Para Ta’ziah

Cerpen: Ratna Indraswari Ibrahim (Sumber: Kompas, Edisi 03/24/2002)

ISTRIKU menelepon, pukul satu malam. Di antara isak tangisnya, aku tahu Maminya meninggal! Mendengar kabar itu kedua anak gadis kami yang remaja, menangis keras! Mendesakku secepatnya pulang ke Malang agar bisa melihat eyangnya untuk penghabisan kali. (Aku selalu tidak pernah siap menerima tangisan kedua putriku). Malam itu juga dengan mobil bersama putri-putriku, kuputuskan berangkat ke Kota Malang agar sampai sebelum lohor, saat pemakaman eyang, anak-anakku. Eyang Sastrowijoyo (mertuaku), sebetulnya sudah lama sakit-sakitan, berusia 78 tahun. (Kesedihan malam ini milik istri dan kedua anak gadisku).

Sementara aku sendiri, tiba-tiba saja ingat ketika Ninil (teman sekuliah), memperkenalkanku pertama kali di rumah besar dan kuno itu dengan Eyang Sastrowijoyo yang dipanggil Mami oleh anak-anaknya. Sejak saat itu, aku selalu merasa dia tidak pernah siap menerimaku sebagai menantunya. Aku pemuda desa yang kebetulan sekuliah dengan Jeng Ninil. Orang tuaku petani tebu di Gondanglegi, Malang. Dari keenam saudaraku, cuma akulah yang sarjana. Kakakku yang pertama lulusan SMP dan sampai sekarang masih menjadi petani tebu di desa kami. Sesungguhnya, aku tahu, Eyang Sastrowijoyo kecewa ketika aku serius dengan Ninil. Di sisi lain, dalam waktu singkat ibuku yang ndeso itu ke rumahnya, memperkenakan diri sebagai calon besan!

Sulung memelukku. “Papa, lebaran nanti tidak ada Eyang. Pasti tidak enak ya Pa, Eyang itu baik ya Pa, dia suka memanjakan kita dengan memasakkan ketupat komplet, sup buntut.”

Bungsu menimpali, “Kita bangga ya Pa, Eyang itu kan tetap cantik sampai tua. Eyang kan turunan putri raja, jadi pasti cantik ya Pa.”

Aku tidak pernah menyukai anak-anakku memuja eyangnya. Ya, sekalipun aku tahu kalau anak-anakku ke desa (ke rumah embahnya), mereka juga sangat menyukai karena rumah kami di desa, tetap seperti bayangan anak-anak, ada gunung, pohon kelapa, pohon rambutan dan mangga yang begitu tinggi, dapur yang tidak ingin dirobohkan oleh ibu kami (sekalipun kami telah membuatkan dapur kering). Namun, aku masih ingat ketika sulungku berusia enam tahun dan minta minum, Ibu menuangkan air panas dari teko yang bawahnya hitam. Serta-merta si sulung menolak keras minuman itu. Aku tahu betul perasaan Ibu, sekalipun berulang-ulang Ninil minta maaf dan tetap memaksa putri kami untuk meminum air itu.

“San, kamu bisa membelikan anakmu minuman di kecamatan. Ada orang yang menjual minuman di sana. Kasihan kalau dia tidak bisa minum selama liburan di sini. Aku sebetulnya juga tahu teko di rumah eyangnya. Kalau panen tebu kita baik, aku ingin membeli teko di Malang, agar anak-anakmu betah tinggal di rumah embahnya.”

PADA waktu itulah aku baru ingat omongan ibuku, “Le, sebetulnya aku setuju saja kau menikah dengan Jeng Ninil. Orangnya cantik, pinter, dan turunannya priayi. Sebetulnya aku tidak pernah berani memimpikan mendapat mantu seperti itu. Kita kan wong ndeso. Oleh karena itu, tidak mungkin kan kau menyukai Aminah lagi (pacar semasa SMU) sekalipun sekarang dia juga terpelajar dan bisa bekerja sebagai perawat di Puskesmas desa ini.”

