PAKET MAYAT
Cerpen M Shoim Anwar

Di Bandara Internasional Kuala Lumpur, pukul 14.25, aku duduk di kursi panjang depan pintu C-21, menanti pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA 0851 tujuan Surabaya. Udara terasa dingin. Orang-orang berlalu-lalang dengan tergesa. Bayangan mereka beserta trolleys-nya memantul di lantai porselin warna coklat. Berkali-kali aku melihat ke arah datangnya para penumpang. Terasa lama sekali. Kursi warna hijau di pantatku terasa membosankan.

Ruangan ini amat panjang dan besar. Pintu masuk ke ruang tunggu terakhir terdapat di sebelah kiri dan kanan. Ada dua belas pilar besar di tengah-tengahnya. Masing-masing pilar bercabang empat untuk menyangga bagian atap. Kuarahkan pandanganku ke langit-langit warna coklat bergaris-garis hitam. Di sana ada kesunyian menggantung. Aku pun mendesah. Kuambil kembali boarding pass di saku. Kubaca-baca. Sama seperti tadi: seat 17-F.

Rencananya pesawat take off pukul 15.45 waktu Kuala Lumpur. Perjalanan sekitar dua jam. Pesawat akan landing kira-kira pukul 16.45 waktu Surabaya. Tapi detik jam terasa tidak nyaman. Berkali-kali kulihat jarum berputar di pergelanganku. Aku membayangkan sebentar lagi ada peti didorong dua orang dari arah sana. Di dalam peti itulah terbujur jenazah Suparjan. Tubuhnya dibalut dengan kain kafan dan kedua tangannya bersedekap di atas pusar. Wajahnya mungkin telah mengering, keriput, dan beku. Jenazah Suparjan barangkali telah dimasuki semacam formalin sebagai pengawet. Sementara pada bagian mata, hidung, dan telinga ditutupi dengan kapas.

Bayanganku tiba-tiba meloncat lagi. Suparjan adalah pekerja ilegal. Orang di sini menyebutnya pendatang haram. Ketika ada operasi, mungkin Suparjan berusaha lari. Dia dikejar oleh polisi berkulit hitam yang terkenal tanpa ampun itu. Terjadi perburuan. Dalam posisi terjepit dan berhadap-hadapan, bisa jadi Suparjan melawan. Sang polisi naik pitam. Sebuah letusan pun menembus kakinya. Suparjan terkapar dan diseret. Dia disiksa hingga menemui ajal. Aku khawatir, jangan-jangan jenazah Suparjan ditekuk begitu saja ke dalam peti. Jasadnya meringkuk tak karuan: pakaiannya dilucuti, ada bekas-bekas cambukan di sekujur tubuh, kedua matanya melotot, mulutnya mengaga, serta kedua tangan dan kakinya diikat dengan tali. Aduh, betapa mengerikan bayangan itu.

Peti yang kubayangkan tak juga datang. Bayangan itu semakin mengendur. Lama-lama aku jadi tak yakin. Mustahil peti mati dibawa lewat pintu penumpang. Benda itu mungkin diangkut dengan mobil khusus dan langsung menuju ke bagasi pesawat. Ini lebih masuk akal. Aku menjadi sedikit tenang. Di ruang belakangku sudah nampak ada tiga orang petugas. Sebentar lagi para calon penumpang boleh masuk, karcis dan kelengkapan diperiksa, detektor didekatkan ke tubuh, sedangkan barang bawaan harus diletakkan dan mengalir sendiri ke ruang penyinaran. Setelah itu para penumpang boleh masuk ke ruang tunggu terakhir. Dari sini nanti penumpang langsung masuk ke badan pesawat melalui lorong-lorong panjang berdinding karet seperti dalam perut ular raksasa.

Suparjan adalah adik iparku. Sudah sembilan bulan dia bekerja di sini. Dulu aku menyarankan agar dia masuk lewat jalur resmi. Tapi rupanya dia punya perhitungan lain. Dia ikut-ikutan lewat jalur gelap. Aku membayangkan pasti dia diangkut kapal laut saat malam hari. Ketika jarak dengan pantai sudah dekat, dia pasti dipaksa mencebur ke laut dan berenang ke tepi hutan. Di sana sudah menunggu sindikat pekerja liar. Itu pengalaman yang sudah-sudah. Tahu-tahu Suparjan sudah berada di negeri ini dan menelponku. Aku kaget.

“Aku ditangkap polisi,” katanya.

“Di mana?”

“Kuantan.”

“Terus?”

“Minta tebusan. Kakak disuruh ke sini. Nanti bisa dilepas.”

“Kamu ngomong kalau punya saudara di sini?”

