Sepenggal Doa bagi Lelaki Tua

Cerpen: Lina Pakan Peters

Sumber: Suara Pembaruan, Edisi 09/10/2006

Hari belum terbangun sepenuhnya. Mentari sepertinya enggan menerangi pojok bagian dunia ini. Embun dan kabut seakan ingin menari dalam keabadian. Udara terasa dingin di awal Agustus, satu dari hitungan bulan terpanas dalam kalender belahan bumi Utara.

Lelaki tua itu; aku tidak akan pernah mengenal nama dan asalnya – tidak perlu kuketahui hal-hal tersebut karena apalah arti sebuah nama dan asal-usul.

Dia berjalan dengan kaki pincang. Langkah yang goyah memperlihatkan gerakan mengandung keperihan. Tangan kanannya menenteng kotak biola yang terbuat dari kulit. Matanya menatap alam sekitar, memperhatikan gelombang kabut yang menari di atas bunga-bunga liar yang tumbuh di antara rel kereta api. Kulayangkan pandanganku ke arah yang sama, yang kulihat hanyalah embun, kabut pagi dan siluet bunga-bunga mungil. Aku tidak akan pernah tahu, dan mungkin aku tidak perlu untuk tahu lukisan atau kilasan mana yang terlihat olehnya. Terlihat senyum di bibirnya yang tua. Nuraniku terhenyak, yang tampak bukanlah senyum namun sebuah tangis yang telah berusia tua!

Dia memakai kemeja dan jaket berwarna hitam, celana dan sepatu juga berwarna hitam. Setiap kain penutup tubuhnya yang ringkih berona senada, duka.

Ingin kutanya mengapa segalanya bernuansa duka. Mengapa setiap keriput wajahnya memperlihatkan sepenggal tangis? Apakah dia tidak mengenal wujud pelangi? Apakah dia tidak mampu melihat warna-warni bunga musim ini? Kutelan kata ini – kata ‘mengapa’. Tidak kubutuhkan kata ini sebab wujud dan figur lelaki itu telah menjawab semuanya.

Dia berjalan mendekatiku. Ingin kuulurkan tanganku meraih jemarinya yang tua namun aku hanya terpaku. Keberadaanku seakan tersihir dan lumpuh – berada di bawah mantera yang terpancar dari sesosok tubuh tua yang diselubungi kepiluan.

Dia duduk di sampingku. Kotak biola terletak di sampingnya. After shave beraroma menenangkan tercium olehku. Aku mampu untuk memegang tangannya, aku seakan mampu memasuki lorong mimpi yang sedang ditenunnya. Tidak ada gerakan yang kulakukan, tidak ada kata yang kuucapkan.

Kediaman bersamanya merupakan hadiah unik yang mampu kuserap, kunikmati, dan kuhayati. Matanya tidak bergerak dari tempat yang ditatapnya sejak dia berdiri di depanku beberapa menit yang lalu. Kembali kutatap tempat yang sama, yang kulihat adalah pemandangan yang sama. Entahlah, aku tidak akan pernah tahu deretan kisah mana yang dilihatnya di balik kabut pagi itu.

Dia dan aku, kami berdua duduk dalam kebersamaan di atas sebuah bangku tua di sebuah negara asing yang sarat akan sejarah hitam. Aku tidak mengenalnya, dan dia tidak mengenalku, namun kami menatap tempat yang sama, menghirup udara yang sama, menikmati kebersamaan dalam kebisuan alam yang sama.

Aku terhenyak saat kudengar suaranya. Kupalingkan wajahku menatapnya. Bibirnya tersenyum ramah. Matanya menyimpan kebijakan. Hatiku bersorak, senyumnya tidak terbungkus kepiluan. Kuanggukkan kepalaku. Dia bertanya dari negara mana aku berasal. Kusebutkan nama Tanah Airku yang berada jauh di balik kaki langit dan awan.

“Ingin kukatakan sesuatu kepadamu,” katanya. Dia berhenti dalam keraguan dan bertanya bahasa mana yang mampu kumengerti. Inggris, Jerman, atau Polandia? Kukatakan bahwa aku mampu memakai kedua bahasa pertama. Dia tersenyum bijak.

“Aku pernah mengunjungi negaramu, Jawa dan Bali, Borneo dan Sumatera. Negeri indah, berpenduduk ramah dan sopan.” Ibu Pertiwi, rangkaian mutiara mengagumkan penghias garis khatulistiwa.

“Aku berusia 13 tahun saat mereka mendeportasi kami dari Munich ke sini.” ‘Kami’, kata yang berarti lebih dari satu orang. Dan ‘mereka’? Aku tahu siapa ‘mereka’ itu.

