Bidadari yang Mengambil Mata Saya

Cerpen: Ndika Mahrendra (Sumber: Lampung post, Edisi 09/24/2006)

“Maafkan aku, sungguh aku sangat terpaksa melakukan hal ini. Kelak, ketika engkau telah tiba pada suatu tempat, di mana Tuhan kita membuang Adam, saat engkau telah tumbuh dewasa, maka engkau akan tahu betapa tidak bergunanya mata. Sebab, pada saat itu orang-orang tak dapat lagi membedakan, tak dapat lagi menilai. Pada saat itulah, sayang, aku akan datang padamu dan mengembalikan matamu. Untuk sementara lahirlah tanpa mata, biarkan matamu aku bawa, akan selalu aku doakan ia, agar kelak saat aku mengembalikannya padamu, ia mampu membedakan segala sesuatu. Maka pada saat itu engkau harus bersiap menjadi seseorang yang paling terasing”.

KATA ibu, aku dilahirkan pada sebuah rumah yang mewah, milik kakek dari ayahku. Sebelum aku dilahirkan, kehidupan mereka selalu menyenangkan, penuh canda tawa dan suasana yang sangat intim. Terlebih ketika ibuku mengandung aku, setelah hampir tujuh tahun ibu mengalami masa menunggu yang mendebarkan. Kakek dan nenek selalu memanjakan ibuku, sebab ibuku adalah istri dari anak semata wayangnya, dan sudah barang tentu mereka mengharapkan ayah dan ibuku memberikan seorang cucu untuk melestarikan keturunan mereka.

Setiap hari ibu dilayani layaknya seorang putri, bahkan makan pun nenek yang menyuapinya. Setiap sore, mereka semua duduk di teras rumah, memutarkan musik Mozart, agar kelak bayi yang ada dalam kandungan ibu menjadi anak yang pandai. Kakek mengupaskan buah-buahan untuk ibu, sampai ayah pulang dari kantor dan memarahi kakek dan nenek, sebab menurut ayah tak baik seorang yang tengah hamil di luar rumah saat menjelang petang.

Pada saat usia kandungan ibu berumur tujuh bulan, rumah mewah itu menjadi benar-benar ramai, akan diadakan acara tujuh bulanan. Kata ibu, ia dirias sangat cantik, dengan gaun yang mewah dan sandal jinjit yang tinggi. Tetangga-tetangga dekat diundang, juga seorang ulama yang tak jauh dari rumah kakek.

Semua undangan duduk dengan tenang, dengan sesekali menyeruput minuman dan menyantap kue-kue yang telah dihidangkan. Tak lama kemudian terdengar suara orang mengaji yang sangat indah. Semua orang yang ada dengan serentak diam, menghentikan percakapan mereka. Setelah pembacaan itu selesai, kakek memberi sambutan pada segenap tamu, mengucapkan terima kasih karena mereka menyempatkan waktu mereka yang sangat padat dengan bermacam agenda kerja untuk datang dalam acara yang membahagiakan itu.

Dari dalam kamar, di mana ibu tengah dirias, terdengar suara kakek yang tengah memberi sambutan. Kemudian nenek membawa ibuku turun menemui para undangan, sebab setelah sambutan dari kakek akan ada acara siraman rohani yang disampaikan oleh ustaz yang telah diundang, tentang bagaimana cara mendidik anak-anak yang diajarkan agama.

Semua tamu terkesiap saat ibuku turun dari tangga dan menuju ke arah mereka. Sayang sekali, terkesiap itu tidak berlangsung lama, sebab kaki ibu terkeseok dan jatuh terguling dari tangga. Semua orang yang ada saat itu secara serentak menjerit. Selangkangan ibu mengeluarkan darah. Ayah, kakek, dan nenek bergegas membawa ibu ke rumah sakit, dengan sebuah mobil.

Sejak kejadian itu, rumah menjelma sebagai sirkus orang-orang yang pucat, kesedihan tergaris pada kening ayah, kakek, dan nenek, membuat ibu mengalami ketegangan yang tak dapat ditawar. Dan pada sebuah malam, saat ayah dan ibu duduk berdua di kamar, dengan nada dasar yang sangat berat, ibu bertanya pada ayah perihal apa yang membuat keluarga yang sebelumnya menyenangkan itu menjadi seperti ruangan para pidana yang cemas menunggu eksekusi. Dengan suara yang menggetarkan, seperti suara dari negeri yang entah ada di mana, ayah memberi tahu ibu; bahwa bayi yang tengah ibu kandung, sebab kecelakaan itu, jika kelak terlahir akan menjadi bayi yang cacat. Bayi yang sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk tahu apa dan bagaimana ayah dan ibunya, bagaimana rupa dunia.

