Kobar Api Yang Menjadi Embun

Cerpen: Nurul Fahmy

Hujan deras baru saja berhenti beberapa menit yang lalu, aku mengetahuinya dari titik-titik air yang menetes dan mengembun di kaca jendela kamar ini. Bunga-bunga dalam taman di halaman depan pasti porak-poranda dihantam air selokan yang meluap dan tergenang sampai ke tepi pintu. Air di selokan itu memang selalu meluap ketika salurannya mampet, dipenuhi limbah-limbah komplek perumahan sebelah. Orang-orang sebelah sana memang selalu mengirimkan limbahnya lewat saluran air yang melintasi depan rumah ini.

Hari telah menjelang siang, namun cahaya matahari terhalang awan gelap yang berputar-putar di atas sana. Pintu kamar terdengar dibuka. Seseorang masuk dan melangkah menuju ranjangku. Dari langkahnya yang terdengar berat, aku tahu, itu pasti Mister. Sambil menggeliatkan tubuhku yang terasa kaku, aku kembali menarik selimut. Pendingin ruangan dalam rumah ini sepertinya sangat banyak sekali, aku menggigil kedinginan.

Terdengar suaranya yang serak membangunkanku. Aku masih berpura-pura tidur. Mister menarik selimut panjang yang menutup tubuhku, lalu tangannya yang berbulu banyak menepuk-nepuk pantatku. Aku membuka mata, terasa dunia sekitarku berputar, kepalaku pusing, seluruh otot dan persendianku terasa kaku dan sakit.

Mister memandang kearahku. Aku diam saja, masih dalam posisi terbaring, aku memijit-mijit kening dan kepalaku, perutku juga terasa mual dan ngilu. Ia berjalan keluar kamar. Tak berapa lama, ia masuk kembali sambil membawa botol berisi obat dan segelas air putih.

“Makanlah, sebentar lagi sakit-sakit itu akan hilang, dan kamu akan segar kembali”. Katanya tersenyum sambil menyodorkan obat.

Hari ini, aku kembali tidak masuk sekolah. Entahlah, akhir-akhir ini aku malas sekali masuk sekolah. Aku kehilangan semangat menghadapi pelajaran-pelajaran di sekolah. Uhh, membosankan. Apalagi mengingat wajah Pak Gondo, guru sejarahku. Aku tak suka padanya. Bukan karena ia selalu menghukum setiap anak yang tidak membuat PeEr atau terlambat. Lebih dari itu, aku tak suka padanya karena penampilannya yang kuno dengan kacamata tebal dan kepala yang hampir botak Belum lagi, ketika ia menerangkan pelajaran, dari sela-sela bibirnya akan keluar liur yang berbusa-busa. Kami hanya menunduk ketika ia berbicara di depan kelas.Tapi, bukan hanya itu. Otakku rasanya tidak mau lagi menerima hal-hal formal dalam lingkungan sekolah itu.

Aku kembali terbaring di ranjang empuk ini. Tak terdengar lagi suara tak-tik-tuk pada keyboard, ketika Mister mengetik dikomputernya, atau tawanya ketika berbicara di telpon, entah dengan siapa. Mungkin Mister sedang pergi. Ia sering keluar, aku tak tahu kemana ia pergi. Setelah pulang, biasanya ia membawa makanan dan minuman yang dibelinya di restoran cepat saji beberapa meter di tikungan jalan tidak jauh dari tempat ini.

Mister sudah tiga tahun tinggal di daerah ini. Ia membeli rumah sederhana yang dirombaknya menjadi sangat indah. Aku sendiri tak pernah menanyakan pekerjaannya disini. Tapi yang pasti, setiap hari ia pasti pergi. Ada urusan, hanya itu katanya. Selama tiga tahun disini ia cukup akrab dengan penduduk sekitar. Ia sangat suka kepada anak-anak, terutama anak laki-laki.

Rumah ini sangat indah dan asri. Ruang tamunya penuh benda-benda antik dan kuno. Mandau, senjata khas suku di Kalimantan, Rencong dari Aceh, Arca dari Bali, guci-guci antik dan berbagai lukisan. Di salah satu lukisan yang berjejer memenuhi dinding ruang tamu, aku melihat lukisan Mister dengan seorang wanita dan dua anak laki-laki, mungkin tiga tahun lebih tua dari usiaku. Aku yakin sekali lukisan itu adalah lukisan Mister beserta anak dan istrinya. Aku pernah menanyakannya kepada Mister, tapi ia hanya tersenyum dan mengalihkan pembicaraan. Sepertinya ia tak ingin aku tahu lebih banyak, mungkin ada sesuatu yang sengaja dirahasiakan oleh Mister. Tapi, apa peduliku?

