Malam Lebaran di Kota Senja

Oleh N. Mursidi


Mataku tiba-tiba hilang tujuan. Kabut senja dalam perjalanan pulang ke kampung halamanku kali ini, entah kenapa, justru menyingkap langit tampak jadi kemerahan. Sementara, jalanan sungguh lengang seperti sebuah kehidupan di tengah malam saja. Padahal senja belum sirna. Bahkan saat bus resek yang membawaku pulang membelah petang itu melintasi sebuah hutan, pelangi masih kulihat menggoreskan lapisan warna-warni di lembaran langit, seolah menjelma jadi lampion cahaya di pucuk-pucuk dedaun.
Bus masih terus melaju dan menerobos lengang dalam keremangan senja. Tapi mataku masih hilang tujuan. Senja tak lagi berkabut ketika bus memasuki sebuah kota dan tak lama kemudian berhenti di sebuah terminal, dan aku harus turun untuk pindah bus lagi, untuk meneruskan ke kotaku dan juga ke kampung halamanku.

Aku turun. Kakiku terhuyung. Di kota itu, aku tak harus berlama-lama singgah. Aku harus mencari bus jurusan ke kotaku, sebelum menempuh lagi perjalanan ke kampung halamanku. Tapi, aku tak tahu harus ke mana lagi melangkahkan kaki di bawah cahaya senja di sebuah kota yang hanya kulintasi saat-saat harus pulang ke rumah. Aku benar-benar sudah linglung! Sebab, kota ini telah menjebakku dalam bilur ingatan pulangku. Tetapi, aku tahu dengan pasti jika kota ini bukan tujuanku untuk pulang di bulan Ramadhan akhir saat lebaran kali ini aku sudah bertekad untuk mudik.
Aku mengendap-endap di tengah terminal. Bau minyak, solar dan bensin menyeruak tak karuan. Bak seekor anjing kuduk yang mengikuti jejak penjahat, kupanggul tas ransel di punggung. Bajuku sudah amat lusuh. Belum lagi, aroma keringat dan sengak bau ketiakku. Tapi di tengah gundah gulana itu aku masih tahu ke mana aku harus pulang, setelah bertanya pada seseorang.

”Pak, di manakah pangkalan bus jurusan kota Ujung?”

”Di sebelah selatan sana!”

Aku menyusuri lorong terminal. Setelah melewati toko-toko berderet, akhirnya kutemukan bus yang sudah siap berangkat ke tujuan kotaku. Aku naik, lalu duduk di belakang sopir. Tak lama kemudian, bus yang sudah penuh sesak oleh penumpang itu melaju. Tetapi, betapa terkejutnya aku setelah kondektur mulai menarik karcis untuk ongkos perjalanan. Sebab, ketika kurogoh saku di celanaku, dompetku ternyata hilang! Aku merogoh saku yang lain, tak kutemukan. Juga, saat aku menggeledah isi tas. Tak ada dompetku di sana….

”Maaf, Pak, dompet saya hilang!”

”Kalau begitu, Anda harus turun di sini!”

Dengan kesal aku berdiri dari tempatku duduk. Juga ditikam rasa malu karena beribu mata penumpang tertuju ke arahku. Saat, bus berhenti di tengah kota itu, aku terpaksa turun. Mataku masih hilang tujuan. Aku tak tahu harus pergi ke mana setelah aku turun, karena aku sudah tak punya uang lagi. Tidak ada yang bisa membantu, membuatku untuk memutuskan berteduh di bawah pohon rindang di sebuah trotoar di sebelah bangunan tua.

Senja masih menggantung di langit, ramai kendaraan lalu-lalang masih belum bisa menyibak ingatanku. Apalagi keberadaan gedung, toko, mal, bahkan bangunan tua yang bertebaran seperti kuncup pada pucuk bunga di taman-taman firdaus, kian tak mampu membantu ingatanku untuk pulih. Karena kedua mataku telah dibuyarkan gendam, pikiranku dibuat linglung dan uangku hilang.

