup dalam ruang-ruang kosong rumahku. Dia hidup dalam setiap lorong yang aku lalui. Dia hidup dalam setiap cawan absolut vodka yang sesekali masih kutenggak. Ya, amat kuat dan amat memabukkan berada di sekitar seseorang yang begitu hidup. Dan tentu saja aku tidak bodoh. Aku tahu, hidup adalah juga seperiuk besar kesengsaraan. Selain di dalamnya, membawa serta unsur kematian.

Ya, rasanya aku sungguh mau mati saja saat menyadari semuanya. Aku sedang terlanda masalah besar! Petaka paling besar apa lagi di dunia? Selain seorang perempuan berumur lima puluh, dan tengah jatuh cinta pada lelaki berusia dua lima….

* * *

Litmuss W Block masih kecil ketika tembak-menembak di Fort Sumter berlangsung. Itulah salah satu kejadian yang mengawali perang dunia. Ia baru berumur empat belas, kuat, masih sangat muda dan bertubuh besar. Ayahnya, Artley W Block telah mendaftarkan diri sebagai prajurit. Dan Litmuss memberi tahu mamanya bahwa ia tak bisa berdiam diri dan membiarkan selatan menang. Bocah itu ingin turut ambil bagian dalam perang

Lelaki dewasa dan yang masih bocah memang selalu ingin bertempur. Mereka selalu mencari alasan untuk pergi berperang. Mereka memiliki pandangan bahwa perang itu asyik. Dan tak ada pelajaran sejarah yang bisa meyakinkan mereka bahwa itu tak benar. Menyedihkan sekali….

Litmuss pun pergi dan mendaftarkan diri. Tentu saja ia bohong tentang umurnya. Dan setelah beberapa waktu berada di medan perang, ia pun segera mengetahui yang sebenarnya. Litmus selalu kelaparan dan dikitari binatang penghisap: kutu dan lintah. Dan di musim dingin, ia begitu kedinginan sehingga mengira ia pasti akan mati beku. Sedang pada musim panas-tak ada yang lebih buruk dari perang pada musim panas. Bau sekali. Udara penuh dengan aroma orang mati. Dan satu-satunya hal yang membuat ia lupa bahwa ia lapar, panas, gatal, dingin dan selalu mual adalah bahwa ia ditembaki padahal ia hanya seorang anak kecil.

Tapi tentu saja ia tidak tewas. Karena kalau demikian, aku tentu tak akan bisa memesan permen itu. Permen berbungkus aneka plastik tipis yang akan kukudap setelah ini. Ya, tentu saja aku harus menyelesaikan membacakan kisah Litmuss pada kalian, bukan? Karena tentu, aku tak mau mengecewakan Kate DiCamilo (ii) yang telah dengan sangat bagus mengarang kisah itu bagi kita semua. Baiklah, kulanjutkan saja ceritanya….Ya, perang pun usai. Litmuss pulang dan mendapati dirinya sebatang kara. Ia duduk di tempat yang dulunya merupakan anak tangga depan rumahnya dan ia menangis tersedu-sedu. Litmuss merindukan mamanya, ayahnya, saudara-saudara perempuannya dan seorang bocah yang dulu adalah dirinya. Dan ketika akhirnya ia berhenti menangis, Litmuss merasakan sensasi yang sangat ganjil. Ia merasa menginginkan sesuatu yang manis. Ia ingin sepotong permen. Sudah bertahun-tahun ia tidak memakan permen. Dan tepat pada saat itulah Litmuss mengambil keputusan.

Litmuss merasa dunia sudah sedemikian payah dan isinya sudah cukup jelek. Karenanya ia ingin memberikan sesuatu yang manis pada dunia. Bocah yang telah beranjak dewasa itu pun bangkit dan mulai berjalan. Ia berjalan kaki jauh ke Florida. Dan sepanjang waktu ketika ia berjalan, ia menyusun rencana.

Ya, Litmuss kemudian mendirikan pabrik permen Litmuss Lozenge. (iii) Pabrik yang memproduksi aneka jenis permen yang bila kau mengunyahnya, akan menerbitkan campuran aneka sensasi dari rasa sengsara, sedih dan melankolis. Permen penawar lara. Permen untuk menghibur dunia yang merana….

* * *

Apakah menurutmu setiap orang merindukan seseorang? Aku percaya kadang-kadang seluruh dunia merana. Kesepian adalah seperti lubang yang terus kau sentuh dengan lidah, setelah gigimu tanggal. Tempat kosong yang serupa blackhole. Hanya menyisakan jejak-jejak kepahitan yang melulu membuatmu merasa bolong….

Aku tak ingin menambal rasa bolong itu dengan tindakan gegabah. Seperti menyatakan rasa rinduku pada pemuda ujung lapangan sepak bola atau mengirim surat dan pesan pendek yang menyatakan kalau aku adalah salah satu pengagum rahasianya, misalnya. Tidak. Tak usah.

