Desak dan Anjingnya
Cerpen Sunaryono Basuki Ks

Mula-mula aku tidak tahu, mengapa seekor anjing berbulu coklat mudai selalu memasuki ruang kelasku bilamana aku mengajar mata kuliah Drama dan Advanced Reading. Kadang, anjing yang berbulu bersih terawat itu menerjang masuk ke dalam kelas dan kemudian berhenti di salah satu sudut kelas. Mahasiswa biasanya tertawa setiap kali anjing itu datang. Mereka lebih paham dariku. Anjing itu biasanya langsung duduk dengan tenang di samping kaki Desak yang sedang mendengar kuliahku.
Lama kelamaan aku tahu, anjing itu milik induk semang Desak. Nampaknya, Desak lah yang paling memperhatikan anjing itu. Katanya, dia sering memandikan anjing itu dengan air hangat dan melumuri tubuhnya dengan shampo yang juga dipakai Desak untuk keramas. Karena kasih sayangnya itu, anjing itu sering datang ke kamar Desak, menunggui gadis itu belajar. Kadang dia memberinya sepotong kue yang sedang dimakannya, dan mereka berdua memakan kue yang sama, seolah dua remaja yang sedang menikmati kue kesayangan mereka berdua.
Apakah Desak juga tidur dengan anjing itu? Kamu pasti menduga hal-hal yang tak senonoh telah terjadi di antara mereka. Sebagaimana banyak orang yang iri dengan anjing piaraan perempuan di Inggris, yang bisa tidur dengan majikannya, serta banyak desas-desus beredar, bahwa para perempuan itu suka bercinta dengan anjing mereka.
Tidak. Menurut Nyoman, yang tinggal serumah dengan Desak, pada malam hari setelah Desak belajar, anjing itu akan keluar dari kamar dan tidur di pintu kamar, di atas keset sabut, diterjang hawa dingin malam hari. Seolah dia hendak menjaga keselamatan Desak dari serangan maling atau siapa pun yang akan berbuat jahat padanya.
Pada sore hari, bilamana ada teman lelaki Desak datang berkunjung untuk berdiskusi mengenai mata kuliah mereka, anjing itu mula-mula menyalak keras, bukan karena menolak kedatangan tamunya, tapi justru karena mereka ingin mengucap salam selamat datang. Setelah itu, biasanya akan didekatinya teman Desak dan diendus-endusnya kaki lelaki itu. Mereka biasanya meraih kepala anjing itu, mengelusnya, sambil bicara dengan Desak. Kalau sudah demikian, anjing itu lalu duduk melingkar di kaki tamunya sambil sesekali memejamkan matanya menikmati elusan tangan di kepalanya.
Katanya, Desak tak pernah mengajak anjing itu ikut menghadiri kuliahnya. Tentu saja, Jurusan Bahasa Inggris bukan jurusan untuk mengajar seekor anjing berbahasa Inggris, walaupun satu atau dua orang mahasiswa sangat penurut seperti seekor anjing.
Biasanya anjing itu menyalak saat Desak meninggalkan pondokannya. Diantarkannya gadis itu sampai ke halaman depan, lalu, di sana dia duduk dengan kepala tegak, memperhatikan gadis itu berjalan ke arah Barat, menyusuri sepanjang jalan Anggrek, kemudian menghilang di kelokan ketika dia berbelok ke kanan.
Kampus Desak terletak di balik pagar. Di sana terdapat bangunan rektorat, lalu kantor fakultas dan jurusan-jurusan, yakni Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia dan Sastra Daerah, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Jurusan Pendidikan Seni Rupa, dan Jurusan bahasa Inggris D3. Setelah bangunan-bangunan itu kemudian baru terdapat beberapa ruang kuliah, termasuk dua buah lab bahasa.
