Bocah Taman
Cerpen: Rama Dira J (Sumber: Media Indonesia, Edisi 09/17/2006)

ANGIN musim gugur berputar-putar, menjelmakan tarian dedaunan. Seekor kucing betina yang terdampar begitu saja di taman itu mengejar-ngejar, menerkam dan mencakar-cakar gulungan dedaunan yang tampak sebagai sesosok binatang lain.
Di tepi danau itu, si bocah tak peduli. Ia asyik memangku buku gambarnya di atas kursi kayu yang diteduhi pohon ketapang. Beberapa pensil warna ia coretkan pada kertas gambarnya. Ia hanya memilih warna-warni tertentu : abu-abu, hitam, dan coklat. Mulanya ia menggambar gedung sekolah tingkat dua, lengkap dengan halaman bermain dan tiang bendera yang menjulang tinggi. Tentu ia tak sekedar berimajinasi. Gedung sekolah dalam buku gambarnya, benar-benar ada di seberang danau, masih dalam jangkauan pandang.
Meski tangannya aktif menggambar, pikirannya menerawang memikirkan rumah. Semalam, ia tak bisa tidur sehabis melihat hantu. Ia takut, ia ingin bersama Ayah dan Ibu. Dalam banyak film anak-anak yang pernah ia tonton, biasanya ketika si anak tak bisa tidur, ia akan menemui Ayah atau Ibunya yang kemudian dengan tangan terbuka mau menerima, mengajaknya untuk tidur bersama mereka atau paling tidak menemani si bocah di kamarnya, mendongengkan suatu kisah indah sampai si bocah terlelap dan ketika bangun di pagi harinya ia telah menjadi lupa bahwa semalam ia telah melihat sesosok hantu.
Tak seperti itu yang ia alami. Gambaran kehidupan keluarga indah dalam film-film itu tak ada dalam kehidupan nyatanya. Ia beberapa kali mengetuk pintu kamar mereka, tak ada ucapan untuk mempersilahkan masuk. Ketika kemudian, pada akhirnya terdengar suara Ayahnya yang sedikit geram, mempersilahkanya masuk dan mengatakan bahwa pintu tidak dikunci, ia membuka daun pintu itu perlahan-lahan dan terlihatlah ibunya yang tidur dengan begitu pulas, memunggungi si Ayah yang masih jaga demi membaca buku tebal sebagaimana biasanya.
Ia kemudian tak jadi masuk karena Ayahnya menyambut dengan pandangan sepasang mata marah dari balik kacamatanya. Ini bukan kali pertama. Pandangan itu acap kali ia terima. Ia tahu, jika sudah seperti itu, berarti Ayahnya tak mau diganggu. Dengan sangat terpaksa ia lekas menutup kembali pintu dan berlalu menuju kamarnya, dimana sesosok hantu perempuan berambut panjang dengan pakaian yang serba putih itu masih menggelantung di jendela. Ia pun tak bisa tidur hingga hantu itu lenyap menjelang pagi.
Selalu seperti itu sikap mereka padanya hingga ia seolah tak berayah beribu. Dua orang itu ada, tapi menganggap si bocah tak ada. Sejalan dengan penumpukan waktu, rasa bersalah dalam dada si bocah semakin menebal. Barangkali, ia telah berbuat sesuatu yang salah pada mereka atau jangan-jangan kelahirannya dengan membawa kelainan itu memang tak pernah diharapkan mereka. Ia sempat pula membayangkan, akan lebih baik jika dulu, segera setelah ia keluar dari rahim ibunya, ia langsung diletakkan dalam keranjang apung yang dilengkapi dengan bubungan kemudian dihanyutkan ke arus sungai, untuk mencari nasibnya sendiri sebagai buangan. Di hilir sungai, sepasang suami istri tua bangka yang hingga detik-detik menjelang ajal mereka tak juga punya anak, rela mengambilnya dalam keadaan apapun, meski memiliki kelainan. Beberapa saat setelahnya, sepasang suami istri itu kemudian mati dalam bahagia karena telah mendapatkan bayi yang diidam-idamkan sepanjang hidup mereka. Menyusul mati kemudian si bayi. Dengan begitu, meski tak berumur lama, si bocah yakin bahwa paling tidak keberadaannya diterima oleh dua orang itu dan bisa memberi setitik kebahagiaan yang sangat besar artinya bagi mereka.
Rasa bersalah si bocah tak pernah hilang. Serupa bola salju yang menggelinding dari ketinggian, rasa yang menyesak di dada itu semakin perih. Tak ada lagi yang bisa menghalanginya untuk memikirkan bahwa ia memang terlahir sebagai kutukan sehingga ia nyata sebagai bocah yang tak patut diperhitungkan keberadaannya, dimanapun kapanpun.
