Barbie & Monik

Cerpen: Teguh Winarsho AS (Sumber: Kompas, Edisi 10/17/2004)

BERKEDIP-kedik kelopak mata Lasmi, menahan silau matahari pagi. Sekarang cabe merah di panggung kian terasa berat setelah berjalan hampir tiga kilo meter. Butir-butir keringat terus menetes di seputar wajah, membuat bedaknya luntur dan terlihatlah wajah aslinya yang justru tampak lebih ayu dan matang. Nun di kejauhan, di antara lalu lalang kendaraan, Lasmi melihat suasana pasar cukup ramai. Lasmi kian mempercepat langkah tak ingin kehilangan kesempatan menjual cabenya pada Kartopal, juragan cabe di pasar.

HARI ini Lasmi perlu uang. Puput, anak semata wayangnya yang baru masuk TK, sudah empat hari sakit, tak bisa berangkat sekolah. Lasmi sedih melihat keceriaan Puput yang baru masuk TK pudar gara-gara sakitnya tak kunjung sembuh. Sudah lama Puput merengek minta sekolah. Meski baru empat tahun, Lasmi rela menggadai kalung untuk mendaftarkan Puput di TK. Setiap pagi, sebelum pergi ke sawah Lasmi mengantar Puput ke sekolah dan tersembul rasa bangga melihat Puput berseragam TK, rambut poninya berkibar-kibar, matanya binar-binar.

Lasmi sudah berusaha membawa Puput ke Puskesmas, tapi sakit Puput justru bertambah parah. Kini Lasmi bermaksud membawa Puput ke dokter. Lasmi tahu, biaya dokter tidak murah. Terpaksa kemarin sore Lasmi memetik sebagian cabenya-dipilih yang sudah tua-tua-untuk dijual di pasar, meski harga cabe saat ini sedang turun. Tapi Lasmi perlu uang untuk membawa Puput ke dokter. Puput harus segera sembuh dan bisa kembali berangkat sekolah.

Terengah napas Lasmi sampai di depan kios Kartopal. Meletakkan sekarung cabe dari punggung, Lasmi menyeka keringat dengan ujung kain selendang. Terlihat lelah dan pucat wajah Lasmi usai menempuh perjalanan tiga setengah kilometer. Berkali-kali Lasmi menelan ludah untuk menghilangkan rasa haus. Kartopal yang melihat kedatangan Lasmi segera datang menghampiri. Senyum Kartopal mengembang.

“Kenapa hanya sedikit? Belum dipanen semua, ya?” tanya Kartopal melihat sekarung cabe yang dibawa Lasmi.

“Aku baru petik sebagian. Bukankah harga cabe sedang turun? Tapi aku perlu uang untuk Puput….”

Mendengar nama Puput, jidat Kartopal berkerut. Kartopal yang hingga kini belum dikaruniai anak senang bermain dengan Puput yang cantik dan imut. Sesekali Kartopal menggendong Puput keliling pasar. Lalu, pulangnya dibelikan jajanan. Tapi rupanya keakraban Kartopal dan Puput kurang berkenan di hati Mantosam, suami Lasmi. Sudah menjadi rahasia umum antara Lasmi dan Kartopal dulu pernah terjalin hubungan asmara meski akhirnya putus di tengah jalan.

“Ada apa dengan Puput?” tanya Kartopal jidatnya masih berkerut.

“Sudah empat hari sakit. Rencananya mau kubawa ke dokter….”

“Sakit apa?’

“Entahlah, badannya panas. Kejang….”

Kartopal mengangguk-angguk, paham. “Tunggu di sini sebentar,” berkata begitu Kartopal beringsut masuk ke dalam kios.

Lasmi ditinggal sendirian menikmati sengat matahari yang mulai merangkak naik. Lasmi mengedar pandang ke sekeliling. Tampak suasana pasar semakin ramai. Tapi tiba-tiba Lasmi gelisah, teringat Mantosam yang sudah dua malam tidak pulang. Ketika pergi Mantosam berjanji akan membelikan boneka barbie untuk Puput. Tapi hingga tadi pagi Mantosam belum pulang. Puput kerap mengingau menanyakan boneka barbienya.