* * *

“Hai, Boy, kamu sudah bangun?”. Tiba-tiba terdengar suara Mister memanggil dari pintu depan. Aku segera turun dari ranjang empukku. Rupanya Mister sudah menunggu di ruang tamu dengan seorang anak laki-laki seusiaku. Sambil menghisap rokok dan membaca surat kabar, Mister berkata kepadaku, bahwa anak laki-laki seusiaku itu akan tinggal di sini bersama-samaku dan Mister, tentunya.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Sudah agak baikan Mister. Mmm, aku ingin pulang sore ini, sudah empat hari aku belum pulang, tentu keluargaku akan cemas kepadaku.” Aku mengutarakan niat kepada Mister.

“Pulang?”

“Benar Mister, aku cuma perlu istirahat di rumah selama tiga hari, setelah itu aku akan kembali kesini”.

Mister melangkah kedalam kamarnya, tak lama kemudian ia keluar, menatapku dengan agak lama. Mungkin ia heran, karena aku minta pulang, padahal baru empat hari aku disini. Memang, biasanya paling sebentar, tujuh sampai sepuluh hari aku disini. Orang tuaku tak pernah tahu keberadaanku disini. Aku hanya mengatakan, bahwa aku menginap di rumah Wayan, teman satu sekolahku. Dan orang tuaku percaya saja, apalagi setiap pulang aku selalu membawa uang. Hasil kerjaku, cuma itu yang kukatakan kepada mereka.

Mister tidak berkata-kata lagi. Ia hanya menyelipkan beberapa lembar uang kertas kedalam saku kemejaku dan kembali membaca berita di surat kabar, tanpa bertanya apa-apa lagi. Dengan gontai aku berjalan menyusuri jalur trotoar ke arah barat menuju jalan raya. Matahari sebentar lagi akan hilang. Jalanan ramai oleh lalu-lalang kendaraan dan manusia. Orang-orang sangat sibuk rupanya. Aku sangat suka keadaan seperti ini, walaupun tidak ikut dalam kesibukan itu. Aku hanya mengamati, mengamati lalu-lalang orang-orang yang sepertinya tak pernah habis-habis. Seorang atau dua atau serombongan lewat didepanku, setiap langkah mereka akan membuat tubuh itu mengecil dari pandangku, hingga benar-benar menghilang di tikungan jalan atau terhalang oleh tubuh-tubuh lain yang akan dan telah berlalu didepanku. Aku sering bertanya dalam hati, apa yang mereka lakukan, mengapa mereka terlihat sangat sibuk sekali. Terutama turis-turis itu, apa yang mereka cari di sini? Suatu malam ketika aku lagi berbaring-baring dikamarnya, aku pernah menanyakannya pada Mister.

“Apa yang mereka cari disini?”

“Siapa yang kau bicarakan?”

“Turis-turis itu, termasuk Mister.

“Oo, banyak hal yang kami cari disini, Indonesia adalah negara yang indah terutama Bali. Aku suka pantainya, pemandangannya dan budayanya. Semua terlihat alami. Gadisnya yang cantik-cantik, penduduknya yang ramah-ramah dan semuanya. Negara kami, negara kami adalah raksasa yang sangat rakus, pemakan segala, tidak pernah mengenal kenyang, setidaknya begitulah kata Umar Kayam, kamu pernah baca cerpennya? Oh, kamu tentu belum membacanya. Di sana, tidak ada hal-hal seperti di sini, semuanya begitu sibuk, cepat dan menjemukan. Kalau kau mau, nanti akan kuajak ke negaraku, kau dapat lihat semuanya secara langsung, bagaimana negara kami”.

“Mau, Mister, aku ingin sekali berjalan-jalan ke luar negeri, ajaklah aku menjalani dunia-dunia baru”. Kataku gembira.

“Tunggulah suatu saat nanti”. Pelan Mister membisikkan ketelingaku. Dan tangannya yang berbulu banyak merengkuh tubuhku. Perlahan ia meloloskan semua pakaiannya dan pakaianku. “Sekarang kita tidur, katanya sambil menarik selimut, lampu kamar tiba-tiba padam. Keadaan menjadi gelap. Dan aku tidak dapat memejamkan mata, hingga pagi tiba.

