SETANGKAI MAWAR MERAH UNTUK ABIMANYU

Karya : RahajengTitisari

JAM telah berdentang dua belas kali. Angkasa malam bagai seutas kelambu tipis yang menyelimuti semesta dengan kegelapan. Bulan sebagai ranjangnya di mana sebuah insane yang kesepian bisa bersandar padanya dan memeluknya menumpahkan semua gelisah pada rengkuhannya. Serta bintang-bintang yang mengerjap-ngerjap bagai sebuah pelita bagi hati dalam penghargaan. Seolah memberi secercah penghidupan bagi sisa-sisa cintaku ini. Dan selain kesemuanya itu malam ini, dalam ruang pandanganku, kudapati diriku sendiri dalam sebuah gaun tidur panjang broken white dengan renda-renda lembut pada tepiannya, melambai-lambai dirayu angina malam dari balkon kamarku. Aku bersimpuh pada malam, menuntaskan seluruh pengharapanku pada dirinya. Kubuka daun pintu teras kamarku dan kusibakkan tirai hijau tosca yang menggantung menutupinya. Perlahan, seperti bisikan lamat-lamat, aku berjalan setapak demi setapak menuju teras kamarku. Ujung-ujung gaunku terseret menyapu lantai mengikuti langkah-langkah kakiku. Kuhirup dalam-dalam aroma malam yang selalu kucumbui sejak bertahun-tahun yang lalu. Kulayangkan pandanganku ke seluruh penjuru lewat balkon rumahku seolah menyalahkan dunia atas apa yang terjadi padaku. Rumahku bagaikan puri megah bertahta patung-patung putih dan ukir-ukiran di tiap-tiap sudut langit-langitnya. Dan teras rumahku adalah kastil denganku berdiri di tepiannya, sang putri yang memendam gulana yang teramat dalam. Aku hempaskan sekali lagi edaran mataku ke arah langit yang temaram, ke arah jalanan yang sepi bagai kuburan, lalu ke arah kamarku sendiri dimana seseorang yang telah kudampingi tujuh tahun ini sedang terlelap di atas pembaringan. Kutelanjangi seluruh alam dengan mataku. Lewat balkon di lantai dua rumah besarku ini aku bisa melihat semua dengan teramat jelas. Sejelas aku mengingat tiap detail kejadian-kejadian yang kualami bersamanya. Bersama dia yang menjadi alasan-alasan dari seluruh keputusanku yang menurut beberapa orang merupakan tindakan aneh, namun bagiku, sebuah pengabdian cinta. Aku mencintainya. Sangat, bahkan terlalu mencintainya hingga menutup indera-indera hatiku untuk perasaan-perasaan lain padanya maupun pada orang lain.

Sudah beberapa lama berlalu sejak aku bernaung di sini. Di peraduanku, di balkon puriku. Angin malam terasa makin menusuk sembari menggoda tirai kamar yang daun pintunya telah terbuka lebar-lebar seolah mempersilakan untuk masuk kapan pun dia ingin mengunjungiku, di kamarku ataupun dalam mimpi-mimpiku . Telah kusiapkan sekuntum mawar merah segar dalam sebuah kertas kaca diikat seutas pita merah yang cantik. Persis seperti yang dulu selalu diharapkannya dariku. Tidaklah ia kini masih mengharapkannya? Karena aku pun sangat berharap untuk bisa memberikan mawar ini kepadanya. Ia yang kukasihi. Pikiranku bagai sebuah layer putih yang bisa mengungkap jelas, memutar kembali kenang-kenangan kami. Aku dan kekasihku . Ia, arjunaku, yang dulu mempercayakan seluruh cintanya pada diriku. Kisah delapan tahun yang lalu itu terputar kembali di benakku. Kisah yang bahkan kata-kata pun tak cukup untuk menggambarkan keindahannya.