Kartopal keluar dari kios menyerahkan sejumlah uang kepada Lasmi. Kini giliran dahi Lasmi berkerut menatap uang itu. Uang dari penjualan cabe tak mungkin sebanyak itu. Lasmi urung menerima uang dari Kartopal.

“Kok banyak sekali? Bukankah harga cabe turun?” Lasmi keheranan.

“Ini sekalian untuk periksa Puput ke dokter. Biaya dokter mahal. Ayo, terima saja. Aku sedih kalau dengar Puput sakit….” Kartopal terus mengangsurkan uangnya. Matanya tulus.

Lasmi menatap Kartopal sejenak. Lalu menggeleng.

“Kamu tidak boleh menolak. Ini bukan untuk kamu. Tapi untuk Puput!” berkata begitu Kartopal meletakkan uangnya di atas karung cabe Lasmi.

Nanar pandangan Lasmi menatap lembar-lembar uang itu. Gemetar tangannya sewaktu meraup uang itu, diletakkan di atas kain selendang lalu diikat sedemikian rupa. Ini bukan untuk yang pertama kalinya Kartopal membantu dirinya.

AROMA alkohol mengendap dalam kamar lima kali empat meter. Puntung rokok, botol minuman, gelas, dan kartu domino berserak di sana-sini. Laki-laki itu, Mantosam, menggosok-gosok mata baru bangun tidur. Jengah, menggerak-gerakkan tubuhnya yang terasa pegal Mantosam melirik perempuan di sebelahnya. Serta-merta mata Mantosam yang kuyu menyala. Perempuan itu, Monik, selimutnya tersingkap hingga pahanya yang putih menantang Mantosam. Berkali-kali Mantosam menelan ludah, tak kuat menahan hasrat.

Mantosam buru-buru melihat uang di dompet. Tersenyum. Uangnya masih cukup untuk bersenang-senang. Mantosam segera membangunkan Monik. Tapi rupanya tidur Monik sangat lelap, mendengkur lirih. Agak jengkel Mantosam, dalam satu hentakan kuat menyibak selimut Monik. Sejenak Monik menggeliat dan tersentak kaget sewaktu menyadari apa yang dilakukan Mantosam. Monik melotot menatap Mantosam. Sumpah serapah hampir muntah dari mulut Monik jika Mantosam tidak segera mengeluarkan lembar-lembar uang dari dompet dikipas-kipaskan di depan wajah Monik. Gelagapan dan salah tingkah Monik, bibirnya tersenyum.

Di luar siang terik. Tapi di kamar itu udara remang-remang. Seperti semalam mata Mantosam menyala-nyala. Monik paham apa yang harus ia lakukan. Ia tak ingin membuat waktu percuma. Sejurus kemudian kamar yang semula sunyi itu berubah hiruk-pikuk. Bantal, guling dan sprei terbadai berhamburan di lantai. Mantosam begitu bersemangat hingga lupa di rumah anak semata wayangnya sakit keras.

LASMI pucat. Dokter menyarankan agar Puput dibawa ke rumah sakit. Tanpa kata-kata Lasmi meninggalkan ruang praktik dokter, kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri. Tak pernah terbayangkan oleh Lasmi jika suatu hari ia harus berurusan dengan rumah sakit. Berurusan dengan rumah sakit seperti berurusan dengan polisi yang pasti berbelit dan selalu berhubungan dengan duit. Hal terakhir ini yang membuat kepala Lasmi terus berdenyut nyeri.

Menggendong Puput yang semakin tak berdaya, Lasmi sampai di rumah sakit. Lasmi merasakan suhu badan Puput semakin panas, tubuhnya kejang. Tiba-tiba Lasmi teringat Mantosam yang hanya sesekali pulang ke rumah. Tapi ia berharap Mantosam bisa mengantar Puput ke dokter. Tapi ditunggu hingga siang, Mantosam tak kunjung datang. Lasmi tidak tahu ke mana Mantosam pergi. Jika sedang banyak uang, laki-laki itu memang sering tidak pulang berhari-hari.

Seorang petugas UGD menyambut Lasmi dengan senyum dingin, menunjuk loket pendaftaran pasien baru. Lasmi segera menghampiri loket dan bicara dengan seseorang yang duduk di balik kaca transparan. Seorang perempuan gemuk yang sesekali menatap Lasmi dengan tatapan ganjil.