Ibu seperti dilemparkan pada sebuah ruangan yang setiap sudutnya memancarkan sinar laser, yang jika tersentuh sedikit saja maka ia akan hancur. Ibu merasakan sinar itu kian mendekat, membangun sebuah ruang yang menyekatnya untuk menemui ayah, kakek, dan nenek. Ruangan itu meredamkan setiap apa saja yang dikatakan ibu, tidak memberi kesempatan pada ibu untuk sekadar berkata maaf, tak mampu membahagiakan mereka. Hingga pada suatu malam, sinar merah itu memaksa ibu untuk keluar, untuk keluar, dan meninggalkan semuanya, rumah, keluarga dan segala sesuatu yang ada di rumah kakek.

Ibu pergi tanpa mampu membawa apa pun, selain telepon genggam yang masih sempat ia bawa, saat sinar merah itu menyerang. Dari telepon genggam itulah ibu tahu bahwa ayah dan semua yang ada di rumah kakek mengalami cemas yang akut, mereka selalu berharap agar ibu kembali ke rumah itu. Mereka akan menerima kejadian itu dengan apa adanya, bahkan kata kakek dalam sebuah pesan singkatnya; jika kelak bayi yang dilahirkan ibu sudah menginjak dewasa, ia akan mengoperasi matanya agar dapat melihat. Namun ibu membalasnya dengan sangat singkat; maafkan aku yang tak dapat memberi kebahagiaan. Hanya itu, sebab ibu segera menjual teleponnya untuk ongkos kepergiannya. Sebuah kepergian untuk menepi, meninggalkan sesuatu bukan untuk mencari sesuatu.

Ibu kemudian memelukku dengan erat. Aku merasakan ada sesuatu yang terjatuh dan dingin dari matanya. Dengan kemurungan yang tak dibuat-buat, ia meminta maaf padaku karena tak dapat memberi kebahagiaan. Selalu kata-kata itu yang aku dengar setiap kali aku pulang dengan bersedih sebab ejekan teman-teman sepermainanku.

***

AKU tumbuh menjadi seorang lelaki yang tak banyak tahu tentang dunia luar, tentang apa dan bagaimana ibuku bekerja keras untuk membiayai kehidupan kami. Aku hanya tahu dari ibu bahwa di luar sangat tidak menyenangkan, lebih baik di kamar saja. Dan saat aku bertanya padanya kenapa ibu seringkali keluar, padahal di luar tengah rusuh, maka dengan membelai rambutku dengan kasih sayang yang sesungguhnya, ia akan menjawab; itu semua ibu lakukan untuk membiayai kehidupan kita. Kalau ibu tidak keluar, maka kita mau makan apa.

Sebagai seorang yang berkembang sebagaimana mestinya, aku juga memiliki rasa keingintahuan yang besar tentang apa yang terjadi di luar. Maka pada suatu sore, saat ibuku belum pulang dari bekerja, aku mencoba keluar dari rumah. Aku berusaha menandai jalan yang aku lewati agar saat kembali aku tak tersesat, sampai akhirnya aku mendengar suara anak-anak yang aku yakini seusiaku, tengah bermain-main. Aku menghampiri mereka dan meminta agar aku boleh bermain bersama mereka. Namun mereka mengejekku, dengan serapahan, bahkan ada di antara mereka yang menjorok-jorokkan kepalaku. Mereka bernyanyi dengan sangat serempak, mengatakan aku buta. Suara mereka semakin keras, dan semakin banyak saja yang mendorong dan menjorokkan kepalaku. Sampai akhirnya ibu datang, membawa aku untuk pulang.

Sesampainya di rumah, ibu memeluk aku erat, dengan tetes-tetes air dari matanya, dan meminta maaf padaku karena ia tak dapat membuat aku bahagia. Setelah itu ia menidurkan aku di ranjang, sambil menasihati aku agar aku tidak mengulangi pergi dari rumah lagi. Dan aku tertidur pulas.

Malam itulah, aku terdampar pada suatu tempat yang benar-benar sepi, tanpa suara apa pun. Di sana aku dapat melihat daun-daun yang gugur. Aku melihat kota-kota yang hancur, rumah-rumah yang dindingnya rubuh, namun tak aku temui seorang pun di sana. Aku mencoba mencari-cari seseorang, hanya untuk sekadar bertanya apa yang sebenarnya baru terjadi, atau setidaknya aku tahu di mana aku sedang terdampar. Aku berjalan menyusuri tanah yang pecah-pecah, melewati rumah-rumah yang dindingnya rubuh.

Cukup lama aku mencari-cari, sampai pada sebuah sudut rumah yang dindingnya pada beberapa bagian belum runtuh, aku menemukan seseorang. Ia berdiri dengan posisi membelakangi aku, rambutnya yang panjang tergerai, dengan aroma wangi ribuan bunga.

Aku mendekatinya, mencoba bertanya apa yang sebenarnya terjadi atau bertanya di negeri mana aku terdampar. O, Tuhan. Entah karena apa, tiba-tiba aku tak dapat mengeluarkan suara apapun. Aku hanya tergagap, aku hanya tergagap.

Tanpa menoleh, dalam posisi yang membelakangi aku, ia berkata dengan sangat perlahan; Sayang, jika engkau memiliki mata, maka hal yang menakutkan seperti ini akan engkau lihat setiap saat, di manapun engkau berada. Kemudian ia menghilang begitu saja, dengan tetap tanpa menoleh.

