Putri…
Cerpen: Moezaffar

Aku teringat saat anakku satu-satunya itu memelukku sangat erat seakan tidak ingin dipisahkan lagi. Anak satu-satuku itu menangis keras memelukku, menggoyang-goyangkan badanku sambil memanggil-mnggilku.

“Bapakkk… Bapakkkk….” serunya berlinang airmata. Menjadi sedih, tubuhku terasa kaku, aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menatap mata bulat putriku itu yang sembab dan penuh airmata.

“Bapaaakkk jangan tinggalkan putri… Pak…… Bapakkkkkkkkkkkkk……” teriaknya histeris.

Aku melihat beberapa orang menariknya pergi menjauh dari diriku, aku ingin berontak tapi tidak bisa. Aku hanya bisa melihat putriku menangis semakin menjadi, anakku itu berontak berusaha mengejar aku, tapi tubuhnya yang mungil itu membuatnya tidak bisa melepaskan diri dari orang yang memeganginya. Orang-orang itu menariknya, orang-orang itu menahannya untuk mendekat kepada diriku. Apalah daya anak kecil yang masih berusia delapan tahun itu. Aku ingin menggapai tangan tangannya, menggapai anaknya, tapi tak kuasa, aku ingin putriku sekali lagi memeluk diriku, aku ingin putriku sekali lagi menciumiku, aku ingin putriku, aku ingin anakku…. Aku hanya bisa menatap……………….

“Pak, bapak sinilah…” ujar anakku memanggil diriku. “Ada apa Putri…” jawabku sambil terus membaca koran. Kuperkenalkan, Putri nama anak gadis kecilku satu-satunya..

“Sinilah pak, cepatan dong…” ujarnya manja.

Aku meletakkan koran dan menghirup kopiku, kemudian mendekat pada anak satu-satuku itu. Aku duduk disampingnya dan membelai rambutnya yang hitam terurai. Aku itu memperhatikan dirinya. Rambut anakku itu mirip rambut ibunya, matanya yang bulat mirip mata ibunya, bibir dan senyumnya mirip ibunya. Terlebih lagi jika cemberut, mirip sekali dengan tingkah istriku ketika dia cemberut dan marah. Pernah ketika aku lupa membelikannya boneka, seharian aku dicemberuti oleh Putri. Dia ditegur diam saja, dibujuk dia diam saja. Persis seperti ibunya kalau marah. Tapi jika aku beranjak pergi darinya dia akan ikut kemana aku pergi. Kalau ke dapur Putri ikut ke dapur. Aku nonton televisi Putri ikut nonton, aku baca koran Putri ikut didekatku. Tapi ketika ditegur dia melengos, diajak bicara dia diam saja. Sama persis kelakuan ibu dan anak. Aku tersenyum, aku jadi rindu pada ibu anakku itu.

“Ada apa….” tanyaku. “Ini pak..” jawabnya sambil menunjuk sebuah foto dalam album keluarga. Aku melihat pada sebuah foto yang ditunjukannya, aku terhenyak, terkejut. Nafasku tiba-tiba sesak.

“Dari mana Putri dapat album ini…” tanyaku sedikit bergetar.
“Itu dilemari, kayaknya album lama ya pak..?”

Aku tidak menjawab pertanyannya sebab tangan anakku yang mungil membelai foto yang ada di halaman album itu yang semakin membuat nafasku sesak.
“Besok putri sekolah kan..? sekarang kita tidur aja dulu ya..” aku membujuknya
“Kan besok hari Minggu, libur dong pak,…masak lupa sih”

“Oo iya ya.. bapak hampir lupa..” gumanku.

“Bagus-bagus ya Pak fotonya..” Aku melihat foto itu, rasanya aku tak kuasa memandang foto itu. Terlebih lagi untuk menjelaskan pada bocah kecil usia enam tahun itu.

“Ini siapa sih pak…kok dia memeluk bapak erat sekali, pacar Bapak ya…” tanyanya pada diriku. Bibirku terasa terkunci, aku tidak bisa menjawab pertanyannya. aku merasa pandanganku kabur, penglihatanku berputar. Langit terasa menghimpitku.
“Kok diam sih pak, rahasia ya. Masak sama Putri main rahasia-rahasian segala…” ujarnya genit. Aku menggapai kepala anakku, menciumi rambutnya, menciumi ubun-ubunnya, mencium keningnya. Tak terasa airmataku berlinang.

“Bapak kok menangis, iih cengeng.. masak laki-laki menangis…” Aku semakin terenyuh, kupeluk anakku itu, kuciumi anak satu-satuku itu. Aku memeluk erat anakku seakan tak ingin berpisah lagi dengan dirinya.

“Ada apa sih pak…,” tanyanya polos “Bapak sayang sama Putri…” jawabku memalingkan wajah karena tidak ingin anakku itu melihatku menangis.
“Putri juga sayang sama Bapak..” katanya sambil memelukku dengan erat. Cukup lama dia memeluk diriku, rasa damai dan tentram terasa menjalar ditubuhku. Setelah agak tenang aku menyuruhnya tidur.

“Sekarang tidur ya, udah malam.”

“Iya Pak, tapi siapa sih pak mbak ini,” tanyanya ngotot. Aku menarik nafas panjang, aku menggeser dudukku dan menatap mata anakku yang bulat bening itu. Putri menatap ku menunggu reaksi lebih jauh. aku gamang, aku labil, aku berada dipersimpangan antara menjelaskan atau tetap belum mengatakan siapa wanita difoto itu.