Lab bahasa yang pertama, walaupun sudah tua tetapi sudah dilengkapi dengan sistem komputerisasi. Sementara itu, lab bahasa yang kedua sangat modern dengan komputer untuk tiga puluh dua orang mahasiswa. Dosen yang mengajar memakai program Multi Lab untuk mengoperasikannya. Terdapat 16 monitor komputer untuk mahasiswa serta 32 alat pemutar kaset beserta headphone-nya. Lab ini juga dilengkapi dengan sebuah VCD player serta tuner yang dihubungkan dengan sebuah proyektor LCD. Untuk matakuliah drama aku sering memutarkan film bagi mereka. Mereka sudah menonton Hamlet, Othello, Romeo and Juliet, dan juga Shakespeare in Love. Mereka sangat menyukai film-film berlatar budaya seperti film Odyssey.
Untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Drama, kelas Desak mementaskan sebuah naskah lengkap Lady Windermere’s Fan karangan Oscar Wilde. Mahasiswa bekerja keras menyiapkan pementasan drama ini dengan membuat pakaian sendiri dan menyiapkan perlengkapan panggung lainnya. Karena persiapannya dilakukan sore hari di aula, mereka berkumpul hampir setiap sore untuk berlatih dan membuat kostum pemeran perempuan. Pada sore-sore seperti itu anjing Desak ikut menyelinap masuk ke aula untuk menunggui Desak. Untung saja anjing itu sangat sopan dan tak pernah mendekati Desak yang berada di panggung merancang dekorasi. Untung pula, Desak tidak ikut berperan sebagai pemain. Dia bertugas mengurusi musik dan kostum bersama sejumlah rekannya yang lain.
Pada saat pementasan, Desak bertugas di belakang panggung. Anjingnya dengan lucunya duduk di sudut kiri depan dekat panggung. Semua teman Desak maklum akan kehadiran anjing itu. Fauzy, yang katanya sangat tertarik pada Desak, juga hadir di antara penonton. Mungkin dia ingin memberikan dukungan moral para seluruh kerabat kerja, terutama ingin menunjukkan perhatiannya pada gadis manis itu.
Aku menyalami seluruh pemain dan kerabat kerja pementasan itu. Artinya, aku menyalami seluruh mahasiswa di kelas drama. Mahasiswa-mahasiswa dari semester lain juga berbuat sama, termasuk Fauzy, yang ikut antre untuk bersalaman. Katanya, Desak cuma tersipu ketika menerima salam Fauzy, yang sudah duduk di semester 12. Bukannya Desak tak tahu, kalau lelaki itu sangat memperhatikannya. Kadang-kadang dia menerima surat cinta yang dititipkan teman Desak, atau diam-diam diselipkan ke dalam tas kuliahnya. Biasanya surat-surat itu dibacanya di kamarnya, dan sesudah tertawa, diambilnya korek api dan dibakarlah surat-surat itu. Desak sengaja tidak menyobek surat itu lalu membuangnya sebab khawatir kalau-kalau ada yang usil mengumpulkannya dan merekatnya kembali serta membaca isinya. Dia tentu merasa malu kalau ada orang lain yang ikut menumpang baca.
Walaupun Desak berperawakan kecil dan usianya baru dua puluh tahun, dia punya cita-cita tinggi, yakni melanjutkann studinya sampai ke tingkat magister dan kalau perlu ke program doktor. Pamannya yang kaya raya mendorongnya untuk segera menyelesaikan studinya dengan hasil baik, lalu dia akan mengirim Desak ke Amerika atau Australia.
Dewa Komang, sepupu Desak, yang sudah pernah mengecap pahit getirnya menempuh pendidikan di negeri kangguru, juga siap menunggunya. Kalau perlu, dia akan menemani Desak di Australia, serta melanjutkan studinya sendiri di bidang Teknologi Informasi di universitas yang sama. Mungkin saja, begitu komentar beberapa temannya yang mengetahui rahasia hubungan Desak dengan putera pamannya itu, saat Desak menempuh program doktor, Dewa Komang masih juga bersedia menunggunya. Tapi, tentu saja Dewa Komang bukan anjing induk semang Desak, dan dia mungkin lebih bebas memeluk dan mencium Desak, tidak seperti anjing itu yang terlalu menjaga sopan santun.
