Aku, Kiler dan Mengenai Kematian

Cerpen: S. Metron. M

…Kiler telah mengasah pisaunya. … Tak lama lagi … Ia akan dibunuh. Begitulah setiap mulut berbisik ketika aku melewati pasar sore itu.

Aku tidak terkejut mendengarnya. Malah dalam hati bertanya-tanya. Kenapa baru sekarang berita itu muncul? Padahal, aku sudah keluar penjara tiga bulan yang lalu. Apa lagi rencananya? Apa lagi yang dipersiapkannya?

Sudah sejak keluar penjara aku ingin mendengar tentang pembunuhan yang akan dilakukan terhadap diriku. Aku bahkan menginginkan, begitu keluar dari gerbang penjara Kiler telah menunggu dengan gaman terhunus. Sayang, itu tidak terjadi. Yang kutemukan hanyalah hujan deras dan hembusan angin dingin yang menusuk tulang.

Ketika dipekerjakan sebagai penjaga pasar, sering aku melirik ke lorong-lorong toko sekitar pasar di malam hari, berharap tubuhnya terpampang di situ. Atau, tiba-tiba ia menghadang di simpang jalan dengan matanya yang mencorong tajam. Lalu secepat kilat mengayunkan pisau ke jantungku. Tetapi, tidak terjadi apa-apa. Tidak setelah sebulan bekerja.

Saat itu aku tetap yakin ia akan melakukannya. Tidak mungkin tidak. Apa yang kulakukan terhadap kelurganya malam itu, tidak mudah untuk dilupakan. Mustahil ia melupakan begitu saja.

Awalnya di mulai oleh penolakan keluarga Kiler terhadap lamaranku. Aku sakit hati. Sejak itu, tidak ada pikiran lain dalam pikiranku selain memberi malu keluarganya. Jalan yang terpikirkan saat itu, ya, memperkosa adiknya. Dan aku melakukannya di saat Kiler dan Bapaknya tidak ada di rumah. Tepat seminggu sebelum pesta perkawinan adiknya berlangsung.

Yang tidak aku perkiraan adalah Ibunya masuk ke dalam kamar ketika aku menyelesaikan perbuatan itu. Reflek saja, kuraih pisau besar yang kupersiapkan untuk kejadian tak terduga dan menyarungkan ke dadanya. Itu pula yang kulakukan terhadap Adik Kiler untuk menghentikan pekikannya.

Keduanya mati. Tapi adiknya sempat membisikkan namaku ke telinga Kiler. Malam itu juga aku dicari. Kiler tidak menemukanku karena aku lebih dulu menyerahkan diri pada polisi.

Tindakan yang awalnya kuanggap brilian itu, kukutuki juga. Soalnya, di dalam penjara baru aku menyadari, ke penjara bukanlah langkah yang baik. Banyak teman-teman Kiler yang siap menghabisiku.

Aku sempat berpikir untuk bunuh diri. Tapi, tak kuasa melakukannya. Terlalu pengecut. Bayangan kematian kedua orang itu memang membayang di rongga mataku. Namun, tak cukup membuatku bunuh diri.

Anehnya, di dalam penjara aku baik-baik saja. Terlalu baik malah. Terlebih untuk kasus yang kulakukan. Beberapa pasang mata memang memandang galak padaku. Tapi, cukup sampai di situ saja. Tidak ada tindakan lebih jauh, yang tak berani kubayangkan.

Jawabannya kudapatkan ketika Midi, kawanku, berkunjung. Katanya, Kiler lah yang menginginkan aku sehat-sehat saja. Ia memerintahkan teman-temannya dalam penjara untuk membunuh siapa saja walau hanya telingaku yang tersentil. Kiler menginginkan aku siap menghadapinya ketika waktu itu tiba. “Ia tak mau kau terbunuh. Apa kata orang-+orang nanti, begitu katanya,” cerita Midi, “Tapi, kau akan lari, kan?”

Mulanya aku berpikir begitu. Saat kakiku melangkah ke luar gerbang penjara, yang pertama terpikirkan adalah lari. Sebisa-bisanya. Sejauh-jauhnya.

Tapi Kiler menungguku. Melihat apa yang telah kulakukan padanya, jelas ia tak ingin aku mati di tangan orang lain. Apalagi bapaknya juga meninggal tak lama aku di penjara. Kata Midi, karena tak tahan menanggung beban.

Percuma melarikan diri. Kiler tetap mengejarku. Kemana pun. Kalau tidak Kiler, bayangan adik dan ibunya yang akan terus membayangi. Mungkin karena itulah mereka terus datang dalam mimpi. Sepertinya, menyuruhku untuk menghadapi Kiler.

Jadi, tak ada jalan keluar, kataku dalam hati. Ini mesti dihadapi. Sudah takdir. Aku takkan mengelak darinya. Minimal rasa bersalah yang perlahan mulai menyusup ini akan terkikis.

Maka, kupersiapkan diri sebaik mungkin. Kuminimalisir kesalahan agar setiap tahun mendapat remisi. Segala teladan yang diinginkan, kujalani. Aku yakin, lebih cepat berhadapan dengan Kiler, akan lebih baik.

Keyakinan itu bertambah ketika aku bertemu seseorang diujung hukuman. Kami berteman dan sering berbincang-bincang. Imam, begitu ia dipanggil, sering bicara tentang nasib, takdir dan ajal. Aku mempercayainya. Sebab apa yang dilakukannya melebihi apa yang kulakukan. Ia membunuh hampir 200 orang dengan sekali ledakan.

