Lelaki Nostalgi

Cerpen: Tary

Sumber: Suara Pembaruan, Edisi 08/06/2006

Sesuatu yang hebat sedang bergejolak dalam dadaku. Separuh malam duduk menghadap monitor berteman secangkir kopi. Ribuan kata menyembur dari otakku, memenuhi lembar demi lembar halaman. Rerimbunan semak tampak keperakan tertimpa cahaya bulan. Angin berembus pelan memasuki kamar melalui jendela yang terbuka. Sejak geletar aneh itu kembali dalam hidupku, berpuluh cerita terlahir. Diam-diam, aku menikmatinya.

Apakah pengkhianatan itu buah dari kebodohan? Aku tertawa setiap kali mengingatnya. Tak pernah kuduga, rentang waktu yang panjang akan mempertemukanku denganmu. Delapan tahun berselang sejak kita berpisah di persimpangan jalan yang gelap. Tiba-tiba saja kau menghubungi ponselku dan kita merencanakan sebuah pertemuan di kafe kenangan.

“Hai!” sapaan itu menghentikan langkahku memasuki kafe. Sosok tegap berahang kukuh melambaikan tangan dari pojok ruangan. Sebuah meja dengan dua kursi, tempat kita bermimpi pada masa lalu. Mendadak debaran-debaran keras menyerang jantungku.

Aku menghampiri mejamu. Kau belum banyak berubah. Senyummu masih mengembang simpatik di antara deretan mutiara putih yang berbaris rapi. Dua mata sayu bernaung di bawah sepasang alis tebal. Tergesa kau menarik sebuah kursi yang ada di hadapanmu. Mempersilakan aku duduk layaknya seorang putri. Aku tersenyum jengah.

“Kau tak banyak berubah, hanya semakin cantik dan matang.”

“Rayuan gombal?”

Kau tertawa kecil. Setelah memesan sejumlah menu kepada pelayan, kita bertukar cerita. Seperti pemulung yang menemukan sebuah bak sampah di pinggir jalan, kita mengais masa lalu yang sebagian telah membusuk di makan musim yang tak bersahabat.

Adakah yang lebih indah dari cinta pertama? Menjadi kekasihmu adalah memahami sisi kehidupan yang lain. Meski aku harus kehilanganmu karena fitnah yang mengerikan. Hingga bertahun-tahun kemudian, bayangmu sulit kuhapus dari lembar hari-hariku.

“Aku sering membaca tulisanmu di berbagai media.”

Aku tersenyum. “Akhirnya aku menemukan duniaku.”

Kau mengangguk-angguk, menyingkirkan tangan dari meja. Pelayan datang mengantarkan menu pesanan.

“Kau sendiri masih menulis?”

“Harus menulis karena deadline. Bukankah aku wartawan nona manis?” jawabmu seraya mengerling padaku.

Ada yang menjalar panas di kedua pipiku, mungkin menciptakan warna merah jambu. Waktu kemudian menemani kegugupanku. Dadaku berdesir aneh setiap matamu bertubrukan pandang denganku. Aku tersiksa, namun juga suka. Ketika harus berakhir, aku lega sekaligus kecewa.

“Bagaimana kalau week end depan kita ketemu di jantung kota? Bukankah dulu kita sering menghabiskan senja di jantung kota?”

Aku mengangguk pelan.

u

Kau datang lebih awal. Merentangkan tangan seraya tersenyum lebar menyambutku. Aku tertawa. Mengulang masa lalu dengan suasana kekinian ternyata bukan hal buruk. Kita duduk di bangku taman jantung kota sambil memandang lalu lalang orang.

“Lihat pengemis itu! Delapan tahun lalu dia masih seorang gadis kecil bukan? Kau ingat?”

Kau sangat peduli dengan kaum-kaum terpinggirkan. Sebuah rumah singgah telah berdiri sebagai realisasi. Satu hal yang membuatku jatuh cinta di antara sekian banyak poin yang lain.

“Kapan kau berencana menikah?” tanyamu mengejutkan.

Aku tertawa datar. Berkali-kali aku mencoba menerima seseorang dalam hidupku setelah berpisah denganmu, namun berkali-kali pula aku gagal. Mungkin rencana itu sekarang hanya tinggal rencana. Aku tidak begitu ngoyo untuk merealisasikannya.

“Kau sendiri kapan?” Aku balas bertanya.

“Aku sudah menikah.”

Ada halilintar yang seolah menyambar kepalaku. Kau sudah menikah? Kenapa tidak mengatakannya sejak pertemuan pertama di kafe kenangan seminggu lalu? Apa maksudmu dengan semua ini? Aku hampir saja memutuskan pergi ketika kau mencegah.

