Kado Pernikahan

Cerpen: Noer Mursidi (Sumber: Suara Karya, Edisi 09/17/2006)

UNDANGAN pernikahan itu kutemukan tergeletak dan nyaris jatuh dari meja kerjaku, saat aku tiba di kantor tepat pukul sembilan kurang lima menit. Aku tak tahu siapa yang menaruh undangan itu di atas meja tepat di samping komputer dan tumpukan bukuku. Tetapi dari pilihan warna yang kuyu dan disain yang terkesan asal-asalan justru menarik perhatianku. Niatku untuk sarapan jadi tertunda.

Aku menyambar undangan itu. Kutemukan namaku tertulis di sana dengan benar. Tidak salah undangan itu ditujukan buatku. Tetapi, saat mataku membaca nama calon mempelai lelaki yang tertera dalam undangan, tiba-tiba jantungku berdetak kencang, mataku berkunang-kunang. Aku tidak percaya dengan apa yang kubaca, apa yang kueja, apa yang kubayangkan dan apa yang aku lihat dari deretan huruf yang tersusun dari nama calon pengantin, terlebih nama lelaki itu; ‘Gunawan-Layla, menikah, 23 Maret 2006’.

Aku menghempaskan tubuh dan terduduk lemas di kursi. Tetapi aku yakin bahwa undangan itu sebuah tipuan. Dalam benakku kali ini, aku benar-benar tak ingin dikelabuhi. Sebab ada tiga alasan yang membuatku yakin bahwa undangan itu adalah sebuah lelucon.

Pertama, aku yakin bahwa pernikahan itu hanyalah bualan, sebab lelaki itu sudah seringkali menipuku bahkan untuk urusan yang tidak bisa dibuat sekedar iseng. Aku masih ingat di subuh yang kelabu, lima tahun lalu. Subuh masih buta. Pintu kamarku diketuk dengan bunyi gedor yang memecah sunyi. Aku lalu membuka pintu. Kutemui mukanya kusut. Aku masih mengantuk. Tapi, saat dia masuk ke dalam kamarku bercerita jika adiknya di kampung mengalami kecelakaan dan butuh biaya, aku seperti dikerubuti rasa iba. Ujungnya, dia meminta bantuanku untuk meminjam uang. Aku terpaksa merelakan uang jatah makanku selama sebulan. Ia segera pergi. Aku menutup pintu kembali dan dari punggungnya yang tertutupi baju lusuh, kulihat semacam denah kesedihan sebelum sosoknya hilang di balik gelap.

Tetapi saat siang hari itu aku ke kampus dan menemui ia di loket pembayaran SPP, dengan senyum kecut aku baru sadar kalau aku telah dikelabuhi lelaki begudal itu. Uang itu bukannya untuk biaya pengobatan tetapi untuk membayar tunggakan SPP-nya. Setelah dia bercerita jujur, aku merasa ditikam sebuah pisau tepat di ulu hatiku, ia ngeloyor pergi, tanpa ada kata maaf, tanpa ada kata kapan ia akan membayar utang dan tanpa ada rasa sedih di wajahnya bahwa ia telah berbuat dosa. Anehnya, uang itu sampai kini belum dibayar. Padahal, setelah itu aku hidup terlunta-lunta karena tak memegang uang dan tak berani meminta kiriman dari rumah lagi.

Kedua, aku sama sekali tak percaya jika undangan itu serius karena lelaki itu – maaf jika hal ini harus kukatakan dengan jujur – tidaklah cukup tampan. Bahkan posturnya yang pendek, dengan hidung yang pesek dan muka sedikit monyong, aku tahu sendiri – selama aku masih tinggal di Yogya – ia tak pernah memiliki teman dekat perempuan. Pernah suatu hari ia berkenalan dengan adik angkatannya di perpustakaan, memintanya alamat serta berjanji untuk bermain suatu hari.

