Sepasang Kaki Mungil

Cerpen: M. Arman AZ
Sumber: Nova, Tabloid, Edisi 05/15/2006

BERADA di tempat dan waktu yang salah, membuatku tak bisa berkutik. Usai main bilyar dan makan ketoprak, Ramon melarikan sedannya ke tempat itu. Dia mau menemui wanita yang konon jadi pacarnya di sana. Bagiku ini di luar rencana semula. Di tengah perjalanan, aku minta diantar pulang saja. Tapi celetukan Rio dan rayuan Dinal membuatku terpojok. Tiga lawan satu. Aku kalah suara.

Disinilah aku sekarang. Terjebak dalam remang ruangan. Sekeliling temboknya, kecuali plafon dan lantai, dilapisi karpet merah yang berfungsi sebagai peredam suara. TV 29 inch, VCD player, tumpukan kaset, AC model lama, tiga kursi sofa panjang menempel ke tembok, dan meja persegi panjang di tengah ruangan. Rio duduk di sisi kiri, Dinal di sisi kanan. Ramon raib entah ke mana. Di sofa dekat pintu masuk, aku sibuk meredakan gelisah. Aku telah berbohong pada Ratna. Sore tadi, via telepon, kukabarkan padanya bahwa malam ini aku lembur di kantor. Nyatanya…

Semua berubah saat pintu di pojok kanan terbuka. Seorang wanita muda berbalut t-shirt biru ketat tanpa lengan dan celana jeans hitam muncul, lalu duduk di sebelah Dinal. Aku tertegun melihatnya. Bukan karena sosoknya yang seksi, tapi wajah itu membangkitkan ingatanku pada seseorang dari masa silam.

Rio menghampiri gadis itu. Mengajaknya berduet. Kudengar dia menolak. Dia letih. Baru selesai menemani tamu di ruang sebelah. Rio tak peduli. Setengah memaksa merenggut tangannya. Gadis itu mengalah. Tak lama kemudian, dengan tubuh menempel, mereka bernyanyi dan berjoget mengikuti irama satu tembang lawas. Aku jengah melihatnya. Kuseruput teh botol. Kulirik jam di layar ponsel. Lewat tengah malam. Aku ingat Ratna, juga Bayu dan Dinda, dua buah hatiku. Mereka pasti sudah tidur pulas.

Ketika tatapanku membentur sepasang kakinya yang maju mundur, seperti ada kekuatan asing yang tiba-tiba melemparkanku pada peristiwa itu. Seorang gadis kecil berambut ekor kuda duduk di bibir kolam ikan. Sepasang telapak kaki mungilnya silih berganti menepuk-nepuk permukaan air. Aku bergegas menghampirinya.

Heh, kolam ikannya jangan diacak-acak! Ikan gue bisa mati semua!” dampratku kesal. Kulihat ikan-ikan koi itu berenang panik kesana kemari. Timbul tenggelam di antara lumpur dan eceng gondok. Dia terperanjat menengokku. Wajahnya ketakutan.

“Maaf, Bang. Saya gemes melihat ikan-ikan ini.”

Gemes! Gemes! Gue yang capek ngurus kolam, elo malah ngacak-ngacak! Kalo ikan ini mati, apa elo bisa ganti?!” Telunjukku menuding wajahnya. Dia bungkam.

Kepalanya tertunduk layu. Ibu tergopoh datang melerai kami.

Dua lagu selesai. Ia hempaskan tubuhnya di samping kananku. Menyandarkan punggung sofa. Seperti memberi kesempatan untuk meyakinkan dugaanku. Sekelebat tercium olehku aroma parfum bercampur keringatnya.

“Kamu Ayu?”, aku langsung menegurnya. Dalam keremangan masih bisa kulihat alis dan dahinya berkerut. Setelah kami saling adu pandang, air mukanya perlahan berubah.

“Bang Danu, ya?!” Ada nada ragu dan gugup dalam suaranya. Aku mengangguk. Dia bangkit. Kupikir hendak pergi menghindar. Ternyata dugaanku salah. Dia mencomot bungkus rokok di meja. Kuamati gerakannya saat menarik sebatang rokok, menyulutnya dengan korek gas, menghisap dan menghembuskan asap lewat celah bibirnya. Begitu fasih…

“Apa kabar, Bang?” tanyanya setelah kembali duduk di sampingku.