Saat ini ia sedang menunggu hukuman mati. Tak nampak sedikit pun sinar ketakutan dari bola matannya. Hanya dengan menghadapinya kita jadi manusia, ucapnya suatu kali. Baik-baik sajalah. Oke?

Baik-baik sajalah. Itu kalimat tersejuk yang pernah diucapkan orang padaku. Kesejukan yang rasanya menguapkan takut akan kematian dalam diriku.

Suatu pagi ia mendatangiku. Kau telah siap, katanya. Aku heran. Lalu, ia bercerita tentang igau-igauku di malam hari. Ya, di dada Kiler. Sarungkan, sarungkan. Lebih dalam, ucapnya menirukan igauanku. Dan kau mengucapkannya sambil tertawa-tawa, tambahnya sambil tersenyum lebar.

Hari-hari terakhir di penjara, aku makin sibuk membayangkan di mana aku akan tergeletak dengan darah keluar dari tubuhku. Aku akan mengeluh pendek… tidak aku tidak akan mengeluh. Mungkin tersenyum, lalu memandang Kiler dan membisikkan terima kasih.

Kini berita itu datang. Kiler, aku sudah lebih dari siap.

***

Ia memang muncul di sebuah lorong pasar, tiga hari setelah berita Kiler mengasah pisau merebak kemana-mana. Kemunculannya persis dalam sebuah ingatan yang selama ini tergambar. Pantas aku merasa udara malam tak pernah sedingin ini.

Tubuhnya terpancang tegas di antara barisan toko-toko yang tutup. Cahaya redup dari ujung lorong, memberikan bias pada sisi tubuhnya. Ajaibnya, ketika ia berjalan ke arahku, bias cahaya itu seperti tak pergi dan tetap membuat garis pada setiap lekuk sisi tubuhnya. Sempurna ia seperti malaikat maut yang sering kubayangkan bentuknya.

Aku tersenyum meski tak yakin ia menyadarinya. Ia berhenti tepat enam langkah dari hadapanku. Sayup-sayup lagu dangdut yang berasal dari sebuah kedai di tepi jalan besar menyusup.

“Ada yang perlu kau ketahui sebelum semua ini selesai,” ucapku membuka kebekuan. “Aku menyesal.” Aku menunggu teriakan darinya. Tidak ada. “Bukan. Bukan karena kau akan membunuhku atau akan kujadikan halangan untuk membunuhku –dan kita berdua tahu pembunuhan malam ini memang mesti terjadi–. Tapi, karena aku menyesal. Maaf.” Aku kembali menunggu kata sanggahan. Tak ada. “Lakukanlah.” Kataku akhirnya sembari melangkah lebih dekat.

Kiler menatapku tajam, lalu melemparkan sebilah pisau.

***

Di penjara, di tempat yang kuhuni untuk kedua kalinya, semua adegan malam itu selalu terbayang. Mulanya aku tak mau melawan. Kiler terus memprovokasi dengan mengatakan aku banci, seperti orang tua, dsb. Aku tersudut. Dengan berat hati aku meraih pisau yang diberikannya.

Kami berkelahi sebentar. Tetapi, bukan aku yang bermandikan darah. Kiler dengan sengaja menyerahkan dadanya untuk kutembusi. Tindakan di luar perkiraanku. Bahkan, dalam imanjinasi terliarku sekalipun.

Rupanya, luka yang kutoreh pada hatinya tak tersembuhkan. Kematian adik dan ibunya benar-benar menghabiskan kekuatannya untuk hidup.

Sebulan-dua aku dipenjara, ia masih berniat untuk membunuh. Akan tetapi, kekuatan untuk membunuh itu terus-menerus tersedot oleh bayangan kematian dua orang yang disayanginya.

Kiler tidak kuat. Hanya untuk menungguku saja hidupnya di sampirkan. Maka, ia menyusun rencana sederhana, sangat sederhana malah, untuk menghentikan penderitaannya.

Ia menjagaku di penjara. Namun, bukan lagi untuk dibunuhnya, tapi untuk membunuhnya.

Semua itu dilakukannya dengan sabar. Dengan sabar pula ia menunggu di malam aku membunuh adik dan ibunya. Di malam itu juga ia menyerahkan nyawanya. Pembalasan yang sempurna. Balas dendam yang indah, ucapnya. Kini kau tahu, apa yang lebih gelap dari hidup. Menunggu kematian. Oh, betapa bahagianya sinar mata itu ketika ia menceritakan semua itu di ujung hidupnya.

Sekarang, ia yang memberi pukulan telak pada diriku. Harapan tentang indahnya kematian di sayat Kiler dengan dalam. Ia memberiku luka yang beranak-pinak

Di dalam penjara kali ini, aku tak yakin apakah akan ada yang melindungi lagi. Kembali kukutuki tindakan membiarkan diriku ditangkap polisi. Kini, kabar beberapa pisau telah diasah untuk ditanam dalam tubuhku, telah menyebar.

Tidak pernah kubayangkan menunggu kematian dalam ketakutan seperti sekarang ini. Kematian tidak lagi seindah yang kuharapkan. Kematian rasanya seperti biasa lagi. Kelam.

***

Padang, 2005