***

Seminggu sebelum Lebaran, aku menerima surat dari kampung. Surat itu ditulis oleh adikku yang masih duduk di kelas empat SD, yang memintaku untuk pulang karena emak sudah kangen setelah dua tahun aku tak pulang saat Lebaran. Selain itu, emak juga meminta alangkah baiknya jika emak dan adikku tidak usah dibelikan baju. Alasan emakku, karena masih punya beberapa helai pakaian yang masih bagus. Tapi emak memintaku untuk menyisihkan uang, karena emak benar-benar butuh uang daripada baju.
Setelah membaca surat itu, aku merasa beruntung. Karena saat itu aku belum membelikan mereka baju. Aku lalu menghitung jumlah uang yang kumiliki dan dengan ditambah THR yang akan kuterima saat Lebaran, pastilah emak akan bangga menerimanya. Kupikir, itu akan lebih baik karena sejak ayah meninggal setahun yang lalu emak dan adik-adikku menggantungkan hidup dari keringatku. Meski aku hanya seorang buruh pabrik yang tak bergaji besar, emak masih bisa hidup dan terlebih lagi dua adikku yang masih duduk di Sekolah Dasar, masih bisa melanjutkan sekolah.
Seminggu sebelum Lebaran itu pula, aku memesan tiket untuk pulang ke kampung dan rencana aku pulang sehari sebelum Lebaran dengan membawa jumlah uang lumayan yang akan kuberikan pada emak. Aku berharap emak bisa terbantu dengan uang itu, setidaknya untuk membayar utang.

***

AKU masih duduk tercenung di bawah pohon di sebelah gedung tua. Hari hampir gelap dan senja hampir berlalu meninggalkan jejak cahaya berkilau di penghujung bulan Ramadhan dan malam Lebaran hampir tiba. Tetapi, aku malah terdampar di sebuah kota sebelum sampai di kampungku. Aku membayangkan emak dan dua adikku menunggu dengan cemas karena sampai senja tiba, aku ternyata belum tampak di depan pintu.
Aku tahu kalau aku tak mungkin bisa pulang saat itu karena terdampar di kota senja. Tapi entah kenapa, aku justru merasakan di kota senja ini ada kedamaian yang terpancar dari langit saat mataku yang sudah hilang tujuan, tiba-tiba melihat seberkas cahaya jingga di cakrawala sana. Aku mulai bisa melihat keramaian kota.

Maghrib belum juga tiba, kala aku merasa tubuhku lemas dalam sebuah perjalanan yang tak kesampaian. Selimpangan orang berjalan seperti dikejar waktu. Seolah tak ingin ketinggalan dengan apa yang akan diraih. Mobil-mobil melintas di jalanan, dan lalu-lalang orang seperti sibuk dengan pikiran dan urusannya sendiri.
Kutatap matahari untuk terakhir kalinya, di bulan Ramadhan ini. Aku menatap dengan mata telanjang. Silau, karena sinar kemerahan menelusup dalam kelopak mataku, merengguk duka dari peta kesedihan keluargaku yang menunggu kepulanganku. Selintas anak kecil berlalu di hadapanku dan tak selang lama, seorang lagi mengikuti. Keduanya berkejaran dalam remang senja ketika sinar mentari yang hampir terbenam itu memandikan tubuh keduanya yang kumuh penuh debu.

Tetapi ketika kutatap mereka berdua itulah, kutemukan cahaya putih berkelebat dari mata kedua anak itu. Aku tak tahu, kenapa sinar dari kedua mata anak itu menyobek ingatanku. Kedua anak itu anak jalanan yang tak punya rumah dan aku tahu karena ia begitu kumuh dan hidup di jalanan. Untunglah, aku masih punya rumah untuk pulang, meskipun saat ini aku terdampar di kota senja sebab uangku hilang entah ke mana. Aku sudah tak bisa lagi mengingat, apakah uangku dicopet ataukah memang terjatuh di bus.
Dari jejak-jejak langkah kaki kedua anak itu, kuikuti edar pandangan mataku yang kemudian berhenti pada sekelompok orang yang tampak lusuh sedang duduk-duduk santai di depan gedung tua sebelah barat dari tempatku berteduh. Kutatap mereka dengan mata nanar. Hampir semua berpakaian lusuh karena baju yang mereka pakai hanya sekadar melekat di badan dan aroma tubuhnya mustahil tertimbun bau parfum yang harum, malah meruap bak bau comberan. Lusuh serta kotor. \

