Calon Istri

Cerpen Ngarto Februana

Pacarku minta dilamar. Sudah kupenuhi. Lalu, dia minta tunangan. Itu pun telah kulakukan. Kujual sepeda motorku. Kubelikan cincin, gelang, dan kalung serta seperangkat pakaian sebagai peningset. Kini, ia minta segera dinikahi. Waduh! Nanti dulu. Aku belum siap. Siang telah lewat ketika itu. Hari menjelang sore. Puncak Gunung Merapi berselimut awan. Angin berembus semilir, menebarkan bau tanah persawahan yang baru dibajak. Gadisku sudah menunggu di depan rumah. Ia duduk di atas lincak sambil memandang ke kolam lele. Rambutnya panjang terurai. Dan, wajahnya tidak… wajah itu tidak lagi berseri seperti hari-hari yang telah lewat. Ia tampak sedih.

Tekadku sudah bulat. Bagiku Yogya tidak memberikan peluang dan kesempatan untuk menjual keterampilan, ilmu, dan ijazah kesarjanaanku. Sudah dua tahun sejak aku lulus dari perguruan tinggi, aku menghabiskan waktu dengan percuma. Dua tahun di Yogya hanya untuk melamar pekerjaan dan ditolak. Sementara, orang tuaku di Malang menuntut agar aku segera memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan gelar kesar-janaanku. Ah, dua puluh empat bulan di kota gudeg itu aku seperti gombal!

Tekadku sudah pasti. Aku akan berangkat ke Jakarta seperti kata orang “mengadu” nasib. Dan, sore itu aku hendak pamitan kepada pacarku dan keluarganya. Ah, barangkali aku terlalu sentimentil waktu itu. Aku membayangkan diriku seperti seorang prajurit yang hendak pergi ke medan perang, berpamitan dengan calon istri, meminta doa restu agar selamat dan bisa kembali pulang dengan membawa kemenangan.

Dengan berat hati Darsih, demikian nama pacarku, melepas keberangkatanku. Ia mengantar aku sampai stasiun Tugu. Masih kuingat lambaian tangannya dan gerak bibirnya mengucapkan selamat jalan. Dan, tatapan matanya itu… seakan penuh harapan agar aku, suatu ketika, kembali dengan membawa kesuksesan dan segera menikah.

Pacarku minta segera menikah. Itulah yang senantiasa terpikir olehku dan men-dorongku untuk segera dapat pekerjaan, mengumpulkan uang, lalu kawin. Mungkin, jalan pikiran Darsih cukup sederhana. Maklum, dia gadis desa. Dua puluh kilometer di utara Kota Yogya, di sanalah desanya. Meski ia lulusan SMA, tapi karena lingkungan dan lingkup pergaulannya sempit, ia tak memiliki wawasan jauh ke depan. Ia tak berminat melanjutkan sekolah. Gadis berambut panjang dan berkulit putih itu, begitu lulus SMA inginnya segera kawin. Tapi, aku tak menyesal punya pacar gadis desa seperti Darsih. Juga tak menyesal pernah KKN di desanya yang hasilnya, ya, memperoleh pacar anak kepala dukuh itu.

Sebuah kampung padat di Lentengagung, Jakarta Selatan, di sanalah aku tinggal. Bersama tiga orang teman, sesama pencari kerja, aku mengontrak rumah petak yang tidak begitu luas. Sesak memang, tapi aku harus bersyukur bahwa aku masih punya tempat berteduh di belantara Ibu Kota ini. Dan, di sanalah pangkalanku. Pagi berangkat, entah mencari informasi kerja atau mendatangi kantor-kantor yang membuka lowongan pekerjaan, atau pergi ke kantor pos untuk mengirim surat lamaran.

Tiga bulan di Jakarta, aku tak memperoleh apa yang kuinginkan. Telah sekian puluh berkas lamaran aku kirimkan. Tapi, tak satu pun panggilan kuterima. Sementara uangku sudah sangat menipis dan orang tuaku di Malang sana tak mau mengirimkan uang lagi kepadaku. Teman-temanku satu kontrakan nasibnya setali tiga uang. Sama! Demi perut yang setiap hari harus diisi, mereka nekat melenyapkan rasa gengsinya. Seorang teman jadi kondektur bus patas jurusan Depok-Grogol. Dua orang lainnya nekat jualan koran di kereta rel listrik Bogor-Kota. Aku sendiri belum berani nekat seperti mereka. Malu! Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika pacarku sampai tahu aku jualan koran atau jadi kondektur bus kota. Ia terlalu bangga denganku. Bangga punya pacar seorang sarjana–maklum gadis desa. Ia sangat berharap kepadaku. Dan, yang terbayang dalam benaknya adalah aku dapat pekerjaan yang layak sebagai seorang sarjana. Ia tak tahu bahwa di Jakarta, juga di kota-kota lain di negeri ini, jumlah sarjana yang menganggur meningkat tiap tahunnya.