“Putri,…” aku berkata dengan terbata. Anakku itu menatap dengan lugu.
“Itu adalah ibumu……itu foto ibumu….” ujarku.

Aku bergetar, aku merasa ada guntur membahana di angkasa. Anakku terpaku seperti tidak percaya. Dia seperti tercengang menatap diriku. Matanya berair.
“Ini adalah foto ibumu dan bapak sewaktu mengandung kamu dulu…., ” Aku tidak kuasa lagi mengatakannya, padahal aku ingin sekali menjelaskan semuanya. Menjelaskan pada anakku yang masih berusia enam tahun itu kalau ibunya itu sudah meninggalkan dirinya saat dia masih berusia satu tahun setengah. Saat Putri masih belum mengerti apa-apa. Aku kejam, aku memang kejam. Aku sengaja tidak menunjukkan pada anakku foto ibunya bahkan lagi, Putri tidak pernah mengetahui wajah ibunya seperti apa. Bahkan lebih kejam lagi…… Aku memegang kepalaku, aku kejam, aku itu memang kejam, hingga malam ini… Putri menatap diriku, kemudian melihat foto ibunya itu. Aku memalingkan wajah, tak kuasa melihatnya….

***

Sekarang Putri sudah besar, cantik dan menurut banyak orang Putri hampir menyerupai ibunya dulu. Sejak perpisahannya dengan diriku kala Putri berusia delapan tahun dahulu, aku sudah jarang melihatnya lagi. Padahal aku sangat merindukannya. Aku dan Istriku sangat merindukannya. Kalaupun Putri datang menjenguk diriku, itupun bersama bibinya, tapi kadang kala Putri datang sendiri, mengadu pada diriku, berbicara pada ibunya dan kadangkala menangis memelukku dan ibunya hingga tertidur.
Kemudian datanglah bibinya yang telah mengambil Putri dari sisi kami berdua, membujuk dan mengajaknya pulang. Sekarang Putri sudah besar, dia sering mengunjungi kami sendiri. Kadang seharian dia bersama denganku. Istriku, Ibunya Putri tersenyum disampingku, dia adalah wanita yang sangat kucintai. Kala Putri datang menemui kami berdua. Kami kadang ikut sedih melihatnya meneteskan airmata dihadapan kami berdua. Namun kami tetap tersenyum.

Setelah Putri dewasa, dia lebih sering lagi mengunjungi kami berdua. Hati kami sangat senang kalau Putri datang. Putri adalah Pelipur lara kami, biji mata kami, nadi kehidupan kami, itu yang sangat kami rindukan. Siang itu Putri datang dengan seorang laki-laki. Kedatangannya kali ini agak lain. Putri menyatakan ingin membina sebuah bahtera kehidupan yang baru. Dia ingin menikah dengan laki-laki yang dia cintai dan mencintainya yang datang bersamanya hari itu.

Kami terkejut, agak cemburu, tapi Ibunya tersenyum, di sudut matanya terbentuk linangan airmata kebahagiaan. Putri anak kami satu-satunya itu akan menikah, dan nantinya tentulah mereka akan punya anak dan kami akan punya cucu. Istriku tersenyum bahagia dan akupun bahagia.

Tapi dalam luapan kebahagiaan itu ada sepercik kesedihan yang pilu, sebuah kesedihan yang dalam. Karena setelah Putri menikah, kami akan sudah agak terlupakan. Putri, anak kami satu-satunya itu akan jarang mengunjungi kami lagi. Dia akan disibukkan oleh waktu dalam mengurus rumah tangganya. Sehingga waktu untuk mengunjungi kedua orangtuanya menjadi tersita.

Aku memandang istriku, seorang wanita anggun yang perkasa. Dia tetap tersenyum disampingku, walau bibirnya tersenyum namun dari sorot matanya memancarkan kesedihan yang dalam. Kami hanya bisa memandang putri kami itu tanpa bisa berbuat banyak. “Bapak… ibu, Putri mohon izin untuk menikah. Putri tahu kalau ibu meninggalkan Putri sejak Putri berumur satu setengah tahun dan bapak meninggalkan Putri saat putri berusia delapan tahun, tapi Putri janji Putri tidak akan meninggalkan bapak dan ibu. Putri akan selalu ingat dengan bapak dan ibu. Izinkan kami pak, bu. Doakan Putri, doakan kami…” ujar Putri terisak disamping calon suaminya.
Kedua orangtua Putri terharu, mereka hanya bisa memandang putri mereka terisak dan berusaha berdiri gontai menatap kedua orangtuanya. Calon suaminya mendekat dan membimbingnya berjalan kami berdua. Putri berjalan gontai meninggalkan kami, meninggalkan makam Ibu Bapaknya, meninggalkan pemakaman keluarga.
Meninggalkan kami kedua orangtuanya yang sudah meninggalkannya untuk menghadap Yang Maha Kuasa untuk selamanya sejak Putri masih kecil.

* * *

MOEZAFFAR,

kecimpungannya di dunia seni Jambi tak diragukan lagi. Salah seorang pelukis yang bergabung di Kelompok Kerja binaan Dewan Kesenian Jambi. Reporter, bapak satu anak– ini juga menggandrungi tulis-menulis sastra.

Iklan