Rumah Baru untuk Ibu

Cerpen: Mustafa Ismail

Sumber: Republika, Edisi 07/30/2006

MATA ibu berbinar ketika melepas Suman merantau. Ibu seperti hendak menangis, tapi mencoba sekuat tenaga agar air matanya tak tumpah. Suman tahu, ibu sangat berat melepasnya pergi, karena ia anak satu-satunya. Selepas Suman pergi nanti, ibu tinggal sendiri. Ayah telah lama tiada, ketika awal-awal konflik di daerah itu, ditemukan mati tertembak tanpa tahu siapa yang membunuhnya.

Habis mencium tangan ibu, Suman melompat cepat ke dalam bus jurusan Jakarta yang telah berhenti sejak tadi. Ia sebetulnya tidak tega meninggalkan ibu sendiri. Tapi apa boleh buat. Ia tidak bisa terus-menerus tinggal di kampung, luntang-lantung tidak punya pekerjaan. Orang-orang kerap mencibirnya, “Sarjana kok menganggur. Habis sekolah tinggi-tinggi, lalu pulang kampung.”

Buat orang di kampung, bisa sekolah tinggi adalah dambaan. Tidak semua orang bisa menyekolahkan anaknya sampai universitas. Sehingga, sarjana di kampung bisa hingga kini tak lebih dari lima orang, salah seorang di antaranya adalah Suman. Dua orang menjadi pegawai negeri di kota kabupaten, salah satunya masuk lewat menyogok salah satu pejabat di sana Rp 5 juta dan satunya lagi masuk lewat jalur honorer.

Dua sarjana lainnya, masing-masing satu orang membuka usaha tambak udang di kampung dan satu orang lagi menjadi keuchik alias kepala desa. Suman sendiri yang belum punya kedudukan. Ya kedudukan, orang di kampung suka menyebut begitu untuk menggambarkan bahwa seseorang lulusan universitas sudah bekerja.

Maka, Suman putar otak untuk dapat bekerja. Lebaran lalu, Hamid, keponakan ibunya yang tinggal di Jakarta dan membuka toko di sana, menawari Suman. “Kalau mau, kerja sama saya saja sementara, membantu di toko. Kalau buat makan ya cukuplah,” kata Hamid. Suman sempat berpikir: sarjana teknik kimia kok kerjanya jadi penjaga toko. Tapi ibu terus mendorong, memberi pandangan-pandangan, bahwa itu harus dilakoni untuk sementara sambil ia mencari jalan lain untuk bisa kerja di Jakarta sesuai dengan ijazahnya. “Ambil dulu akarnya, nanti baru cari rotannya,” kata ibu mengutip pepatah: tidak ada rotan, akar pun jadi.

Ia belum bisa mengambil kesimpulan ketika itu. Masih bimbang. Ia tidak percaya dengan kata-kata: “sementara kerja ini dulu, sambil mencari lain.” Sebab, ia tahu tidak mudah mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Banyak temannya yang mencoba mengais nasib di sana, pada akhirnya pulang lagi.

Lama ia berpikir, berbilang bulan. Akhirnya pun ia menuruti saran ibu, meski ia sendiri berat untuk itu. Itu satu bentuk penghormatan kepada ibu. Suman tidak ingin ibu kecewa. Kalau bukan ibu yang terus mendorongnya, ia akan dengan mudah menyatakan tidak. Sebab, bagaimana pun, ia lebih suka di Aceh. Di daerah atau kota mana pun, ia tidak soal, asal masih berada dalam wilayah Aceh. Ia sangat mencintai tanah lahirnya.

Tapi ia tahu, bukan melulu soal pekerjaan yang membuat ibu terus mendorongnya untuk pergi dari kampung. Juga karena kondisi kampung sendiri, yang makin tidak menentu. Konflik bertahun-tahun di sana tidak pernah selesai. Perundingan untuk menyelesaikan konflik berkali-kali dilakukan, tapi pertikaian terus terjadi. Banyak orang menjadi korban, salah seorang di antaranya adalah ayah. Namun ibu tidak mengatakan itu sebagai alasan meminta Suman menerima tawaran Hamid bekerja di tokonya.