“Ya.”

“Makanya.”

Naik bus dari Kuala Lumpur ke Kuantan memerlukan waktu sekitar empat jam. Kuantan termasuk wilayah Pahang yang terletak di pantai timur. Kemungkinan Suparjan berangkat dari tanah air melalui pelabuhan di sekitar Sambas, Kalimantan Barat. Aku terpaksa melakukannya. Suparjan kutebus dengan ringgit di alamat yang ditentukan. Dilepas. Kami lantas berjalan melewati belakang pasar. Meski masih dalam suasana was-was, dia kuajak makan di pinggir Sungai Pahang. Di sini banyak dibuka kedai dengan atap payung-payung besar.

Suparjan makan lahap sekali dengan lauk ikan patin. Tubuh lelaki itu kelihatan kurus dan kulitnya lebih hitam. Aku berganti menatap beberapa perahu mesin yang menentang arus. Di seberang sungai sana ada hutan dengan pepohon yang rimbun sepanjang sungai. Laut Cina Selatan hanya berjarak beberapa kilo dari sini. Angin terasa kencang sekali.

“Kok bisa di rumah tadi?”

“Itu rumahnya polisi.”

“Ceritanya?”

“Kena garuk saat operasi. Banyak yang kena. Waktu dinaikkan lori, saya meloncat sendiri dan lari. Cepat-cepat nyegat taksi. Gombal! Sopir taksinya ternyata bersekongkol. Taksinya dibelokkan ke rumahnya polisi tadi. Terus suruh nebus. Kalau nggak katanya mau dibawa ke markas besar untuk dipenjara.”

“Itu cerita lama.”

“Maksudnya?”

“Cari duit.”

Suparjan ternyata jadi kuli di proyek pembangunan Hotel Seri Malaysia di Jalan Telok Sisek. Persis di sebelah Taman Budaya Pahang. Banyak tenaga proyek, apa lagi di perkebunan, adalah pekerja liar. Polisi juga tahu itu. Tapi mereka tak mau operasi di wilayah proyek. Para pekerja liar sengaja dimanfaatkan dengan segala posisi lemahnya. Ada banyak cerita, ketika proyek menjelang rampung, polisi sengaja didatangkan untuk menggerebek mereka. Para pekerja berlarian. Maka mereka pun tak terbayar.

Jika saja mereka dijaring di saat proyek sedang berlangsung, proyek-proyek pembangunan di sini akan macet. Hari-hari biasa tentu saja banyak pekerja yang jenuh dan cari hiburan. Jika hari libur, para pekerjanya ada yang berani jalan-jalan. Saat seperti inilah mereka terjaring operasi di luar, termasuk Suparjan.

“Dulu katanya istrimu melarang ke sini?”

“Gimana lagi?

Di rumah nggak ada pekerjaan. Sawah sudah dijual.”

“Untuk apa?”

“Ya untuk sangu berangkat saya ke sini ini.”

Semalam saya bersama Suparjan dan saling bercerita. Meski tekadnya merantau sangat kuat, ternyata dia juga khawatir. Banyak istri temannya di tanah air serong dengan lelaki lain karena kesepian. Tidak sedikit pula mereka yang mengurus cerai sendiri karena suami di perantauan belum mampu mengirimkan uang.

“Yang penting kau harus sering kirim kabar,” kataku.

Aku kembali ke Kuala Lumpur. Suparjan kutinggali beberapa ringgit karena dia belum pernah mendapat upah. Dia segera kembali ke proyek. Hari-hari berikutnya dia sering menelponku. Tapi beritanya selalu buruk. Selama lima bulan di sini dia belum pernah mendapat bayaran. Proyek hanya memberinya makan. Pengawas kerja yang mempekerjakannya menghilang saat gajian. Tauke, sang pemilik proyek, selalu mengatakan bahwa dia sudah membayar uang para pekerja lewat bagian administrasi alias kerani. Sementara kerani mengatakan bahwa uang itu sudah diserahkan kepada pengawas kerja. Atau mereka memang bersekongkol?

Suparjan tahu, para pengawas kerja umumnya berasal dari tanah air sendiri. Sama-sama merantau di sini. Brodin, Roji, dan Kalil adalah contohnya. Tapi mereka tega membawa lari uang jerih payah para pekerja. Uang haram itu mungkin dikirim ke tanah air untuk membangun rumah, membeli ternak dan sawah, mungkin juga untuk naik haji. Sementara nasib Suparjan dan kawan-kawannya di sini jadi tak menentu.