“Baik. Kamu ngapain disini, Yu?” Dengan gaya angkuh dan senyum menyeringai, dia balik bertanya,

“Bang Danu sendiri ngapain disini?!”

Aku kikuk ditohok pertanyaan bernada sinis itu.

* * *

JIKA dirunut silsilah kami, Ayu masih terbilang sepupuku. Dulu, sebelum di jual, rumahnya sekitar seratus meter di belakang rumahku. Waktu aku SMA dia sering singgah ke rumah. Biasanya siang menjelang sore. Almarhumah ibuku semasa hidupnya senang jika dia datang. “Anaknya baik dan rajin,” puji Ibu kala itu. Dia patuh jika dimintai tolong mencabuti uban, memijiti pundak atau kaki Ibu. Setiap mau pulang, Ibu biasa memberinya uang. Matanya berbinar-binar menerima sangu dari Ibu. Kadang Ibu membungkuskan lauk atau buah-buahan untuk dibawanya pulang. Di lain waktu pernah kupergoki Ayu, masih mengenakan seragam putih merahnya yang kumal, jualan jagung rebus atau gorengan keliling kampung.

Semenjak menikah telah kutinggalkan dunia malam yang serba palsu. Ketimbang hasil keringatku hangus tak berbekas, lebih baik dipakai untuk keperluan keluarga. Tapi malam ini aku melanggar janji. Belum lagi celetukan-celetukan Rio dan Dinal yang terkesan meledek, membuatku merasa asing di tempat ini. Naluri lelaki dan akal bulusku bangkit. Berlagak mesra, kurapatkan bibir ke telinga Ayu, lalu membisikkan sesuatu. Ayu mengangguk pelan.

Ruas jalan ini dikenal sebagai kompleks prostitusi. Untuk menyamarkan kegiatannya, para pemilik tempat ini menyulapnya jadi karaoke sederhana. Tiap malam wanita-wanita lalu-lalang atau duduk bergerombol di depan rumah. Jika ada mobil atau motor melintas, mereka tak sungkan merayu untuk mampir. Tawa cekikian, kata-kata kotor, atau makian kasar biasa terdengar. Tidak jarang terjadi pekelahian yang memakan korban.

Aku dan Ayu duduk di teras. Jalanan ramai oleh manusia dan kendaraan. Sayup-sayup terdengar dentum musik tumpang tindih. Entah dari rumah sebelah mana saja. Sudah jadi rahasia para lelaki hidung belang, wanita-wanita yang kerja di tempat itu dikenal “bisa dibawa” atau “bisa diajak“. Aku hanya bisa bertanya dalam hati, apakah Ayu termasuk di antara mereka?

Siapa bisa menebak rahasia waktu? Malam ini, setelah sekian tahun berlalu, aku bersua lagi dengannya. Di lain kota. Di lain pulau. Tapi dia bukan lagi gadis kecil yang sepasang telapak kaki mungilnya menepuk-nepuk permukaan kolam ikan di rumahku. Dia telah jadi gadis dewasa yang sepasang kakinya fasih berlenggak-lenggok seiring irama lagu.

Setahuku ketiga kakaknya sudah bekerja dan menikah. Ada yang jadi pegawai toko, sopir angkot, dan ibu rumah tangga. Kupancing Ayu untuk bercerita. Sampai dia selesai, aku hanya bungkam. Sering kudengar atau kubaca kisah-kisah klise seperti penuturan Ayu. Aku tak tahu harus percaya atau tidak dengan ceritanya. Yang jelas, kali ini aku mendengar langsung dari seorang wanita yang masih familiku. Dadaku terasa sesak. Entah karena rokok, angin malam, atau Ayu.

“Sudah tahu kabar Ayahmu?”

Ayu melengos gelisah. Mungkin dia paham maksudku. Ayahnya meninggal empat tahun silam. Keluarga dan sanak famili kelimpungan mencarinya. Tak ada yang tahu dimana dia berada. Sampai jasad ayahnya dikubur, dia tak juga muncul.

“Ibumu sekarang di rumah saja, Yu. Sudah sakit-sakitan. Kalau ada waktu, pulang dan jenguklah beliau.”

“Ayu nggak berani, Bang.” sahutnya gamang.

“Kenapa?” kejarku.