Janji itu, rupanya ingin dia tepati. “Dia itu cantik. Kamu harus tahu itu,” ceritanya, seraya menggeret tanganku untuk diajak bertandang. Aku menuruti. Sepanjang perjalanan, aku hanya diam. Ketika sudah sampai di depan sebuah rumah dan dia yakin dengan alamat yang dituju, dia cepat-cepat memejet bel. Sosok perempuan muncul dari balik pintu, menanyakan kepadanya. Ia menjawab sebuah nama dan perempuan itu masuk ke dalam. Dua menit berikutnya, perempuan itu muncul dan mengatakan bahwa perempuan yang dicari-carinya sedang tak ingin diganggu. Aku bengong dan melihat wajahnya ditikam resah, merah padam seperti diguyur air hujan. Ia mengajak pulang. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya dia mengumpat. Aku diam, tapi kesal karena itulah pengalamanku bertandang ke rumah orang, tak diterima sebagai tamu.

Ketiga, aku adalah teman dekatnya sehingga aku tahu dapur keuangannya. Uang dari mana jika ia akan melangsungkan pernikahan, sementara sampai saat ini ia masih nganggur, memiliki banyak tanggungan utang yang belum terbayar; sedangkan dia itu adalah anak yatim dan biaya kuliahnya dari santunan teman-teman. Karena itulah, aku yakin dan punya firasat bahwa undangan yang dia kirim itu semata-mata dimaksudkan untuk membohongiku supaya aku memberinya kado pernikahan berupa cek. Apalagi, ia tahu kalau kini aku kerja di Jakarta.

‘Ya…., jika itu yang kau harap dariku, akan kutulis dalam secarik kertas sesuatu yang sangat bernilai,’ pikirku. Berapa pintamu?

Aku segera beranjak ke kantin, sebab perutku sudah menagih untuk diisi. Dalam perjalanan ke kantin itu, kepalaku dialiri sejumlah ide, kenangan masa lalu ketika aku masih kuliah di kota Gudeg, sejumlah kisah hidup yang pahit bersamamu yang membuatku kerap memarahimu, namun esoknya kamu tetap datang ke kost-ku dengan senyum yang renyah, seakan tidak pernah ada sengketa, tanpa pernah ada duka.

* * *

SETELAH perutku terisi aku kembali ke kantor. Rasa penasaran masih mengganjal di dalam benakku. Apa yang harus aku berikan kalau dia ternyata menikah betulan dan undangan itu bukanlah sebuah lelucon? Aku pasti akan malu, sebab saat dia mengantar keberangkatanku ke Jakarta, setengah tahun lalu di stasiun Tugu, masih aku ingat ucapannya yang terasa getir di telingaku, “Kawan…, gimana kalau kita taruhan siapa yang akan menikah duluan?”

Aku membalas dengan senyuman. Aku pasti akan menang taruhan karena saat itu aku sudah tunangan. Lambaian tangannya masih sempat kurasakan sampai sekarang ini dan di kantor ini. Seketika aku merasa kangen dan ingin meneleponnya. Tetapi rencana itu kuurungkan. Aku justru memejet nomor lain, salah seorang temanku yang masih tinggal di Yogya.

Sejurus kemudian, aku dengar salam membahana. Aku membalas, dan kutanyakan kabarnya. Kurang lebih lima menit, kami saling bertukar cerita. Tetapi, sebelum aku bertanya, tiba-tiba kawanku itu berkata yang nyaris membuat jantungku copot dan apa yang kupikirkan ternyata jadi kenyataan, “Eh, kamu mungkin tidak percaya! Gunawan seminggu lagi akan menikah lho!”
Deg!!!! Jantungku berdegup tak karuan.
“Apa kamu sudah menerima undangan darinya?”
Aku bingung mau menjawab apa.
“Eh, kok diam aja!!!”

“Sudah, kok!” jawabku bergidik, “Ini baru saja aku terima di kantor! “Doakan aku bisa hadir dan kita bisa bertemu di pesta pernikahan itu!” lanjutku, seraya menutup telpon.

