Seorang Laki-Laki dan Boneka
Cerpen: Ragdi F. Daye (Sumber: Media Indonesia, Edisi 08/13/2006)

DIA ingin pulang, tapi tak tahu harus pulang ke mana. Rumahnya telah terbakar beserta keluarganya. Kenangan tinggallah abu. Maka, setiap kali meninggalkan tempat kerja, ia akan menghabiskan sisa sore dengan berjalan menelusuri koridor pertokoan untuk melihat-lihat pajangan di etalase. Matanya yang berjarak pandang pendek akan tertumbuk pada boneka-boneka perempuan yang dipasangi pakaian bagus di ruang butik. Alangkah cantiknya mereka itu. Berkulit halus, berwajah mulus dengan dada penuh. Ia akan menatap dari sebuah titik dengan berlama-lama sampai seorang perempuan boneka menegurnya dengan suara yang tiris, bertanya dengan tidak yakin, “Cari apa, Bang? Masuklah. Mencari sepotong blus untuk pacarnya, mungkin?”
Dia pun dengan gugup segera memalingkan pandang lalu meneruskan langkah menelusuri koridor pertokoan yang panjang tak berkesudahan. Dia akan menemukan toko atau butik lain yang di ruang pajangnya berjejer boneka-boneka perempuan cantik dengan pose menarik sedang memamerkan pakaian yang menempel di tubuh mereka. Matanya yang berjarak pandang pendek akan hinggap di kulit halus, wajah mulus, dan dada penuh. Dia akan menghirup napas berisi gumpalan-gumpalan angan yang membuat dadanya sesak sendiri sampai seorang perempuan boneka menegurnya dengan suara tiris, bertanya dengan tidak yakin, “Cari apa, Bang? Masuklah. Mencari sepotong blus untuk pacarnya, mungkin?”
Dia pun dengan gugup segera memalingkan pandang lalu melata di jalanan yang telah ramai ditumpahi laki-laki dan perempuan-perempuan boneka. Tersaruk-saruk langkahnya hingga dia sampai di depan sebuah pintu yang bertempel gambar seorang atau sebuah boneka perempuan. Dia akan mengetuk daun papan itu berulang kali hingga seorang atau sebuah boneka mengintip dari celah yang menganga, tersenyum, dan menyapanya dengan lincah. “Selamat datang, Sayang.”
****
Rumahnya telah terbakar sehingga dia tak bisa pulang. Sebelum rumah dan keluarganya sempurna menjadi abu, dia masih bisa mengingat beberapa potong kenangan.
Ibu dan empat orang kakak perempuannya semuanya jelek. Itu sebut bapaknya selalu. Mereka tak ada apa-apanya. Rambut mereka jelek, telinga mereka jelek, pipi mereka jelek, alis mereka jelek, mata mereka jelek, hidung mereka jelek, bibir mereka jelek, gigi mereka jelek, dagu mereka jelek, leher mereka jelek, pundak mereka jelek, susu mereka jelek, tangan mereka jelek, pinggang mereka jelek, perut mereka jelek, pinggul mereka jelek, kemaluan mereka jelek, paha mereka jelek, betis mereka jelek, kaki mereka jelek, suara mereka jelek, bau mereka jelek, pikiran mereka jelek, semua mereka jelek.
Entah kenapa bapaknya berkata seperti itu. Di matanya, ibu dan kakak-kakak perempuannya tidak berbeda dengan perempuan kampung yang lain. Mereka selalu rajin mengurus rumah, giat bekerja di sawah dan di ladang, rutin mandi dan mencuci ke tepian, ke pasar sekali sepekan, pintar memasak, bicara lunak-lunak, melayani bapaknya dengan baik-baik meski merekalah yang mempunyai kuasa atas tanah, harta, dan rumah.