Aku hanya perempuan tua merana-kesepian yang telah kehilangan hidup. Tak mampu lagi mencintai suami yang telah tinggal dalam alam kesibukannya sendiri yang abadi. Merasa diabaikan dan tak mendapati cinta gadis kecil yang amat kusayang dan kini hanya mau mengunjungiku bila ia telah mulai terkena masalah keuangan.

Apakah berlebihan bila aku cuma mau menikmati sendiri saja perasaan cintaku yang terpendam dan perih yang kurasakan karena segala masalah yang ditimbulkan oleh peliknya kehidupan? Aku tak mau menyusahkan orang, tentu saja. Dan aku juga tak mau menyusahkan diriku sendiri, terlebih di saat ini.

Bukankah di hadapanku, tepat di depan batang hidungku, permen-permen import berwarna sendu itu kini telah tersenyum padaku? Merayuku untuk segera meleburkan diri dalam kesengsaraan dunia yang telah dimasukkan ke dalam bahan-bahan yang terkandung di dalamnya? Ya. Kenapa aku tidak segera membagi kesepianku dengan kesengsaraan dunia saja?

Tanganku bergetar saat plastik pembungkus Litmuss Lozenge itu kubuka. Perlahan permen itu kumasukkan ke mulut dan aku mulai mengunyahnya. Rasa stroberi bercampur root beer segera memenuhi rongga mulut. Dan perlahan aku mulai mencium wangi itu. Perpaduan aroma akar rumput Vetiver dan Cedarwood. Entah siapa yang memakai parfum Calvin Klein tersebut. Lelaki sepak bola muda itu kah? Atau perempuan mungil cantik yang dengan mesra tengah dipeluknya? Langit tak terlalu cerah sore itu. Dan di ujung jalan tak jauh dari tempat pasangan muda itu berdekapan, aku mulai melihat bayangan itu. Perempuan mungil yang lain tengah bertengkar dengan seorang perempuan berusia lima puluhan. Bukankah itu adalah Ella dan dirinya? Mereka sedang bertengkar. Pertengkaran terakhir keduanya di sebuah ruas ujung jalan sebelum putri satu-satunya itu keluar dari rumah dan benar-benar meninggalkannya. Mengapa semua pemandangan itu tampak begitu sedih?

Perempuan yang tengah menghisap permen itu kini perlahan menutup kedua kelopak matanya. Aroma luka membuatnya tak lagi bisa mengunyah Litmuss Lozenge dengan mata terbuka. Permen itu menorehkan sensasi melankolis yang tak mampu lagi ditanggungnya. Air matanya perlahan turun, mencari celah di antara kerapatan kulit halus kelopak yang menutup. Aroma luka menoreh hatinya sangat dalam. Waktu seolah tertahan berputar. Perempuan itu menarik nafas panjang. Tangannya bergerak perlahan….

Litmuss Lozenge yang dihisapnya telah hampir habis. Namun meski permen kesengsaraan itu telah menorehkan perasaan sedih tak tertanggungkan, Maria-perempuan berusia lima puluh dan tengah merana karena cinta tak mungkinnya pada lelaki muda berusia dua puluh lima, masih ingin merasakan kepedihan itu. Kepedihan yang membuat seluruh dunia merana. Kesepian total serupa lubang hitam yang hanya menyisakan jejak-jejak kepahitan….

Catatan

(i) Litmuss Lozenge adalah nama permen dalam buku novel anak Because of Winn-Dixie yang ditulis oleh Kate DiCamilo.

(ii) Kate DiCamilo, penulis perempuan kelahiran Merion, Pennsylvania-dekat Philadelphia (lahir 25 Maret 1964). Dikenal sebagai penulis buku novel anak. Beberapa penghargaan yang pernah diraihnya antara lain: Newberry Honor book 2000 untuk bukunya Because of Winn-Dixie, Finalis National Book Award 2001 untuk buku anak The Tiger Rising, dan menjadi pemenang Newbery medal 2004 untuk buku novel anak berjudul The Tale of Despereaux sebuah kisah tentang tikus kecil yang menyukai cahaya dan jatuh cinta pada putri raja.

(iii) Seluruh bagian yang ditulis dengan memakai huruf miring pada bagian kisah tentang Litmuss, dikutip dari cerita Miss Franny (cicit Litmuss yang juga pengelola perpustakaan Herman W Block Memorial), saat ia bercerita kepada dua gadis cilik pengunjung perpustakaannya: India Opal Boloni dan Amanda Wilkinson. Ketiga tokoh tersebut (Miss Franny, India Opal dan Amanda) adalah karakter dalam buku novel anak Because of Winn-Dixie yang ditulis oleh Kate DiCamilo.

Iklan