Kepalaku, seketika terasa pening. Ide serta kenangan tentang masa lalu, saat aku hidup di Yogya entah kenapa mendesak-desak di batok kepalaku dan aku tidak ingin ide itu hilang. Karenanya, aku segera menyalakan komputer lalu menulis sebuah kisah tentang temanku yang mau menikah minggu depan itu. Ada kenangan yang sampai kapan pun tidak akan bisa terhapus dari kepalaku, kenekatan yang selalu membuatku terhenyak kaget, tatkala dia memutuskan untuk kuliah dan kini di luar dugaanku dia memutuskan menikah, padahal ketika masuk kuliah dan menikah, aku tahu betul ia tidak memiliki uang sama sekali bahkan masih menanggung utang yang belum terbayar.

* * *

SEKITAR tiga jam berikutnya, kisah yang kutulis itu sudah selesai. Aku menarik napas lega, menghempaskan tubuh ke kursi. Sejurus kemudian aku merasa plong dan ingin ke kamar belakang. Tapi saat aku mau beranjak, telepon di mejaku berdering. Aku mengangkat telepon, kudengar suara seorang lelaki dari seberang mengucapkan salam. Aku menjawabnya, meskipun dengan harapan telepon itu salah sambung. Tapi harapanku itu ternyata salah.

“Eh, jangan kerja terus, kawan! Uang bisa dicari, tapi kapan kamu married?”
“Maaf ya.. ini siapa?” tanyaku penasaran.

“Sombong benar kamu sampai lupa dengan teman akrab. Tidak lucu tahu! Kamu lupa suaraku ya…, mentang-mentang kini sudah menjadi orang metropolis!” serak suaranya itu membuatku teringat kepadanya. Tawanya ngakak, membuatku bergidik seketika.

“Eh, undangan dariku sudah diterima… kan? Aku berharap kehadiranmu. Awas jika sampai kamu tidak hadir! Cukup di sini persahabtan kita!”

“Hup…. hup…,” kataku gelagapan, “Kamu tahu sendiri aku tidak bisa ambil cuti di saat-saat genting seperti ini. Apa kamu ingin aku dipecat hanya gara-gara menghadiri pesta pernikahanmu?”

“Ya, kupikir lebih baik kamu dipecat daripada tidak lagi tahu kawan seperjuangan. Apakah kamu segan hadir gara-gara kamu kalah keduluan menikah?”

“Ya, aku kalah. Tetapi, santai! Aku tak lupa dengan kado pernikahan untukmu. Ini sudah aku persiapkan. Aku sadar diri, bukankah itu yang kamu harap dariku?”

“Ya… ya…, kamu tahu apa yang aku inginkan. Ingat, tulis cek dalam sejumlah uang yang bisa kugunakan bulan Madu ke Bali. Jika cek itu yang kau kirim, aku doakan kau segera menyusul. Memang apa yang kamu cari, masak aku yang nganggur saja berani menikah, sementara kamu yang sudah kerja, dapat penghasilan besar masih ragu. Apa yang membuatmu takut?”

Gagang telepon masih bergetar di telingaku. Aku sebenarnya ingin memutus telepon, karena di telingaku, aku rasa setiap kali omongan yang dilontarkannya adalah petir. Tapi saat telepon itu diputus, aku justru merasakan getaran dari sebuah kenangan yang telah lama tak kutemukan.

Sejurus kemudian aku menarik nafas panjang. Aku lalu mencetak kisah yang tadi aku tulis. Segera kumasukkan ke sebuah amplop. Dalam hati, aku merasa tidak enak. Tetapi mau bagaimana lagi, kelender di meja kerjaku sudah menua. Uangku juga sudah habis kukirim ke rumah, bahkan aku sudah mencatat bon di kantin untuk makanku dalam beberapa hari ini.

Karena itu, saat merekatkan bibir amplop, aku tersenyum sendiri. Aku membayangkan raut wajahnya, saat dia membuka amplop hanya menemui cerita pendek ini, bukannya sejumlah uang. ***

Kado Pernikahan buat Sakir-Ela