“Aku tak bisa melupakanmu. Aku menikahinya karena desakan Ibu.”

“Siapa perempuan itu?” tanyaku. Entah kenapa aku bertanya seperti itu. Semua terucap begitu saja.

“Kau mengenalnya dengan baik. Dia adalah Nora.”

“Nora yang mana?” Aku kaget. “Apakah Nora Inaya?”

Kau mengangguk. Anganku melesat pada perkenalan dengan Nora sebulan setelah kepindahanku. Ibukota tidak lagi nyaman kutinggali dan aku memutuskan kembali ke kota kenangan ini.

Kala itu hujan turun menjelang senja. Wanita itu berdiri di bawah pohon angsana depan rumahku. Rambut dan pakaian kerjanya kuyup. Kedua tangannya memeluk tas. Sesekali ia melirik beranda rumahku.

“Boleh numpang berteduh?”

Aku tersentak. Wanita itu sudah berada di pinggir beranda. Tersenyum. Tak kudengar langkah-langkahnya menyeberangi halaman dan menapaki tangga beranda.

“Oh, silakan.” Aku membalas senyumnya, mempersilakan naik ke beranda rumah panggungku. Aku menekan tombol save sebelum meninggalkan laptop. Dia melepaskan sepatunya yang basah di anak tangga beranda dan berjingkat masuk. Aku meliriknya sekilas.

“Lama sekali menunggu bus, sampai saya kedinginan,” jelasnya tanpa kuminta.

“Pulang kerja?” tanyaku.

Wanita itu mengangguk, tersenyum lagi. Pakaiannya modis, rambutnya gaya. Sebenarnya cukup manis, hanya bahasa tubuhnya terlihat kurang percaya diri. Kutaksir usianya 25-an. Sudah seminggu ini aku melihatnya menunggu bus di bawah pohon angsana depan rumahku.

“Saya memintas jalan dengan dua kali naik bus. Kalau tidak begitu terlalu jauh.” Dia seperti mengerti pikiranku.

Berteman teh hangat, kami kemudian ngobrol panjang lebar. Tentang harga-harga yang melambung tinggi, tentang tempat-tempat menarik di kota ini dan tentang pekerjaan.

“Jadi Anda penulis?” tanyanya simpati. “Buku Anda sudah diterbitkan?”

“Ya, ada beberapa yang sudah diterbitkan.”

Dia mengangguk-angguk, terdiam sejenak. Seperti ada yang sedang dipikirkannya. “Wah, hujan sudah reda. Saya pamitan dulu, terima kasih sudah memperbolehkan saya berteduh.”

“Tidak masalah, mampirlah kalau sedang ada waktu,” jawabku.

Dia bangkit dari duduk dan menyandang tas. Sebelum meninggalkan tangga beranda paling bawah, tangannya terulur.

“Lupa berkenalan, nama saya Nora,” ucapnya.

Aku menerima uluran tangannya,”Rari.”

Kami saling tersenyum dan melambaikan tangan.

u

Sejak itu kami berteman. Banyak waktu kami lewatkan bersama. Nora seorang teman baru yang menyenangkan dan banyak bertanya. Namun aku tidak keberatan dengan semua kecerewetannya. Semua bukuku di koleksinya. Beberapa kali dia berusaha mengorek kisah-kisah pribadiku, namun tidak cukup berhasil. Aku agak tertutup untuk masalah yang satu itu. Tak kusangka ternyata Nora adalah istrimu!

“Aku mencuri nomormu dari ponsel Nora. Suatu malam tanpa sengaja aku membuka-buka sms-nya dan menemukan namamu di sana. Aku segera yakin bahwa itu kau.”

“Nora mencemburuimu habis-habisan setelah kami menikah. Aku memang mengatakan terus terang padanya bahwa aku belum bisa melupakanmu. Mungkin dia penasaran dan mencari-cari kontakmu. Dia ingin mengenalmu lebih jauh. Dia tidak pernah mempercayaiku bahwa kita sudah kehilangan kontak sejak lama.”

“Jujur saja aku senang bisa bertemu kembali denganmu. Aku hampir putus asa kehilanganmu tetapi Nora memberi jalan. Aku masih mencintaimu.”

Ada yang merambat hangat di dadaku. Ternyata aku belum sanggup menghapus lelaki nostalgi itu dari lembaran hari-hariku. Lalu kubiarkan waktu berjalan mencari-cari kesempatan. Antara pertemananku dengan Nora yang semu dan percintaanku denganmu yang mendebarkan.

Perempuan terkadang melakukan kebodohan-kebodohan atas nama cinta. Entahlah. Aku hanya ingin menikmati sesuatu yang sedang bergejolak hebat dalam dadaku.

***

Jakarta, 23.06.06