Ya, pada awal pernikahan sampai sekarang, aku merasa tidak begitu bisa masuk pada keluarga Eyang. Aku tidak suka cara mereka makan di meja makan (aku biasa mengangkat kaki kalau makan), aku tidak suka dan canggung kalau harus mengucapkan selamat pagi, setiap kali bertemu! Dan mengapa mereka harus bertukar baju tidur, piyama, hanya untuk tidur! Sebetulnya banyak hal yang tidak aku sukai yang menjadi kebiasaan keluarga besarnya Ninil. Di rumah kami sendiri, pada awal pernikahan, Ninil memang tidak pernah suka dengan cara-caraku yang dianggap kampungan olehnya. Lama-lama, Ninil membiarkan saja apa yang jadi kebiasaanku. Di sisi lain, aku tahu, Ninil dan anak-anakku selalu bahagia jika bertemu dengan saudara-saudara ibunya. Anakku bisa jadi mengikuti budaya ibunya. Sedang aku sendiri, terlampau tua untuk mengubah tata cara hidupku. Jika aku ceritakan hal ini pada Ninil, aku takut Ninil akan tertawa.

LANTAS, kendaraan kami berhenti untuk mengisi bensin. Aku takut anak-anakku jatuh sakit. Oleh karena itu, aku mengajak mereka makan. Perjalanan kami masih separuh lagi. Namun, yang ada di sini cuma warung-warung kecil (aku dulu sudah begitu bahagia, bila Ibu mengajakku makan rawon di warung seperti ini).

Sulungku berkata, “Dari tadi kita tidak bertemu restoran, Pa.”

Lantas Bungsuku bilang, “Saya lapar, apakah kita tidak bisa makan di warung saja? Guru mengaji berkata, sebaiknya kita tidak makan sebelum jenazah Eyang diberangkatkan. Dan Mama kan sudah bilang tadi, jenazah Eyang akan dimakamkan setelah shalat lohor. Semua sudah datang, mereka tidak menunggu Om Dayat di Amerika, Tante Yus yang di Australia.”

Kami masih mencari-cari restoran, namun kedua anakku rupanya sudah capai dan tertidur. Aku tidak mendengar tangisannya lagi. Ini sedikit melegakan. Jadi, aku bisa dengan lebih tenang menyetir mobil ini. Aku pasti tidak bisa memakai sopir kantor. Peristiwa ini begitu mendadak. Kabar terakhir dari Ninil, Eyang sudah mulai membaik. Namun, enam jam setelah itu kesehatan Eyang memburuk, kemudian meninggal!

Aku lihat wajahku di kaca spion, wajah seorang yang kacau, capai, atas meninggalnya Eyang. Tetapi, aku tidak bisa seperti mas dan adik iparku yang lain, terutama Mas Tomo yang kelihatan sangat berduka atas meninggalnya eyang. (Mbaknya Ninil, menikah dengan Tomo, mereka sama-sama dokter. Dan sekalipun bukan dijodohkan, hubungan kekerabatan mereka dekat). Aku tahu, dengan bangga Eyang sering menceritakan menantunya itu kepada orang lain. Lantas, aku masih ingat pas kami menjadi pengantin. Sekalipun Eyang dan keluarga besarnya tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun mereka tercengang melihat kehadiran keluargaku yang datang dengan tiga mobil, baju-baju kebaya brokat dengan warna meriah, kue-kue desa yang dibuat dengan ukuran sangat besar, sikap mereka yang sangat kikuk ketika mengobrol dengan keluarga besarnya Ninil. Aku juga tahu, tante-tante Ninil tertawa melihat keluargaku. Tetapi waktu itu, dengan semangat cinta, Ninil berbisik padaku,

“Santoso, aku sayang kamu, jangan peduli dengan sikap tante-tante, om-omku.”

“Seharusnya kau menikah dengan Herman, dia kan masih ada hubungan

kekerabatan denganmu, dia juga mencintaimu.” Ninil tertawa mendengarkan itu.

RASANYA aku ingin memperlambat jalannya mobil ini. Aku tidak tahu, ketika semua bersedih aku merasa biasa-biasa saja. Ya, baru saja aku terima telepon dari mas-mas dan adik iparku (menantu eyang yang lainnya), mereka kelihatan meredam tangisnya di handphone-ku, bilang kepadaku berulang-ulang,

“Dik Santoso, aku kini merasa betul-betul yatim piatu, kedua orangtuaku meninggal, lima tahun yang lampau Eyanglah yang kuanggap ibuku sendiri. Sekarang sudah meninggal.”

Lantas Mas Tomo berkata lagi denganku, “Aku merasa kehilangan segala-galanya, karena Ibu yang kita cintai sudah meninggal.”

Aku ketakutan, kalau suaraku tidak mencerminkan duka cita. Jadinya, aku cuma bisa bilang, “Ya Mas, ya Mas, kita memang kehilangan orang yang kita cintai.”

