Bondo

Cerpen: Sobirin Zaini (Sumber: Riau Pos, Edisi 08/27/2006)

DIA bernama Bondo. Usianya dapat kuterka sekitar tiga puluhan tahun, jarak beberapa tahun saja dari usiaku. Tak ada yang khas dari lelaki itu. Hanya segaris kumis yang helaiannya dapat kuhitung jari dan lebih tampak menonjol dari hidungya, juga rambut tebalnya yang dibiarkan tergurai saat dia duduk di belakang jendela, itu saja.


Aku baru seminggu tinggal berdampingan dengannya. Aku pindah ke tempat ini karena rumahku yang lama kontraknya telah habis. Karena memang rumah itu sudah selayaknya kutinggalkan. Lantai-lantai keramik yang sudah mulai berlompatan dan titik hujan yang kadang jatuh di atas tempat tidurku, juga jadi alasannya.

Bondo. Ya, itu namanya. Aku tahu itu dari perkenalan tak sengajaku dengannya dua hari lalu. Saat aku menjemur pakaian di belakang rumah, dan dia tampak asyik dengan sesuatu seperti kuas di tangannya di balik jendela itu. Dia menegurku waktu itu, aku tak bisa melihat apa yang ada di depannya karena dia berada di balik jendela, hanya rambut dan punggungnya saja yang tampak olehku.

“Sore Bung,” tegurnya sambil terus menatap sesuatu di hadapannya dan menggerakkan kuas yang ada di tangannya. Aku sedang menjemur pakaian.

“Sore. Lagi ngapain, Bang?” sambutku berusaha ramah, sebagai orang baru pindah dan menjadi tetangganya itu. Dia hanya diam, tak menyahut pertanyaanku barusan. Aku heran, dia tampak begitu serius dan seolah tegurannya itu hanya setakat basa-basi saja. Aku jadi berusaha menatapnya sembari terus mengambil beberapa helai pakaian yang ada dalam ember di depanku.

“Lagi melukis,” sahutnya tiba-tiba. Kini aku berhenti menjemur. Melukis? Gumamku dalam hati. Ah, benarlah, pikirku. Semula aku juga menduga begitu. Dari sesuatu yang ada di tangannya dan lenggak-lenggok gerakannya, dari tatapan fokus pada sesuatu yang ada di depannya, aku memang sudah bisa menduga kalau dia memang sedang melukis. Ya, ternyata dia seorang seniman. Dan aku tak pernah menyangka bisa tinggal berdampingan dengan seorang seniman. Tepatnya, seorang pelukis. Jujur saja, aku sendiri selama ini memang senang dengan karya-karya dari tangan orang sepertinya. Aku senang dengan lukisan, meski sampai saat ini aku sendiri tak kunjung bisa melukis. Mungkin karena aku seorang penikmat, bukan pencipta. Sekarang saja, ada beberapa buah frame lukisan yang kutempel di dinding kamarku. Lukisan-lukisan itu selama ini kuanggap istimewa, karena memang ada sesuatu yang aneh setiap aku memandanginya. Ya, sesuatu yang aneh bagi orang awam sepertiku, karena memang lukisan itu adalah lukisan seorang perempuan telanjang. Dan seandainya saja dia tahu, aku adalah sekian orang yang menikmati hasil karyanya, mungkin dia takkan cuek begitu dan takkan terlalu menampakkan ucapannya yang hanya basa-basi itu. Meski aku juga belum bisa memastikan apakah lukisan yang ada di kamarku itu adalah benar hasil ciptaannya.

“Bondo. Bondo Suroyo,” ujarnya setelah beberapa menit kemudian. Lagi-lagi aku terkejut. Terasa aneh. Tiba-tiba dia menyebut nama. Dia seperti ingin mengenalkan diri. Dan dia diam setelah itu. Aku kemudian berusaha menjawabnya dengan menyebutkan namaku, “Girman. Girman Sulaiman,” balasku seperti menirukan gaya ucapnya barusan. Menyebut pangkal nama lalu menyebutkan nama selengkap-lengkapnya, tanpa embel-embel lain seperti gelar di belakangnya. Tapi ternyata dia kemudian lagi-lagi diam. Terus menggerakkan tangan kanannya di atas sesuatu di depannya. Sampai aku sendiri memutuskan untuk beranjak dari tempat jemuran pakaian itu karena memang sudah tak ada lagi pakaian yang tersisa untuk dijemur.

