Perempuan Senja dan Lelaki yang Suka Menyendiri

Cerpen M Badri


BEBERAPA waktu terakhir ini aku selalu merindukan senja. Entah mengapa, kadang aku juga membencinya. Senja selalu mengingatkanku pada bayangan perempuan yang berkelebat di setiap putaran jarum jam. Tapi perempuan itu tak pernah bisa kusentuh, apalagi kucumbu atau entah kuapakan lagi. Hanya suaranya yang selalu singgah di ceruk telingaku yang kian lebar. Aku kadang juga tertawa sendiri, entah gila atau sekedar terlena oleh sandiwara yang selalu kumainkan. Tapi bukan sandiwara percintaan seperti yang sering kulihat di sinetron-sinetron picisan.

Entah sejak kapan perselingkuhan ganjil ini kumulai. Tiba-tiba segalanya mengalir begitu saja. Mulai dari kamar mandi sampai di atas ranjang, bayangan perempuan––yang tak pernah melepas gaunnya––itu selalu mengikutiku. Sesekali mengirimiku selimut atau sekedar mengucapkan, “Good night, have a nice dream…” Kadang menyita waktu tidurku yang biasanya kumulai saat jarum jam di atas kepala. Aku merindukannya, tapi juga membencinya. Suatu kebencian karena selalu merindukannya.

“Siapakah sih kamu?” kataku suatu senja entah ke berapa.

“Kamu tak perlu tahu siapa diriku, seperti aku tak pernah mau tahu siapa kamu!” Seperti biasa, selesai bicara dia selalu menyelipkan seikat bunga di celah-celah jantungku sampai tembus ke paru paru. Bunga yang tak berwarna dan tak pernah kering.

“Apa maumu?” hardikku.

“Mauku seperti maumu juga. Tak usah marah! Nikmati saja permainan ini. Aku sengaja datang untuk menemanimu. Maaf tapi kamu tak bisa merabaku, seperti kamu meraba huruf-huruf di keyboard atau di kaca monitor. Kamu juga tidak bisa menghayalkanku, seperti saat kamu membuat cerita-cerita.”

“Apakah kamu sebangsa iblis atau sejenisnya?”

“Jangan kasar! Belum saatnya kamu tahu siapa aku. Mungkin aku lebih manusia dari pada kamu!!!”

Tut tut tut… Suaranya lenyap ditelan gerimis. Malam mulai merangkak dan cahaya kuning kemerah-merahan semakin sirna. Perempuan itu juga menghilang. Selama beberapa hari. Tak pernah lagi kudengar suaranya. Tak ada lagi yang menemaniku makan atau menghabiskan malam di sekitar taman kota sambil menikmati jagung bakar. Aku mulai membencinya, karena baru kusadari senja terasa asing tanpa kehadirannya. Kemudian dia muncul lagi, juga saat senja. Saat langit berwarna kemerah-merahan. Saat matahari kuning bulat seperti telor mata sapi.

Sejak itu aku menamainya ‘perempuan senja’, karena memang dia sering datang saat senja. Hanya sesekali tengah malam atau bahkan pagi-pagi sekali. Dia juga sudah mulai mengucapkan, “Selamat pagi, bagaimana tidurnya semalam?”. Seperti biasa aku selalu mengatakan bangun kesiangan, karena semalaman terlalu asyik mengeksploitasi imajinasi.

“Jadi kamu lagi-lagi tidak bisa menikmati menyembulnya fajar?”
“Yap!”

“Sungguh sial nasibmu!”

“Tapi aku selalu bisa menikmati senja!”

Dia tertawa. Melengking kemudian hening…

Aku pernah mencoba mencarinya di sekitar terminal dan toko-toko swalayan. Siapa tahu perempuan itu ada disana, sedang menunggu taksi atau menawar pakaian. Pernah juga kucari di diskotik atau panti pijat, tapi dia memang benar-benar tidak ada. Dia bisa muncul kapan saja dan menghilang semaunya. Kemudian setiap senja aku juga sering mampir ke kantor-kantor dan menanyakan perempuan itu. “Mencari siapa?” tanya seorang satpam yang mungkin curiga melihat aku modar-mandir di depan kantornya.

“Mencari seorang teman. Apakah anda mengetahuinya?”
“Siapa namanya dan bagaimana ciri-cirinya?”

“Saya sendiri tak pernah tahu. Tapi dia seorang perempuan, yach seorang perempuan, aku jelas sekali mengenal suaranya.”

“Perempuan di sini banyak. Anda jangan main-main!” Dia menggertak.
“Aku tidak main-main!”

Kemudian aku ceritakan sedikit tentang perempuan itu. “Dia suka menemuiku saat senja. Tapi beberapa hari ini dia menghilang begitu saja.”

“Tapi Anda tidak tahu siapa dia. Ah, sudahlah lebih baik anda pulang dan mandi lalu ke dokter.” Kemudian satpam itu pergi sambil menggerutu, entah apa yang diucapkannya. Aku tak mau bertengkar dengannya. Mungkin aku memang harus periksa ke psikiater karena terlalu sering menyendiri sehingga berhalusinasi tidak karuan. Tapi ini bukan suatu kebohongan indah

* * *

Sekarang entah senja yang keberapa aku tidak tahu, mungkin sudah ratusan senja kulalui bersama perempuan itu. Perempuan yang kemudian menjelma menjadi teman, pacar atau entah apa lagi.

Seorang teman, setelah mengetahui permainan ganjil itu malah menamainya ‘gadis digital’. “Lho kok?” kataku heran. “Itu wajar saja terjadi di era globalisasi

Teknologi. Kamu kalau ingin punya banyak pacar tak perlu susah-susah. Tinggal buka internet,” katanya sambil menghisap rokok mild dan menghembuskan asapnya ke atas.

“Terus kalau aku ingin kencan?” kataku.

“Alahhh, itu malah lebih gampang. Asal kamu punya pulsa sudah beres,” katanya sambil tertawa ngakak.

Saat itu ponselku berdering. Ada pesan masuk. “Selamat sore… udah mandi belum udah makan belum jangan tidak mandi lagi ya bauu…..dan jangan lupa sembahyang ya nanti siap kamu mandi aku hubungi lagi. Mmmuuuuuah….” Sebuah pesan singkat yang membuatku terbang ke langit. Perempuan itu lagi. Kemudian sayup-sayup terdengar sebuah lagu Sheila On 7 dari tape recorder tetangga, beriringan dengan adzan maghrib.

***

Kampoeng Marpoyan, Januari 2004


(Cerita ini terinspirasi oleh seorang teman yang tidak pernah menampakkan wujudnya)

Iklan