Mereka adalah kumpulan manusia yang diciptakan oleh Tuhan yang sama dengan yang menciptakan diriku dan lelaki tua ini. Mereka, adalah manusia yang tenggelam dalam sebuah ideologi gila, hanyut dalam kebencian dan terperangkap dalam pelukan iblis. Mereka adalah manusia yang terperosok dalam kebencian tanpa dasar. Mereka adalah kelompok pemabuk yang berpesta di atas penderitaan manusia lain. Mereka adalah penjahat-penjahat yang telah merampas dengan paksa masa remaja yang indah dari lelaki tua yang tidak kukenal ini. Ya, mereka berhasil menorehkan luka dan darah dalam perjalanan lelaki tua ini, berhasil memahat monumen abadi berbentuk mimpi kelabu atau hitam. Malam mungkin dilewatinya dengan mata terbuka, ketakutan mungkin terasa saat kantuk merangkak ke kelopak matanya – mungkin ada suara yang menahannya untuk tertidur, karena, ‘bila engkau terlena dalam pesona tidur, maka aku akan kembali untuk membawamu ke masa silam’.

Mereka, adalah manusia yang masih memburu, mengejar dan menguasai mimpi lelaki ini.

“Masa yang kelabu,” suaranya berbisik. “Namun aku hidup, jauh lebih lama dari yang kuimpikan.”

Kelabu, deretan tahun yang terpecah dalam kepingan kristal kelabu.

Berhasil hidup – ya, aku yakin bahwa dia hidup karena pengharapan yang tidak pernah usang dan pupus di bawah tekanan manusia yang tega menodai hidupnya.

“Mereka telah berlalu, nama mereka tertulis dengan tinta hitam dalam lembaran sejarah, namun aku hidup! Engkau tahu,” sinar matanya memperlihatkan sesuatu yang mampu ditemukan dalam tatapan seorang Ayah.

“Bersyukurlah bahwa engkau hidup dalam alam kemerdekaan, bebas mengatakan apa pun yang engkau inginkan, boleh bergerak dan berjalan ke segala arah. Tidak ada manusia yang akan menghentikan langkahmu di malam hari hanya karena mereka ingin mengetahui nama yang engkau sandang sebelum melemparkanmu ke neraka.”

Dia melepas jaket hitam yang dipakainya -membuka kancing lengan kemeja yang dikenakannya. “Saat itu aku tidak mempunyai sebuah nama. Mereka memanggilku dengan menyebutkan nomor ini.”

Dekat dari pergelangan tangannya beberapa angka tertato dengan kasar, torehan abadi dari seseorang yang tidak mengerti arti seni.

“Aku adalah ‘sebuah’, ‘sesuatu’ dan bukan ‘seseorang’, satu dari jutaan manusia terkutuk tanpa hak. Bagi mereka kami adalah binatang terendah. Ayah, ibu dan kedua kakakku masih berada di sini – seandainya aku tahu pojok di mana abu dari mayat mereka tertabur. Seandainya.” Kupalingkan pandanganku ke arah lain, kusembunyikan tetesan asin yang menggumpal di mataku. Udara segar seakan mencekik leherku. Aku ingin meraung.

Lelaki ini telah kenyang dengan curahan air mata, dia tahu arti dari tangis yang asli. Keriput wajahnya menggambarkan kematangan dan pesona usia, di setiap guratan tertulis lembaran sejarah masa suram. Tidak seorang pun mampu mendiktenya tentang arti kata hidup dan kehidupan, mati dan kematian – karena lelaki tua itu telah memasuki dunia kematian dan keluar dalam keadaan hidup.

Dia ingin agar aku mendengarnya, bukan menangisinya!

Sinar mentari menembus gumpalan awan hitam, embun dan kabut menghilang dari bumi. Bunga-bunga liar terbangun, dan mataku menatap kumpulan bunga matahari yang tersenyum ke arah Sang Surya. Bunga Matahari! Aku pernah membaca betapa bunga ini selalu mengingatkan seseorang akan mimpi buruk yang mengejarnya. Ya, Simon Wiesenthal dalam The Sunflower.

Sebuah bis berhenti ditempat parkir, deretan manusia lanjut usia berjalan keluar.

“Mereka telah datang,” dia berkata. Keberadaan yang kunikmati bersamanya terganggu kedatangan manusia seusia dia. Dia berdiri. Tangan kirinya meraih kotak biola dan tangan kanannya terjulur ke arahku. Akupun berdiri menyalaminya.

“Senang bertemu denganmu, terima kasih karena engkau mau mendengarkan sepotong kisah yang kuceritakan kepadamu. Akan kumainkan instrumen ini dalam dua jam mendatang di ladang sebelah Utara. Aku akan sangat senang melihatmu di sana.”

