Anak-Anak Bunga
Cerpen: Maya wulan

SETAHUN lalu Alang meruntuhkan rumahnya. Tempat di mana dia biasa menyandarkan kepenatan dan menumpukan impian. Sepasang tangan lentik dan sebuah senyum khas yang begitu lama dihafalnya, telah berubah tak menarik baginya. Semisal angin yang menyapa wajahnya sesaat, lalu lewat tanpa bekas. Hingga akhirnya dia tak lagi menginginkan sapaan itu. “Sudah cukup waktu bersabar,” katanya.
Itulah kali pertama dia meninggalkan ranjang dingin yang pernah basah oleh titik peluhnya. Dia pergi, dan runtuhlah rumah yang dibangunnya selama ini. Senyuman yang biasa menyambutnya setiap malam, hanya terpana melihat kepergiannya yang tak lagi tertahan.
Empat tahun lalu aku menguburkan hatiku. Tak ada lagi yang dapat mencapainya, terlebih merasukinya dengan seribu macam rasa. Aku menutup semua pintu di rumah yang tak pernah terbangun. Tak ada impian apa-apa lagi. Aku menjelma ranjang batu. Beku membunuh siapa pun yang mencoba menyentuhnya. Aku mengenang Alang, kawanku. Tentang rumahnya yang diruntuhkannya. Beruntungkah aku yang tak sempat membangunnya?
Kami bertemu di kamar sunyi. Hanya kami berdua. Tak ada rumah yang terbangun di sini, ataupun ranjang dingin yang sudah setahun dibenci laki-laki dewasa itu. Aku tersenyum padanya di tatapan yang pertama. Dia diam melihat bibirku yang terkesan tak benar-benar bahagia. Aku enggan menyapa, bahkan sekadar menyebut namanya yang sudah lama sekali tak kulakukan.
Kuperhatikan laki-laki di depanku ini, masih sama seperti dulu. Kesombongan yang kusukai pada dirinya, terpancar kuat menerpaku. “Sudah lama sekali,” kataku. Dia menantang mataku. “Masih sangat kuingat caramu memandang,” katanya seketika. Aku terkejut dan memilih diam. Kami tak pernah tahu untuk apa membuat janji pertemuan ini. Terlalu lama kami sibuk dengan diri sendiri. Lalu tiba-tiba kami berjanji bertemu di kamar ini.
Kami bicara tak tentu arah. Dua tubuh terbaring menantang langit-langit yang kusam. Suara laki-laki itu tertelan deru tarikan napasku yang berulang-ulang. Berselingan dengan napasnya yang terasa lebih berat. Aku mendekat padanya, melakukan yang tak terpikir olehku sebelumnya. Kupeluk laki-laki itu begitu erat. Ruang kamar mendadak sesak oleh kehampaan yang menyemburat keluar dari jiwa kami. Aku meletakkan kepalaku di dada laki-laki itu. Seluruh diriku tetap tak merasakan apa-apa oleh adegan kehangatan itu. Aku adalah ranjang batu, batinku.
“Kau masih menguburnya.” Alang berkata dengan sangat pelan.
Aku tahu dia bicara tentang hatiku. “Ya, masih sama.”
Kami menarik napas panjang hampir bersamaan.
“Kau sendiri–tak lagi membangun rumahmu?” tanyaku.
“Sudah cukup waktu menunggu.”
“Kau meruntuhkannya. Kenapa kauretakkan tumpanganmu?”
Alang tak menjawab.
“Aku mencintai rumah yang kaubangun. Sayang aku tak sanggup membentuknya untuk diriku,” kataku lagi.
“Rumah itu membutuhkan tawa anak-anak. Anak-anak bunga.”
Kueratkan pelukanku pada tubuh laki-laki itu. “Aku tak berani memimpikan rumah itu lagi. Kau tahu, musim gugur datang berkali-kali. Pada bungaku tak lagi berkembang daun-daun baru. Mahkota telah layu di dasar tanah. Angin yang datang hanya lewat. Tak lebih.”
Laki-laki itu menyentuhkan bibirnya ke keningku. Aku tak merasakan apa-apa.
“Angin itu akan berhenti setelah berjalan jutaan mil. Tubuhnya membawakanmu putik sari untuk menyunting mulut bungamu. Daun-daun akan berganti yang baru. Mahkota bermekaran lagi.”
Aku tersenyum. “Putik sari itu bukan anak panah yang dilesatkan dari busurnya. Angin menerbangkannya tanpa arah pasti. Dia hinggap di mana saja. Bahkan di mulut daun yang sudah lama tak terbuka.”
“Rumah itu semestinyalah penuh warna bunga.” Sinar mata laki-laki itu tampak begitu nanar menerjang wajahku. Gelisah kami lahir berselingan.
“Anak-anak bunga,” sambungku.
“Kau menginginkannya bukan?”