Pada surat Fauzy yang dibakar Desak paling akhir tertulis bahwa lelaki itu ingin berkunjung ke rumahnya, dan dia tak membalas surat itu sebab tak tahu bagaimana caranya. Ternyata Fauzy tidak punya telepon genggam, tidak seperti kebanyakan mahasiswa yang rata-rata sudah memilikinya dari yang berharga murah sampai yang mahal. Jadi, Desak tak bisa berharap menerima sms dari lelaki itu. Desak memilih diam dan tidak berusaha mencari tahu dimana Fauzy tinggal.
Pada sore hari, sebagaimana tertulis dalam surat, Fauzy datang, hanya membawa dirinya. Dia memukul-mukul pintu pagar sambil mengatakan permisi. Sementara teman-teman Desak kalau datang langsung membuka pintu pagar dan masuk ke halaman belakang serta menyalami penghuni rumah.
Beberapa saat Fausy menunggu, tetapi tak seorang pun keluar. Lalu, anjing itu keluar dan menyalak dengan sengit. Karena itulah induk semang Desak melongokkan kepala dari bagian belakang rumah dan berkata:
“Cari siapa?”
“Desak ada, Bu,?”kata Fauzy dengan gemetar, sementara anjing itu masih menyalak di balik pagar.
“Masuk aja”.
“Tapi Bu….” Katanya sambil memandang anjing itu.
“Ah masuk aja. Biasa begitu. Kan anjing menggonggong tidak menggigit,” katanya dengan tenang sambil memanggil nama anjing itu, yang segera berhenti menyalak dan lari ke halaman belakang rumah.
Fauzy membuka pintu dan berjalan hati-hati masuk ke halaman.
“Belum pernah kesini? Kamarnya di belakang.”
Fauzy menurut, lalu sampai di halaman belakang dia masih belum tahu harus kemana.
“Saakkk, ada yang cari,” teriak ibu itu.
Desak keluar dari dalam kamarnya, hanya mengenakan celana pendek serta kaus oblong. Nampaknya Fauzy agak terkejut melihat pemandangan ini.
He, cari saya? Mari duduk.”
Dengan kikuk Fauzy bergerak maju dan duduk di kursi kayu di teras kamar Desak. Dan anjing itu mengikutinya sambil mengibas-kibaskan ekornya, sesekali menyalak. Dengan keramahannya yang biasa diberikan kepada teman-teman Desak yang lain, anjing itu mengendus-endus kaki Fauzy, lalu merapatkan tubuhnya ke kaki lelaki yang berusaha menyingkir itu. Sekali lagi, anjing itu menyalak menyapa lelaki itu dan mencoba mencium kakinya. Fauzy mengangkat kakinya tinggi-tinggi. Desak mengusir anjing itu dengan kata-kata:
“Sek.. sek..”ii
Tapi dasar, anjing Desak memang ramah. Dia tidak mau pergi, tetapi justru terus menunjukkan rasa hormatnya pada Fauzy dengan cara menyalak dan mengendus-endus kakinya. Fauzy terbang dari tempat duduknya dan lari menuju pintu keluar, tetapi ia tetap diburu oleh anjing Desak. Dia berteriak-teriak minta tolong dan Desak memanggil nama anjing itu, tetapi dia tetap menyalak sampai Fauzy meninggalkan rumah itu.
Semua penghuni rumah menyayangkan peristiwa itu. Herannya, kenapa Fauzy tidak memahami anjing yang ingin berramah-tamah itu. Fauzy sendiri juga menyesalkan peristiwa itu. Mengapa mereka tidak paham bahwa Fauzy memang menolak untuk bergaul dengan seekor anjing. Tetapi tak ada sesuatu pun yang perlu dislahkan. Mereka justru berkata, bahwa mungkin hal itu lebih baik bagi Fauzy, yang diibaratkan mengharapkan bulan jatuh di pangkuannya.
Seandainya Dewa Komang mendengar kisah ini, tentu dia tertawa dan makin mencintai Desak, sepupunya itu.
***

Singaraja, 9 Agustus 2005

Anjing ini terkenal sebagai anjing Kintamani, merupakan anjing ras bali yang unggul.
ii Sek sek, diucapkan untuk mengusir seekor anjing di Bali.

Iklan