Suatu hari Suparjan menemuiku di Kuala Lumpur. Dia sangat jengkel karena terus ditipu oleh pengawas kerja. Dia ingin pindah ke ibu kota ini. Tapi aku katakan kalau di sini malah tidak aman baginya, banyak operasi. Biaya hidup juga jauh lebih mahal. Suparjan manggut-manggut. Meski takut, dia kuajak jalan-jalan ke kawasan Petaling. Setelah makan sop tulang di Restoran Yusoof dan Zakhir di Jalan Tun Tan Cheng Lock, kami ke arah timur memasuki Jalan Hang Lekir, belok ke selatan lewat Jalan Tun HS Lee, belok lagi ke barat masuk Jalan Sultan, akhirnya sampai di pertigaan Jalan Sultan Mohammed. Suparjan kuajak ke Pasar Budaya di Central Market untuk melihat-lihat pasar seni. Menjelang malam, kami naik kereta menuju kawasan menara kembar Petronas. Kuajak dia masuk ke pusat perbelanjaan Suria. Malam harinya kami duduk-duduk lihat permainan air mancur di belakang menara Petronas itu.

“Menara tertinggi itu pembangunannya banyak memakan korban,” kataku sambil menuding ke puncak.

“Orang mana?”

“Ya orang kita. Tapi tak pernah diberitakan.”

Suparjan terdiam. Pandangannya tak henti-hentinya mendongak ke menara yang arsitekturnya mirip Candi Prambanan itu.

“Hati-hatilah kalau kerja. Apalagi di negeri orang.”

“Jenazah para korban itu dimakamkan di mana?” tanya Suparjan.

“Ada yang dibawa pulang. Ada juga yang di sini. Yang susah kan kalau korbannya pekerja liar. Tak ada yang ngurus.”

Pembicaraan terakhirku dengan Suparjan inilah yang kini menimpanya. Sekitar sebulan setelah itu ada kabar dari temannya kalau Suparjan mengalami kecelakaan dan meninggal. Tapi dia tak bisa menjelaskan kecelakaannya. Pokoknya kecelakaan. Aku kaget sekali dan langsung meluncur ke sana. Malam harinya aku sampai di rumah sakit tempat jenazah Suparjan. Dia telah dimasukkan dalam peti. Nama dan KTP dari tanah air tertempel di tutup peti. Tapi aku tak diperbolehkan membukanya. Aku langsung menghubungi mertua di tanah air. Dia minta jenazah Suparjan dibawa pulang ke tanah air.

Seperti telah kuduga, urusannya jadi sangat berliku. Suparjan sendiri belum pernah dapat upah. Dia baru sebulan pindah ke proyek itu. Karena pekerja ilegal, keberadaannya juga tak mendapat jaminan. Ketika kutanya kecelakaan apa yang menimpa Suparjan, semua menyatakan tak tahu pasti. Mereka tak acuh. Sementara teman-teman kerja Suparjan hanya menggeleng. Sepertinya mereka dalam ketakutan.

Bagian kerani hanya memberikan beberapa ringgit sebagai upah terakhirnya. Mau tak mau aku harus menanggung segalanya karena mertua ngotot agar jenazah Suparjan dibawa pulang. Biayanya sangat besar. Aku merasa kematian Suparjan justru dimanfaatkan pihak-pihak terkait untuk memerasku. Mereka mengatakan tak mau ngurus dan selalu memojokkan aku dan Suparjan.. Ketika aku mendesak, mereka menawarkan jasa dengan biaya super besar. Tak ada pilihan lain bagiku.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa aku tak boleh melihat jenazah Suparjan? Bukankah aku kakak iparnya? Segala biaya pemberangkatan jenazah ke tanah air telah kubayar. Tapi aku juga tak diperbolehkan mengikuti jenazah dari sini hingga ke bandara. Segalanya, kata mereka, telah diurus oleh paket pengiriman mayat. Aku hanya diberi tahu waktu, tempat, dan nomor penerbangan yang akan membawa jenazah Suparjan. Aku disuruh beli tiket sendiri dan harus menunggunya di bandara.

Aku jadi was-was. Ada rasa takut, jangan-jangan paket mayat Suparjan tidak dikirim ke bandara. Dari kaca ruang tunggu terakhir ini aku juga belum melihat ada peti dibawa ke dekat pesawat. Sebentar lagi aku sudah masuk badan pesawat. Dari mikropon sudah terdengar penumpang dipersilakan masuk. Aku tidak bisa mengecek kepastian peti jenazah ikut di pesawat ini atau tidak. Apa jadinya ketika pesawat landing di Juanda, sementara segenap keluarga sudah menunggu dengan tetesan air mata, ternyata peti jenazah Suparjan tak ada?

Kepalaku makin terasa berat.

* * *

Kuala Lumpur-Surabaya, 2004-2005