Kedua putriku tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan mulai menangis lagi. “Pa, rasanya kok tidak sampai-sampai. Saya kepingin mencium Eyang untuk yang terakhir. Kita suka mencium Eyang, kan? Eyang selalu wangi. Saya masih ingat, tahun yang lewat Papa memberikan kado parfum kepada Eyang pada hari ulang tahunnya. Eyang senang sekali, lantas menyuruhku membuka dan memakaikan. Waktu kecil Eyang-lah yang mengajarkan bagaimana memakai parfum yang benar.”

Sesungguhnya, aku tidak pernah membelikan ibuku parfum. Dia tidak butuh itu, yang dibutuhkan uang untuk membeli pupuk tebu kami. Tentu saja, ibuku tidak pernah berulang tahun. Beliau tidak pernah tahu tanggal kelahirannya. Sulungku berkata,

“Pa, waktu lebaran yang lewat, Eyang bilang, rupa kita mirip tante-tante. Itu kan untung ya Pa, karena wajah saya seperti putri-putri.”

“Seharusnya mamamu dulu tidak memilih wong ndeso seperti Papa.” Kedua putriku melihatku dengan tercengang. “Maaf ya, Nduk, Papa lagi emosional. Tentu saja Mama memilih Papa, kan mantan pacar.” Aku merasa lega, ketika kedua putriku tersenyum,

“Ya Pa, Mama kan sama Papa pacaran, jatuh cinta ya Pa, tetapi apakah kita bisa memotong jalan agar bisa cepat sampai ke rumah Eyang.”

“Kita coba saja. Tetapi, ada restoran yang buka di sana, masih mau makan?” Kedua putriku menggeleng kuat-kuat. Dan Bungsu mengusulkan, “Kalau ada roti, air mineral, kita beli sajalah Pa, kita bisa makan di mobil kan. Saya takut kalau service restoran itu lambat. Apakah Papa juga sayang sekali sama Eyang?”

Gusti, aku tidak berani menatap wajah kedua putriku. “Papa memang sayang, tetapi perjalanan ini harus kita tempuh dengan mobil. Kalau dengan pesawat, baru besok kita bisa berangkat. Belum tentu bisa sampai sebelum lohor.”

Putri sulungku memotong, “Maksudnya begini lho Pa, Papa kan juga sayang sama Eyang.”

“Ya tentu, Papa sayang sama Eyang. Kamu tahu sendiri kan, kalau kita ke sana pasti dibikinkan makanan kesukaan Papa.” Jawaban itu memuaskan putriku.

Setelah makan roti, mereka kelihatan tidur kembali. Aku tidak pernah tahu berapa banyak suami yang tidak menyukai keluarga istrinya. Aku juga heran mengapa pada saat meninggalnya Eyang, semua yang seharusnya tidak kupikirkan muncul bertabrakan. Aku dan mertuaku tidak pernah saling mencintai, tetapi kupikir akhir-akhir ini kami mencoba untuk saling menghargai. Aku mungkin bukan mas Tomo yang bisa mencintai mertuanya seperti orangtuanya sendiri. Aku kira Eyang yang sudah berada di alam sana sangat tahu kami berdua mencoba untuk menjadi teman. Sekalipun pertemanan kami tidak selalu berhasil! Mungkin Eyang lebih tahu dari aku bahwa kita sebetulnya hidup di dunia dengan atmosfer berlainan. Bertemu dengan Ninil adalah bertemu dengan atmosfer lain.

Selama ini kalau aku bisa jujur, sesungguhnya aku benci dengan tata cara Eyang dan keluarga besar mereka. Malam ini sepertinya aku bisa mengobrol dengan arwah beliau, aku merasa dia berbicara seperti ini, “Le, kita seharusnya saling memaafkan. Sebetulnya kita tidak perlu saling membenci. Pada akhir-akhir tahun perjalananku, aku berpikir, ini kesalahan kita bersama karena kita memang berbeda dan takut pada perbedaan itu! Le, ketika aku berusaha membuatkan makanan kesukaanmu, aku berpikir ingin mencintaimu sekalipun kita berada di dua jagat yang berbeda. Dan mungkin ini tidak akan pernah berhasil. Namun, kita tidak perlu lagi saling membenci, kan? Aku juga tahu ini sulit bagimu Le, tetapi di alamku kini aku baru tahu tidak ada yang terbelah-belah. Yang ada cuma satu, cinta-Nya kepada kita.”

Setelah upacara penguburan selesai, kupeluk istri dan anak-anakku. Aku merasa inilah ucapan paling jujur sepanjang usia pernikahanku. “Aku dan Eyang akan terus belajar untuk saling mencintai.”

* * *

Malang, 8 Februari 2002

Iklan