Bersampan ke Tepi Tanah Mimpi

Cerpen: Satmoko Budi Santoso (Sumber: Suara Merdeka, Edisi 09/24/2006)<span lang=”AF”>

BAGAI si Bujang Tan Domang yang suatu hari singgah, terantuk di tanggul Sialang Kawan, Dusun Betung, Tanjung Sialang, dan Tanjung Perusa, aku berlayar. Limbung terbantun dari tepian Sungai Siak, menumpang sampan dayung bercadik.

“Lupakanlah si Raja Lalim, si Panjang Hidung,” Emakku merengek, menghela galah galau, melontar sepah kesal, sumpah seranah atas kampung halaman. Ah, berlayar, berlayarlah aku ke seberang, ke tepi tanah mimpi, atas nama basah angin, kelepak burung, dan mega-mega.

Seperti terkisah dalam nujuman: pantai, teluk, bandar-bandar, dan semenanjung telah kulayari, kucari kampung hunian baru, tempat istirah dan berserah, tanah dusun yang kuharap bersahabat buat kecakapan berladang, penuh bermacam tetumbuhan, entah pauh, rambai, durian, cempedak, maupun macang.

Mungkinlah akan kukunyah buah-buah itu, seperti mengunyah kenangan bersama Emak, yang kekal dalam almanak, serat hari, kelupasan kalender. Lenggang waktu bagaikan langgam, dendang pantun dan gurindam. Sesampainya di pinggiran tanah dusun itu kutengadah, memandang langit. Kebiruan yang rimpuk, tersepuh kabut, tersepuh mega.

Sore yang murung menyeret ingatanku pada Emak. Nun di jauh risik seumur bocah, Emakku terisak setengah berbisik, “Berlayarlah Domang, jangan sesempat maksud kembali… “

***

BENARKAH aku telah tergeragap dari denyut mimpi pada siang bolong? Rupanya benar. Buru-buru aku duduk di depan tungku perapian, di dapur. Tak salah, kalau duduk di depan tungku, ingatanku bakalan melayang pada Emak, yang sesekali mengumpat tentang harga barang-barang pasar yang melambung, tentang antrean beli minyak goreng, dan pegangan uang rupiah yang kerap menipis.

Hari-hari hidup bersama Emak adalah hari-hari yang tak segan membual gerutu. Bukan menyesali nasib, tetapi sadar bahwa hidup tak jauh dari berjudi. Undian keberuntungan barangkali sesekali datang, barangkali juga tidak. Aku ingat cerita Emak, ia tak cuma sekali atau dua kali merutuk, terhadap kesialan yang ia alami. Misalnya ketika berada di pasar. Pengalaman antre membeli minyak goreng itu, contohnya. Pernah, Emak sudah kebagian jatah berada di deretan antrean terdepan, yang berarti siap dilayani si penjual. Namun, dasar permainan pedagang, bersembunyi alasan semua yang antre harus kebagian secara adil maka tak bisalah Emak membeli minyak sekehendak mau. Apa yang diinginkan Emak cuma dijatah, tak boleh lebih dua gayung ukuran kecil. Kalau mau membeli lebih dari dua gayung, pastilah harus sudi mengantre di deretan paling belakang lagi.

“Dua gayung, Domang. Hanya cukup untuk menggoreng satu setengah hari. Emak tahu, kau tak suka cakap, kau suka sekali memenuhi mulut dengan makanan berminyak. Emak mesti sibuk dengan makanan berbau minyak,” tukas Emak, suatu waktu.

Aku nyinyir, melepah sepah malu. Mendengar tuturan Emak, ingin rasanya mendatangi si penjual minyak, mencincang, dan memukuli, tapi apalah guna perlawanan. Konyol rasanya. Begitulah aturan main dalam mendapatkan minyak, tak layak protes. Laknat massa yang tak sepaham bisa-bisa malah telak berbalik menginjak.