Hingga pada suatu ketika muncullah titik terang. Aku dapat panggilan wawancara kerja di sebuah lembaga pendidikan di Salemba untuk posisi guru bahasa Indonesia. Aku mulai optimistis dan yakin aku pasti diterima.

Waktu itu hari masih pagi. Aku sengaja bangun bagi-bagi benar, menyiapkan berkas-berkas yang harus kubawa. Tak lupa aku berpakaian rapi. Agar tidak sampai terlambat, aku merencanakan datang di tempat satu jam lebih awal.

Aku tak menyangka jika akhirnya hari itu adalah hari yang sangat menentukan dalam sejarah hidupku. Begitu turun dari kereta di Stasiun Cikini aku melihat banyak orang. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan. Ada apa gerangan? Aku bergegas keluar stasiun. Setengah berlari aku menuju Jalan Diponegoro. Aku bingung. Aku harus naik bus yang lewat Salemba, tapi orang begitu banyak. Jalanan macet total. Jadi, aku mesti jalan kaki ke Salemba. Tapi, orang-orang itu? Ya, Tuhan, untuk apa mereka berteriak-teriak, memaki-maki, lari ke sana kemari, dan melempari gedung-gedung dengan apa saja. Astaga! Ada mobil dibalik dan dibakar. Aku bingung, apa yang harus kulakukan. Aku berada di antara massa yang mengamuk, padahal aku harus segera sampai ke kantor lembaga pendidikan itu untuk tes wawancara kerja.

Sirine meraung-raung. Massa makin beringas. Gedung-gedung dirusak dan dibakar. Aparat keamanan sibuk meredakan kerusuhan. Sedangkan aku? Terperangkap di antara massa yang kian beringas. Aku lari ke Jalan Proklamasi. Sama saja. Di sana pun ribuan orang melakukan hal serupa. Aku kembali ke Jalan Diponegoro. Duh, tasku hilang entah ke mana. Dan, orang-orang ditangkap. Aku bermaksud keluar dari perangkap massa yang kian brutal. Tapi,…

Sirine terus meraung-raung. Gas air mata disemburkan. Juga kudengar suara tembakan. Aku berusaha terbebas dari perangkap massa. Tapi, dari belakang kurasakan ada yang mencekal lenganku. Petugas menangkapku. Aku dibawa dengan truk warna hijau.

Tak kusangka jika beginilah akhirnya. Aku mendekam di kamar tahanan. Satu hari, dua hari, satu minggu, dua minggu aku meringkuk di tahanan menunggu diajukan ke persidangan untuk sebuah kesalahan di luar kehendakku.

Pada satu ketika, tiga orang temanku–entah mereka tahu dari mana–datang menjenguk ke Rutan Salemba. Mereka membawakan pakaian, makanan, rokok, dan… ini yang mendebarkan hatiku: surat dari pacarku! Kubuka dan kubaca surat itu.

Mas Tony yang baik, aku dengar kabar bahwa Mas terlibat kerusuhan di Ibu Kota. Saya sempat syok. Saya tak menyangka jika Mas Tony turut melakukan keberingasan. Bahkan, katanya, Mas Tony sebagai dalang di balik kerusuhan itu. Saya sedih… saya malu sama tetangga. Semua tetangga sudah tahu, Mas Tony dipenjara…. Bukannya saya tak cinta lagi…. Dengan berat hati kita putuskan saja tali cinta kita….

Masih kuingat lambaian tangannya dan gerak bibirnya mengucapkan selamat jalan. Tatapan matanya seakan penuh harap, suatu saat nanti, aku akan kembali dengan membawa keberhasilan. Lalu, kami akan menikah. Ah, segalanya harus kulupakan. Cincin tunangan di jari manisku segera kulepas. Lalu, kulempar begitu saja ke sudut ruangan. Ya, segalanya harus kulupakan, termasuk lambaian tangannya dan gerak bibirnya mengucapkan selamat jalan….

***

Cikini, 1997