Berbilang tahun, Suman tetap menjadi penjaga toko Hamid. Seperti pernah dikatakan Hamid dulu, kalau buat makan cukup, begitulah yang dirasakan Suman bertahun-tahun. Ia hanya mendapatkan jatah makan tiga kali sehari yang dimasak sendiri oleh isteri Hamid, sebungkus rokok yang diambil dari toko, plus uang Rp 10 ribu per hari. Tidak lebih.

Di sela-sela pekerjaannya, sudah berbagai lowongan kerja dicoba. Tapi tak satu pun yang menerimanya. Persoalan klise terulang kembali, pikirnya. Sejumlah temannya yang berangkat ke Jakarta, pada akhirnya pulang kembali karena tidak mendapatkan pekerjaan. Fakta itu semakin menguatkan bahwa tidak mudah mendapat pekerjaan di kota itu. Seperti temannya, ia pun ingin pulang.

Ia lalu menyurati ibu untuk minta izin pulang, lengkap dengan alasannya. Dua minggu kemudian, ia menerima balasan surat dari ibu. Kata-kata yang paling diingat dari surat itu adalah: Laki-laki jangan cengeng. Laki-laki jangan cepat menyerah. Kalau laki-laki cengeng dan cepat menyerah, bangsa ini sudah tamat. Negeri ini tidak pernah merdeka.

Tak ada satu kata pun yang berbunyi “jangan pulang” atau “sabar dulu” di surat itu. Tapi isi surat itu dengan tegas bisa dibaca ibu tidak setuju Suman pulang kampung. Suman tercenung dengan kata-kata ibu. Betul juga apa yang dikatakan ibu. Tapi, apakah sikap menerima keadaan itu sebuah kecengengan. Ia menerima keadaan ini dengan sadar: empat tahun ia berada di kota ini ia tidak mendapatkan apa-apa.

Berarti, ia mesti mundur dari kota ini. Mungkin mencari kota lain, yang mungkin bisa memberi sesuatu. Terus terang, Suman sebenarnya ingin membahagiakan ibu. Membahagiakan bukan cuma dalam arti menuruti segala saran dan keinginannya, juga membahagiakan dalam soal materi. Ia ingin membikin sebuah rumah paling bagus untuk ibu. Sebuah rumah dengan halaman luas, hijau dan menyenangkan. Tidak seperti rumah sekarang, yang dibangun ayah: kecil dan hanya berkamar dua, dengan tanah pas-pasan.

Keinginan itu telah disimpan bertahun-tahun. Itu salah satu bentuk terima kasihnya pada ibu, juga pada ayah sebetulnya — tapi ayah sudah duluan meninggalkan mereka. Nah, untuk ayah, ia juga ingin membuat makam paling bagus, dengan marmer spesial, dan dikerjakan oleh tukang spesialis pembuat rumah makam. Tapi bagaimana ia bisa mewujudkan keinginan-keinginan itu bila tidak punya pekerjaan bagus.

Suman pulang. Tapi bukan pulang ke kampung, tapi ke kota tempatnya kuliah dulu. Itu tanpa sepengetahuan ibu, yang sudah tentu tanpa seizin ibu. Keputusan itu diambil setelah lama direnungkan. Tambah lagi, beberapa minggu lalu, ia bertemu dengan seorang kawan sesama aktivis ketika kuliah dulu, yang sekarang memimpin sebuah perusahaan di kota tempatnya kuliah dulu itu.

“Dari pada kau jadi penjaga toko, mendingan kau bantu-bantu aku di Aceh. Aku perlu orang untuk pemasaran. Kau kan sarjana ekonomi. Soal pendapatan, jangan khawatirlah. Untuk makan pasti banyak lebihnya,” kata kawan itu.