“Ayu malu. Kakak-kakak Ayu pasti ngamuk kalau tahu Ayu seperti ini. Belum lagi saudara-saudara yang bisanya cuma menghina. Sebenarnya Ayu sudah capek hidup begini, Bang. Tapi apa lagi yang Ayu bisa lakukan?”

“Kau mau pulang?”, tanpa menunggu jawaban, kusambung kalimatku, “Kalau kau serius mau pulang, Abang akan datang lagi kemari. Abang ada uang. Pakailah untuk ongkos dan modal usahamu. Yang penting kau keluar dari sini.”

Tak kulihat geliat kegembiraan di wajahnya seperti yang kuharapkan. Tak pula kutemukan binar-binar di matanya seperti saat dia menerima sangu dari Ibu sekian tahun silam.

Sebelum pulang, kami saling tukar nomor ponsel. “Jangan sungkan menelepon kalau kau butuh bantuan,” pesanku padanya. Dia mengangguk pelan. Dengan nada memelas, dia minta aku merahasiakan pertemuan malam ini dari keluarga. Aku hanya tertegun menatap jurang yang menganga di wajah pucat itu

* * *

AYU dan nasibnya masih bersemayam dalam benakku. Sempat terpikir olehku untuk menelepon kakak-kakak Ayu. Tapi, teringat dampaknya, niat itu sirna. Sama saja aku membongkar kebohonganku sendiri. Cepat atau lambat Ratna akan tahu. Ratna pasti marah. Ngapain aku ke tempat mesum itu?

Semalam aku datang sendirian ke rumah itu. Seorang gadis sepantar Ayu mengantarku menemui perempuan paruh baya. Mungkin induk semang mereka. Waktu kutanya ke mana Ayu, dengan ketus dia menjawab bahwa Ayu sudah pergi. Aku ragu. Benarkah Ayu sudah pergi? Bisa jadi dia hanya mengelabuiku. Menghindar dariku.

Tapi, jika dia benar-benar pergi, ke mana tujuannya? Berkali-kali kucoba menelepon Ayu, namun nomor ponselnya tak pernah aktif. Hingga SMS dari nomor asing itu masuk minggu petang ketika aku sedang duduk di beranda sambil baca koran.

“Ini Ayu, Bang. Ayu sudah nggak di sana lagi. Ayu mohon jangan ceritakan masalah Ayu pada keluarga. Abang juga nggak usah datang ke sana lagi. Kasihan Mbak Ratna. Dia pasti marah kalau tahu Abang ke sana. Oya, bukan Ayu nolak bantuan Abang, tapi Ayu nggak mau ngerepotin orang lain. Biar Ayu mencari jalan hidup Ayu sendiri…”

Buru-buru kutelepon nomor itu. Ah, Ayu lebih cerdik. Ponselnya sudah dimatikan. Tinggal aku temangu-mangu membaca pesan itu.

Mencari jalan hidup sendiri…

Mencari jalan hidup sendiri…

Minggu petang yang murung. Pikiranku menerawang. Kenapa aku jadi begitu peduli pada Ayu? Kenapa aku ngotot ingin jadi pahlawan kesiangan untuknya? Karena dia familiku? Karena kenangan tentang Ayu kecil yang dekat dengan almarhumah Ibu? Dimana dia sekarang? Apa kerjanya? Akankah hidupnya kelak lebih baik atau lebih pahit? Kapan aku bertemu lagi dengannya? Ah, pertanyaan-pertanyaan itu bagai bara api yang terus gemeretak dalam batinku.

“Papa, Papa, ikannya berantem tuh…” Pekik Dinda membuatku terkesiap dari lamunan. Kugeser pandangan ke pojok rumah. Putri bungsuku itu sedang duduk di bibir kolam ikan. Batinku berdesir melihat sepasang kaki mungilnya silih berganti menepuk-nepuk permukaan air. Seperti kulihat sosok Ayu sekian tahun silam. Aku menelan ludah serasa menelan sebutir kerikil. Buru-buru kuhampiri Dinda. Gugup kugendong dan kuseka telapak kakinya. Dalam pelukanku, dia merajuk mau melihat ikan-ikan itu lagi.

“Ikan-ikan itu bukan berantem, Sayang. Mereka sedang berebut makanan…” Entah kenapa, usai kalimat terakhir itu meluncur dari bibirku, wajah Ayu kembali membayang. Membuat bulu kudukku meremang…

* * *

Bandar Lampung, April 2006