Jam telah berdentang dua belas kali. Celaka, aku harus segera bangun, batinku. Aku segera bangkit dari ranjangku. Kulawan semua kantuk yang menyerang mataku tanpa ampun. Aku berdandan secantik mungkin dan memakai gaun tidurku yang terindah. Ah, aku sangat gugup, tapi juga bahagia, pikirku lagi. Sekujur tanganku dingin, dan bertambah dingin saat kubuka daun jendelaku untuk menyambut yang akan datang malam ini, seperti yang dia lakukan malam-malam sebelumnya. Aku bertengger di tepian balkon rumahku. Waktu pertama kali aku melakukannya, aku agak ngeri juga jika harus duduk di tepian pagar terasku yang letaknya cukup jauh dari permukaan bumi ini. Namun setelah beberapa kali, aku menjadi terbiasa. Seperti aku terbiasa mencintainya. Dan hanya beberapa saat setelah aku menampakkan diriku di teras kamarku, muncul sesosok pria memasuki halaman rumahku. Ia masuk lewat jalan yang sudah kami sepakati bersama, yaitu lewat pintu kecil di samping pagar utama yang jarang dikunci. Melihatnya bagaikan melihat sepercik cahaya di kegelapan tengah malam ini. Aku menyambutnya dengan senyum begitu dia mendekat dan berdiri tepat di bawah balkon. Dia memandangku tak berkedip. Ada senyum menghiasi wajahnya yang aku yakin hanya untukmu.

“Aku harap kau tidak terlalu lama menunggu,”

“Tidak, aku cukup bersabar. Dan tidak menjadi masalah jika aku menunggumu sekian lama, karena aku yakin kau pasti akan datang,”

“Tentu Utari. Aku pasti datang. Aku datang hanya untukmu. Malam ini, dan selamanya. Sekarang dengarkanlah apa yang akan kupersembahkan untukmu.”

Lalu ia membacakan sebuah sajak cinta yang sangat indah.Syair yang selalu dia bacakan tengah malam seperti ini untukku.

“…Beritahu aku oh manusia, beritahu aku! Siapa di antara kalian yang tidak akan bangun dari tidur kehidupan jika cinta telah membasuh jiwamu dengan jari-jarinya. Siapa di antara kalian yang tidak akan mengabaikan ayah, ibu, dan rumah kalian jika gadis yang kalian cintai telah memanggilmu? Siapa di antara kalian yang tak akan mengarungi lautan, melintasi gurun-gurun, mendaki gunung-gunung dan lembah-lembah untuk menggapai gadis yang jiwanya telah kau pilih?”
Dia membacakan kata demi kata dengan penuh perasaan. Sebesar perasaannya padaku.

“Begitulah Tari, sajak Gibran ini mewakili pengabdian cintaku untukmu. Aku yang akan selalu datang apa pun rintangannya jika kau memanggilku,” katanya.

“Aku tahu itu tanpa kau harus mengucapkannya ….,” jawabku.

“Ini untukmu, simpanlah sebagai kenangan akan diriku.” Aku melemparkan setangkai mawar merah dalam kertas kaca yang diikat seutas pita merah yang cantik. Kulemparkan ke arah pemuda itu, Abimanyu, yang berdiri di bawah balkon kamarku.

“Utari, tunggulah aku tepat pukul dua belas tengah malam esok. Aku akan datang lagi seperti biasa. Nantikanlah aku di teras kamarmu. Utari. Aku harus pergi sekarang, sampai jumpa saying.”

Dia pergi diikuti pandangan mataku yang sebenarnya tidak rela melepaskannya pergi. Namun aku yakin, akan ada banyak kedatangannya untukku. Bukan hanya tengah malam, namun juga pagi, siang, dan sepanjang hari. Karena kami telah melewati banyak hari bersama sejak kami memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Sejak orang-orang di sekitar kami mengetahui bahwa kami tak terpisahkan.

Dan sejak itu pula dia selalu datang tengah malam, saat jam berdentang dua belas kali, saat semua orang tertidur dan hanya sepi yang menemani kami, Abimanyu akan datang dan berdiri di bawah teras kamarku yang pintunya telah terbuka untuk membacakan sajak-sajak cinta Kahlil Gibran kesukaannya untukku. Setelah itu aku akan memberikan setangkai mawar merah dalam kertas kaca yang diikat seutas pita merah yang cantik. Semua itu kami lakukan setiap tengah malam. Dan kami tidak pernah merasa ritual ini sebagai hal yang aneh atau berat. Hal itu bernama pengabdian cinta bagi kami berdua.

***

Jam telah berdentang dua belas kali. Aku harus segera bangun dan bersiap-siap. Aku tidak ingin saat dia datang aku tidak ada di teras sana. Kubuka daun pintu kamarku dan berusaha tidak membuat keributan apa pun agar orang rumah tidak terbangun. Aku duduk di tepian pagar teras rumah. Menunggunya. Gaun tidurku melambai-lambai ditiup angina malam yang kali ini agak terasa lain. Suasana terasa agak berbeda malam ini. Entah kenapa sebuah ketakutan yang teramat besar tersirat di hatiku tiba-tiba. Aku hanya berdiam diri di sana, di atas teras kamarku. Aku tetap menantinya. Satu menit, dua menit, satu jam sudah berlalu. Ah, ke mana dia? Kenapa dia belum datang? Apakah terjadi sesuatu? Aku ingin mencarinya.