Jika sudah begitu, cukuplah kutemani rutuk-sebal Emak sembari menggoreng, di depan tungku perapian. Lengis seragam sekolahku terkena ruapan asap, alamak, bau dan warnanya amatlah merindukan. Aku tak bakalan berangkat ke sekolah jika belum menyantap menu makan yang berbau minyak, aih, aku tak bakalan berangkat ke sekolah jika seragamku tak berbau dan berwarna ruapan asap tungku.

Berdendang sepanjang jalanan, riang menuju sekolah, menyapu bekas minyak di seputar bibir, itulah kebiasaanku sehari-hari, dulu, ketika almanak waktu menginjak usia sekolah dasar. Sebelum berangkat ke sekolah, Emak akan diam terpaku di depan pintu rumah, melambai diriku dengan mata sembab. Kutahu, seringkali Emak menghapus sembab matanya dengan jari tangan yang juga lengis, menghitam serupa bakaran kayu di tungku, aih, aih, aih, menjadikan seleret goresan menghitam di selingkar mata, menurun ke pipi. Seperti sebuah lambang harapan yang menggerunjal, pucat-sangsi, rapuh-lapuk?

Sesampai di sekolah, berbuncah ruah aku berkabar kepada teman sebangku, perihal kesenanganku di pagi hari, ya, bersama Emak. Kawan sebangku sepenanggungan tentulah tak berkedip memperhatikan, sama halnya ketika kudengar pengalamannya yang paling menyenangkan di pagi hari, tentu saja bersama emaknya. Memang, celetukan tentang kegemaran pada pagi hari itu sesekali terlontar ketika jam pelajaran menuntut terperhatikan, apalagi pas guru yang hadir bukanlah tipe galak. Aku sering iseng melontar ujaran sembari berbisik, “Ah, pada diam tetapi bermata jelalatan ke papan tulis, bagai asap tungku yang mengepul tenang lantas beringsut lenyap ditelan angin.”

Aku sadar kini, gambaran perumpamaan antara mata yang jelalatan dan asap tungku yang beringsut lenyap ditelan angin boleh jadi bukanlah gambaran perumpamaan yang sepadan. Tetapi, maksud lontaran ujaranku memang lebih berkeinginan mengganggu ketenangan pikiran kawan sebangku, setidaknya agar konsentrasinya pecah seperti aku. Entahlah, mengingat tungku, asap, dan leleran minyak -juga sorot mata Emak yang sembab, selalu bersiap meneteskan air mata – adalah ingatan yang berharga.

Aku tak akan ingkar janji kepada Emak, jika sepulang sekolah, sering akulah yang menggantikan Emak mengantre minyak. Ya. Bisa saja sehari Emak, seharinya lagi aku. Bayangkanlah, jika setiap harinya Emak, kaki Emak bakalan pegal tak kepalang. Malamnya, aku pula yang kelimpungan: mesti mengurut, memijat pada bagian yang tepat pegal, pada otot-otot kaki yang menyembul bergelinjang, padahal kaki Emak tergolong renta dan kurus. Antrean yang kerap lebih dari satu jam sungguh mengundang jemu, tentu, jika bagi Emak, umpatan yang mewakili adalah meludah. Sisa kunyahan sirih yang memerah bagai endapan amarah yang menggumpal. Jangan heran, sepanjang antrean, memang juga penuh dengan deretan ludahan sirih. Orang-orang kampung yang senasib kesal berendam sungut amarah seperti Emak, memilih melegakan perasaan dengan sepahan sirih. Tak setimpal, tetapi lumayan sedikit meringankan gemuruh sesak dendam.

Kalau aku yang mengantre, bukanlah sirih yang kusepah sebagai lambang umpatan kepada penguasa yang lalim seperti si Panjang Hidung. Aku tak memilih perantara umpatan berhulu-balang sirih, aku hanya memelototkan mata. Di depanku, bagai ada seorang penguasa lalim yang siap kucakar-cakar, meskipun kenyataannya hanyalah punggung orang lain, yang bau keringatnya ternyata sama sedapnya dengan bau asap tungku yang lengis. Sumpah mati, bagiku, Emak, dan orang sekampung, kesempatan mendapatkan giliran dilayani bukanlah puncak kebahagiaan, namun diam-diam justru tambahan hitungan atas kepalan dendam. Entah kapan pitaman amarah bakalan mewujud nyata, bersua pandang dengan penguasa lalim, yang khianat terhadap nasib rakyatnya?