Begitulah, dua hari lalu. Aku mengetahui dia bernama Bondo. Lengkapnya, Bondo Suroyo. Belakangan, aku bahkan tak pernah lupa untuk menyempatkan menatapnya dari balik jendela itu dari jendela kamarku, karena posisinya memang kebetulan berhadap-hadapan. Seperti sejak aku mengenalnya, dia selalu duduk di balik jendela itu dengan pandangan mematung. Seperti tak menghiraukan siapa saja yang ada dan terjadi di luar jendela. Padahal jujur, aku sendiri ingin sekali bicara dan lebih jauh mengenalnya. Tak setakat mengetahui nama dan apa yang dikerjakannya. Mungkin karena aku memang hobi dengan lukisan, dan aku tahu bahwa dia tampaknya memang seorang pelukis. Aku ingin sekali mendekatinya. Aku ingin berdiri di dekat jendelanya itu hingga aku bisa melihat lukisan apa yang sedang digarapnya. Lebih jauh lagi, jika dia mau, aku juga ingin menawarkan padanya untuk membeli lukisan yang diciptakannya itu. Tapi, itu masalahnya. Dia seorang yang aneh. Seorang yang teramat dingin untuk kuajak bicara dan berkenalan labih jauh. Seorang yang seperti tak begitu peduli dengan apa yang ada di sekitarnya. Padahal di luar jendela tempat dia mematung dengan lukisannya itu, sesekali juga ada orang yang lewat. Karena memang jarak yang memisahkan rumahku dan rumahnya itu adalah sebuah gang. Gang menuju jalan setapak yang menghubungkan jalan besar. Tempat orang-orang yang tinggal di belakang rumahku mendapatkan angkot untuk melakukan rutinitas mereka masing-masing.

Tapi dia tetap selalu seperti itu. Tetap asyik dengan lukisannya hingga tak pernah kulihat dia menegur atau sekadar memandang orang-orang yang kebetulan lewat di sampingnya. Meski sebenarnya orang-orang yang lewat itu mungkin merasa penasaran juga, di hati mereka bertanya-tanya; lukisan hebat apa yang membuat lelaki itu mematung seperti itu? Dan lebih dari itu, pikirku, tak mustahil jika kemudian mereka menganggapnya sebagai orang gila. Gila, karena setiap hari mereka selalu saja mendapati lelaki gondrong itu asyik duduk di sana. Tanpa pernah tertarik untuk sesekali melihat ke luar jendela. Hingga dia kelihatan sombong sekali. Seperti tak memerlukan orang-orang atau apa pun dalam hidupnya.

Ya, begitulah dia. Lelaki tetangga sebelah rumahku yang kukenal sebagai seorang bernama Bondo itu. Jujur, semula aku sendiri sangat dibuat penasaran yang tak tanggung, dibuat bertanya-tanya dan seperti ingin mengetahui profilnya lebih jauh. Tapi lama-lama kupikir itu buang-buang waktu saja, jika dia pada kenyataannya bukanlah tetangga yang gampang didekati dan diakrabi seperti itu. Sementara aku sendiri punya banyak pekerjaan lain, yang jauh lebih penting dari setakat memikirkan dia, setakat ingin mengetahui siapa sebenarnya dia.

Sejak itu aku pun memutuskan untuk tak lagi terlalu menghiraukan keberadaannya. Meski sebagai orang baru di pemukiman ini sekaligus tetangganya, kadang kusempatkan juga memandanginya lewat jendela yang berhadapan itu dan coba menegurnya saat aku pulang kerja. Dia memang memandangiku dan coba senyum padaku. Tapi senyumnya itu bagiku tampak sekali dipaksakan. Hingga lagi-lagi sikap yang ditunjukkannya hanya seperti sebuah kesombongan. Hanya sesuatu yang tak lebih dari setakat basa-basi. Maka sejak itu aku pun memutuskan untuk tak begitu menghiraukannya. Tak begitu hirau karena banyak hal lain yang juga minta dipikirkan.**