“Ada KTP?” tanya perempuan gemuk, acuh, tanpa menatap Lasmi.

“Maaf, tadi saya buru-buru. Tidak sempat bawa KTP….”

“Kalau begitu ibu harus menyerahkan uang empat ratus ribu untuk jaminan.”

“Apa?”

“Empat ratus ribu untuk jaminan anak ibu dirawat di sini.” Perempuan gemuk kembali menegaskan, kali ini mendongak menatap Lasmi.

Lasmi terngungun tak bisa berkata. Gemetar tubuhnya seperti disambar petir, Lasmi merasakan kepalanya kian berdenyut nyeri dan berputar-putar. Cukup lama Lasmi berdiri di depan loket, berpikir keras mencari ide agar Puput bisa dirawat di rumah sakit. Tapi otaknya selalu buntu. Apalagi saat melihat perempuan gemuk di balik loket yang terus menatap ganjil.

Tertunduk lesu Lasmi akhirnya beranjak meninggalkan loket. Langkahnya berat menggendong Puput yang terus kejang. Tapi baru beberapa langkah, Lasmi mendengar seseorang memanggil namanya. Lasmi menoleh mencari arah sumber suara. Tampak di depan pintu masuk rumah sakit, Kartopal berdiri, senyumnya mengembang. Lasmi buru-buru menghampiri Kartopal. Lasmi yakin Kartopal pasti mau membantunya keluar dari kesulitan.

MANTOSAM kaget mendengar kabar dari tetangga sebelah bahwa Puput dirawat di rumah sakit. Saat itulah Mantosam baru ingat jika beberapa hari ini Puput sakit. Tapi Mantosam tidak menduga kalau akhirnya Puput masuk rumah sakit. Mantosam tiba-tiba merasa bersalah. Perasaan bersalah itu kian menusuk ketika ingat dalam sakitnya Puput merengek-rengek minta dibelikan boneka barbie. Tapi Mantosam lupa, belum sempat membelikan boneka barbie.

Untuk menebus kesalahannya, kini Mantosam beli boneka barbie kesukaan Puput. Sambil berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang lengang, boneka cantik itu ditimang-timang. Berkali-kali Mantosam tersenyum membayangkan kegembiraan Puput menerima boneka barbie itu. Mata Puput yang bulat pasti akan mengerjap-ngerjap. Bibir mungilnya tersenyum manis. Ah, Mantosam benar-benar sudah tak sabar ingin memberi kejutan pada Puput. Puput pasti tak menyangka jika akan mendapat boneka barbie kesukaannya. Mantosam kian mempercepat langkah. Kamar Puput tidak jauh lagi.

Berdiri di depan pintu kamar Puput, mendadak tubuh Mantosam bergetar gemetar. Berkali-kali Mantosam menggosok mata, tapi pemandangan di dalam kamar tetap tidak berubah. Tampak Kartopal sedang menyuapi Puput yang terbaring lemah di atas ranjang. Tidak jauh dari situ, Lasmi duduk kelelahan terkantuk-kantuk. Cukup lama Mantosam menyaksikan pemandangan itu, darahnya berdesir. Tapi Mantosam mencoba menahan diri, melangkah pelan masuk ke dalam kamar. Ia ingin memberikan boneka barbie pada Puput.

Kartopal yang sedang menyuapi Puput kaget melihat kedatangan Mantosam. Tapi Kartopal cepat bisa menguasai diri, tersenyum. Mantosam membalas dengan senyum yang dipaksakan. Sesaat dua laki-laki itu saling berpandangan. Tapi tiba-tiba Mantosam gugup, menunduk, sembari menyembunyikan boneka barbienya. Tampak di atas meja boneka barbie cantik ukuran besar. Mantosam tahu siapa yang membawa boneka barbie itu. Darah Mantosam kembali berdesir. Tapi selain menunduk, Mantosam nyaris tak memiliki ruang untuk melepas pandang matanya di kamar yang mulai terasa panas itu. Mantosam tiba-tiba teringat Monik, boneka barbie besarnya yang juga tak kalah cantik….

* * *

Depok, 2004