***

DI tanah hunian baru, yang cuma pantas kusebut tanah mimpi, memang masih kutemui orang-orang sepenanggungan nasib seperti Wak Halim, Wak Zaini, Wak Warman, Wak Wahab, Puan Midah, Puan Atikah, dan banyak nama lagi. Tak meletup kejut, tak rumpang dalam almanak ingatan karena kehadiran orang-orang yang terbilang sama. Berkelebat mendulang hari dengan berladang, menyiangi tetumbuhan apa pun yang diharapkan bisa buat bertahan hidup. Tanah kampung yang silam telah kehabisan makanan, minyak, dan kebutuhan apa pun yang diperlukan: kami sekampung memilih menyeberang Sungai Siak, bersampan dayung bercadik menyambangi nasib di tanah hunian yang asing, tetapi menyisakan asa membaik dan berbiak.

Aih, aih, aih. Segemulai tari Senandung Kipas, aku dan orang sekampung memutuskan menyeberang berayun sampan, berpindah ladang. Adat tak lapuk kono ujan/ Adat tak lokang kono pane/ Dianjak layu diumbut mati/ Ditanam tumbou dikubou idup/ Adat nan teontang di lawang langit/ Adat nan tesuat di kote/ Adat tak dapat dianjak alei/ Adat tak bulei diilangkan… //

**

Tanah ladang yang silam bolehlah sesekali singgah dalam ingatan sebagai kejutan kenangan yang meruncah. Bedanya, kini aku tak lagi bersama Emak. Telanjur Emak kangen ruap bau kalang tanah, menjauhi asap tungku dapur, dan nyaman bersedekap selimut ajal. Ah, boleh jadi, melayangnya nyawa Emak karena gerusan usia indah sepadan dengan asap tungku yang menghembus tersebab angin?

Di tanah kampung baru, jelas, aku menjejal dan menenun harap, semogalah tak berbiak kecewa karena ketidak-hadiran Emak. Kalau perut keroncongan tersebab lapar, akulah yang sendirian melangkah ke dapur, menyiapkan perapian. Membakar kayu dari hutan di belakang rumah, bersetia mengingat bayangan Emak yang memperoleh sisa kebahagiaan dengan menggoreng makanan berminyak. Sekarang, aku suka melakukannya berlama-lama, kalau ingatanku tak jenuh menerawang dan gorengan makanan di depanku gosong, cepat-cepat kuserok, ah, kusadar, aku terlalu lama melamun.

Aku memang tak mau melakukan kegemaranku terlalu cepat, karena dengan berlama-lama di depan tungku, Emak bisa tiba-tiba datang membayang di segumpal minyak penggorengan. Karenanya, jika siapa pun orang menyatakan bahwa karena menggoreng makanan, bunyi kericik panas penggorengan menjadi memunculkan buih-buih berpletikan dan itulah gambaran hidup yang rawan, penuh gebalau galau, maka akulah orangnya yang bertempik sorak, melawan pandangan semacam itu.

Alamak, orang-orang sekampung yang tahu kebiasaanku berlama-lama di depan tungku suka lantang berteriak dari luar rumah.

“Domang, keluarlah kau! Ladangmu menjelang mata bajak! Ambillah cangkul! Asap tungkumu sebentarlah kau tinggal! Pedih mataku lewat rumahmu!” teriak orang-orang kampung yang melintas di samping rumah, berkacak cangkul menuju ladang.

Tentu, aku hanya menyeringai di dalam rumah, tak satu pun ujaran kutanggapi. Meski begitu, aku segera menyelesaikan penggorengan, bergegas makan, dan berladang.