“Apa?” seruku tiba-tiba.
“Rumah itu.”
Kalimat laki-laki ini membuat seluruh tubuhku bergetar. Dadaku berdebar kuat. Ini bukan hati yang tergali kembali, batinku meyakinkan diri.
“Kau membenci ranjang dingin yang tak menghadiahimu anak-anak bunga,” sahutku.
Tubuhku ditariknya semakin dekat hingga wajah kami bersentuhan.
“Apa kau mau menggalinya kembali?”
Mulutku terkunci mendengar pertanyaan yang menusuk jiwaku itu. Laki-laki ini tahu persis kenapa aku mengubur hatiku empat tahun lalu. Seperti juga aku tahu mengapa dan bagaimana dia meruntuhkan rumahnya sendiri. Ke mana dia berteduh, dan bersendiri. Lalu untuk apa dia menanyakan hal itu padaku?
“Seperti apakah hatimu saat ini?” tanyanya lagi.
“Dia adalah pantai. Tak pernah sanggup memisahkan butiran pasir dari bangunan puri yang dibentuk tangan manusia, dengan bekas reruntuhan yang tersapu ombak.”
“Aku akan menemanimu memisahkan butiran pasir itu. Puri baru akan terbangun kembali.”
“Jangan katakan kau ingin menjagai hatiku jika kuburannya terbuka lagi.”
“Aku tetap akan peduli padamu,” Suara laki-laki itu terasa sangat kuat menghadang ketakutanku.
“Bahkan padi yang merunduk rendah hati pun tak terhindar dari serangan hama penyakit. Tapi bukankah kata-kata manis dari petani takkan mampu menguatkan padi itu untuk segar kembali dan beranjak sehat, jika tanpa perawatan? Yang terjadi di sini, padi tak lagi percaya pada pestisida.”
***
SATU jam berlalu dalam keheningan. Kami masih berpelukan. Tapi kesendirian tetap terasa tajam di kamar ini. Aku melihat jauh ke dalam. Benarkah aku masih punya keberanian untuk menggali kuburan hatiku yang telah mati begitu lama? Bukan aku yang membunuhnya, tapi mereka. Dan untuk apa aku membuka sesuatu yang sudah rapi tersembunyi dan tak terkenang lagi? Aku tak pernah merasa takut lagi dalam keadaan yang kujalani selama ini. Tapi kini, ketakutan itu menyibak pertahananku. Hanya karena sebuah kalimat menyapaku. Aku menginginkan rumah itu? Untuk apa? Aku takkan sanggup jika kelak harus meruntuhkannya.
Alang mengenang reruntuhan rumahnya. Rumah yang tak mengenal anak-anak bunga. Siapakah yang salah? Mulut bunga, putik sari yang terbawa angin, ataukah hujan yang tak turun menyuburkannya? Dia tak pernah lagi tertarik untuk mengenang rumah dan sebuah senyuman yang ada di dalamnya. Yang menyambutnya di tiap malam, sejak rumah itu mulai dibangunnya. Kini semua terasa hambar di mata laki-laki dewasa itu. Sampai datang pertemuan ini. Dia dan aku, di kamar sunyi.
***
“BAGAIMANA jika kau menggali kuburan itu untukku?”
Aku merenggangkan pelukan laki-laki itu. Kutatap matanya lekat-lekat mencari sesuatu yang telah lama kuyakini tak pernah ada dari makhluk yang bernama laki-laki.
“Akan kutemani kau membangun rumah itu.”
“Untuk kelak kauruntuhkan kembali?” Aku bertanya dengan getir. Ragu dengan semua ini.
“Yang kuinginkan adalah kita meruntuhkan ketakutan dan kehampaan ini.”
“Kita mungkin akan menemukan kesunyian yang sama. Saat itu semua akan terulang lagi. Kau meruntuhkan rumah ini, dan aku membuat kuburan baru yang takkan bisa dibuka lagi.”
Laki-laki itu melekatkan bibirnya di mataku. “Dapat kaulihat rasa kasihku di matamu?”
“Kau membenci ranjang dingin yang tak menghadiahi anak-anak bunga.” Aku mengulang kalimat yang sudah kukatakan padanya.
“Demi anak-anak bunga, akan kusapa ranjang itu dan sekuntum bunga baru yang diam-diam mampu menggetarkan hatiku. Itu tak mudah bagiku. Juga bagimu.”
Kami saling berpandang. Mulai kurasakan sesuatu pada diriku. Apakah aku sedang melangkah, atau menyerah?
“Alang…” Aku memanggil nama laki-laki itu dengan pelan, sebelum akhirnya kuajak dirinya masuk ke jiwaku dan menggali kuburan hatiku. Seketika ruang kamar ini tampak begitu ramai akan warna bunga. Bayangan anak-anak bunga sayup-sayup berputaran di udara.

* * *

Yogyakarta, 2005.