Si bocah mengira, setelah ia masuk sekolah, ia bisa bertemu dengan orang di dunia luar yang menganggapnya ada. Lagi-lagi ia menduga akan mendapatkan teman-teman yang bisa diajak dan mengajaknya bercanda, bermain sehingga kemudian ia bisa terlepas dari penderitaannya.
Namun, semuanya hanya sampai pada batas perkiraan. Di sekolah pun, tak ada yang menghiraukannya. Tak ada murid-murid lain yang sudi berteman dengannya. Mereka lebih tertarik mengejek model potongan rambutnya, mereka menertawakan warna kulitnya yang serba memutih, putih yang lebih putih daripada kulit yang paling putih milik orang lain yang pernah mereka lihat. Dari murid-murid yang meneriakinya itu dia akhirnya tahu bahwa ia menderita albino.
Ia tak tahu, apakah Tuhan sengaja memilihnya untuk menderita kelainan itu. Jika sebelumnya ia tahu bahwa apa yang diterimanya ini membuatnya tak di terima di muka dunia, ia tak akan mau. Jika seandainya ada tawar menawar dengan Tuhan, sebelum lahir untuk penentuan antara tak terlahirkan atau terlahir tapi sebagai penderita albino, ia akan lebih memilih untuk tidak dilahirkan.
Suara-suara riang bocah-bocah di seberang danau terdengar sayup terbawa angin. Suara-suara riang itu serupa ratusan anak panah yang menusuk langsung ke jantungnya, terasa perih tak terperi. Kapan ia bisa ia tertawa seperti itu? Kapan ia bisa bermain dan diterima di tengah-tengah keriangan? Pertanyaan-pertanyaan itu mampir dalam kepalanya setiap ketika ia duduk menyendiri di taman itu.
Kini, ia menambahkan dalam gambarnya, bocah-bocah yang tengah bermain-main itu, dalam posisi berlari, berdiri, bergelantung, dan meluncur di atas papan luncur serta melompat bermain tali.
Angin semakin kencang bergulung-gulung, menciptakan lebih banyak lagi tarian dedanuan. Kucing betina kebingungan, berlari ke sana kemari, untuk kemudian terbaring kelelahan usai mencoba menangkap sosok-sosok tak tertangkap, yang tercipta berkat kerjasama antara angin dengan dedaunan gugur dari pohon-pohon ketapang.
Si bocah melirik kucing itu. Ia kemudian meletakkan buku gambar dan pensil warnanya di bangku. Ia menghampirinya. Awalnya ia tak mengira kucing betina itu jinak padanya. Sebelumnya ia sudah memastikan bahwa tak satu pun makhluk di muka bumi ini yang sudi berteman dengannya, termasuk binatang.
Ia usap tengkuk kucing subur itu, yang kemudian memejamkan matanya seperti terbuai menuju alam tidur.
“Kamu sendirian ya?”
“Miau….miau…”
“Aku juga…”
“Miau…miau…”
Senang dengan tanggapan kucing yang sudi berbicara dengannya itu, ia kemudian menggendongnya, meletakkannya di samping, kemudian kembali memangku buku gambarnya, menggores-goreskan pensilnya, sambil terus berbicara dengan si kucing.
“Bagus tidak gambarku?”
“Miau..miau..” Kucing betina itu mengiyakan. Untuk persetujuannya itu, ia minta diusap lagi tengkuknya. Mengerti itu, si bocah mengelus tengkuk kucing itu sambil terus menggambar. Sementara itu, bocah-bocah di seberang semakin girang.
“Lihat, mereka bahagia sekali..”
“Miau…miau…”
Pada air danau, matahari tengah hari memantulkan sinar yang memicingkan mata. Bel tanda masuk kelas berbunyi tiba-tiba. Si bocah terus menggambar, seolah semua yang ada di sekolah itu ingin ia masukkan dalam gambarnya. Semua benda, semua orang.
Seolah tak lagi punya banyak waktu, ia lekas-lekas menambah jumlah bocah-bocah dalam gambarnya. Merasa cukup, ia kemudian mengambil pensil berwarna merah dari dalam kotak pensil warna. Ia tiba-tiba gusar. Semua yang ada dalam gambar itu terasa mengganggu. Ia berteriak, ia coret kertas gambarnya dengan pensil warna merah itu. Ia marah, ia meraung. Tak ada yang mendengarkan kecuali kucing betina yang langsung saja melompat karena begitu terkejut, berlari cepat meninggalkan si bocah.
Bocah itu terus berteriak. Ia semakin gelisah. Ia buka tas di sampingnya. Ia ambil sepucuk pistol yang masih berdarah gagangnya, darah Ayah dan Ibunya semalam. Ia kemudian bergegas mengisinya dengan peluru-peluru baru. Dengan teriakan yang makin menggila, ia sobek kertas gambarnya, lantas berlari menyeberang jembatan di atas danau, menuju ke kelasnya dengan membawa pitol yang masih berlumuran darah itu.
Yogyakarta 10 : 55 AM, 14 Agustus 2006