Uhh, aku meringis, menahan sakit pada ulu hati dan perutku, bagian selangkanganku terasa perih sekali.

* * *

Aku berdusta kepada Mister, sebenarnya aku bukan ingin pulang ke rumah, melainkan ingin ke dokter, aku ingin memeriksakan diri. Beberapa hari ini tubuhku lemas sekali, kepalaku sering sakit dan menyentak-nyentak. Ngilu disekujur tubuhku sangat menyiksa, belum lagi rambutku yang satu persatu mulai rontok.

Setelah mendaftar dan menunggu beberapa saat, aku masuk ke ruangan dokter. Setelah diperiksa, dokter memberikan secarik kertas berisi resep-resep obat. Aku berbohong kepada dokter, aku hanya mengatakan sakit pada kepalaku, mungkin karena terlalu banyak minum bir dan begadang hingga pagi. Ah, tentulah dokter hanya memberiku obat tidur atau penenang, selain obat sakit kepala.

Aku membatalkan niatku untuk pulang kerumah. Aku yakin, Orang Tuaku tidak mengkhawatirkanku, seperti yang kukatakan kepada Mister. Mereka justru senang jika aku tidak di rumah, apalagi Si Ular Betina itu. Perempuan cantik yang telah dua tahun ini menjadi istri bapakku. Setahun setelah kematian ibu. Aku tak tahu dimana bapak mendapatkannya. Dua tahun yang lalu, tiba-tiba bapak membawanya kerumah dan memperkenalkannya kepada kami–aku dan adik perempuanku. Biasa, awalnya semua baik-baik saja. Tetapi, tak lama kemudian Ular Betina itu mulai bertingkah. Aku sering melihatnya bertengkar dengan bapak Tak jarang pula ia memaki-maki kami dengan kata-kata kotor. Aku bahkan beberapa kali kena tamparnya, yang aku heran, bapak selalu membela Ular itu jika kuadukan perbuatannya. Sumpah, beberapa kali pula kulihat ia pulang dalam keadaan mabuk–jika bapak tidak di rumah–dan memasukkan laki-laki lain ke kamar tidur mereka.

Aku muak, sejak itu aku jarang pulang kerumah. Hingga aku bertemu dengan Mister, ketika aku sedang duduk-duduk di salah satu kafe. Michael, nama lelaki seusia bapakku itu. Tetapi, aku tetap memanggilnya Mister, menurutku itu lebih sopan dari pada hanya memanggil namanya saja.

Mister, lelaki yang baik dan simpatik. Setiap hari, biasanya ia menjemputku ke sekolah. Kemudian kami akan jalan-jalan sampai larut malam, menginap di hotel atau pulang kerumahnya. Ia selalu memberiku uang dan mengajakku minum-minum di kafe atau bar, kadang-kadang sampai kami mabuk.

Tak terasa, kakiku melangkah kembali menuju rumah Mister. Perlahan kuketuk pintu depan rumahnya. Tak lama kemudian Mister membukakan pintu. Aku langsung masuk mengikutinya menuju kamar. Di atas ranjang telah menanti anak laki-laki yang dikenalkannya padaku sore tadi. Tampaknya ia belum tidur. Tubuhnya tertutup selimut panjang. Aku yakin, ia tak mengenakan apa-apa pada tubuhnya dibalik selimut itu. Aku menyapanya dengan senyum. Mister menarik tanganku ketempat tidur. Lampu dipadamkan, dan kami tak tidur semalaman.

* * *

Pernah terlintas dalam benakku, untuk menghabisi nyawa Mister. Ah, itu tentu mudah sekali aku lakukan. Suatu malam, diam-diam aku keluar dari kamar–setelah bermain biasanya ia akan tertidur pulas, dapat aku pastikan oleh dengkurnya yang keras. Berjalan mengendap-endap menuju dapur. Aku tak ingin rencanaku gagal hanya karena Mister tiba-tiba terbangun misalnya, ketika mendengar langkahku. Di dapur, aku akan meraih sebilah pisau tajam atau belati yang tentu saja sudah kusiapkan sebelumnya. Pisau itu aku selipkan di balik baju, dan ketika tiba saatnya, aku akan menggorok batang lehernya dengan pisau ditanganku itu, atau menghabisinya dengan beberapa tusukan di dada, perut dan ulu hatinya. Tanpa perlawanan atau bahkan tanpa jeritan sedikitpun, Mister tentu akan tewas seketika.