Rasa khawatirku begitu besar sehingga sempat tersirat di kepalaku untuk meloncat ke bawah dan mendatangi rumahnya. Apakah dia lupa dengan ritual kami? Tidak mungkin dia lupa. Dialah yang dulu pertama kali mencetuskan ide untuk melakukan hal ini. Dan aku menyukainya. Aku menyukai untuk menunggunya setiap malam.Tapi tidak seperti ini, menunggu dengan kekhawatiran. Dua jam, tiga jam, aku sungguh tak tenang. Aku gelisah. Aku berdiri untuk melihat ke bawah dengan lebi jelas. Ah, seharusnya tadi aku membawa senter karena lampu taman tidak cukup terang untuk pekarangan seluas ini. Aku ingin meneleponnya tapi aku takut untuk beranjak dari tempat ini. Bagaimana jika dia datang dan aku tidak ada di sini? Perlahan, kurasakan bulir-bulir hangat membasahi pipiku. Aku begitu resah sehingga tanpa sadar air mata mengucur. Aku sudah begitu lama menunggu. Dan mendadak saja ada sebuah gurat cahaya yang sangat menyilaukan dari ufuk timur sana. Fajar telah tiba. Dadaku berdegup kencang. Keringat dinginku mengalir membasahi dahi. Kecemasan meliputi diriku. Lalu, ke mana kekasihku? Ke mana Abimanyu? Kemarin malam dia masih datang ke sini. Bahkan tadi pagi dia masih berada di sisiku dan berjanji untuk datang lagi nanti malam. Ke mana dia?

***

Aku mencarinya ke seluruh penjuru. Kutanyakan ke semua orang. Namun dia tidak ada dan yang kudapat hanya gelengan kepala mereka. Bahkan saat aku menanyakan pada keluarganya.

“Maaf, Nak Tari. Kemarin siang ia masih bersama kami, namun paginya, kami tidak mendapatinya di kamar. Kami juga telah mencari, mencari ke semua tempat. Kami juga tak tahu ke mana ia pergi dan apa alasannya, kami tidak tahu.” Dan aku hanya terisak mendengar jawaban ibunya. Aku sangat takut.

“Dia hanya meninggalkan ini.” Ibunya menyodorkan secarik kertas padaku. Sepertinya sebuah surat untukku.

Untuk Tari

Cinta hanya mengajarkan pada saya untuk melindungimu bahkan dari diri saya sendiri. Adalah cinta, yang bebas dari api, yang menahanku dari mengikutimu pergi ke tempat yang jauh. Cinta membunuh hasratku sehingga engkau bisa hidup bebas dan benar. Cinta yang terbatas mencari kepemilikkan dari seorang yang dicintai, namun cinta yang tak terbatas hanya mencari dirinya.

Abimanyu

Apa maksudnya ini semua? Tidakkah dia tahu aku sangat mencintainya ? Bukankah dia juga sangat mencintaiku? Apakah cintanya begitu besar sehingga justru mematikan hatinya untuk mencintaiku? Aku hanya menemukan tanda Tanya sebagai jawabannya. Dan tak pernah kusangka bahwa kelak, aku tidak akan pernah menemukan jawabannya.

Sejak Abimanyu pergi, sejak itulah hatiku telah mati. Cahayanya telah redup untuk menyapa dunia ini. Aku seperti mayat hidup yang menyedihkan. Sepertinya jiwa ini telah mati rasa. Ia tidak bisa merasakan apa pun. Tidak ada cinta, tidak bisa bahagia, namun juga tidak dapat lagi merasakan kesedihan karena begitu beratnya beban yang harus ditanggung. Air mataku sudah kering. Aku selalu menangis semalaman pada hari-hari pertama Abimanyu pergi. Namun ini sudah dua tahun sejak ia menghilang. Aku telah diwisuda setahun lalu. Semua ini membuatku teringat masa-masa kenangan kami dulu dan janji-janji kami berdua untuk cinta. Kami berjanji untuk lulus bersama, hidup bersama, dan mati bersama. Ah Abimanyu kekasihku ….. kenapa kau tega melakukan ini padaku? Senyum itu sudah hilang sejak kau pergi. Dalam setahun, aku telah berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sesorang tanpa jiwa. Karena jiwaku telah pergi bersamamu. Hanya suram dan suram yang kurasakan dalam hidupku. Bagiku kini, sedih dan senang sama saja. Cuma satu rasa yang ada, hampa.