Aku belum punya pengalaman mengurus pemasaran.”
“Tidak perlu pengalaman. Semua pekerjaan kan proses belajar. Aku yakin kau pasti bisa.”
“Oke, beri aku waktu berpikir barang seminggu.”
“Ya, jangan lama-lama. Soalnya banyak pekerjaanku menumpuk. Kalau kau tidak bisa, aku segera cari orang lain.”
Tidak tahu bagaimana perasaan ibu jika tahu ia sudah berada di Aceh. Mungkin ibu akan marah, mungkin ibu akan diam saja, atau mungkin ibu akan mendampratnya dengan kata-kata: laki-laki cengeng, cepat menyerah. Negeri ini akan segera tamat bila semua lelaki cengeng sepertimu. Negeri ini tidak pernah merdeka.

Suman telah siap, apa pun sikap ibu, begitu mengetahui bahwa ia sudah berada di kota yang sangat akrab dengannya. Kota yang banyak menyimpan kenangan: suka-dukanya waktu kuliah, kehangatan teman-teman, dan sikap manja seorang gadis yang sudah lama dia tinggalkan dan tidak pernah lagi memberi kabar.

Ia sempat mencari gadis itu ke rumahnya di Uleelheue, kampung yang tak jauh dari bibir pantai, tapi ia sedang pergi ke Medan tempat pamannya. Gadis bernama Cut Rina itu, kata ibunya bekerja di sebuah bank swasta, dan sekarang sedang cuti. “Hari Minggu besok, Cut sudah pulang. Minggu sore saja Nak Suman ke sini lagi,” kata Umi, panggilannya kepada ibu Cut. Hari Minggu, masih lima hari lagi. Pasti Cut terkejut mendapatkan Suman tiba-tiba muncul kembali. Setelah itu, boleh jadi, ia akan bersikap biasa-biasa saja, marah-marah karena ditinggal tanpa kabar, bisa pula bersikap dingin karena dalam hatinya sudah ada orang lain. Suman siap dengan semua kemungkinan. Meski, ia masih sangat mengharapkannya. Cut tidak tergantikan dalam hatinya.

Suman ingin melompat saja melihat angka gajinya dalam kontrak kerja di perusahaan yang dipimpin temannya itu, yakni Rp 3,7 juta. “Ini gajimu pertama. Tahun depan akan kunaikkan lagi. Dan kalau melebihi target penjualan kita, kau bisa dapat bonus,” kata teman itu. Ia mengangguk. Bersyukur. Gembira.

Pasti ibu akan senang mendengar kabar ini. Tapi, belum saatnya memberi tahu ibu sekarang. Ia ingin bekerja dulu barang setahun, menabung pelan-pelan. Setelah uang terkumpul agak banyak, ia akan pulang kampung untuk beli tanah tempat membangun rumah buat ibu. Agar ibu tentram menghabiskan hari tuanya. Rumah paling bagus, dengan halaman luas. Di halaman itulah nanti, pesta pernikahannya akan digelar.

Menikah? Ya, menikah. Sebab pada saatnya Suman akan menikah. Ia berharap dengan Cut. Tapi ia tidak terlalu memikirkan itu sekarang. Yang ia bayangkan adalah kebahagiaan yang terpancar dari wajah ibu. Kebahagiaan tiada tara mendapatkan anaknya berhasil mendapatkan pekerjaan yang layak. Bahagia bisa membahagiakannya. Tak lupa, ia juga akan membuat rumah makam ayah, dilapisi marmer khusus dan dikerjakan tukang khusus pula, sebagai tanda bakti kepada ayah.

Ia sedang bercengkrama dengan kawan-kawannya di salah satu sudut di Blang Padang pagi Minggu itu, setelah beberapa kali lari mengitari lapangan itu, ketika dari jauh mendengar suara riuh, seperti suara gulungan ombak yang berlari cepat menghantam karang dan bebatuan. Beberapa saat lalu, kota baru saja diguncang gempa hebat. Terhebat dalam sejarahnya.

Mereka serentak berdiri dan menghadap ke arah suara itu. Tapi tiba-tiba air sudah di depan mata, bergulung-gulung, mendobrak dan menghanyutkan apa saja. ***