Bapaknya selalu marah-marah setiap saat pada mereka berlima. Mencaci-maki tanpa henti. “Babi! Babi!” Begitu serunya. Dia tak mengerti di mana letak kemiripan perempuan-perempuan itu dengan babi, tapi setiap kali bertanya, bapaknya dengan lantang akan berkata padanya, “Kau laki-laki, lebih tinggi dari perempuan. Mereka hanya babi.”
Dia tak benar-benar mengerti maksud perkataan itu, namun dicobanya juga meresapi sebab bapaknya selalu bersikap baik dan hangat padanya. Setiap kali di televisi atau koran atau majalah ada gambar babi, akan diperhatikannya dengan saksama. Dia memang tak menemukan sedikit pun kesamaan antara bagian-bagian tubuh binatang itu dengan ibu dan empat orang kakak perempuannya, dia hanya mendapat kesan jijik dan hina. Pelan-pelan dia menelan petuah bapaknya bahwa perempuan-perempuan itu hanya babi. Dia lebih tinggi dari mereka sebab bapaknya tak pernah mengatakan bahwa dia babi.
Di hari libur, bapaknya akan mengajaknya pergi berburu babi dengan teman-temannya ke hutan di bukit pinggir perkampungan. Mereka akan berangkat pagi-pagi bersama anjing-anjing mereka yang gagah dan wangi–anjing-anjing itu selalu dimandikan dengan sabun dan sampo yang diiklankan oleh perempuan cantik dan diberi makanan baik. Dengan sukacita, dia kadang menggendong anjing-anjing bapaknya, apalagi si loreng yang patuh dan bersalak nyaring.
“Apakah kita sama dengan anjing?” Tanyanya suatu waktu setelah anjing-anjing mereka yang pemberani berhasil merebahkan seekor babi gemuk.
Bapaknya menyeringai memperlihatkan sepasang taring yang kentara. “Ya! Ya! Bolehlah begitu. Anjing; pemburu dan penakluk babi. Kenapa tidak. Nanti kau akan kuajari menundukkan babi-babi itu!”
Dalam rentang perkembangannya, dia pun menjadi yakin bahwa dia dan bapaknya adalah anjing dan ibu beserta empat kakak perempuannya adalah babi. Anjing dan babi. Anjing yang mengalahkan babi. Dia pun bersikap seperti bapaknya bersikap kepada ibu dan keempat kakak perempuannya. Dengan pintar dia mempelajari cara bapaknya bicara, memandang, makan, meludah, merokok, memerintah, menyapa, marah, kencing, tidur, berjalan, sampai dia dapat menirukan gaya salak, lolong, dengus, sampai gonggong dari mulut bapaknya.
Dia mempraktikkannya sehingga ibu dan kakak-kakak perempuannya menjadi kecut padanya seperti babi yang takut dikejar anjing di semak-semak.
***
Boneka itu mengusap pipinya. Matanya yang indah sesekali berkedip. “Tidurlah, Sayang. Bermimpilah yang indah.” Katanya sambil tersenyum.
Dia ikut tersenyum. Menatap wajah boneka itu dengan rasa terima kasih bertambah-tambah. Sinar lampu kamar itu lunak menenteramkan. Boneka itu pandai sekali menciptakan suasana yang nyaman.
“Kau pun tidurlah. Hari sudah malam.” Diangkatnya kepala untuk mendaratkan sebuah kecupan kecil di dahi boneka itu. Boneka itu memicingkan mata dengan bibir tetap tersenyum. Mereka merasa bahagia dengan malam yang sederhana.
Dia menatap langit-langit. Menghirup udara kamar yang beraroma sintetik. Direkanya gambar-gambar pada bidang-bidang pudar langit-langit. Wajah-wajah. Sketsa-sketsa. Detail-detail. Rupa-rupa itu tersapu oleh warna abu lalu nyala api. Dia menarik napas. Menoleh sekilas pada boneka di sebelahnya yang tertidur dengan bunyi dengkur tertegun-tegun. Kulitnya tak halus, wajahnya tak mulus, dan dadanya tak penuh.