SENJA tertelan. Malam mulai tenggelam. Aku baru saja pulang dari rutinitasku. Rasa penat tubuhku terasa sekali setelah berjalan menelusuri jalan setapak itu karena kehabisan angkot. Sial juga, pikirku. Selama ini aku tak pernah berjalan menuju rumahku dengan menelusuri jalan setapak itu, karena memang selama ini Angkot masih ada di sana dan aku selalu menggunakannya. Tapi entah mengapa, hari ini satu pun Angkot yang biasa lewat di sana tak kelihatan. Tak juga Angkot lelaki tua berambut putih yang biasa dipanggil orang Pak Utih itu, yang memang jadi Angkot langgananku. Setelah kuselidiki dengan bertanya pada lelaki tua pemilik kedai yang ada di pinggir jalan itu, ternyata penyebabnya adalah mogok. Para sopir angkot itu mogok dan beramai-ramai menuju kantor wali kota. Mereka menuntut wali kota mengeluarkan kebijakan untuk menaikkan tarif dari biasanya. Karena jika tidak, mereka tak bisa mengejar setoran karena pemasukannya hampir separuh dikeluarkan hanya untuk BBM. Ya, itu masalahnya. Lagi-lagi karena pemerintah, rakyat kecil seperti mereka dan aku sebagai orang yang menggunakan jasanya jadi tumbal kebijakannya. Dan itulah yang terjadi. Orang-orang sepertiku harus memaklumi, meski harus berjalan kaki beberapa kilometer hanya untuk sampai ke rumah seperti yang kualami malam ini.

Aku segera membuka pintu saat menginjakkan kaki di teras rumah. Ruangan begitu gelap. Kuhidupkan semua lampu yang ada. Segera kulepas semua pakaian untuk segera mandi setelah kulihat jam di dinding jarumnya telah di angka sepuluh. Tapi tiba-tiba ada suara seseorang mengetuk pintu saat aku menuju kamar mandi. Suaranya berulang-ulang kali. Aku heran. Siapa pula tamu yang datang malam-malam begini? Padalah seingatku, hampir dua minggu sudah aku tinggal di sini tak ada orang yang datang mengunjungiku. Sebagian besar teman-teman juga belum ada yang tahu kalau aku sudah pindah.

Aku segera menuju pintu itu, membukanya perlahan setelah kudengar suara ketukannya mulai berhenti. Kudapati dua orang berbadan tegap dan berjaket hitam gelap kini berdiri tepat di depanku. Aku berusaha tenang. Kucoba perhatikan satu persatu wajahnya, aku memang tak merasa mengenalinya.

“Selamat malam, Pak. Maaf mengganggu,” ujar salah seorang darinya.

“Malam. Cari siapa, Pak,” sambutku. Aku tetap berusaha tenang. Padahal jantungku cukup berdegup kencang. Bukan karena apa, karena tampang mereka cukup seram juga, dan membuat aku berusaha siaga. Mana tahu, dua orang di depanku ini perampok yang ingin merampokku. Sementara aku sendirian. Tak ada memegang senjata apa pun.

“Begini, Pak. Kami mencari tetangga sebelah. Bapak tahu di mana dia? Kami barusan ke sana tapi sepertinya dia tidak ada di rumah. Kalau boleh tahu, biasanya dia ke mana?” tanyanya kemudian padaku. Aku diam sejenak. Aku heran. Setahuku, Bondo, tetangga sebelahku itu tak pernah kemana-mana, selalu ada di tempat duduknya di balik jendela. Lagian, mana mungkin kutahu?

Aku kemudian coba mengamati jendela rumahnya di mana aku selalu melihatnya di sana. Tapi rumah itu memang gelap. Tak ada tanda kalau Bondo ada di rumahnya. Dua orang itu tampak heran, mereka mengawasiku setelah dilihat aku menuju keluar dan mengamati rumah orang yang dicarinya itu. Sementara pertanyaan yang dilontarkan itu setelah lama baru kujawab.

“O, mungkin dia memang lagi keluar, Pak. Biasanya dia selalu ada di rumah jika siang. Terus terang, saya memang jarang sekali melihatnya kalau sudah malam. Maklum, saya kerap pulang malam dan langsung tidur,” jawabku. Aku bingung. Aku tahu, jawabanku itu takkan memuaskan mereka. Tapi mereka kemudian diam. Mengangguk-anggukkan kepala perlahan.

“Okelah, terima kasih. Sekali lagi maaf, telah mengganggu Bapak. Begini saja, kami perlu bantuan Bapak. Tolong berikan informasi kepada saya jika Bapak melihatnya nanti. Ini sangat penting, menyangkut kerja kami. Kami harus segera menangkapnya. Ini kartu nama saya,” ujar lelaki tiu kemudian sambil menyodorkan selembar kartu nama padaku. Aku cukup terkejut. Menangkapnya? Dua orang lelaki di depanku ini polisi? Ya, mereka memang polisi. Itu dapat kulihat dari korp polisi yang ada di kartu nama yang diberikannya. Ah, lama aku terdiam. Bertanya-tanya dalam hati sendirian. Lelaki itu ingin ditangkap? Apa yang sudah dilakukannya? Aku masih terdiam. Masih berdiri tegak sembari mengamati secara seksama kartu nama yang ada di tanganku itu. Sementara dua orang lelaki itu pergi, setelah barusan kudengar mereka mengucapkan permisi.***

DUA hari sudah kejadian itu berlalu. Sejak itu, aku memang tak lagi melihat Bondo berada di balik jendela itu. Aku cukup heran. Ke mana dia? Ada apa sebenarnya?