Pagi-pagi, seusai salat subuh, aku menceritakan mimpi misterius itu pada ibu. Ibu mengatakan bahwa itu hanya kembang tidur saja, tak perlu dipikirkan berlarut-larut.

***

MIMPI sialan itu selalu datang setiap malam, dengan percakapan yang tidak adil, sebab hanya dia, sosok perempuan yang membelakangi aku itu yang berbicara. Namun pada suatu malam, entah malam yang keberapa, aku mampu berkata-kata, meski hanya sekadar bertanya siapa sebenarnya kamu. Dengan nada yang pelan, bahkan aku hampir tak dapat mendengar, ia menjawab, bahwa ia adalah bidadari yang pernah mengambil mataku.

Aku mendekatinya, mencoba menyentuh pakaiannya yang putih, dengan kibaran selendang dan kerudung yang teramat harum. Namun sebelum hal itu berhasil aku lakukan, seperti biasanya, ia pergi begitu saja.

Mimpi-mimpi itu membuatku semakin gelisah, sebab selain ingin tahu lebih banyak tentang apa dan bagaimana dunia luar, aku juga ingin tahu siapa dia dan apa yang sebenarnya ia inginkan dariku, sehingga selalu mendamparkan aku pada sebuah negeri yang hancur. Mendamparkan aku pada sebuah ruang yang selalu diselumuti pertanyaan yang menumpuk.

Malam ini aku semakin cemas, sebab bayangan perempuan yang mengaku bidadari itu selalu muncul, dengan keadaan yang membelakangi aku. Dengan mengandai-andai, mengira-ngira, aku mencoba membayangkan wajahnya. Seseorang yang bermata lentik, dengan tatapan mata yang menyejukkan, serta senyuman yang selalu terkembang. Setelah itu maka kami akan bercakap-cakap, berjalan bersama, sampai akhirnya aku terkejut dan ketakutan, sebab ia kembali mendamparkan aku pada sebuah negeri yang hancur.

Aku berusaha untuk tidak tidur, sebab tidur sama saja dengan berjalan menuju dunia teror. Maka aku memutuskan berjalan keluar, dengan tanda-tanda jalan yang setiap hari selalu aku tandai.

Setelah berjalan cukup jauh, aku mendengar sebuah suara yang tengah mengaji, terasa tenang, kemudian aku mendekatinya. Aku mengucapkan salam, sebelum akhirnya kepalaku membentur kaca jendela. Suara orang yang mengaji itu terdiam, kemudian digantikan dengan sebuah suara kaki berjalan dan mendekatiku. Ia membimbing aku masuk, dan menanyakan padaku tentang apa yang tengah melandaku, sebab katanya ia tahu dari wajahku ada yang menggelisahkan. Aku pikir tak ada salahnya jika aku menceritakan pada lelaki yang dari suaranya aku mengira telah berumur empat puluhan tahun itu.

Lelaki itu meyakinkan aku bahwa tak ada yang perlu dicemaskan, sebab tak ada mimpi yang dapat menyekap kita, selama kita tahu bagaimana kita harus segera bangun. Maka aku mulai memejamkan mata, dengan sebelumnya berdoa agar perempuan itu tak datang menggangguku, kalaupun datang ia tak mendamparkan aku pada sebuah negeri yang hancur.

Malam ini aku sangat muak, sebab aku kembali terdampar di tempat sialan ini, di suatu tempat yang tanahnya pecah-pecah, rumah-rumah yang dindingnya rubuh. Pada sudut rumah yang sebagian dindingnya belum rubuh, aku kembali menemukan perempuan berbaju putih itu. Kali ini ia membalikkan badan, menatapku dengan sendu, dan tersenyum. Pada tangannya yang mengembang, ia membawa dua biji mata. Ia memberi isyarat agar aku mendekat padanya.

Aku berjalan mendekatinya. Namun lima langkah sebelum aku benar-benar berhadapan dengannya, aku dikagetkan dengan suara-suara yang keluar dari tanah yang pecah-pecah itu. Tepat di belakangku, mulai bermunculan ular berkepala manusia, dengan mata yang merah menyala menatap garang. Aku mempercepat langkah mendekati bidadari itu. Ia mengulurkan dua biji mata itu padaku, dengan suara pelan yang hampir tak terdengar; terpejamlah, saatnya aku mengembalikan matamu. Ia kemudian terdiam sesaat, sepertinya setelah jeda yang menggetarkan itu akan ada banyak hal yang ingin ia katakan padaku. Namun sialan, aku terkejut oleh suara teriakan, membangunkan aku dari mimpi. Aku terkejut bersamaan dengan gembira, sebab keajaiban telah datang; aku dapat melihat. Aku dapat melihat! Namun tak jauh di depanku, seorang lelaki bersarung, dengan tasbih di tangannya, tengah dililit ular-ular berkepala manusia, dengan mata yang merah garang. Ular-ular itu, mata yang merah dan garang itu, seperti ular-ular dalam negeri hancur di mana aku pernah terdampar.***

Yogyakarta, 2006