***

KUPUTUSKAN hidup bersandar bayang-bayang Emak. Beranak-pinak seperti kebanyakan orang sekampung kurasa bukanlah pilihan yang jitu. Kutujah kemauan membagi dengus dan derit ranjang bersama perempuan mana pun. Hasratku terpuaskan meskipun hanya mendekap bayangan Emak.

Bagai kutuk yang diterima si Malin Kundang, bukankah aku mesti berbahagia hidup sendiri? Tak layak kusesali keputusan dengan rutukan, meskipun kadang-kadang pikiran dan perasaanku terseret dalam ambang gamang. Ada-ada saja godaan mengkhianati bayangan tentang Emak dengan hidup bersama perempuan entah siapa. Tapi, keyakinanku tak jua surut, aku belumlah hanyut dalam gugusan goda bersama perempuan selain bayang dekapan Emak – semogalah kelak sampai kapan pun tak.

Lagi-lagi di kampung yang baru, memanglah bukan tanpa masalah. Aih, tetap saja bertumpuk masalah. Keputusanku menyeberang berderet-deret sampan dayung bercadik bersama orang sekampung hanyalah berpindah ladang, masalah antre minyak masih saja tak bosan hadir. Dua hari sekali aku wajib mengantre minyak, tanpa punya alasan pegal apalagi bosan. Kalau sepanjang mengantre kugenggam tambahan hitungan dendam, maka jumlah hitungannya sebanyak ketika aku menyepah sirih. Apa mau dikata, kini aku pun menyepah sirih: lelaki muda usia tak menjadi alasan memalukan jika menyirih buah pinang dan mengantongi susur di celana.

Dalam waktu-waktu tertentu, tak usah heran, antre membeli minyak goreng tetap tak terhindarkan, semirip di kampungku dulu, sebuah kampung yang digenapi anggapan sebagai kampung persemayaman kilang minyak. Lama-lama, ketika mengantre kurasakan bahwa uang yang kupegang berubah amat tak berarti. Celoteh banyak orang, menggenggam uang rupiah sama nilainya dengan menggenggam buah pinang: siap diludahkan ketika menyirih! Sebagai orang yang hanya cukup berbahagia dengan kesukaan hidup menggoreng makanan berupa kerupuk – tak ikan seperti kebanyakan orang sekampung sehingga tak bodoh-bodoh amat seperti aku – aku tak sanggup mencerna lebih dalam maksud celotehan itu.

Benarkah rupiah bisa bernilai tak berarti? Apakah tempurung otak udang yang berkelindan di kepalaku sanggup memahami maksud yang sesungguhnya?

ìApa yang tergenggam sebagai uang rupiah memang tak bernilai harganya, meskipun pada selembar atau sekeping koin uang terbilang sejumlah angka yang menunjukkan seberapa pantas lembaran kertas dan kepingan logam itu dihargai. Rupiah tak harus laku, minyak tak perlu dibeli. “Pukimak! Serbu!!!” hujat seorang warga kampung, suatu hari.

Haku

***

tak mengerti apakah ia sedang naik pitam ketika mengantre atau ia telanjur gila tersebab mengantre minyak.

Catatan:

*) Variasi atas puisi Berlayar ke Tepi Krui karya Satmoko Budi Santoso.

**) Petilan teks syair Petalangan sebagai tradisi sastra lisan (nyanyi panjang), salah satu puak atau “suku asli” di daerah Riau. Artinya: Adat tak lapuk karena hujan/ Adat tak lekang karena panas/ Dianjak layu disentak mati/ Ditanam tumbuh dikubur hidup/ Adat yang terconteng di lawang langit/ Adat yang tersurat di kertas/ Adat tidak dapat dianjak alih/ Adat tidak boleh dihilangkan…. // Baca: Bujang Tan Domang (Sastra Lisan Orang Petalangan), Tenas Effendy, Yayasan Bentang Budaya, 1997.

***

0 Haku: aku (bahasa Melayu).

Iklan