Lagi-lagi dia tampaknya mengusikku. Padahal sebelum ini aku sudah memutuskan untuk tak lagi menghiraukan keberadaannya. Tapi semua itu kini jadi tak mungkin. Semua keputusanku itu sepertinya harus kutarik kembali. Bukan hanya karena rasa penasaranku kenapa dia tak lagi ada di balik jendela itu, tapi juga karena aku sudah terlanjur menyanggupi memberikan informasi pada dua lelaki yang menemuiku malam itu. Dan itu pun jika aku melihatnya. Kenyataannya, sampai sekarang aku memang tak pernah lagi melihatnya di rumah itu.

Sampai aku memutuskan untuk memberanikan diri menghampiri rumah tetanggaku itu. Rumah yang sebenarnya tampak lebih seram dari rumahku. Suasana sunyi sekali. Semua pintu tertutup. Tak terkecuali jendela yang selama ini selalu menampakkan wujudnya itu. Aku bergerak menuju ke belakang lewat samping rumah. Ada beberapa kotak bekas botol bir angker tersusun menumpuk dekat sebuah jendela. Jendela dengan ventilasi cukup lebar dan sangat tampak kusam. Aku jadi berniat untuk melihat dalam ruangan itu lewat ventilasi jendela itu. Ya, kususun secara rapi kotak bekas botol bir itu untuk membantuku mencapai ventilasi. Lubangnya cukup besar dan cukup membuatku leluasa melihat apa yang ada dalamnya. Dan, aku terkejut sekali. Tampak jelas puluhan frame lukisan yang tersusun berlapis mengelilingi dinding ruangan itu. Aku juga melihat bangku dan tripot tempat kanvas di dekat jendela pada sisi yang lain. Ini bangku dan tripot kanvas yang selalu digunakan lelaki itu, pikirku. Di sanalah dia selalu duduk mematung seperti yang kulihat selama ini.

Tapi, ada hal lain yang lebih membuatku bertambah penasaran dan bertanya-tanya, setelah kulihat ada sebuah ranjang bersprei putih berada tepat di depan bangku dan tripot kanvas itu. Sementara di sudut lain, sebuah ranjang juga tampak di sana. Untuk apa? Untuk apa dua ranjang bersprei putih itu? Aku jadi berpikir, kalau memang selama ini dia sendiri, tak mungkin dua buah ranjang berada di ruangan itu. Maka dapat kusimpulkan, satu buah ranjang bersprei putih yang berada tepat di depan bangku yang biasa dipakai lelaki itu adalah tempat objek atau model lukisannya berpose. Ya, tepatnya, dia adalah seorang pelukis yang menggunakan perempuan telanjang sebagai objek. Lihatlah, semua frame lukisan yang tersusun berlapis di sepanjang dinding itu juga seluruhnya menampilkan tubuh polos perempuan. Perempuan di lukisan itu tampil dengan berbagai pose. Lukisannya memang tampak hidup, mungkin lebih hidup dari objek yang dilukis Bondo sendiri. Ah, ternyata semua dugaanku selama ini tampaknya benar. Bisa jadi, lukisan yang ada di kamarku itu juga adalah karyanya. Busyet!

Tapi apa yang sudah dilakukan lelaki itu hingga dia dicari-cari polisi? Apakah karena dia melukis perempuan-perempuan telanjang itu? Itu jadi pertanyaan lain dan membuat hatiku terasa tak puas. Dan kepalaku tiba-tiba terasa berat memikirkan itu. Hingga kuputuskan saja untuk segera turun dari kotak bekas bir itu dan segera beranjak dari tempat itu.***

AKU telah sampai di rumah. Bondo tampaknya memang telah benar-benar menyita seluruh energi dan perhatianku. Entah. Rasanya sejak aku pertama pindah ke rumah ini lagi. Tapi, jawaban itu rasanya memang harus kucari. Lagi-lagi, karena aku sendiri risau jika sewaktu-waktu dua orang lelaki yang menemui malam itu datang lagi mencariku. Menanyakan apakah Bondo ada kembali ke rumahnya. Pikiranku jadi suntuk. Aku juga takut dianggap bekerja sama dengan Bondo jika aku tak coba mengetahui keberadaannya. Tapi, kenapa aku harus terlibat dalam hal semacam ini? Kenapa aku harus begitu memikirkan lelaki tetanggaku yang kukira selama ini sangat sombong itu? Dan memang benarlah kata orang, berurusan dengan hukum dan polisi bukanlah perkara mudah. Pasti akan banyak menyita energi dan selalu merepotkan saja. Buktinya, seperti kondisi yang kualami ini.

