Surat Wasiat

Cerpen: Sigit Emwe

Sumber: Kedaulatan Rakyat, Edisi 09/10/2006

SEHARUSNYA aku bahagia saat kepulangan istriku, yang bekerja di Malaysia. Dia begitu cantik, sangat berbeda dengan sosok Winda yang aku kenal tiga tahun yang lalu. Tapi aku merasa Winda begitu asing. Bagiku sosok Winda adalah sosok yang baru pertama kali aku kenal. Terlalu ironis memang, padahal pernikahan kami sudah berjalan hampir sepuluh tahun, sebelum Winda memutuskan untuk mengadu nasib ke negeri Malaysia. Bahkan dari perkawinanku dengan Winda, kami dikaruniai seorang anak yang cantik. Sekarang berusia tujuh tahun.

Kehidupan kami memang sangat sederhana, atau boleh dibilang kami adalah orang yang hidup dalam perekonomian yang sulit. Aku hanya seorang tukang becak. Dulu cita-citaku ingin menjadi seorang guru, namun karena terbentur dengan masalah biaya, akhirnya sekolahku hanya tamat SMP. Setelah tamat SMP, aku mencoba mengadu nasib ke Jakarta. Di sanalah aku bertemu Winda. Sosok wanita cantik yang pendiam dan memiliki kedewasaan yang tinggi. Pola pikirnya begitu maju. Itulah yang membuat aku mencintai Winda dan memutuskan untuk menikahinya.

Setahun berjalan kehidupan rumah tangga kami cukup bahagia. Apalagi setelah kami dikaruniai seorang anak yang mungil. Meskipun aku hanya bekerja sebagai tukang becak, tapi Winda begitu pengertian. Tiga tahun telah berjalan, bahtera rumah tangga kami jalani, munculnya berbagai macam kebutuhan seiring dengan semakin besarnya anak kami membuat kami harus bekerja lebih keras dan di tahun itulah Winda memutuskan untuk berangkat ke Malaysia untuk bekerja sebagai TKW. Aku tidak kuasa menghalang-halangi niat istriku, karena alasan yang ia sampaikan begitu kuat. ”Ingin mengubah status ekonomi keluarga,” katanya kepadaku.

Tiga tahun sudah istriku berada di Malaysia. Sebagai lelaki normal aku tidak bisa menghilangkan kebutuhan biologisku. Mungkin dua atau tiga kali dalam seminggu aku jajan. Itu kulakukan dalam dua tahun terakhir ini. Aku menikmati apa yang aku perbuat. Dari pengalaman jajan itulah aku mempunyai berbagai variasi seni bercinta atau mungkin sekelas dengan kamasutra.

Kedatangan Winda di tengah-tengah kehidupan kami tidak mempengaruhi kebiasaanku jajan. Anakku pun seperti enggan untuk bermanja-manja dengan ibunya. Ia lebih banyak bergelayut di bahuku, bahkan ketika tidur pun ia meminta aku yang menemaninya. Boleh dikata Winda begitu asing bagi kami. Tanggung jawabku sebagai seorang suami untuk memenuhi kebutuhan seks bagi istriku seakan-akan hilang. Bayangan yang selalu muncul adalah aku menyetubuhi pelacur-pelacur yang ada di emperan pasar. Ya… aku memperlakukan istriku seperti seorang pelacur. Aku lebih mementingkan kepuasan diriku daripada berinisiatif untuk memuaskannya.

Badan Winda terasa begitu panas, suhu tubuhnya naik hingga 45 derajat Celcius. Ia menggigil. Pikiranku kalut, akhirnya aku memutuskan untuk membawanya ke dokter. Ia harus opname. Anakku hanya terisak menangis melihat ibunya terbaring di rumah sakit. Sementara pikiranku berputar dari mana aku mendapatkan uang untuk biaya rumah sakit. Sedangkan uang hasil kerja istriku telah digunakan untuk membeli sepetak sawah. Apakah aku harus menjualnya? Padahal itu adalah jerih payah dan hasil keringat istriku di Malaysia.

Penyakit istriku tidak kunjung sembuh, bahkan hari ke hari daya tahan istriku semakin menurun. Biaya yang telah kukeluarkan sudah banyak, biaya tersebut kututup dari uang hasil utang sana utang sini. Bahkan sawah itupun terpaksa aku jual untuk biaya pengobatan istriku. Sebenarnya istriku meminta untuk menghentikan pengobatan dengan menginap di rumah sakit, ia lebih memilih untuk rawat jalan. Tapi melihat kondisi yang tidak mungkin, membuat aku bersikukuh untuk merawat dia di rumah sakit meski dengan biaya berapa pun, dan meski aku mendapatkan uang dengan jalan apapun.

Tubuh istriku begitu kurus, tubuhnya tinggal tulang belulang, tidak ada lagi kecantikan, tidak tampak lagi kesintalan, namun dari senyuman yang berusaha ia paksakan, aku masih bisa menggambarkan kecantikan yang dulu pernah ada dalam dirinya. Dengan suara berat Winda berusaha untuk berbicara denganku.

”Kan Hardi…, jika aku mati, jaga anak kita dan terimalah surat ini. Pesanku Kang Hardi baru boleh membukanya setelah aku mati,” kata Winda sembari memberikan sepucuk surat putih kepadaku.

Tubuh Winda tiba-tiba lemas, tak bertenaga. Badannya begitu dingin. Aku panik. Aku menjerit, aku menangis aku berteriak memanggil dokter. Begitu dokter datang dan memeriksa, dokter itu berkata, ”Istri Anda telah meninggal dunia, maaf kami sudah melakukan yang terbaik untuk istri Anda”. Tubuhku lemas dan tidak ingat apa-apa lagi.

Perlahan mataku terbuka, kudapati tubuhku telah berada dalam kamar tidurku. ”Di mana Winda?” gumamku.

”Istrimu sudah dikebumikan, sore tadi,” jawab Mbokku yang mungkin sejak tadi menungguiku saat aku tak sadarkan diri.

”Di mana Wati anakku Mbok?” tanyaku lagi.

”Wati bersama Mbah kakung,” jawab Mbokku menenangkan.

Perlahan kubuka sepucuk surat wasiat yang diberikan Winda sebelum ia meninggal dunia.

Kepada Kang Hardi yang saya cintai

Ketika Kang Hardi membaca surat ini, mungkin aku telah berada di alam yang berbeda. Kang aku hanya ingin mengucapkan maaf karena tidak dapat membesarkan Wati bersama-sama dengan Kang Hardi, dan Kang Hardi jangan bersedih karena aku lebih dulu meninggalkanmu. Carilah penggantiku Kang. Aku ikhlas lahir batin. Karena menurutku Wati masih sangat memerlukan seorang ibu yang baik. Kang Hardi, mungkin ini adalah hukuman untukku, atas kesalahan yang aku lakukan saat bekerja di Malaysia. Kang Hardi sejujurnya, uang yang aku peroleh selama di Malaysia adalah bukan hasil aku bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga, seperti yang aku tulis dalam surat-suratku dulu, tapi uang itu adalah hasil pekerjaanku sebagai seorang… sebagai seorang pelacur. Dan inilah ganjaran untukku Kang, sejujurnya penyakit yang aku alami adalah AIDS. Maafkan aku Kang Hardi. Aku sangat mencintaimu.

Dari istrimu,

Winda

Tubuhku lemas. Pandanganku kabur. Aku tak ingat apa-apa lagi. Hari-hari menjadi hitam. Sementara Wati tidak pernah tahu kapan ia akan menjadi anak yatim piatu.

***