Malam ini, aku duduk di tepi balkon kamarku tepat jam dua belas. Masih kupakai gaun tidur yang melambai diterpa angina malam yang telah terbiasa bersamaku tengah malam begini. Ada setangkai mawar merah dalam kertas kaca diikat seutas pita merah yang cantik dalam genggamanku. Kugenggam kuat-kuat sekuat perasaan yang masih kupendam untuk Abimanyuku. Aku duduk memandang langit dengan nanar. Mataku masih pedih karena tangisku kemarin malam, dan kemarinnya lagi, tangisku setiap malam. Air mata yang kuharap akan membawaku ke sungai Abimanyu. Aku masih di sini, saying. Batinku. Aku masih menunggu Abimanyu. Mungkin saja suatu saat dia kembali padaku. Berdiri di bawah teras kamarku dan membacakan sajak-sajak cinta Gibran untukku. Aku hanya ingin semuanya kembali seperti dulu. Tapi sepertinya sangat berat untuk membuat itu semua jadi kenyataan. Aku terus mengucurkan air mata untuk Abimanyu sambil menunggunya. Sepertinya penantian ini takkan pernah berakhir. Meskipun dia adalah penantian terakhir. Besok pagi, aku akan menikah dengan seorang pemuda anak kerabat ayahku. Kamar tidurku sudah penuh dengan karangan bunga dan sepotong baju pengantin terpampar di atas ranjang. Aku sudah terlalu hancur untuk meratapinya. Aku bahkan tidak bisa menolak karena aku makin cepat atau lambat ini pasti akan terjadi. Dia adalah seorang pria yang baik. Aku sudah bertemu dengannya. Dia mapan, berpendirian, dan aku bisa melihat dari matanya bahwa dia tulus mencintaiku meskipun pernikahan kami atas dasar perjodohan. Dan dia menerimaku apa adanya. Ia tidak tahu dan tidak mau tahu masa laluku yang getir ini. Dalam diam aku bisa mengisyaratkan padanya kesedihanku selama ini.

***

Sebuah rumah besar. Dua unit mobil mewah. Seorang anak lelaki yang lucu. Seorang suami yang penuh cinta. Kehidupan yang sempurna. Namun aku tetap merasakan sebentuk ruang kosong dalam hati. Ruang ini benar-benar tempat keramat dalam relungku. Sebuah harapan Abimanyuku akan kembali. Mungkinkah Abimanyu sedang berperang menghadapi nasibnya sendiri saat ini? Nasib yang telah ia pilih dengan kepergiannya. Tetapi kapan ia akan selesai berperang? Apakah ia kalah atau menang itu tak jadi masalah buatku. Aku hanya ingin dia pulang padaku. Aku tak perlu penjelasan apa pun. Karena cinta memaklumi setiap hal. Untuk itulah cinta hadir di dunia. Selama delapan tahun ini aku telah merasakan mahligai perkawinan yang begitu indah. Namun keindahan itu tetap tak bisa mengalahkan perasaan yang tersembunyi untuk Abimanyu. Aku mencintai anakku. Aku melahirkannya dengan perjuangan untuk cinta. Aku menyayangi suamiku. Aku menikahinya demi perjuangan cintanya padaku. Tetapi itu semua berbeda dengan cintaku pada Abimanyu. Perjuangan cinta kami tak dapat dibandingkan dengan cinta-cinta lain. Karena cinta itu memiliki hakikatnya sendiri-sendiri. Dan aku memiliki hakikat yang kuat dan tak terdefinisi untuk cintaku pada Abimanyu. Dalam kehidupanku bersama Daniel suamiku, aku tetap menjunjung tinggi nilai-nilai pengabdian seorang istri pada suami dan nilai-nilai kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Dan semua itu kulaksanakan dengan baik. Aku menjalankan tugasku dengan sangat sempurna untuk suami dan anakku. Namun pada ruang kosongku untuk Abimanyu, tetap akan ada cinta yang luar biasa.

* * *