Tapi, setelah itu, persoalan ini tentu tidak semudah yang aku pikirkan pada saat menghabisi nyawanya. Sekilas aku membayangkan sorot matanya yang seperti mengandung pesona magis. Otot-ototnya yang perkasa, tangannya yang berbulu banyak dan semua kebaikannya. Seperti telah timbul perasaan yang aneh dalam jiwaku. Semacam kepatuhan. Hidup puluhan tahun, telah mengajarkannya bagaimana menguasai perasaan orang lain. Walau dalam tidur sekalipun.

Pisau ditanganku akan terhempas di lantai, mengeluarkan bunyi bergedentang dan membangunkannya. “Mmmaaf, Aaaku, baru saja mengupas mangga”.

Mangga?

* * *

Sabtu yang melelahkan. Aku meringkuk dalam kamar yang dindingnya penuh dengan lukisan dan mainan anak laki-laki. Aku tidak pernah melihat mainan anak perempuan di sini. Ah, aku tahu, Mister tidak suka pada anak perempuan. Aku pernah menanyakannya kepada Mister, tapi ia hanya tersenyum dan mengalihkan pembicaraan. Aku tak ingin tahu lebih banyak, mungkin ada sesuatu yang sengaja dirahasiakan oleh Mister. Tapi, apa peduliku?

Mataku masih berat. Dalam samar aku lihat Mister mengemas tas dan laptopnya. Sesekali tatap matanya diarahkan padaku yang masih terbaring di atas ranjang.

“Aku harus pergi, ada janji dengan seseorang, aku harus menemuinya malam ini di Jimbaran.

“Michael…”

“Ya”. Ia agak sedikit kaget. Karena untuk pertama kali aku memanggil namanya.

“Bajumu bagus sekali”. Ucapku bersungguh-sungguh.

Lelaki itu tersenyum, lalu tertawa kecil. Ekor matanya melirikku, sepertinya ia sedikit malu mendapat pujian dariku. Itu bisa aku lihat dari wajahnya yang sedikit memerah. Mata? Kenapa mata mister terlihat kosong dan jauh? Dan bibir itu, pucat sekali. Apakah ia sakit? Aku tidak menanyakannya.

Sepeninggalnya, aku kembali melanjutkan tidur. Setelah bermain seharian dengan Mister, tubuhku terasa sakit-sakit kembali. Aku ingin melupakan sementara persolanku. Mengistirahatkan semua organ-organ tubuh yang terus-menerus bekerja selama 24 jam terakhir ini. Tapi, Rasanya baru beberapa jam aku memejamkan mata. Ketika terdengar suara telpon berdering. Dengan langkah berat, aku berjalan menuju telpon di ruang tamu. Dari suaranya aku tahu, ia anak laki-laki seusiaku itu. Hmm, ada apa ia menelpon kemari?

“Bagaimana keadaan Mister, apakah ia baik-baik saja?”.

“Ia tidak sedang di rumah, sore tadi ia pergi, ada janji dengan seseorang di Jimbaran”.

“Apa kau tak melihat berita di televisi malam ini?”.

“Aku baru saja terbangun ketika kau menelpon, ada apa?”.

“Bom itu meledak lagi”.

Aku segera menutup telpon dan buru-buru menyalakan televisi. Setelah menanti beberapa saat, mataku dengan jelas membaca nama-nama korban ledakan bom yang ditayangkan oleh televisi swasta itu.

Hening, hanya reporter yang terus berbicara. Pendingin ruangan dalam rumah ini sepertinya sangat banyak sekali, aku menggigil kedinginan.

Aku usahakan untuk tidak menangis. Namun, butiran-butiran air mata tak tercegah lagi, ia mengalir dengan sendirinya membasahi setiap kenangan. Lelaki seusia bapak itu melintas dalam ingatanku. Aku tak akan bisa melihatnya lagi dengan sempurna, walau untuk yang terakhir kalinya. Tubuhnya telah terpotong-potong dan menjadi serpihan-serpihan. Kaki, tangan, kepala dan bagian tubuh lainnya berserak entah kemana. Bayaran yang teramat mahal bagi Mister.

Televisi telah usai menyiarkan berita peledakan itu. Tapi, air mataku masih saja menggenang ke setiap kenangannya, perlahan-lahan mengalir dan jatuh, menetes menjadi kobar api, lalu padam menguap menjadi embun. Cepat kumatikan televisi. Berjalan ke kamar perlahan, sambil menahan nyeri pada ulu hati, perut dan bagian selangkanganku.

* * *

Padang, Oktober, 2005

Iklan