Siang tampak terik. Kurebahkan diri di lantai ruang tengah. Entah kenapa tiba-tiba aku ingin membeli koran. Rindu rasanya membaca dan mengikuti perkembangan terkini kasus-kasus kejahatan di kota ini, seperti yang kulakukan sewaktu aku masih di rumahku yang lama. Aku memang langganan koran waktu itu. Hanya karena pindah rumah, kupikir bagus langganan koranku itu distop dulu. Karena aku harus menelepon ke redaksi koran itu terlebih dulu untuk mengatakan bahwa aku sudah pindah rumah. Biar loper koran itu pun tak salah mengantarnya ke sana. Dan kini aku terasa ingin melihatnya kembali. Segera aku beranjak menuju toko buku di simpang jalan besar itu. Kudapati koran itu memang ada di sana. Untunglah, pikirku.

Lembar demi lembar berita-berita di halaman hukum dan kriminal yang ada di koran itu kulahap. Aku memutuskan untuk membacanya di toko itu saja. Aku tak sabar untuk membacanya sampai di rumah. Sampai akhirnya mataku tertuju pada sebuah judul berita di sudut koran itu. Ya, sebuah judul berita yang sangat menarik perhatianku. Bagaimana tidak, rasa-rasanya berita itu ada kaitannya dengan apa yang selama ini kucari. Tentang Bondo tetanggaku itu. Dan ternyata memang ya, aku cukup terkejut. Setelah satu persatu kalimat kusimak dengan seksama, berita itu sepertinya memang tentang Bondo.

“Diduga Memerkosa, Pelukis Spesial Lukisan Telanjang Diringkus”

Kota- Diduga telah melakukan pelecehan seksual, seorang pelukis berinisial Bn (35), warga gang Cindai Kelurahan Bantar, diringkus polisi saat berusaha kabur ke luar kota, Jumat (2/4). Tersangka diringkus setelah beberapa hari sempat dinyatakan buron petugas.

Kasus pelecehan seksual itu berhasil terungkap setelah salah seorang korban Bunga (sebut saja begitu) melaporkan kejadian itu ke petugas. Bunga mengaku, dia telah dipaksa melakukan hubungan suami-istri oleh Bn setelah selesai melakukan proses penggarapan lukisan telanjangnya.

Awalnya, dia sendiri memang tak pernah menyangka, dia tergiur menjadi model lukisan Bn saat membaca pamflet yang disebar Bn di sejumlah salon Jalan Ilalang, Bantarkota. Kebetulan bunga saat itu sedang berada di salon itu. Bunga sendiri mengaku tergiur dengan pamflet itu karena Bn menawarkan jutaan rupiah untuk sekali penggarapan lukisan. Dari situlah, peristiwa pelecehan itu berawal. Saat penggarapan selesai, bunga dipaksa berhubungan intim. Korban tak bisa menolak, setelah tersangka mengancamnya dengan senjata tajam.

“Saya tak bisa menolak. Saya takut waktu itu, dia memegang pisau dan mengancam akan membunuh saya jika tidak mau,” ungkap Bunga tampak trauma.

Menurut data yang diperoleh petugas, selain Bunga, ada sekitar delapan orang lagi yang juga menjadi korban pelecehan itu. “Ada sekitar delapan orang lagi yang menjadi korban tindak kriminal ini, dan kami akan segera memintai keterangan mereka,” ujar AKBP Untung Jamil, Kapolsek Bantar kepada wartawan, kemarin. Kini Bn, tersangka kasus itu telah berhasil diamankan petugas. (sz)

Kepalaku tiba-tiba berat. Meski hati terasa lega karena semua yang kucari selama ini terjawab. Semua rasa penasaranku terhadap Bondo seperti luntur. Ah, Bondo, ternyata kau memang seorang pelukis telanjang. Tapi sialnya, kau juga penjahat kelamin. Apakah dari depalan orang itu kini lukisan telanjangnya ada di dinding kamarku? Gumamku sembari beranjak dari toko buku itu.***

Pekanbaru, Agustus 2006

Iklan