Dialihkannya pandangan ke tubuhnya sendiri. Pernah dia membayangkan dirinya bersosok anjing dengan suara salak yang tampan. Dia akan berburu ke padang-padang dan lembah-lembah berbabi banyak dan memangsa mereka. Atau dia akan berjalan-jalan saja dengan jantan memperlihatkan kerupawanannya yang mengagumkan.
Dia telah melakukan.
Tetapi dia rindu rumah. Rindu pulang.
Tetapi ke mana?
Rumah telah terbakar bersama bapak anjing serta ibu dan kakak-kakak perempuan babinya.
***
Setiap kali meninggalkan tempat kerja, dia akan menghabiskan sisa sore di sepanjang koridor pertokoan yang tak berkesudahan. Melihat-lihat orang yang berlalu lalang. Melihat-lihat pajangan. Melihat-lihat boneka-boneka perempuan yang tertegak menawan dengan pakaian bagus membalut kulit halus, wajah mulus, dan dada penuh. Dia akan memandang mesra dari sebuah titik mengajak boneka-boneka perempuan itu bercakap-cakap tentang harapan dan angan-angan.
“Aku ingin perempuan yang setia, yang selalu melayaniku dengan hangat. Kaukah itu?” Bisiknya setengah merayu.
Boneka perempuan berbaju tipis itu menggelinjang kecil.
“Ya, itulah aku. Aku akan selalu setia dan melayanimu dengan hangat.”
“Aku ingin perempuan yang selalu menyambutku dengan senyuman dan segelas air dingin setiap aku pulang kerja dalam kelelahan.”
“Ya, benar, itulah aku. Aku akan selalu menyambutmu dengan senyuman dan segelas air dingin setiap kau pulang kerja dalam kelelahan.”
“Aku ingin perempuan yang dapat membahagiakan hasratku.”
“Tentu, itulah aku. Aku akan membahagiakan hasratmu. Tak salah lagi. Kau yang utama bagiku.”
“Aku ingin perempuan yang tidak terlalu tolol untuk teman bicara dan bertukar pikiran tetapi tak terlampau cerdas membuatku jadi keledai dungu dengan perdebatannya.”
“Aiih, itulah aku. Aku tak terlalu tolol untuk teman bicara dan bertukar pikiran tetapi tak terlampau cerdas membuatmu jadi keledai dungu. Aku tak akan mendebatmu, membuatmu jadi kalah, cukuplah orang-orang di luar sana yang menyerangmu habis-habisan.” Boneka perempuan itu memandangnya mesra.
Dia menarik napas. Orang-orang berlalu-lalang. Laki-laki dan perempuan-perempuan boneka. Sebelumnya dia selalu memerhatikan perempuan-perempuan yang ditemuinya dengan saksama. Ada yang berhidung pesek, ada yang ramping aduhai, ada yang hitam, ada yang berambut pirang, ada yang jerawatan, ada yang harum semerbak, ada yang suka tertawa lebar, ada yang berperut buncit, ada yang berbokong besar, ada yang sipit, ada yang… amat banyak dan beragam. Hidup. Bernapas. Bersuara. Berbau.
Tapi dia selalu teringat pada rumah yang terbakar itu, pada orang-orangnya: anjing dan babi.
***
Sore sebentar lagi tuntas. Dia masih berdiri pada sebuah titik di depan sebuah butik. Matanya tak mau beranjak dari boneka perempuan berpakaian pengantin yang tegak di ruang pajang dengan begitu elok. Penciptanya dengan berhasil memberikan ekspresi seorang perempuan terhormat. Tubuhnya semampai, molek dalam balutan kain menjuntai, dan matanya sedikit menunduk malu seperti tersipu oleh tatapan tajam laki-laki itu. Mereka bercakap-cakap.
Laki-laki itu terus bicara dengan bonekanya, sampai sore tuntas dan perempuan boneka yang berdiri anggun di pintu masuk kehabisan kesabaran lantas menegurnya dengan suara yang tiris, bertanya dengan tidak yakin, “Cari apa, Bang?”
***
Ilalangsenja, Mei 2006