Tapi, ketika tatapan mataku lekat menatap mereka, ada setitik cerah yang kutangkap dari seorang perempuan muda di antara mereka. Dia berpakaian sedikit bagus dan berbeda dengan yang lain. Aku tidak tahu, kenapa perempuan itu bergaul dengan mereka. Kulihat ia duduk dengan santai. Sesekali, kulihat tangannya sibuk mengurai rambut yang terurai sebahu. Karena ia memakai kaos singket, sekilas tampak panjang lengannya yang putih dan sedikit bulu tipis di ketiaknya bergoyang kala angin senja mempermainkan bulu tipis menebarkan bau parfum yang setidaknya meruap ke penciumanku.

Kutatap lagi perempuan itu dengan cengang mata yang nanar. Namun tak lama kemudian, ia berdiri. Lalu, berjalan menjemput dan menggendong seorang anak kecil. Ia menimangnya seperti seorang ibunya dan anak kecil itu seolah anaknya. Mataku hampir tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku tahu dan yakin, dia bukanlah ibu dari anak itu, sebab anak kecil itu begitu kotor dan ia tampak bersih. Ia berpakaian menawan dan seksi.

Perkiraanku, usianya dua puluh tahun. Apalagi, ia bercelana jins ketat dan memakai kaos warna jingga yang menambah jelita wajahnya jadi menyala, meskipun kala itu adzan magrib telah bertalu dan hari telah memasuki malam Lebaran.
Aku tak tahu, kenapa ia tak pulang mudik pada lebaran ini. Aku juga tak tahu, kenapa ia hidup di tengah gelandangan di depan sebuah bangunan tua yang tercatat dalam sejarah bangsa ini? Mungkin saja, sejuta pertanyaan yang bercokol di kepalaku tak akan bisa terjawab! Sebab, aku tak punya keberanian untuk mendekatinya dan bertanya.
Aku hanya bisa meraih sebotol minuman dari dalam tasku untuk buka puasa di kota senja ini, saat kudengar adzan maghrib mengumandang.

***

Tapi tak akan kupercaya kalau malam itu aku harus menginap di gedung tua itu dengan mereka. Karenanya, aku harus menyusuri jalanan mencari info untuk menemukan sebuah kantor polisi yang bisa memberiku ”surat keterangan” untuk sebuah perjalanan pulangku.

Anehnya, ketika aku berdiri itulah, perempuan itu juga melangkah ke jalanan. Aku memberanikan diri untuk bertanya pada perempuan itu, di manakah letak kantor polisi. Juga, aku menceritakan tentang perjalanan pulangku kali ini yang sial karena dompetku hilang.

Mendengar ceritaku, dia seperti tidak tega dan yang membuatku tak mengerti adalah saat ia memanggil nama seseorang dan tak lama kemudian seorang anak kecil kumuh berlari mendekati perempuan itu.

”Kau telah mencuri uang bapak ini. Ia lebih butuh dan karena itu kau harus mengembalikannya!”

Aku tak tahu bagaimana perempuan itu tahu kalau anak kecil itu telah mencuri dompetku. Aku hanya tahu, ketika anak kecil itu, mengeluarkan dompet yang tak lain adalah dompetku. Aku seketika tercekat. Apalagi saat perempuan itu merenggut dompet itu dari tangan anak kecil itu lalu menyerahkannya padaku.

”Maafkan anak kecil ini karena di jalanan mereka hidup dan kebiasaan mencuri sudah menjadikan pekerjaan mereka!”.

Aku hanya mengangguk dan berterima kasih, karena dengan uang itu aku bisa melanjutkan perjalanan pulang, meski kutahu emak dan dua adikku tentunya cemas karena sampai subuh di hari Lebaran, aku belum sampai di rumah. Karena aku terdampar saat malam Lebaran di sebuah kota senja dan baru subuh merekah bisa pulang ke kampung halaman.

Di langit, subuh kulihat merekah dan alunan takbir menggema. Dalam hati, aku mengucapkan lafal takbir, tidak menampik kebesaran Tuhan di malam Lebaranku di kota senja.

***

Jalan Malioboro, Yogyakarta
Akhir Ramadhan 1424-1425

Iklan