Aku hanya mampu tersenyum kepadanya. Lelaki tua asing itu melambai ke arah tempatku duduk. Kubalas lambaian tangannya.

Ratusan manusia berjalan hilir mudik di hadapanku – mentari memperlihatkan kegarangannya, aku duduk menggigil – tubuhku menolak kehangatan alam. Yang menguasaiku adalah wajah lelaki tua itu, yang kudengar adalah suaranya, yang kuhirup adalah aroma after shave yang dipakainya.

Aku harus mendapatkannya, aku ingin melihatnya sekali lagi, apa yang dikatakannya? “Aku akan memainkan instrumen ini dalam dua jam mendatang di ladang sebelah Utara.”

Setengah berlari kumasuki gerbang tua yang terbuat dari batu bata merah yang kokoh, terpaku berdiri di atas rel kereta api yang tidak berfungsi lagi sejak lebih dari 60 tahun terakhir.

Ladang ini begitu luas dan besar – sebuah daerah yang berpagar kawat-kawat berduri. Ratusan manusia berjalan dalam kebisuan memandangi bangunan-bangunan tua di mana tapak-tapak iblis masih mampu terasa. Kepanikan menguasaiku, aku harus menemukan lelaki itu, aku ingin untuk melihatnya sekali lagi.

Jarum kompas mini yang selalu kubawa memperlihatkan arah Utara, dan di kejauhan kulihat sekumpulan manusia berpakaian hitam. Aku berlari ke arah di mana mereka berdiri. Tidak kupedulikan pandangan penuh tanya yang menatapku, dia – lelaki tua itu akan bergembira melihatku.

Sebuah podium terbuat dari belahan-belahan kayu didirikan ditengah padang. Di belakang podium, berdiri sebuah menara di mana serdadu pernah berdiri, senjata selalu siap untuk ditembakkan. Begitu banyak menara di sini, karena saat itu jutaan manusia harus mereka amati dan perhatikan.

Lelaki tua itu melangkah dengan pincang ke arah podium, kotak biola di tangan kanannya. “Tidak banyak yang ingin kukatakan, kita semua telah mendengar kisah tentang tempat ini – kita semua tahu apa yang terjadi di sini. Tanpa penjelasan, nurani kita akan tahu mengapa padang luas ini masih merintih dan udara di tempat ini masih meraung, mengapa burung-burung liar menyenandungkan melodi kematian dan setiap dedaunan tetap meratap dalam keabadian. Mengapa? Di tempat ini begitu banyak jiwa yang tidak bersalah dan tidak berdosa terbunuh di tangan manusia yang menikmati peranan Tuhan ketika itu. Tuhan pun terdiam, hak-Nya telah diambil secara paksa oleh manusia yang diciptakan-Nya, dan Dia mungkin memutuskan untuk menjauhi tempat ini. Di atas tanah dan di dasar sungai di balik pagar berduri – abu mereka tertabur liar. Mereka menuju kematian diiringi senyum dan tawa pembunuh mereka – tidak ada karangan bunga yang diletakkan di tempat mereka terbunuh, dan tidak ada doa yang mengiringi langkah mereka kembali menuju nirwana. Aku, satu dari manusia yang telah menerima vonis kematian berhasil hidup. Rasa syukur atas kesempatan dalam bentuk usia panjang kupanjatkan kepada Tuhan. Talenta dari diri Nya – biola kayu ini menyelamatkanku. Mereka yang membunuh keluargaku menikmati nada teriakan dan ratapan yang kumainkan saat malam menjelang. Kini, dalam usia senja – aku diberi kesempatan untuk kembali ke tempat ini untuk memainkan nada dan melodi bagi mereka yang masih meratap dalam keabadian.”

Dengan perlahan dia membuka kotak biola yang menyelamatkannya. Dengan penuh kasih disandarkannya benda itu di pundaknya – matanya menatap alam sekitar, mungkin ingin untuk mengetahui apakah para arwah akan berhenti merintih. Pandangannya berhenti di tempatku berdiri, senyum bijak terkulum di bibirnya. Dia – lelaki tua itu tahu, bahwa aku datang untuk merasakan kepahitannya.

Kepalanya menunduk dalam kenangan usang, kakiku menjauhi tempat itu, mataku kabur menatap bunga-bunga liar dan kumpulan bunga matahari. Kudengar, kunikmati, kuhayati dan kutelan nada indah menyakitkan, kukenal nada itu. Der Gefangenen ChorThe Prisoners Choir, alunan musik yang bercerita akan kumpulan tahanan yang tergiring ke Babel – ribuan tahun yang silam.

Kukatupkan jemariku, sepucuk doa tulus kupanjatkan ke hadirat-Nya agar Dia tetap menjaga, membimbing dan menemani lelaki tua itu, lelaki asing yang tidak kukenal. ***